LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
7



Keduanya masih betah terdiam saling menyiapkan mental untuk tujuan yang berbeda, Leo yang menyiapkan diri untuk menyampaikan apa yang telah ia pendam sejak tadi sementara Erina menyiapkan diri untuk menerima apapun yang akan diucapkan pria disampingnya itu.


“Erina” panggil Leo membuat sang pemiik nama menoleh “Kenapa kak?” tanya gadis itu semakin penasaran, kini degup jantungnya berpacu cepat karena rasa gugup yang ia rasakan. “Tumben banget manggil kakak” ucap Leo terkekeh merasa aneh mendengar Erina memanggilnya dengan sebutan itu, “Ish, lagi serius juga” keluh gadis itu sebal karena Leo yang justru mengucapkan hal yang menurutnya tak penting itu. “Ya udah serius lagi ya” ucap Leo mulai menggenggam kedua lengan kekasihnya itu, “Setelah diskusi sama mamah papah, aku udah mutusin buat lanjut kuliah ke luar negri” awalnya membuat Erina membelalakan mata merasa kaget karena pria dihadapannya selama ini tak pernah menceritakan hal seperti itu kepada dirinya “Maaf karena aku gak pernah cerita apapun soal ini, karena aku juga baru diskusi sama kak Alana pas dia pulang. Papah sama mamah juga setuju, jadi aku fikir itu hal yang bagus” jelasnya, jujur Erina tak tau harus berkata apa karena hal ini masih mengejutkan untuk dirinya.


Hening kembali menyelimuti keduanya, Erina hanya diam menyandarkan kepala ke bahu Leo setelah mendengarkan penjelasan sang kekasih. Sementara Leo juga tak mengucapkan apapun lagi, mengerti akan situasi yang dialami sang kekasih membuatnya memilih untuk diam membiarkan Erina dengan pikirannya sambil mengusap lengan gadis dipelukannya itu.


“Udah malem, kita pulang yuk” ajak Leo yang hanya dibalas anggukan oleh sang kekasih, keduanya pun berjalan meninggalkan pantai.


Tak ada percakapan yang terjadi didalam mobil, Leo yang hanya fokus pada jalan didepannya dan Erina yang terdiam menyandarkan kepala sambil menatap kearah jendela samping. Hanya ada suara dari radio yang memecahkan keheningan disana, beberapa kali Leo mencuri pandang pada gadis disampingnya dan mengusap telapak tangan kekasihnya saat mereka berhenti di lampu merah.


Leo memarkirkan mobilnya di basement apartemen Erina begitu mereka sampai, keduanya masih terdiam didalam mobil dengan keheningan yang tak kunjung hilang. Dapat Leo dengar helaan nafas yang keluar dari sang kekasih “Berapa lama?” tanya gadis itu kemudian memecah keheningan yang sejak tadi terjadi, “2 tahun kalau aku bisa selesai dengan cepat, 3 tahun paling lambat. Aku bakal berusaha supaya kuliahku disana selesai dengan cepat dan kamu gak perlu nunggu lebih lama lagi” jelas pria itu membuat Erina menghembuskan nafas kasar kemudian membuka pintu mobil dan keluar diikuti oleh Leo.


Erina kembali terdiam bergelut dengan segala pemikirannya sementara Leo mengikuti gadis itu mengantarnya sampai tiba di unit apartemen yang ditinggali.


Gadis itu berhenti ketika mereka sampai didepan pintu apartemen, membalikkan badan menghadap sang kekasih dengan wajah yang terlihat sangat sendu. Erina menarik nafas mencoba menenangkan diri “Aku bakal nunggu kakak, aku gak masalah kalau kita harus berakhir ldr-an. Aku Cuma minta kakak jaga diri dan jaga hati kakak disana buat aku” ucapnya membuat butiran air mata perlahan keluar menuruni pipinya, Leo mengusap air mata itu dengan jemarinya dan memeluk Erina penuh rasa sayang “Kakak janji, makasih Rin” ucapnya membuat gadis dipelukannya semakin menangis dan mengeratkan pelukannya. Untungnya suasana apartemen saat ini sedang sepi sehingga tak ada yang menyaksikan apa yang keduanya lakukan saat ini.


