Mafia'S Favorite Girl

Mafia'S Favorite Girl
Bab 22



Dalam perjalanan pulang, Lia naik bersama dengan Anand sedangkan Kinar pulang bersama dengan suaminya. Lia dan Anand hanya diam saja selama berada di dalam mobil, mereka tak mengucapkan sepatah katapun.


Berbeda dengan Kinar dan Rangga yang begitu menikmati musik dalam mobilnya. Kinar mengenggam tangan suaminya dan sesekali ia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Rangga pun menikmatinya dan sesekali ia mencium kening istrinya.


Lia dan Anand sampai di rumah, Anand memarkirkan mobilnya, lalu menatap Lia. ia tidak tega membangunkan Lia yang sedang tidur dan akhirnya Anand menggendong Lia masuk ke dalam rumah dan mengantarkannya ke dalam kamar. ketika Anand mengantarkan Lia ke kamar tiba-tiba Lia terbangun dengan membuka matanya. wajah yang pertama ia lihat adalah wajah Anand lalu ia tersenyum.


Anand yang menyadari Lia sudah bangun, ia menatapnya dan berkata.


"Berpeganglah jika tidak ingin terjatuh"


Tanpa perlawanan Lia melingkarkan kedua tangannya di leher Anand. Lia terus menatap wajah Anand. sedangkan Anand masih dengan sikapnya yang cool untuk menyembunyikan perasaanya namun detak jantungnya terus berdetak dengan kuat, seolah dirinya tidak kuat menahannya dan ingin sekali memeluk Lia dengan erat, Anand terlihat begitu bingung dengan dirinya yang saat ini bahkan ia tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya.


Dengan pelan Lia membenamkan wajahnya di dada bidang Anand seolah ia menikmati apa yang saat ini terjadi.


Kenapa jantungku berdetak begitu kuat, aku belum pernah merasakan yang seperti ini. kalaupun iya tapi itu ketika aku harus melakukan ujian akhir di kampus dengan mendapatkan penguji yang kiler.


Lia menatap Anand kembali dengan mempertanyakan ada apa dengan jantungnya.


"Berhenti menatapku, nanti kamu jatuh cinta padaku dan tidak bisa melupakan ketampanan wajahku, sehingga kamu akan bermimpi malam ini" ucap Anand tanpa menatap Lia.


"Cih, pede sekali anda tuan" ucap Lia ketika mendengar apa yang Anand katakan.


Tunggu, tungggu.! jatuh cinta? gak mungkin aku jatuh cinta kepada pria batu, pria egois seperti dia, gak mungkin pasti jantungku lagi bermasalah bukan karna jatuh cinta. gila kali aku harus menghabiskan hidupku dengan jatuh cinta kepada pria ini.


Anand terus menatap Lia yang sedang melamun.


"Apa sudah selesai dengan lamunannya?" tanya Anand


Lia tersadarkan dari lamunannya, yang mengingat jika ia hidup bersama dengan Anand akan jadi apa dirinya nanti.


"Apa wajahku ini mulai terbayang di kepalamu," ucap anand dengan percaya diri.


"Jangan mimpi anda tuan, sampai kapanpun aku gak akan menyukai dan mencintai anda" ucap Lia dengan kesal


"Apakah kamu yakin?" tanya Anand dengan mencoba menggoda Lia.


Ini laki kenapa sih...


"Tolong tuan lepaskan aku"


"Baiklah" ucap Anand dengan melepaskan tangannya.


"Auuu" Jeritan Lia terjatuh tepat di tempat tidur.


"Apa sekejam itu anda dengan melepaskan saya"


"Bukankah kamu yang memintanya agar saya melepaskan kamu"


Sial, dasar pria tak berperasaan. walaupun aku memintamu melepaskannya bukan berarti kamu harus melepaskannya juga.


"Memangnya siapa yang ingin memimpikan anda tuan" teriak Lia dengan melemparkan bantal ke arah pintu.


Anand tersenyum mendengar teriakan Lia, lalu ia memegang dadanya dengan mengelusnya. berharap detak jantungnya kembali berfungsi dengan normal.


Lia menatap langit-langit kamarnya dengan terus memegang dadanya dan mengelusnya agar kembali normal seperti yang Anand lakukan, Lia pun melakukannya.


