
"Hay Lia" sapa Zey ketika melihat Lia berada di dapur
"Ngapain kamu Zey?" tanya Lia terkejut melihat Zey malam-malam berada di rumah Anand.
"Aku datang melihatmu Lia"
"Memangnya ada apa denganku?"
"Gak ada apa-apa sih, aku hanya pengen lihat kamu"
"Aneh kamu Zey" ucap Lia dengan pergi meninggalkan Zey
"Kamu mau kemana Lia?"
"Mau tidur"
"Koq tidur sih Lia"
"Iya Zey, aku capek" ucap Lia dengan mencoba pergi namun Zey menahan lengan Lia.
"Temani aku ngobrol dulu Lia"
Dari kejauhan raut wajah Anand mulai berubah ketika melihat Zey memegang tangan Lia sambil tersenyum.
Dirga tidak tau apa yang Anand rasakan tapi ia bisa menilai kalau Anand mulai memiliki perasaan ke wanita bernama Lia yang saat ini tinggal bersama dengan sabahatnya itu.
"Zey...." panggil Dirga
Zey mendengar namanya di panggil langsung menengok ke arah suara itu.
"Ada apa Dirga?"
"Kamu gak mau mengenalkan dia sama aku" ucap Dirga
Tangan Zey terus memegang tangan Lia.
"Oh iya kenalin Lia, ini Dirga sepupu aku"
"Hay Lia" sapa Dirga
"iya tuan"
"Jangan panggil tuan dong, panggil Dirga aja biar lebih dekat"
"Baik tuan, eh maaf. Dirga maksud aku"
Anand datang menghampiri mereka, ia terus menatap tangan Zey yang terus memegang tangan Lia. Anand terus menatap Zey namun Zey cuek saja.
"Apa kalian Sudah selesai ?" tanya Anand
"Ada apa Anand?" tanya Dirga
"Aku ingin agar kalian pergi dari sini"
"Kita baru sampai Anand, dan aku ingin lebih dekat dengan Lia" ucap Dirga.
Anand menarik nafasnya mendengar ucapan Dirga, dengan cepat ia mendorong Dirga dan Zey.
"Kenapa kamu mengenggamnya terus Zey?
"Agar dia tidak pergi dari sisiku"
Wajah Anand berubah, dengan cepat ia melepaskan tangan Zey
"Sekarang keluar dari rumahku, aku mau istirahat"
"Kalau kamu mau istirahat, ya istirahat saja, kenapa mengusir kami" ucap Zey
"Ini rumahku, jadi aku berhak mau ngapain saja. sekarang pergilah" ucap Anand dengan mendorong mereka keluar.
Setelah Anand berhasil mengusir mereka, Lia pun berbalik dan hendak pergi namun Anand memanggilnya.
"Mau kemana kamu?"
"Pergi ke kamar"
"Enak saja main pergi begitu saja setelah mengundang seorang pria kesini"
Lia menghela nafasnya ketika mendengar apa yang Anand katakan.
"Saya tidak mengundang mereka, dan lagi pula mereka teman anda tuan bukan teman saya"
"Tapi kenapa kalian berpegangan tangan"
"Zey memegang tangan saya dan saya mencoba melepaskannya tuan"
"Alasan saja kamu"
"Tuan saya ingin istirahat, saya tidak ingin berdebat dengan anda" ucap Lia dengan mencoba meninggalkan Anand begitu saja.
Anand masih terlihat kesal mengingat Zey memegang tangan Lia, dan dengan rasa cemburu ia mengejar Lia dan menarik lengannya.
"Jangan pernah melakukannya lagi" ucap Anand
"Maksud anda apa tuan ?"
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan mereka"
"Siapa maksud anda tuan, saya tidak mengerti dengan arah ucapan anda" ucap Lia dengan pergi meninggalkan Anand.
Anand merasa cemburu harus melihat Lia dan Zey selalu bersama walaupun mereka tidak memiliki hubungan. namun Anand masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Memangnya dia siapa ngelarang aku dekat dengan siapapun" ucap Lia tiduran sambil menatap langit-langit kamarnya.
*****
Keesokan paginya iya bekerja, Lia selalu mendapatkan pesan dari Mira dengan memperalat ayahnya.
Sebulan Lia bekerja di restauran namun ia belum bisa memberikan uang kepada Mira dengan jumlah yang besar. siang itu Mira mencoba datang ke tempat kerja menemui Lia, namun Lia mengajaknya bertemu di luar restauran. ia takut ketahuan.
