
Leo terdiam menatap pemandangan kebun bunga milik sang ibu dari balik jendela kamarnya, sementara di atas meja belajarnya terdapat laptop dengan layar yang dipenuhi oleh tulisan, tampak sebuah pesan elektornik yang baru saja ia buka masih ditampilkan disana.
Entah kenapa pria itu merasa serba salah saat ini. Di satu sisi pria itu ingin sekali pergi dan mengejar impiannya, apalagi kesempatan besar itu sudah di depan mata. Sementara di satu sisi lain dirinya merasa tak tega jika harus meninggalkan kekasihnya disini, meskipun ada Arina dan kedua orang tuanya yang sudah pasti akan menjaga dan menemani gadis itu selama ia pergi.
Erina tak memiliki sahabat yang benar-benar dekat dengannya, hal itu yang membuat Leo merasa khawatir. Selama ini Erina adalah orang yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain, tapi ia tak pernah memiliki sosok yang benar-benar menjadi sahabat dimana gadis itu mencurahkan isi hati dan keluh kesahnya. Bagi Erina, tak mudah rasanya untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk membagi apa yang ia rasakan.
Ketukan dari luar kamarnya memecahkan lamunan pria itu, Leo membalikkan tubuhnya dan melihat sang kakak yang kini telah masuk kedalam kamarnya. “Gimana? Kamu udah terima e-mailnya?” tanya gadis itu sambil mendudukan diri di kursi dan menatap layar laptop milik sang adik kemudian membaca tulisan yang terpampang disana dengan seksama.
Mata gadis itu berbinar menatap sang adik yang hanya menatapnya datar, merasa bahagia setelah dirinya membaca isi dari pesan eletronik yang ditujukan untuk adiknya itu “Kamu lulus” ucapnya bahagia yang dibalas anggukan oleh sang adik. Alana tak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya, gadis itu berhambur memeluk sang adik “Selamat ya dek, kakak bangga banget sama kamu” ucapnya mengusap kepala sang adik membuat pria itu membalas pelukannya.
Alana melepaskan pelukannya dan menatap wajah datar sang adik yang kini terlihat sendu “Kamu kenapa? Erina?” tanya gadis itu membuat leo mengangguk “Dia gak masalah dan dukung aku, tapi gak tau kenapa aku masih ngerasa gelisah” jawab pria itu membuat Alana membawa adiknya itu untuk duduk di atas sofa kemudian memulai pembicaraan seriusnya “Kamu cuma terlalu khawatir sama Erina, kakak ngerti kamu pasti gak tenang ninggalin dia apalagi waktunya gak sebentar. Tapi Erina aja udah ngasih kamu kepercayaan, itu artinya kamu juga harus percaya kalau Erina disini bakal baik-baik aja dan kamu gak perlu terlalu khawatir. Kalau kamu kaya gini yang ada Erina malah merasa bersalah sama kamu, kamu gak mau kan dia kaya gitu?” jelas sang kakak yang dijawab gelengan oleh sang adik “Ya udah mending sekarang kamu tenangin diri dulu” ucap sang kakak kemudian keluar meninggalkan Leo yang kini semakin sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
Dering telepon membuat fokus Erina yang kini tengah sibuk menyiapkan makan siang teralihkan, gadis itu menatap layar ponselnya memeriksa siapa yang menghubunginya siang ini. Ia langsung mengangkat telepon begitu tau bahwa sosok yang menghubunginya saat ini adalah sang kekasih “Halo” ucapnya lembut, “Rin” terdengar pria di ujung sana berucap “Iya?” tanya Erina mulai gugup “Aku lulus” ucap Leo singkat namun berhasil membuat senyum diwajah Erina merekah “Serius?!” tanya gadis itu mulai antusias “Iya, barusan e-mailnya masuk” jelas Leo membuat Erina berteriak senang “Yaampun Leo selamat! Akhirnya impian kamu sebentar lagi bakal terwujud” ucap gadis itu bahagia “Gak manggil kakak lagi nih?” ledek Leo sambil terkekeh membuat Erina memanyunkan bibirnya “Ish nyebelin” keluh gadis itu “Ya udah nanti malam kakak jemput yah, dandan yang cantik” ucap pria itu, setelah mendapat jawaban iya dari Erina pria itu langsung menutup panggilannya.
Erina menikmati makan siangnya seorang diri, sang adik saat ini masih berada di sekolah dan sepertinya akan kembali pulang sore karena harus melanjutkan kegiatannya dengan les. Rasanya sangat sepi jika ia hanya sendiri seperti ini, apakah sang adik juga merasakan hal yang sama ketika Erina harus meninggalkannya sendiri karena pergi dengan Leo? Ah Erina jadi merasa bersalah pada adik kecilnya yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa putih abu-abunya itu. Hembusan nafas keluar dari mulut gadis itu, memikirkan bagaimana waktu sangat cepat berlalu dan tak terasa adik kecil yang selalu ia urus itu kini perlahan akan meninggalkan masa remajanya.
Meskipun Arina bukanlah sosok gadis yang manja dan rewel, tapi Erina yakin selalu ada perasaan sepi ketika ia harus tinggal sendirian di rumah. Tentu saja gadis itu tak akan mengatakannya kepada sang kakak karena tak ingin membuat sang kakak khawatir, dan Erina baru menyadarinya sekarang.
Drama korea dan dvd Idol k-pop yang selalu gadis itu saksikan pasti menjadi pelampiasan dari rasa sepi yang Arina rasakan, untungnya Erina faham dan tak pernah melarang sang adik yang ingin membeli dvd maupun album dari idola kesayangannya yang sering Erina dengar bernama BTS dan Red Velvet itu, ataupun ketika sang adik ingin berlangganan channel korea di televisi mereka. Setidaknya hal itu dapat mengobati rasa sepi yang dirasakan Arina, kehilangan kedua orang tua di usia yang masih muda membuat gadis itu tumbuh menjadi gadis yang kuat dan ceria karena tak ingin membuat orang-orang disekitarnya merasa khawatir apalagi sampai kasihan. Arina paling membenci hal itu.
Erina menatap pintu kamar sang adik yang terdapat hiasan dengan tulisan nama gadis itu dalam alphabet dan tulisan korea yang bernama hangul, sedikit-sedikit Erina jadi tau mengenai hal-hal berbau korea dari sang adik karena bagaimanapun ia juga harus memahami apa yang menjadi kesukaan adik kesayangannya itu dan apa yang membuatnya sangat menyukai hal-hal dari negeri ginseng tersebut.
Bayangan wajah sang adik yang tersenyum cerah tiba-tiba muncul di pikirannya, membuat gadis itu semakin merasa bersalah. Baiklah, mulai sekarang dirinya bertekad untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan adik semata wayangnya itu.
Kepergian Leo untuk mengejar impiannya akan menjadi kesempatan bagus untuk Erina agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu dan memfokuskan diri untuk merawat sang adik. Sebuah senyuman langsung terbit di wajah gadis itu, merasa bahagia karena dirinya menemukan banyak sisi positif meskipun harus berjauhan dengan sang kekasih. lagipula pria itu pasti akan menyempatkan diri untuk pulang walau tak akan terlalu sering jadi Erina hanya perlu memberikan kepercayaannya kepada pria yang akan meraih impiannya itu.