
Erina sudah duduk manis di kursi perpustakaan, meja dihadapannya bahkan sudah dipenuhi oleh berbagai macam buku. Gadis itu dengan teliti membaca skripsi milik salah satu seniornya, gadis itu sedang mencari referensi untuk tugas akhirnya tersebut. Beberapa kali Erina terlihat meregangkan lehernya yang mulai terasa kaku karena terlalu lama menunduk untuk membaca, “Gimana? Udah nemu referensinya Rin?” tanya salah satu teman Erina yang kini ikut duduk dihadapannya “Lumayan sih, buat referensi kayanya cukup tapi masih harus nyari yang lain kayanya” ucap gadis itu.
Sejak pagi Erina telah datang ke kampus untuk mengerjakan skripsinya, setelah urusan laporan magangnya selesai gadis itu memutuskan untuk mulai mempersiapkan skripsi yang akan dimulai pada semester baru nanti. Meskipun belum ada informasi lanjutan dari kampusnya, Erina berusaha sebaik mungkin mengerjakan skripsinya lebih awal agar dapat lulus lebih cepat juga. Belum lagi dirinya harus membantu sang adik menyiapkan diri untuk ospek kampus yang akan dilaksanakan sebentar lagi, Arina bahkan sudah heboh semenjak jadwal ospek diumumkan padahal waktunya masih cukup lama.
Alex datang setelah sebelumnya mengirim pesan menanyakan keberadaan Erina “Rajin banget lo udah mulai skripsian” goda Alex begitu dirinya mendudukan diri disebelah gadis itu “Ngaca, gue kaya gini juga gara-gara lo yang suka manas-manasin udah masuk metodologi penelitian yah” balas Erina kesal membuat Alex tertawa tanpa suara, pria itu masih sadar diri kini mereka sedang berada di perpustakaan dan tidak boleh menyebabkan keributan.
Erina memutuskan untuk mengakhiri kegiatannya dan berjalan keluar bersama Alex untuk melanjutkan obrolan mereka ditempat lain. Keduanya memilih taman fakultas sebagai tujuan, karena masih belum memasuki semester baru jadi suasana disana masih cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang sibuk mengikuti UKM dan BEM yang datang karena mengurus acara ospek.
Keduanya duduk di bangku kemudian meletakkan tas diatas meja “Jadi lo mau ngomongin apa sampe nyariin gue? Tumben banget” tanya Erina sambil membuka botol minum kemudian menenggaknya “Ya elah gak ada basa basinya banget lo jadi orang” jawab Alex membuat gadis itu mengerutkan kening “Udah buruan gue mau pulang nih, mumet kepala gue” ucap gadis itu lagi membuat Alex tertawa “Salah sendiri lu dari pagi bacain skripsi orang ya gimana gak mumet” ledek Alex membuat Erina mengacungkan botol minum yang masih terisi setengahnya itu berniat melemparkan kearah pria dihadapannya itu “Eits jangan dong, iya iya ampun” jawab Alex menyerah pada akhirnya.
“Gue mau nawarin lo jadi panitia ospek, gimana lo tertarik gak?” tawar pria itu membuat Erina kembali mengerutkan keningnya “Ada angin apa lo ngajakin gue?” tanya gadis itu heran “Gua disuruh nyari orang yang cocok buat jadi panitia ospek diluar BEM, ya gua pikir lo cocok” jelas Alex membuat Erina menatap pria itu malas “Enggak ah, lo kan tau dari jaman dulu gue udah ditawarin masuk BEM sama Leo aja males, apalagi ikut acara ospek. Gue mau skripsian aja biar cepet beres” tolak Erina membuat Alex terkekeh “Bener kata bang Leo, lo gak mungkin mau” ucap pria itu membuat Erina kembali bingung “Hm?” gumam gadis itu meminta penjelasan “Ah, kemarin gue coba chat bang Leo nanya kira-kira lo cocok gak kalau gue rekrut buat jadi panitia ospek. Bang Leo cuma jawab ‘jago kalo dia mau Lex, dari dulu udah gue ajakin juga dianya gak mau’ gitu” jawab Alex membeberkan penjelasannya membuat Erina terkekeh “Itu lo udah tau, ngapain masih nanya gue” ucap Erina terkekeh membuat Alex menghembuskan nafas malas.