Mira menarik rambut Lia, dan memberikan peringatan ia akan datang membuat keributan di restauran atau tempat tinggal Lia jika Lia tidak segera memberikannya uang.
"Kamu tau bagaimana keadaan ayahmu sekarang? dia sekarang seperti mayat yang hanya diam saja"
"Lepaskan ayahku"
"Lepaskan? gak semudah itu sebelum kamu memberikanku uang"
"Aku akan memberikanmu uang tapi lepaskan ayahku"
"Kamu pikir siapa yang merawat kamu hingga dewasa, ibumu? bukan tapi aku yang merawatmu" ucap Mira mendorong kepala Lia dengan telunjuknya.
Lia memasang wajah marah ke arah Mira, ia menahan emosinya demi ayahnya.
"Kenapa, kamu mau memukulku haaa" teriak Mira dengan melototkan matanya "Atau kamu mau membunuhku? sebelum kamu membunuhku aku akan membunuh ayahmu lebih dulu" ucap Mira dengan marah dan meninggalkan Lia
Lia hanya bisa menangis melihat bagaimana ayahnya di siksa oleh Mira ibu tirinya. ia kembali ke restauran dengan bekerja. Lia ingin menemui pak Lim setelah restaurant tutup nanti.
Tok...tok...
"Iya masuk" perintah pak Lim menyuruhnya masuk
"Maaf pak"
"Ada apa Lia?"
"Begini pak, saya ingin meminta bantuan bapak"
"Bantuan apa Lia?" tanya pak Lim dengan menatap Lia
"Boleh saya meminta gaji saya lebih dulu pak?"
"Buat apa Lia, ini belum tanggal gajian loh"
"Saya punya keperluan di luar sana pak"
"Apakah sebegitu penting?"
"Iya pak, saya begitu memerlukannya"
"Besok temui saya kembali"
"Baik pak"
Lia pergi keluar dari ruangan pak Lim dengan mengatur pernafasannya, ia begitu merasa sesak berada di dalam dengan menahan nafasnya karna takut pak Lim akan marah kepadanya dan memecatnya, namun semua yang Lia pikirkan jauh dari sikap baiknya pak Lim.
"Sabar yah, Lia akan membawah ayah keluar dari rumah itu, tunggu Lia ayah" ucap Lia dengan pergi meninggalkan restaurant.
Pulang dari restauran Lia jalan-jalan menikmati angin malam dan pemandangan lampu di setiap gedung sepanjang jalan. dari kejauhan seseorang menatap Lia dan mengikutinya.
"Lia..."
"Mario!"
"Kamu sedang apa Lia?"
"aku hanya ingin jalan-jalan saja Rio, tapi ini udah mau pulang juga"
"Ya sudah mari ku antar kamu pulang, gak baik seorang gadis pergi sendirian di malam hari"
"Gak perlu Rio, aku bisa pulang sendiri naik taksi"
"Jadi kamu menolakku lagi nih?"
"Gak gitu Rio"
"Trus ?"
"Baiklah"
"Gitu dong"
Lia naik ke mobil Mario.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah tadi di restauran" jawab Lia dengan mencoba membohonginya namun perut Lia tiba-tiba berbunyi karna lapar. ia belum sempat makan di restoran karna mengingat ancaman ibu tirinya tentang sang ayah.
Mario tersenyum melihat sikap Lia yang menjadi malu karna perutnya, ia menepikan mobil di depan restaurant.
"Aku gak apa-apa Rio"
"Kamu belum makan Lia, please jangan menolaknya aku tidak ingin wanita yang ku kagumi kelaparan"
"Kamu bisa aja Rio"
Mario mengantar Lia pulang setelah mereka makan malam, Anand yang menunggu Lia di lantai 2 memperhatikan Lia turun dari mobil.
"Wuaa kelihatannya orang lain lagi bahagia malam ini" ucap Anand menyindir Lia namun Lia cuek saja tak menanggapi ucapan Anand.
"Gimana rasanya naik mobil dan di antar oleh seorang pria?"
"Apaan sih" ucap Lia yang mulai kesal
"Apa sebahagia itu kamu di antar oleh seorang pria?"
"Berhenti tuan, saya hanya di beri tumpangan dan itu hanya kebetulan saja" jelas Lia kepada Anand seolah mereka memiliki hubungan.
Anand langsung mencium Lia. ia kesal dengan Lia yang selalu berdekatan dengan laki-laki lain dan memanggil mereka dengan sebutan nama mereka sedangkan dirinya tuan, tuan dan tuan.
Lia terkejut ketika Anand menempelkan bibirnya ke bibir Lia. ia melototkan matanya.