
Setelah bertemu dan melihat Anand Grace benar-benar jatuh cinta, dan ia terus menghubungi Zey meminta agar mengatur pertemuannya dengan Anand kembali.
"Zey..!"
"Ada apa Grace?"
"Tolong dong atur pertemuanku dengan Anand lagi"
"Maaf Grace aku gak bisa, karna Anand gak mau di jodohin kayak gitu."
"Ayolah Zey, sekali ini aja kamu bantuin aku" bujuk Grace
Zey terdiam, ia terus berpikir jika ia membantu Grace. kali ini dirinya akan dapat masalah.
Siapa sangka kalau pagi ini Anand akan bertemu dengan orang yang begitu ia benci dan ingin rasanya ia membunuh orang itu, namun semua itu ia pendam demi mencari keberadaan Lia.
Melihat Anand dari jauh mereka terlihat begitu takut namun mereka lebih menjadi-jadi dan memancing emosi Anand. Amira mendekati Anand.
"Waww, sepertinya anda sudah melupakannya ya tuan, sungguh malang nasib Lia. pria yang dia cintai ternyata begitu cepat telah melupakannya." ucap Amira di hadapan Anand sambil tertawa mengejek.
Zey melihat Amira ibu tiri Lia. ia benar-benar ingin menamparnya, namun Zey mengurungkan niatnya ia hanya menatap Anand yang menahan diri ingin membunuh Amira dan juga Serina. Zey berharap Anand melakukan sesuatu ke mereka dan benar saja apa yang Zey inginkan terjadi
"Sekali lagi kalian membicarakan Lia. aku gak akan segan-segan membunuh kalian berdua" ucap Anand sambil memegang leher Amira dengan begitu keras.
"Lepaskan Aku Anand" ucap Amira yang berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Anand.
"Jangan lepaskan Anand. beri mereka pelajaran tanpa ampunan Anand." ucap Zey sambil mengompori Anand.
"Sialan kamu" ucap Serina
Namun Serina terdiam ketika Anand menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.
Amira terus memegangi tangan Anand agar melepaskan cekikan tangannya di leher miliknya.
"Lepaskan Aku Anand" teriak Amira dan di bantu oleh Serina putrinya.
"Jika sekali lagi kalian berani menyebut nama Lia. maka aku tak akan melepaskan kalian dan aku akan buat kalian menyesal seumur hidup." ucap Anand suara tegas dan tatapan membunuh.
Anand pergi begitu saja, sedangkan Amira ia terbatuk-batuk karna cekikan tangan Anand.
"Sial..! kenapa dia masih saja seperti dulu, kenapa dia begitu keras" ucap Amira dengan suara marah-marah dan kesal.
Semua orang menatap Serina dan juga Amira dengan tatapan memprihatinkan.
"Apa yang kalian lihat, kalian ingin mati" ucap Serina. namun semua orang tertawa
"Biarkan saja Serina. bantuin ibu leher ibu terasa sakit"
Dengan kesal Serina mencoba mengukuh ibunya berjalan ke arah mobil
"Ibu sih nyari masalah dengan pria itu"
"Ibu hanya ingin cari tau apakah dia masih seperti dulu atau gak"
"Tapi ibu udah lihat sendiri kan kalau dia itu masih sama seperti dulu, bahkan melebihi dari yang dulu" ucap Serina kesal
"Kamu benar Serina pria itu lebih kejam ketika kehilangan Lia. bahkan dia ingin membunuh kita, ingin menelan kita mentah-mentah Serina." ucap Amira
"Udahlah Bu, kita cari aman saja gak usah memancing emosinya lagi, jika kita melakukannya bisa saja kita mati di tangannya. ibu lihat tadi kita masih di beri kesempatan kalau gak, sekarang kita pasti sudah tergeletak tak bernyawa di lantai" ucap Serina.
"Kamu benar Serina." ucap Amira dengan berjalan di bantu serina sambil memegang lehernya sendiri.