Malam ini Lia terlihat begitu gelisah dengan detak jantungnya dan juga perasaannya. ia begitu takut jika apa yang di katakan Anand benar. ia akan jatuh cinta kepada Anand.


Lia memiringkan tubuhnya kekiri dan kekanan, menutup tubuhnya dengan selimut namun ia tidak bisa tidur karna masih mengingat apa yang di ucapkan Anand.


Sama halnya dengan Anand, ia melakukan seperti yang di lakukan Lia. sehingga saat ini mereka bersamaan memiringkan tubuh mereka seolah mereka sedang berhadapan.


Lia ingin menghubungi Kinar dengan menanyakannya, namun ia mengurungkan niatnya karna memikirkan saat ini sudah larut malam gak mungkin ia menghubungi Kinar yang sedang beristirahat dengan suaminya.


Lalu Lia menggeser nomor kontak Kinar ke nama ria. namun Lia pun ragu menanyakan ke Ria. karna menurut Lia sahabatnya Ria belum pernah merasakan jatuh cinta mana bisa ia memberikan pendapat untuknya.


Lia terlihat begitu frustasi, ia menarik rambutnya sampai rambutnya terlihat berantakan. Lia bangun ia berjalan-jalan kesana kemari sambil berfikir keras dengan apa yang ia hadapi. tiba-tiba ia teringat Zey dokter yang pernah memeriksanya.


"Kenapa aku tidak memikirkan Zey, dia kan seorang dokter siapa tau dia bisa membantuku" ucap Lia dengan mencari nomor kontak Zey di handphonenya. namun Lia menghentikan dirinya menghubungi Zey.


"Kalau dia mengatakan yang aneh-aneh bagaimana, dia kan suka jahil apalagi kalau sampai melaporkannya pada Anand. nanti aku yang malu" ucap Lia dengan kembali mondar mandir sambil memikirkannya.


AAaahhh!! kenapa ini, kenapa jantungku masih saja belum kembali seperti biasa, masih berdetak seperti sedang di kejar.


Lia berjalan dengan lemas ke tempat tidurnya dan melemparkan tubuhnya begitu saja.


"Aku ingin istirahat, aku ingin kembali seperti sebelumnya" ucap Lia dengan memaksa memejamkan kedua matanya, walaupun dirinya sulit melakukannya.


"Ayo, malam ini kita istirahat, nanti kita akan melanjutkannya besok lagi" ucap Lia dengan mencoba menenggelamkan dirinya dalam mimpi.


Anand pun tak bisa tidur, ia bangun dan pergi ke dapur mengambil air es untuk di minumnya. namun ketika ia melewati kamar Lia, Anand menatapnya sangat lama.


"Apa yang sedang dia pikirkan, kenapa lampu kamarnya masih menyalah di jam begini" ucap Anand.


Setelah selesai mengambil air untuk di minumnya, ia menatap kembali kamar Lia. kamar Lia tetap sama dengan lampu kamar yang belum padam.


"Sedang apa dia di dalam sana" ucap Anand dengan mendekati pintu kamar Lia, dan menempelkan kupingnya seolah ia ingin mendengarkan sesuatu dari dalam kamar.


"Sedang apa dia di jam yang sudah begitu larut malam" ucap Anand dengan masih penasaran.


Lalu tiba-tiba Anand tersadarkan diri dengan berdiri di depan kamar Lia.


"Sedang apa aku di sini?, kenapa aku mengkhawatirkannya. bukankah hidupnya bukanlah urusanku" ucap Anand menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pergi meninggalkan kamar Lia.


Anand duduk di ruangan kerjanya, ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan kantornya dan juga bisnis persenjataannya. namun ia tidak bisa konsen dalam melakukan pekerjaannya, karna wajah Lia dan senyumannya terus muncul di kepalanya.


Anand menyandarkan tubuhnya dengan meletakan kedua kakinya di atas meja. lalu ia berpindah tempat dengan duduk di sofa dengan tiduran di sofa sambil menatap langit-langit di ruang kerjanya. wajah dan senyuman Lia terus muncul bahkan di langit-langit ruang kerjanya pun wajah dan senyuman itu muncul.