
Malam sudah begitu larut dengan menunjukan pukul 12 malam, Lia yang menunggu Anand sudah tertidur di shofa yang ada di ruang tamu. setengah jam kemudian anand telah sampai dia melihat Lia yang sudah tertidur tapi hanya melewatinya begitu saja.
Lia kaget dari tidurnya, ia bangun dengan melihat di depan rumah di balik jendela. Lia melihat bahwa mobil Anand sudah ada. Lia melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah satu.
Jam berapa dia datang, kenapa aku tertidur dan juga dia selalu berteriak dan marah-marah jika aku tak menunggunya. tapi malam ini!
Lia bergegas pergi ke arah kamar Anand karna takut dengan hukuman Anand padanya. ia masih ingat ketika dirinya di hukum dengan membersihkan kolam yang banyak sampah. padahal Lia tau kalau kolam itu tidak kotor dan tidak akan terkena sampah tapi waktu itu malah banyak sampah.
"Aku gak mau di hukum lagi please, kenapa aku sampai tertidur tuhan" ucap Lia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar Anand
Lia sudah berada di depan kamar Anand tapi ia ragu mengetuk pintu takut nanti mengganggu dan akan menjadi sebuah alasan dirinya di hukum karna mengganggu tidurnya. Lia benar-benar bingung mau mengetuk pintu atau tidak. Lia menutup matanya dengan mengangkat tangannya yang siap-siap mengetuk, ketika ia yakin untuk mengetuk tiba-tiba pintu terbuka.
Anand melewati Lia begitu saja, ia berjalan menuju keruang kerjanya.
Lia terkejut dengan Anand membuka pintu
"Maaf sa" ucapan Lia terhenti ketika Anand tak memperdulikannya dengan melewatinya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.
Eh, ada apa dengannya kenapa dia mengabaikanku, apakah aku membuat kesalahan lagi dengan tertidur menunggunya. tolong lindungi aku agar gak di hukum lagi.
Lia terus berdoa agar tidak di hukum malam ini oleh Anand, sampai ia tak menyadarinya kalau Anand berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya, dengan terus berdoa Lia menabrak punggung Anand.
"Auu, kenapa berhenti tiba-tiba tanpa memberitahu"
"Apa kamu gak punya mata, sampai menabrak saya"
"Tuan sendiri kenapa berhenti tiba-tiba kan hidung saya sakit, kalau hidung saya sampai copot gimana, mana ototnya besar lagi"
"Kenapa kamu ngikutin saya?"
Ini orang pura-pura lupa atau gimana sih, aku gak bakalan ngikutin kamu kalau kamu gak nyuruh aku, kan kamu sendiri yang bikin aturan kalau aku harus nungguin kamu pulang, jam berapapun aku harus tetap menunggu, jangan bikin aku bingung. ingat Lia jangan sampai ini hanya jebakan lagi buat kamu agar membuat kesalahan biar dia punya alasan menghukumu.
Anand menatap Lia yang malah melamun ketika dirinya bertanya. cretakkk! sentilan di jidat Lia dengan ngilu dan spontan Lia bersuara keras.
"Aauu sakit" dengan menggosok-gosok jidatnya.
"Makanya kalau saya bertanya jawab, bukan melamun seperti itu"
Tapi gak perlu seperti itu juga tuan, nanti kalau jidat saya berdarah apa tuan mau tanggung jawab? gak kan.
"Saya hanya menjalankan tugas saya tuan"
"Malam ini kamu tidak perlu melakukannya, kamu boleh istrahat sekarang"
Benarkah? ini bukan jebakan lagi kan? udahlah Lia jangan percaya lagi si tuan batu ini banyak cara dia buat nyiksa kamu.
"Maaf tuan saya harus memastikan Anda makan dan istrahat dulu baru saya akan pergi istrahat juga" ucap Lia dengan menunduk meminta maaf
"Apa kamu mau membuat saya marah malam ini dengan berani membantah saya?!"
Bagaimana ini kenapa dia jadi marah, aku kan hanya ingin memastikannya. cukup minta maaf aja Lia sampai dia tidak menghukumu.
"Maaf tuan saya" ucapan Lia terhenti ketika melihat tangan Anand yang terluka
Anand menyembunyikan tangannya.
"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu saya baik-baik saja"
"Gak tuan, anda gak baik-baik saja. biarkan saya mengobatinya tuan" ucap Lia dengan menarik tangan Anand sambil mengangkatnya.
"Lepaskan" ucap Anand dengan menarik tangannya
"Gak, tangan tuan harus di obati" tarik Lia lagi
"Saya bisa mengobatinya sendiri" ucap Anand dengan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Lia pun ikut masuk, ia tetap bersikeras mau mengobati tangan Anand.
"Kamu gak dengar apa yang saya katakan, saya bisa mengobatinya sendiri."
Lia tak memperdulikan apa yang di katakan Anand, ia pergi keluar ruangan kerja mengambil kotak p3k untuk mengobati tangan Anand. ia kembali dengan memegang tangan Anand dan mengeluarkan obat di kota p3k.
Anand menarik tangannya dengan langsung berdiri dari duduknya di shofa karna kesal dengan sikap Lia yang keras kepala, selalu membantah apa yang ia katakan.
"Keluar kamu sekarang, saya tidak ingin di ganggu siapa-siapa"
"Tapi, tapi tangan Anda tuan"
"Saya bilang keluar, ya keluar. apa kamu gak dengar dengan yang saya katakan?"
Lia tetap peduli ia menarik tangan Anand buat di obatinya.
Anand tetap menarik tangannya tapi kali ini ia menariknya dengan keras sehingga membuat Kinar terkejut.
"Saya ingatkan ke kamu, kamu bukanlah siapa-siapa di rumah ini, jadi berhentilah ikut campur dalam urusanku."
"Saya gak ikut campur tapi saya membantu Anda tuan"
"Apa hak kamu, apa saya memintanya agar kamu mengobatinya?, jangan karna kamu saya izinkan tinggal di sini kamu jadi enaknya ikut campur dengan urusan saya. sekarang kamu keluar saya tidak ingin di ganggu, keluaaarr." teriak Anand dengan kesal.
Lia terkejut mendengar apa yang Anand katakan, mata Lia mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, seharusnya saya tau diri tinggal di sini, dan tau posisi saya sebagai apa di sini, jika anda gak mau saya bantu okey, saya akan pergi keluar. tapi saya ingatkan pada anda saya melakukannya bukan untuk mencari perhatian anda atau saya sewenang-wenang ikut campur tapi saya membantu anda karna perikemanusiaan. saya bahkan tidak peduli dengan anda sama sekali" ucap Lia pergi keluar dari ruangan kerja Anand.
Anand terdiam mendengar apa yang Lia katakan, bahkan ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Lia menutup pintu ruangan kerja Anand dengan keras.
Dia pikir dia siapa, sehebat apa dia bisa berkata seperti itu. jika aku punya tempat tinggal aku gak akan tinggal di rumah seperti kub*ran dan ner*ka seperti ini, yang tidak bisa bicara jika sesuatu tak begitu penting dan begitu banyak aturan-aturan yang harus di taati. bisa-bisanya dia ngomong seperti itu tanpa berfikir tentang perasaan orang lain. dasar orang kaya tidak ada perike**nusiaan maunya di dengar dan di turuti tapi gak mau mendengarkan orang lain. dasar tuan batu.
Lia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, Lia berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tuan batuuuuu, kamu adalah manusia di dunia ini yang begitu tidak berperasaan dan bagitu jahaatt.
Teriak Lia di bawah selimut....