Memori Erina kembali berputar, mendengar penjelas Alex membuatnya jadi kembali teringat bagaiaman Leo yang dulunya adalah anggota BEM fakultas bahkan pernah menjabat sebagai presiden Mahasiswa dikampus selalu menawarkan Erina untuk bergabung karena berpikir Erina memiliki potensi di organisasi tersebut tapi sayangnya Erina tak pernah tertarik hingga akhirnya Leo menyerah.
“Dek, kakak pulang” ucap Erina begitu ia memasuki rumah diikuti Alex dibelakangnya, Arina melongokan kepalanya dari arah dapur dan terkejut melihat pria dibelakang sang kakak “Kamu lagi ngapain?” tanya Erina heran sementara Arina masih terdiam “Hmm itu bikin mie instan hehe” jawab Arina membuat sang kakak menggeleng “Kan kakak udah bilang jangan kebanyakan makan mie instan” ingat Erina membuat sang adik menipiskan bibir “Aku tambahin sayuran ko” jawab Arina memberi pembelaan “Ya udah tapi besok-besok jangan masak mie kalau kakak gak izinin” ucap Erina mengingatkan membuat sang adik mengangguk pasrah “Iya, kakak sama kak Alex mau?” tawar gadis itu yang dibalas gelengan oleh Erina “Boleh deh, kebetulan belum makan siang” jawab Alex membuat Erina menoleh dan menggelengkan kepalanya “Hadeuh, sama aja lo. Yaudah kakak mau kekamar dulu” ucap Erina kemudian berlalu meninggalkan teman dan adiknya itu, sementara Alex ikut melangkah memasuki dapur bersama Arina.
Setelah selesai membersihkan diri, Erina memilih untuk bersantai diruang tengah sementara Alex dan sang adik masih sibuk menikmati mie instan di ruang makan. Gadis itu tampak sibuk mengetikan balasan di ponselnya, tentu saja ia tengah bertukar pesan dengan sang kekasih. Erina tak bisa menahan senyumnya setiap membaca balasan demi balasan dari Leo, gadis itu bahkan tak memperdulikan televisi yang sejak tadi bersuara.
Alex dan Arina muncul begitu selesai menikmati mie instan mereka “Kakak gak makan siang?” tanya Arina begitu keduanya mendudukkan diri “Enggak ah, belum lapar” jawab Erina menolehkan kepalanya “Rin, gue izin yah” ucap Alex membuat Erina menyimpan ponselnya kemudian menyilangkan tangan didepan dadanya sementara sang adik sudah berlalu memasuki kamarinya “Izin buat apaan?” tanya Erina penasaran membuat Alex tersenyum “Mau bawa Arina jalan” ucapnya mantap. “Ya udah, tapi jangan malem-malem pulangnya dan jagain adek gue yang bener” jawab Erina memberi izin dengan mata yang menyipit mengingatkan temannya itu “Iya siap, lo tenang aja pasti gue jagain” ucap Alex meyakinkan.
Setelah Arina selesai bersiap, keduanya berpamitan dan pergi meninggalkan Erina sendiri. Gadis itu menghembuskan nafas “Gini kali ya yang dirasain Arina tiap gue dulu tinggal jalan sama Leo” gumam gadis itu menyandarkan kepalanya menatap langit-langit ruang tengah. Entah karena efek LDR, Erina merasa sangat kesepian sekarang.
Sang adik yang dibawa pergi oleh Alex dan meninggalkan dirinya sendiri di rumah membuat gadis itu akhirnya terdiam dan merenung. Entah apa yang ada dipikirannya, pandangan gadis itu terlihat kosong tapi pikirannya melayang entah kemana.