
Arina keluar dari dalam kamar setelah selesai menyiapkan diri dengan seragam sekolahnya, ketika gadis itu berjalan menuju ruang makan dan mendapati sosok pria paling menyebalkan dihidupnya kini tengah duduk santai sambil memainkan ponsel “Ada angin apa nih? Tumben banget pagi-pagi udah kesini” tanya Arina membuat pria itu menoleh dan tersenyum “Morning cil, mau berangkat sekolah?” sapa Leo membuat Arina mendengus sebal “Bukan, mau ngelamar kerja. Ya menurut ngana aja” jawabnya ketus kemudian ikut mendudukan diri.
Erina datang membawa masakan dan menaruhnya ditengah-tengah meja makan “Kenapa sih ribut terus, masih pagi juga” ucapnya membuat Arina merenggut sebal “Tuh pacar kakak tuh nyebelin banget” keluh gadis yang kini mulai mengambil nasi dan lauk pauk untuk sarapan “Nyebelin apanya sih cil, ganteng gini juga” balas Leo sambil terkekeh “Dih enggak yah, yang ganteng tuh BTS” jawab gadis itu tak mau kalah “Eh iya janjinya belum ditepatin” lanjut gadis itu menagih. Leo tersenyum melihat wajah menggemaskan adik dari kekasihnya itu “Iya cil kamu nanti chat aja pengen album yang mana” ucap Leo membuat Arina pada akhirnya bisa tersenyum ketika berbicara dengan dirinya “Oke” ucapnya bersemangat kemudian mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, sementara Erina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu.
“Bareng aja yu cil, kakak anter ke sekolah” ucap Leo yang tentu saja diangguki oleh gadis manis yang tadinya tengah membuka ponsel untuk memesan ojek online tapi ia urungkan karena ajakan calon kakak iparnya itu, lumayan kan uang ongkosnya bisa dia tabung untuk membeli barang-barang keinginannya.
Ketiganya berangkat menuju sekolah Arina untuk mengantar gadis itu sekolah, ah Erina jadi bernostalgia mengingat bagaimana dirinya mengantar adiknya itu ketika hendak mendaftar sekolah dan juga saat ospek sekolah. Erina kembali mengingat banyak kenangan saat-saat itu, rasanya baru kemarin dirinya melihat Arina terlihat begitu bahagia ketika seragam sekolahnya berganti menjadi putih abu-abu dan sekarang gadis itu akan segera menanggalkan seragamnya karena waktu Ujian Nasional sudah semakin dekat.
“Makasih kak, Arina sekolah dulu” ucapnya sambil mencium punggung tangan sang kakak dan juga pria yang kini duduk di kursi kemudi, “Iya, belajar yang bener ya cil jangan pacaran dulu” ucap Leo memberikan pesan membuat Arina memajukan bibirnya tapi setelah itu dirinya melangkah pergi memasuki sekolah “Gak kerasa yah, Arina udah mau lulus aja” gumam Erina membuat Leo menoleh kemudian tersenyum sambil mengusap puncak kepala sang kekasih.
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah Leo, rencananya hari ini mereka akan mengantar Alana menuju bandara karena gadis itu akan kembali melanjutkan pendidikannya. Sesuai pesan sang kakak, Leo harus membawa Erina untuk ikut mengantar.
Meskipun awalnya Arina juga diharuskan ikut, tapi karena gadis itu harus sekolah jadilah hanya Erina yang bisa mengantarnya ke bandara. Sepanjang perjalanan Erina hanya melamun, satu persatu orang yang ia sayangi akan jauh dari dirinya termasuk pria yang sekarang sedang fokus menatap jalanan dibalik kemudinya. Rasanya gadis itu ingin menghentikan waktu agar setidaknya bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan sang kekasih, karena setelah pria itu pergi akan sangat sulit menyesuaikan waktu untuk saling menghubungi nanti.
Mereka langsung disambut kedua orang tua Leo dan Alana begitu sampai di kediaman pria itu, ternyata mereka telah siap dan akan segera berangkat membuat Leo dengan segera memasukan mobilnya kedalam garasi karena mereka akan menggunakan mobil milik sang ayah.
Leo duduk didepan bersama papah yang kini tengah menyetir, sedangkan Erina duduk dibelakang bersama mamah dan Alana. Suasana mobil terasa ramai karena banyak hal yang menjadi topik obrolan kelima orang yang sebentar lagi akan sampai di bandara, tak ketinggalan suara tawa yang memenuhi mobil ketika mamah dengan senangnya bercerita mengenai masa kecil dua kakak beradik Leo dan Alana yang sangat lucu dan menggemaskan.
