
Sinar matahari langsung memasuki ruang tidur begitu Erina membuka tirai kamarnya, gadis itu menatap keluar jendela dengan pandangan kosong yang sulit diartikan. Rasa hangat langsung menyapa kulit gadis yang hari ini akan memulai kembali aktivitasnya, helaan nafas terdengar cukup berat sebelum akhirnya Erina melangkah memasuki kamar mandi. Jika kalian berfikir bahwa gadis itu baru saja bangun, maka jawabannya tentu saja salah karena Erina telah bangun sejak pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan dan memastikan sang adik tak terlambat untuk berangkat ke sekolahnya.
Setelah memastikan penampilannya rapih, Erina langsung bergegas untuk berangkat menuju tempat magangnya karena tentu saja gadis itu tak ingin terlambat. Untungnya perusahaan tempatnya magang tak mewajibkan karyawan magang menggunakan seragam hitam putih sehingga Erina tak perlu repot membeli.
Erina memandang gedung dihadapannya begitu ia sampai, menarik nafas dalam gadis itu melanjutkan langkahnya memasuki gedung. Erina tersenyum menyapa penjaga dan resepsionis begitu memasuki gedung, menekan tombol lift menunggu pintunya terbuka, gadis itu termenung mengingat kejadian saat masa pengenalan beberapa waktu lalu. Masih terngiang dalam ingatan gadis itu, bagaimana Leo yang dengan keisengannya menggoda Erina hingga membuat Alex tertawa puas.
Ngomong-ngomong soal Alex, entah sejak kapan pria itu tau-tau sudah berada disamping Erina. Pria itu melambaikan tangan kehadapan wajah Erina berusaha menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Erina mengerjap perlahan mengembalikan kesadarannya dan menoleh mendapati teman kuliahnya itu tersenyum menyapa, “Cie yang baru ditinggal pacar, galau banget muka lo” ledek Alex membuat Erina berdecih “Ck, jomblo mana ngerti” balas gadis itu tak mau kalah membuat Alex langsung terdiam “Kasar lo” keluh pria itu membuat Erina terkekeh geli “Lebay lo” jawab gadis itu. Alex tak sempat membalas karena pintu lift telah terbuka, keduanya memasuki lift bersama karyawan yang lain menuju lantai tempat ruangan kerja mereka berada.
Erina menyapa seluruh karyawan dan teman-teman magangnya ketika gadis itu melangkah memasuki ruangan, ia langsung duduk di meja kerjanya kemudian melanjutkan tugas yang belum ia selesaikan.
Masa-masa awal magang mereka diberikan tugas yang tidak terlalu sulit agar bisa menyesuaikan diri dan memahami job desk di divisi yang mereka tempati saat ini.
Erina fokus mengerjakan tugasnya hingga tepukan di bahu menyadarkannya, gadis itu menoleh menatap Naya yang telah berdiri dari meja kerja disebelahnya “Ayo makan siang” ajak gadis itu yang diangguki Erina. Keduanya berjalan bersama menuju cafetaria perusahaan, begitu sampai mereka langsung menghampiri Lia yang telah duduk bersama Alex dan Andre disalah satu meja kemudian memesan makanan.
Erina merasa bersyukur, selain ada Alex yang merupakan teman kuliahnya peserta magang yang lain juga sangat baik membuat rasa canggung dalam diri Erina menguap begitu saja. Gadis itu dengan mudah berbaur dan bercengkrama bersama yang lainnya, membuat ia sejenak menghilangkan rasa galau yang masih belum bisa hilang.
Mungkin karena jumlah mereka hanya sedikit sehingga lebih mudah mengakrabkan diri satu sama lain, mereka juga selalu janjian untuk makan siang bersama di cafetaria. Kelima mahasiswa tersebut bahkan sudah saling bertukar kontak dan membuat group chat sendiri, rasanya sangat menyenangkan karena mereka sangat aktif dan lucu ketika saling berkirim pesan membuat Erina tak begitu merasa kesepian lagi.
Setelah jam makan siang selesai, mereka kembali ke ruang kerja masing-masing. Erina bersama Naya dan Andre langsung kembali mendudukan diri di meja kerja dan melanjutkan tugas yang hari ini harus diselesaikan. sesekali ketiganya akan saling berdiskusi karena jarak meja kerja yang berdekatan, karyawan yang lain pun sering sekali membantu mereka jika ada kesulitan. Ketiganya bersyukur karena karyawan tetap di divisi keuangan sangat baik dan mau membantu serta mengarahkan mereka, sehingga tugas yang mereka kerjakan lebih cepat selesai.
Begitu jam pulang kantor, kelima mahasiswa magang tersebut berkumpul di lobi perusahaan karena sudah membuat janji lewat group chat tadi. Naya memberitahukan ada cafe yang baru buka dan sedang mengadakan promo sehingga gadis itu ingin datang dan mencobanya. Lumayan, jika memang cafe tersebut nyaman dan asik maka bisa mereka jadikan tempat nongkrong sepulang kerja.
Erina terlihat sibuk dengan ponselnya ketika mereka tengah asik berbincang “Siapa sih Rin? Fokus banget sama hp padahal kita lagi ngobrol” tanya Lia penasaran karena gadis itu tak memberikan sahutan sejak tadi, Erina mendongakkan kepalanya dan mendapati keempat orang disana tengah menatap kearahnya “Ah sorry sorry ini adek gue, gue lagi mastiin dia udah pulang apa belum” jelas gadis itu yang diangguki keempatnya. “Susah juga ya Rin kalau ngurus adek sendirian gitu, apalagi adek lo udah gede” ucap Lia membuat Erina tersenyum “Susah sih enggak, tapi ya lebih banyak khawatirnya sih. Apalagi dia bentar lagi mau ujian nasional jadi gue makin merhatiin kesehatannya” jawab Erina membuat Naya menopang dagunya “Enak banget yah punya kakak kaya lo, perhatian banget gue jadi pengen” celetuk gadis itu membuat Alex mengangguk setuju “Iya, apalagi gue anak tunggal suka iri kalau liat Erina sama adiknya” ucapnya membuat Erina semakin tersenyum merasa senang mendengar ucapan teman-temannya itu.
Setelah puas nongkrong, kelima orang itu berpisah karena sudah harus pulang kerumah masing-masing. Erina memilih ikut dengan Alex kembali ke kantor karena pria itu masih memarkirkan motornya disana “Lo mau pulang bareng gue?” tawar Alex membuat Erina menggelengkan kepalanya “Enggak, tapi makasih buat tawarannya” jawab Erina membuat Alex mengerutkan keningnya “Terus kenapa lo ikut gue balik kesini?” tanya pria itu heran membuat Erina terkekeh “Gue udah ada janji” jelas Erina membuat pria disampingnya itu membulatkan bibir seolah mengerti “Sama bokapnya bang Leo?” tanya pria itu memastikan yang dibalas anggukan oleh Erina “Pantesan balik lagi kesini, mau ketemu calon mertua ternyata” ledek Alex membuat Erina memukul lengan pria itu kesal “Makanya cari calon mertua juga sana” balas Erina tak mau kalah “Loh, calon kakak ipar gue kan ada disini ngapain dicari lagi” jawab Alex membuat Erina tak bisa menahan tawanya “Makanya yang baik sama kakak yah” ucap Erina sambil mengusap pundak pria itu karena tinggi badan Alex membuat dirinya sulit untuk meraih puncak kepala pria disampingnya itu.