
"Lia.." panggil Zey dengan berlari ke arah Lia yang berusaha pergi keluar dari rumah.
"Zey..! ayahku Zey.."
Lia menatap Zey sambil menangis, ia mengingat sang ayah yang sedang menghadapi semuanya sendiri.
"Kamu kenapa Lia ? ku mohon kasih tau aku" ucap Zey dengan penuh ke khawatiran dan tidak tega melihat Lia menangis .
"Biarkan aku pergi Zey, ayahku sedang menungguku di sana"
"Iya Lia, tapi kita tunggu Anand dulu Lia. kita tidak bisa pergi tanpa dia Lia"
"Aku mohon Zey, ayahku sedang menungguku" ucap Lia dengan memohon di hadapan Zey
Zey terlihat frutasi melihat Lia menangis yang terus memaksa dan memohon untuk keluar dari rumah Anand. iya mencoba menenangkan Lia tapi percuma, Lia bahkan terus berteriak ke pengawal agar mereka membukakan pintu dan membiarkannya keluar menemui ayahnya.
"Aku mohon sama kalian semua, biarlah aku keluar dari sini pergi menemui ayahku, jika kalian takut dengan bos kalian aku yang akan bicara kepadanya agar kalian tidak terkena masalah gara-gara aku." ucap Lia sambil mengatupkan kedua tangannya memohon
Zey terus menghubungi Anand tapi panggilannya tak mendapatkan jawaban dari sana.
"Anand, aku mohon angkat telfon ku" ucap Zey dengan terus mondar mandir sambil mengacak rambutnya.
Zey benar-benar kesal dengan Anand yang tak mengangkat telfonnya.
"Hey, apa yang kamu lakukan? beraninya kamu mendorong Lia" teriak Zey tidak terima salah satu pengawal Anand mendorong Lia sampai terjatuh.
Zey menghampiri Lia yang hampir saja terjatuh karna dorongan. melemparkan tatapan kesalnya ke pengawal Anand.
"Jika sampai Lia terjatuh aku akan melaporkan kalian ke Anand biar kalian di tembak mati sama dia." ucap Zey dengan mengancam mereka.
"Zey aku mohon hiks hiks"
"Kamu minum dulu yaa, tenangkan pikiranmu" bi izah memberikan segelas air putih ke Zey. Zey mencoba membantu Lia meminum segelas air putih dan mencoba menenangkannya namun itu tidak berhasil.
"Bi., jagain Lia dulu. Zey mau nelfon Anand kembali"
"Baik tuan" jawab bi izah
Bi izah mengusap wajah Lia yang penuh keringan dan air mata, mata Lia terlihat bengkak dan sembab karna menangis.
"Non Lia !! tenangkan pikiran non Lia. percaya sama bibi kalau tuan Anand akan membantu non Lia dan juga ayah non Lia"
"Bi, ayah Lia bi..! ayah Lia butuh Lia sekarang bi hiks hiks, bantu Lia keluar dari sini bi" ucap Lia yang terus menangis dan memohon.
"Anand, jawab telfonku. Sial" Zey kesal dengan Anand yang tak menjawab panggilannya. namun Zey terus menelfon, ia terus berusaha tapi tak mendapatkan jawaban juga.
Zey melihat Lia yang mencoba keluar dengan mendorong para pengawal, berlari mendekati Lia. dan memerintahkan agar mereka membiarkan Lia keluar dan dirinya akan pergi menemani Lia.
"Bi izah, tolong hubungi terus Anand, katakan kalau Lia pergi dengan Zey menemui ayahnya." teriak Zey ke BI izah
"Baik tuan"
Zey pergi bersama dengan Lia menemui ayahnya, dan di ikuti oleh dua orang pengawal. untuk berjaga-jaga Zey membawah mereka.
*******
Sedangkan di rumah Lia yang lama, Hendra ayah Lia menjadi tawanan Mira dan Benny. mereka menyiksanya.
"Buahahahaha.. lihatlah sayang tatapan ayah mertuaku" ucap benny sambil memeluk serina
Hendra menahan sakit, saat ini tubuhnya tak berdaya karna beberapa pukulan dari teman-teman Benny.
"Se..serina, apa yang kamu lakukan nak, teganya kamu melakukan semua ini ke ayah" ucap Hendra terbata sambil menatap serina dengan wajah sedih
"Kamu bukan ayah kandungku, kamu hanya ayah tiriku" ucap serina
"Maksud kamu apa serina?"
"Maksud serina kamu bukan ayah kandungnya tapi ayah tirinya, aku berbohong padamu kalau dia adalah putrimu, semua itu agar kamu menikahiku Hendra."
Hendra terkejut sambil memegang dadanya yang sakit dan sedikit darah keluar dari mulutnya. seketika Hendra menangis mengingat sikapnya yang sudah keterlaluan ke Lia waktu itu.
"Kenapa ? apa kamu menyesal ? atau kamu menangis karna sudah memperlakukan putri kesayanganmu seperti anak tiri ? hahahahaha kamu adalah ayah paling bodoh di dunia ini Hendra" ucap Mira
"Kamu tega Mira, kamu manusia iblis yang tidak punya hati" ucap Hendra marah
"Benarkah ?" tanya Mira dengan mimik wajah pura-pura terkejut, lalu ia tertawa.
"Sudah bu, bunuh saja dia seperti ibu membunuh istrinya" ucap serina
"Apa? apa maksudmu serina?" tanya Hendra terkejut.
"Jadi ayah tidak tau, kalau selama ini ibu yang membunuh ibunya Lia?"
Serina langsung menatap Mira, lalu tersenyum.
"Wawww sandiwara ibu keren, bahkan pria tua ini tidak curiga kalau istrinya meninggal karna ibu membunuhnya" ucap serina mendekati Mira dan memberikan segelas minuman untuk merayakan sandiwara mira yang tidak terbongkar.