Begitu bayi kecil yang selama ini ia nantikan keluar dari perut mamah, gadis itu sangat antusias bahkan bersama papah menghias kamar adik kecilnya itu. Mata Alana berbinar melihat sosok bayi mungil terbaring diranjang kedua orang tuanya waktu itu, pandangannya tak pernah lepas dari adik kecilnya yang mamah bilang adalah laki-laki itu. Sejak saat itu Alana berjanji akan menjaga adik kecilnya dengan kemampuan bela diri yang baru beberapa minggu ia pelajari itu, dirinya tak pernah jauh dari sang adik dan selalu mengajak bayi mungil itu berbicara dan bermain walau hanya ditanggapi dengan suara-suara bayi yang tak alana mengerti.
Berbeda dengan sang kakak, Leo ternyata sudah memiliki wajah datar dan dinginnya sejak lahir. Bayi kecil itu tak mudah tertawa ketika diajak bermain oleh orang lain, hanya Alana yang bisa dengan mudahnya membuat Leo tertawa bahagia. Bahkan papah selalu merasa iri karena gadis kecilnya bisa dengan mudah membuat anak bungsunya itu tertawa, tapi Leo paling suka digendong oleh kedua orang tuanya apalagi papah yang akan mengajaknya jalan-jalan sambil berjemur dipagi hari sementara mamah mengurus kak Alana. Dulu, saat Leo kecil anak itu sering menangis karena diganggu beberapa teman-temannya dan tentu saja yang akan maju membelanya adalah Alana yang tanpa rasa takut melawan anak-anak menyebalkan itu. Leo sangat menyayangi kakaknya yang selalu menjaga dan mengajaknya bermain, dan kini begitu dirinya dewasa pria itu berganti akan menjaga kakaknya dari siapapun yang menyakiti perempuan yang sangat berharga dalam hidupnya itu.
Perjalanan menuju bandara terasa sebentar karena mereka terlalu asik berbincang dan bercerita, Erina mendapat banyak sekali hal yang baru ia ketahui mengenai sang kekasih yang masa kecilnya ternyata cukup cengeng dan menggemaskan walau memiliki wajah dengan ekspresi dingin itu. Gadis itu jadi sangat ingin melihat sosok Leo waktu kecil, Alana bilang Leo akan selalu mengikutinya kemanapun gadis itu pergi bahkan Leo akan menangis dan ngambek saat Alana mulai sekolah dan meninggalkan pria itu sendirian di rumah. Namun pria itu akan berlari cepat menuju depan pintu begitu mengetahui sang kakak sudah pulang, kehadiran Alana adalah hal yang paling dinanti pria kecil itu.
Leo yang dibicarakan hanya bisa diam, merasa malu tapi juga senang begitu Erina memuji dirinya saat kecil sangatlah menggemaskan. Pria itu hanya tersenyum atau ikut tertawa bersama tiga perempuan yang sibuk berbagi cerita dibelakang sedangkan papah akan ikut menyahuti sesekali, ah nostalgia yang sangat menyenangkan yah.
Mereka tiba di bandara 30 menit sebelum pesawat yang akan dinaiki Alana berangkat, akhirnya kelima orang tersebut memutuskan untuk duduk menikmati cemilan di area foodcourt yang tersedia. “Aduh cepet banget sih kamu berangkat, padahal mamah masih kangen” keluh mamah pada putri sulungnya itu, Alana tersenyum mengusap lengan sang ibu “Sebentar lagi kan Alana beres mah, nanti begitu beres Alana bakal tinggal di rumah lagi” ucap gadis itu menenangkan sang ibu.
Alana memeluk satu persatu orang yang kini mengantarnya sebelum berangkat karena pengumuman mengenai penerbangannya telah terdengar, gadis itu memeluk erat satu persatu anggota keluarganya seakan tak ingin berpisah lagi dengan mereka tapi gadis itu harus.
Begitu dirinya memeluk Erina, perasaan sedih semakin terasa “Titip salam buat Arina yah, kalian baik-baik disini, kalau ada apa-apa langsung kabarin kakak atau mamah” bisiknya yang diangguki Erina. Kini keempat orang disana hanya bisa menatap sosok Alana yang melangkah semakin menjauhi mereka, ada rasa hampa ketika melihat sosok itu telah menghilang dari pandangan mereka.