Mafia'S Favorite Girl

Mafia'S Favorite Girl
Bab 19



Anand ingin mengejar Zey dan juga Lia keluar dari ruangannya, namun ia berfikir jika sampai dirinya mengejar mereka orang yang pertama melontarkan banyak pertanyaan adalah si Zey. jadi anand mengurungkan niatnya tetap berdiam diri di ruang kerjanya walaupun ia tidak rela jika Zey dekat-dekat dengan Lia. rasanya Anand ingin memberi pelajaran kepada si Zey.


Perut Anand mulai lapar seharian berada di dalam ruang kerjanya. semua cacing di dalam perutnya sedang bernyanyi meminta makanan.


Anand keluar dari ruang kerjanya menuju ke dapur untuk makan malam, namun raut wajah Anand berubah ketika melihat Zey yang sedang duduk sambil menyuapi buah ke mulut Lia.


Lia mencoba menolak apa yang Zey lakukan namun Zey memohon agar Lia menerimanya dengan syarat ia siap melakukan apapun yang Lia minta. Lia yang mendengar apa yang Zey katakan ia menyetujuinya karna dirinya memiliki satu tujuan tapi masih ia rahasiakan.


Lia dan Zey semakin serius dalam obrolan mereka, sedangkan Anand mencoba cuekin mereka dengan berpura-pura tak melihat mereka berdua.


Zey melirik Anand yang lewat di hadapan mereka, Zey mencoba mencubit kedua pipi Lia.


"Kenapa kamu terlihat begitu lucu Lia, pipimu membuatku ingin mencubitnya setiap hari" ucap Zey dengan suara yang sengaja ia keraskan.


"Apaan sih Zey, gak usah lebay deh kamu"


"Beneran Lia, seandainya kamu pacarku pasti aku akan membuat kamu bahagia sepanjang waktu"


Anand mencoba mengambil air di dalam kulkas untuk di minumnya namun sebelum meminumnya ia menghela nafas ketika mendengar apa yang Zey katakan ke Lia.


"Kamu bisa aja Zey"


"Iya beneran Lia, aku gak bohong" ucap Zey dengan mencoba serius seperti yang dilakukan pria ketika di hadapan wanita yang ia cintai.


Anand mulai terlihat kesal dengan apa yang di lakukan oleh Zey dan Lia.


"Kenapa sih kalian begitu ribut" ucap Anand dengan suara yang membuat Lia kaget. lalu ia pergi ke ruang kerjanya.


Zey menahan tawanya melihat wajah Anand.


"Ya udah Lia, kita ngobrol di kamar kamu aja biar leluasa " ucap Zey


"Kenapa harus di kamar Zey?" tanya Lia


Zey memutar matanya sambil mencari alasan yang harus ia jawab agar Lia mengizinkan dirinya masuk kedalam kamar.


"Oh iya Lia! aku punya sesuatu tapi aku gak mau ngomong di sini kita ngobrol di kamar kamu saja" ucap Zey dengan menarik tangan Lia.


Anand yang sudah berada dalam ruang kerjanya tak melakukan pekerjaannya melainkan ia menguping apa yang Zey dan Lia bicarakan. Anand menempelkan tubuhnya ke dinding bagaikan cicak.


Anand mengambil stetoskop milik Zey yang ada di meja kerjanya. anand memakaikan di kedua telinganya dengan menempelkannya ke tembok untuk mendengar percakapan Zey dan Lia.


"Zey kita ngobrol di sini aja, ngapain ke kamar" ucap Lia yang mencoba menolak Zey namun Zey memaksa Lia.


"Aku punya sesuatu untukmu Lia, aku yakin pasti kamu gak akan menyesal"


"Benarkah?"


"Iya, yuk ke kamar kamu aja" ucap Zey yang menarik tangan Lia.


Anand yang tidak tahan dengan sikap Zey, ia membuka pintu ruang kerjanya, lalu memanggil nama Zey.


"Zey" panggil Anand


Zey yang mendengar namanya di panggil menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Anand. melihat wajah Anand yang begitu kesal tak membuatnya takut malah membuatnya tersenyum. dengan cepat Zey memutarkan otaknya mencari ide untuk memanasi anand.