Leo pamit setelah tangis Erina reda, meninggalkan gadis itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Erina membuka pintu apartemen, berjalan menuju dapur dan mendapati sang adik yang tengah sibuk membuat mie instan sambil bersenandung lagu yang Erina tak tau apa, sepertinya lagu korea karena gadis itu tak faham dengan apa yang diucapkan adiknya itu. “Kamu nyanyi apa sih dek?” tanya gadis itu sambil mendudukan diri di kursi pantry, Arina yang sejak tadi tak menyadari kehadiran sang kakak terlonjak kaget “Lah kakak sejak kapan disana?” tanya gadis itu menunjuk sang kakak yang kini tengah duduk terdiam menatapnya “Baru aja sampe, kamu aja yang keasikan nyanyi sampe gak denger suara pintu kebuka” jawab Erina membuat sang adik memberikan cengiran “Hehe ya aku kira kakak gak bakal pulang dulu, aku lagi nyanyi lagunya bts kak bagus tau dengerin deh” ucap Arina sambil membuka ponselnya memutar lagu yang tadi ia nyanyikan lalu kembali fokus dengan mie instannya yang mulai matang.


Arina mematikan kompor begitu mie nya matang dan membawa panci kecil itu menuju meja makan diikuti Erina yang juga ikut mendudukan dirinya disana, gadis itu makan dengan lahap karena sudah merasa sangat lapar. “Pelan-pelan makannya dek” tegur Erina melihat sang adik yang makan dengan terburu-buru “Maaf kak, laper banget gak kuat” jawab sang adik yang akhirnya mulai makan dengan perlahan menuruti sang kakak.


Erina akhirnya memilih masuk kedalam kamarnya, membersihkan diri dan berbaring menatap langit-langit kamarnya yang sudah seperti sebuah rutinitas bagi gadis itu. Pikirannya melayang entah kemana, kabar yang ia dengar beberapa jam yang lalu itu masih terlalu mengejutkan bagi dirinya. Meskipun gadis itu telah menyatakan persetujuannya kepada sang kekasih, hatinya masih merasa gelisah.


Bagaimanapun Erina tak ada hak untuk melarang Leo pergi, karena gadis itu sadar posisinya saat ini belum lah menjadikannya pemilik Leo secara utuh. Erina tak ingin menghalangi apa yang ingin dilakukan pria itu, apalagi ini sangat berguna untuk Leo yang akan menggantikan sang ayah memimpin perusahaan.


Erina tak memiliki banyak ketakutan terhadap hubungannya, karena gadis itu percaya pada sang kekasih. yang ia takutkan hanyalah bagaimana dirinya harus menjalani hari kedepannya begitu jarak Leo dan dirinya menjadi sangat jauh, karena Erina terlalu mudah merindukan dan mengkhawatirkan pria itu. Berkali-kali dirinya mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu akan bisa dilewati dengan baik, bahwa hubungan yang terjalin diantara keduanya sangat erat sehingga pasti akan mampu bertahan dalam keadaan jarak jauh yang akan mereka jalani nanti.


Erina sekali lagi meyakinkan hatinya bahwa Leo tak akan meruntuhkan kepercayaan yang telah ia berikan, Leo akan selalu menjaga diri dan hatinya seperti yang ia ucapkan kepada dirinya.


Entah kenapa malam ini Erina merasa tak bisa tidur, mata yang ia coba pejamkan sejak tadi tak mau tertidur membuat Erina menyerah dan akhirnya hanya bisa terduduk di tempat tidurnya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk berpindah kamar, menghampiri sang adik yang ternyata masih terjaga sedang mengerjakan tugas sekolahnya “Kamu belum tidur dek?” tanya Erina membuat sang adik menolehkan kepalanya “Belum, masih ada tugas yang harus aku beresin” ucapnya kembali mengerjakan tugas dihadapannya “Kakak tidur disini yah sama kamu” ucap Erina sambil berjalan menuju tempat tidur Arina membuat sang adik mengerutkan keningnya heran “Kenapa? Tumben banget” tanya Arina masih tetap fokus pada pekerjaannya “Gak tau, kakak gak bisa tidur” keluhnya membuat Arina akhirnya menyetujui hal tersebut.


Arina menyelesaikan tugasnya 15 menit kemudian, ketika dirinya berbalik hendak menuju kamar mandi gadis itu menangkap sang kakak yang sudah terlelap diatas tempat tidurnya sambil memeluk guling “Gak bisa tidur dikamarnya sendiri tapi pules banget disini” ucap gadis itu kemudian berlalu menuju kamar mandi.