
Suara bel memecah keheningan malam di apartemen kakak beradik itu, Erina dengan sigap langsung berjalan menuju pintu dan mendapati sosok yang tak ia kenal berdiri dihadapannya ketika gadis itu membukakan pintu “Maaf cari siapa ya” tanya gadis itu ramah, “Dengan mbak Erina?” tanya sosok pria yang sepertinya driver ojek online dilihat dari jaket yang dikenakannya “Iya, saya sendiri. Ada apa ya mas?” tanya gadis itu penasaran “Ada kiriman untuk mbak” ucap pria tersebut kemudian menyerahkan sebuah paperbag kearah Erina.
Gadis itu menerimanya dengan heran “Dari siapa ya mas?” tanya Erina ragu, “Kata pengirimnya sudah ada keterangan didalam, nanti mbak bisa cek. Kalau begitu saya permisi mbak” ucap pria itu kemudian pamit pergi meninggalkan Erina yang masih termenung dengan kebingungannya.
Gadis itu menatap kiriman dijinjingannya dengan heran berjalan menuju ruang tengah dimana sang adik yang ternyata sudah duduk disana sambil menonton tayangan televisi “Siapa kak?” tanya gadis itu penasaran, Erina mengangkat bahu “Gak tau dek, ada yang nganterin kiriman buat kakak tapi gatau dari siapa” jawab gadis itu kemudian mendudukan diri di sofa dan mulai membuka bingkisan tersebut.
Erina tak dapat berkata apa-apa, gadis itu merasa kaget melihat isi kiriman yang ia terima. Sebuah baju yang sangat gadis itu inginkan tapi tak berhasil ia dapatkan siang tadi kini berada digenggamannya, mata gadis itu langsung berbinar. Senyumannya tak dapat ditahan lagi ketika dirinya membaca secarik kertas menempel disana “Jangan lupa dipake besok yah” tulis pengirimnya dan ada nama sang kekasih dibawahnya dengan tanda hati yang membuat hati Erina merasa tersentuh. Bagaimana bisa kekasihnya itu mengetahui hal tersebut padahal Erina tak mengatakan apapun kepada pria yang sejak tadi sibuk menyiapkan keberangkatannya besok.
Arina menatap sang kakak yang terlihat sangat bahagia “terimakasih sama siapa dulu dong” ucap gadis itu merasa bangga membuat Erina menoleh “Kamu yang bilang?” tanya gadis itu penasaran yang diangguki sang adik. “Tadinya aku cuma mau iseng kirim muka galau kakak, eh dia malah heboh nanya kakak kenapa. Ya udah aku kirimin foto baju yang kakak mau terus gak taunya dicariin sampe dapet” jelas gadis itu membuat Erina mendekat dan memeluknya erat “Duuuh adik kakak emang yang terbaik, makasih ya sayang” ucap Erina membuat sang adik hanya pasrah mendapat pelukan yang sangan erat dari sang kakak meskipun dirinya juga ikut merasa bahagia.
Erina menatap baju yang kini telah ia gantung dengan perasaan bahagia, akhirnya rencana yang telah gadis itu siapkan tak jadi berantakan. Senyum tak lepas dari wajahnya mengingat bagaimana Leo yang tengah sibuk menyiapkan keberangkatannya diam-diam mencarikan baju yang diinginkan gadis itu, meskipun sering ribut sang adik dan kekasihnya itu ternyata bisa kompak disaat-saat tertentu seperti ini.
Meskipun telah merasa bahagia karena berhasil memiliki baju yang ia inginkan, nyatanya gadis itu kini masih terjaga diatas tempat tidurnya. Erina tak dapat memejamkan mata karena entah mengapa dirinya merasa sangat gugup, besok adalah waktu keberangkatan sang kekasih dan dirinya entah mengapa merasa tak enak tidur.
Entah karena terlalu antusias atau karena merasa tak rela sang kekasih harus berangkat secepat ini, gadis itu benar-benar tak bisa memejamkan matanya padahal sejak tadi dirinya sudah berkali-kali berganti posisi agar bisa terlelap.
