
Anand meninggalkan Lia ketika dia sudah tertidur, Anand mulai menghubungi anak buanya untuk mencari tau ada apa dengan Lia dan apa yang terjadi, namun Anand tak mendapatkan informasi.
Dan paginya ia mendapatkan telfon dari ayahnya tuan Robert untuk menemui dirinya.
Anand masuk ke dalam kamar Lia dan pamit kepadanya, saat ini Lia masih terlelap. Anand mengusap rambut Lia lalu ia pergi keluar dari kamarnya.
"Bi, jaga Lia baik-baik, jangan ada satupun yang datang menjenguk dia. siapapun itu jangan izinkan tanpa persetujuan dari saya." jelas Anand
"Baik tuan Anand" jawab pembantu di rumahnya
Sebelum pergi Anand berpesan pada pengawalnya agar tak mengizinkan siapapun termasuk teman-temannya.
*****
Sesampainya di kediaman tuan Robert. Anand mengobrol dengan ayahnya. tuan Robert memberikan nasehat kepada putranya agar tidak gegabah dalam bertindak, ia bisa melihat wanita yang bernama Lia yang saat ini tinggal bersamanya sangat ia cintai. tuan Robert tidak ingin putranya akan merasakan apa yang pernah ia rasakan.
"Ayah hanya ingin kamu tidak gegabah dalam melangkah"
"Siapapun yang mengusik kehidupan Anand. anand tidak akan memberikan maaf siapapun itu" ucap Anand
"Ayah tidak akan melarang apa yang kamu lakukan tapi ayah mengingatkanmu sekarang banyak musuh yang ingin menjatuhkan mu termasuk tuan Anor. jika mereka tidak bisa melukaimu maka mereka akan melaporkanmu ke polisi dengan bantuan polisi mereka akan melarikan diri dari apa yang mereka lakukan padamu nanti dan mereka tidak perlu turun tangan."
Tatapan Anand berubah, kini aura mafianya keluar tapi ia harus berhati-hati, apa yang ayahnya katakan benar, ia harus bermain dengan baik tanpa pengetahuan mereka kalau dirinya yang melakukannya.
Tiba-tiba handphone Anand berdering, sebuah nama tertera di layar handphonenya yaitu pekerja di rumahnya.
"Tu..tu...tuaannn" ucap bi izah terbata-bata
"Ada apa bi?" tanya Anand dengan wajahnya mulai berubah khawatir
"Tuan Zey memaksa untuk masuk tuan"
Ketika mendengar apa yang di katakan BI izah, Anand menghela nafasnya dan rasa khawatirnya menghilang.
Bi izah memberikan telfonnya ke Zey, dengan kesal Zey meraihnya dan mulai bicara tapi nada suara Zey telah berubah menjadi lembut tidak seperti suaranya sebelumnya.
"Tuanku yang baik hati,. bolehkah aku menjenguk temanku yang bernama Lia, yang berstatuskan wanitamu?" ucap Zey dengan selembut mungkin padahal suaranya di depan BI izah sungguh luar biasa dengan mengomel ke Anand.
Bi izah menahan tawanya melihat sikap Zey yang sangat berbeda ketika berbicara atau berhadapan dengan Anand, dan tidak berhadapan.
"Siapapun di larang menemuinya termasuk kamu"
"Tapi.." suara Zey mulai meninggi dan terdengar kasar namun ia mengontrolnya kembali.
"Tapi aku adalah sahabatmu, masa sih kamu gak ngizinin aku menghibur Lia." ucap Zey dengan berusaha membujuk Anand agar mendapatkan izin
"Baiklah kalau kamu ngotot.." jawab Anand tapi omongan Anand terpotong ketika Zey berbicara.
"Yes,akhirnya tuanku Anand baik hati juga sehingga mengizinkanku menemuinya, aku datang Lia kamu di mana" ucap Zey dengan gembira namun kegembiraan itu hilang ketika Anand berbicara kembali.
"Kamu bisa menemuinya tapi 15menit lagi aku kesana, dan kamu silahkan tunggu di teras rumahku. sebelum aku datang kamu gak boleh masuk" ucap Anand ke Zey yang sudah terlihat senang
"Apa?!" Zey kaget mendengar ucapan Anand.
"Percuma aku memujimu tapi kamu tetap pelit dan sombong" ucap Zey dengan suara kecilnya
"Kamu mengatakan sesuatu Zey"
Zey seketika tersadarkan dan takut kalau ucapannya si dengar oleh Anand.
"Gak ada, aku hanya mau bilang makasih sudah mengizinkanku menemui Lia walaupun harus menunggu kamu tuanku" ucap Zey dengan menahan kekesalannya.
Lalu Anand mengakhiri panggilan telfonnya dengan Zey, dan sebelum pergi ia mengakhiri pertemuannya dengan ayahnya.