Zey melirik Lia dan memegang tangannya. Lia yang terkejut dengan apa yang Zey lakukan, ia mencoba melepaskan tangannya namun Zey membisikan sesuatu ke telinga Lia. sehingga membuat Lia membiarkan Zey mengenggam tangannya. dengan takut Lia membalas genggaman tangan Zey dan tangan kanannya memegang lengan Zey.


Anand melototkan kedua matanya melihat apa yang Lia lakukan, Zey terkejut melihat apa yang Lia lakukan. Zey yang awalnya tak takut dengan Anand namun sekarang ia menjadi takut karna sikap Lia.


"Aku membantumu Zey" jawab Lia


Bantu apaan yang ada kamu malah membuatku takut Lia, aku yakin dengan apa yang kamu lakukan Anand tidak akan memberiku ampun Lia. wajah Anand mulai berubah Lia.


Zey yang hanya memanasi anand dengan mengenggam tangan Lia, namun Lia malah membalas genggamannya dan itu membuat Anand telihat begitu marah.


Zey yang mencoba melepaskan tangan Lia namun tak berhasil, Lia mengeratkan genggamannya.


Aku mohon Lia lepaskan tanganmu kalau gak bisa mati aku.


Anand mendekati mereka dan melepaskan tangan Zey dan Lia. anand menarik baju yang di pakai Zey.


"Kamu ikut aku" ucap Anand dengan menarik Zey ikut dengannya.


Mati aku..


Lia yang melihat Zey di perlakukan seperti itu membuatnya ingin menolong Zey dengan memegang lengan Anand. namun dengan sekali tatapan, bentakan, dan perintah membuat Lia takut.


"Masuk kamu ke kamar, sudah malam istirahatlah" ucap Anand dengan tatapan menakutkan.


Lia melepaskan tangannya yang memegang lengan Anand. ia menatap Zey.


Zey menggeleng-gelengkan kepalanya agar Lia tak pergi meninggalkannya sendirian.


"Aku bilang pergi ke kamarmu" ucap anand yang melihat Lia diam saja di tempatnya.


Anand menghela nafasnya menghadapi keras kepala yang Lia miliki. tanpa berpikir lagi anand menggendong Lia ke kamarnya. Lia berlari mengejar Anand dan meloncat ke tubuh bagian belakang Anand.


"Apa yang kamu lakukan Lia, cepat turun" ucap Lia


"Gak, sebelum kamu membebaskan Zey"


Anand menarik nafasnya dengan kesal karna Lia membela Zey. Anand menarik pinggang Lia dan memindahkannya ke depan yang saat ini posisi Lia berada dalam gendongan Anand, dengan tangan Lia berada di bagian leher Anand, dan kakinya melingkari pinggang Anand.


Anand dan Lia saling bertatapan tanpa mengedipkan kedua mata mereka. detak jantung mereka berdetak sangat kencang.


Zey yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kamar, ia mencoba mengintip. ia melihat sesuatu terjadi antara anand dan Lia. Zey ingin agar Lia dan Anand berciuman.


"Turunlah, kamu terlalu berat" ucap Anand menyadarkan Lia dari lamunannya.


Mendengar ucapan Anand membuat Lia kesal, ia turun dari tubuh anand. Lia pergi ke tempat tidurnya dengan wajah yang memerah karna malu. sedangkan Anand pergi keluar dari kamar dan bersandar di pintu kamar Lia sambil memegang dadanya, merasakan detak jantungnya tak beraturan.


Zey kembali ke tempatnya sambil tersenyum melihat kemajuan kedekatan Anand dan Lia.


"Apa yang kamu tertawakan Zey?" tanya Anand.


Suara Anand mengagetkan Zey, ia mencoba mendekati Anand.


"keluar Zey, kamu harus pulang gak ada lagi acara menginap di rumahku." ucap Anand dengan menarik Zey keluar


"Tapi Anand ini sudah malam"


"Terserah kamu" ucap Anand menutup pintu rumahnya.


Zey mengetuk pintu rumah Anand namun dia tak membuka pintunya. sehingga membuat Zey pergi meninggalkan rumahnya.


"Lihat saja Anand, sampai kapan kamu tidak mau mengakui kalau kamu benar-benar mulai menyukai Lia, aku akan melakukannya sampai kamu mengakuinya di hadapan Lia" ucap Zey