Akhirnya Erina memutuskan untuk bangun dan beranjak menuju meja belajarnya, gadis itu mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam rak bagian bawah meja belajarnya kemudian meletakkan kotak tersebut diatas meja. Tangannya perlahan membuka kotak berwarna biru muda tersebut, sebuah senyuman kembali terbit diwajah gadis itu ketika menatap berbagai macam isi didalam kotak tersebut. Satu-persatu benda itu diambil dan diperhatikan oleh Erina, mulai dari tumpukan tiket bioskop yang ia simpan dengan rapih sejak awal mereka memulai masa pendekatan hingga beberapa foto yang kedua pasangan itu ambil di photobox setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama.
Erina memilih kembali membaringkan diri diatas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar seperti biasa kemudian terdiam sambil mengatur nafasnya agar merasa lebih tenang.
Memori gadis itu kembali berputar mengingat banyak hal yang telah ia lalui bersama sang kekasih, bagaimana cerita-cerita itu mengisi hari-hari Erina yang akhirnya terasa kembali menghangat. Bagaimana pria itu bisa membuatnya bangkit dari kesedihan dan keterpurukannya setelah kehilangan kedua orangtuanya, bagaimana Erina sadar masih ada sang adik yang sejak saat itu menjadi tanggung jawab yang harus ia jaga dengan baik.
Erina bersyukur telah mengenal Leo, dan berterimakasih karena walaupun pria itu memiliki sikap yang dingin tapi Leo tak pernah menyerah untuk meyakinkan Erina bahwa perasaan pria itu tak pernah main-main. Gadis itu semakin bersyukur ketika Leo mengenalkan dirinya kepada keluarga pria itu, walaupun awalnya Erina takut mendapat respon yang kurang baik tapi nyatanya keluarga Leo sangat menyambutnya dengan hangat. Alana yang bahkan baru dikenalnya dengan senang hati mengulurkan tangan menjadi sosok yang selalu mendengarkan keluh kesah gadis itu, menjadi sandaran gadis itu tentu saja selain Leo sang kekasih.
Kenangan demi kenangan terus berputar dikepala Erina, gadis itu semakin merasa telah banyak hal yang ia lalui bersama sang kekasih selama ini. Mulai dari banyaknya hal yang membuatnya bahagia hingga beberapa keributan dan kesalah pahaman yang pernah dialami dua sejoli itu membuat Erina tersenyum sendu membayangkan bagaimana dirinya yang akan sengat merindukan sosok pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Erina melangkahkan kaki keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar sang adik, hal yang selalu gadis itu lakukan ketika dirinya tak bisa memejamkan mata. Perlahan ia membuka pintu kamar sang adik, gadis itu melangkah dengan perlahan memasuki kamar bernuansa korea milik Arina. Begitu dirinya sampai didekat tempat tidur sang adik, Erina dapat melihat gadis yang kini telah terlelap berbaring sambil memeluk boneka kelinci yang didapatkannya dari Alana ketika mereka berjalan-jalan waktu itu.
Erina membaringkan dirinya disebelah sang adik, memposisikan dirinya menghadap Arina yang kini terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Gadis itu tersenyum memandang sang adik yang kini tumbuh semakin dewasa, rasanya baru kemarin gadis itu sibuk dengan persiapan pendaftaran sekolah sang adik dan kini Arina akan segera menyelesaikan masa putih abu-abunya dan akan segera menyusul dirinya memasuki universitas.
Erina mengusap kepala sang adik dengan lembut, menyalurkan perasaan sayangnya kepada sosok yang sangat berharga dalam hidupnya itu. Erina memeluk sang adik yang tampak tak terganggu dengan perlakuan sang kakak kepadanya itu, mengecup puncak kepala gadis itu sejenak sebelum akhirnya ikut memejamkan mata bersama Arina.
Malam itu, Erina merasakan berbagai macam perasaan dan juga kembali mengingat banyak kenangan yang telah ia lalui bersama orang-orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya hingga akhirnya gadis itu berhasil memejamkan matanya dan terlelap masuk kealam mimpi.