
Erina sudah sibuk membantu sang adik menyiapkan perlengkapan ospeknya bahkan ketika matahari belum muncul, gadis itu sibuk mengecek barang-barang yang ada didalam tas Arina memastikan semuanya sudah berada didalam sana. Sementara Arina sibuk mematut dirinya didepan cermin memastikan semua persyaratan pakaian telah ia kenakan semua, gadis itu berkali-kali melihat lembar catatan memastikan semuanya telah sesuai dengan persyaratan dari panitia.
Arina berangkat menggunakan ojek online karena tak ingin terlambat dihari pertama masa orientasinya, tadinya sang kakak kekeh ingin mengantar namun tentu saja ditolak gadis itu karena jika menggunakan mobil perjalanan akan lebih lama, belum lagi jika jalanan macet.
Sebenarnya Erina memang berniat datang ke kampus, seperti biasa mengunjungi tempat favoritnya untuk mengerjakan skripsi maka dari itu dirinya menawarkan diri mengantar sang adik. Namun karena Arina menolak, kini Erina dapat berangkat dengan santai karena perpustakaan kampus juga masih belum buka sepagi ini.
Pukul 8 lebih Erina tiba dikampus menggunakan ojek online, tadinya ia ingin naik kendaraan umum tapi Erina merasa tak sabar ingin melihat sang adik yang kini tengah melaksanakan kegiatan ospek di kampus. Gadis itu berjalan melalui gerbang utama yang tak biasanya ia lewati, tapi karena hari ini dirinya berniat melihat sang adik maka Erina berjalan melalui gerbang tersebut. Begitu berjalan melewati gerbang Erina berpapasan dengan Alex dan beberapa orang lain berseragam serba hitam dengan name tag komisi disiplin tertulis dibawah nama mereka, gadis itu menahan tawa ingin menggoda pria yang kini menyadari kehadirannya itu namun Erina mengurungkan niat tersebut karena tak ingin mengganggu Alex yang kini sedang memasang wajah datar tersebut.
Erina hanya tersenyum menyapa Alex sekilas kemudian berjalan terus menuju gedung fakultasnya, jarak yang cukup jauh membuat gadis itu memilih untuk duduk sebentar di bangku yang tersedia sambil mengatur nafasnya. Alex menghampiri Erina dan ikut duduk disamping gadis itu “Lo gak tugas?” tanya Erina membuat Alex menyandarkan punggungnya “Baru selesai ngecek gerbang, mastiin gak ada lagi mahasiswa baru yang dateng” jawab pria itu. Erina mengangguk paham kemudian memperhatikan suasana kampus yang sepi “Ospeknya dimana? Ko sepi?” Erina menoleh pada Alex merasa heran “Lagi pembukaan di gedung serba guna” jawab pria itu membuat Erina mengerutkan keningnya “Terus lo kenapa gak kesana?” tanyanya “Bentar lagi lah, nemenin calon kakak ipar dulu disini siapa tau lo lupa jalan ke fakultas” jawab pria itu meledek membuat Erina meninju lengannya “Rese lo, udah sana pergi gue juga mau lanjut jalan” ucap Erina kemudian bangkit dari duduknya diikuti Alex “Ya udah kalau nyasar telpon gue aja ya” goda Alex kemudian berlalu meninggalkan Erina dengan wajah kesalnya.
Seperti yang diperkirakan oleh Erina sebelumnya, perpustakaan belum buka. Akhirnya gadis itu memilih menunggu ditaman faklutas, meskipun harus kembali turun kebawah tapi lebih baik daripada gadis itu harus menunggu didepan perpustakaan sendirian. Erina melihat beberapa orang mahasiswa berada ditaman, sepertinya menunggu perpustakaan buka seperti dirinya atau mungkin tidak juga. Gadis itu duduk kemudian mengeluarkan buku yang dibawanya dan mulai membaca buku tersebut. Suasana taman yang tenang membuat Erina dapat membaca dengan nyaman.
Merasa bosan membaca bukunya, Erina memilih untuk diam sambil memperhatikan sekeliling kampus. Kegiatan ospek mengingatkan gadis itu dengan kenangannya bersama sang kekasih, Leo yang selalu langganan menjadi komdis karena wajahnya yang dingin terlihat menyeramkan dan sikapnya yang tegas membuat pria itu mau tak mau menerima tugas tersebut.
Erina masih ingat bagaimana kesan pertama yang dilihatnya dari sosok Leo, dingin tentu saja hingga membuat gadis itu tak mau berurusan dengan komdis yang satu itu. Namun takdir sepertinya memiliki jalan yang berbeda, Erina justru menjadi sosok mahasiswa baru yang berhasil menarik perhatian Leo. Meskipun selama ospek pria itu tak melakukan pergerakan apapun, begitu semester kedua berjalan pria itu tanpa basa basi langsung menemui Erina dan meminta kontak gadis itu.
Erina yang masih kaget dan bingung hanya bisa terdiam ketika ditodong oleh kakak tingkah mantan anggota komdis yang menyeramkan itu, namun tetap ia berikan nomor teleponnya kepada Leo kemudian pria itu tersenyum dan berkata “Makasih ya dek, nanti gue chat” kemudian berlalu sambil mengusap puncak kepala Erina lembut membuat gadis itu semakin tertegun dan jantungnya mulai berdegup tak beraturan.
Mengingat hal tersebut membuat Erina tanpa sadar tersenyum sendiri tak ingat dirinya tengah berada di ruang publik saat ini, untungnya tak ada yang memperhatikan gadis itu. Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya perpustakaan dibuka.
Meja didekat jendela sepertinya sudah menjadi tempat langganan gadis itu, karena saat ini buktinya Erina langsung mendudukan dirinya disana bersama beberapa buku yang ia letakkan diatas meja. Erina langsung melepaskan tasnya dan mengeluarkan laptop kemudian fokus mengerjakan skripsinya.
Sesekali Erina menatap layar ponselnya, bertanya kepada Alex jam berapa ospek selesai agar dirinya bisa pulang bersama sang adik. Gadis itu juga tak lupa membalas pesan dari sang kekasih, setelah itu Erina kembali fokus dengan tulisannya.
Menghabiskan banyak waktu di perpustakaan bukanlah hal yang membosankan bagi Erina, jika sudah mumet dengan buku teori gadis itu akan mengistirahatkan otaknya kemudian memilih membaca buku novel yang tersedia. Bahkan petugas perpustakaan sudah akrab dengan gadis yang kini sibuk melihat-lihat deretan novel di rak, saking seringnya Erina memasuki perpustakaan tak ada satupun petugas yang tak mengenalnya. Maka tak heran jika nilai Erina sangat memuaskan karena gadis itu lebih suka menenggelamkan diri diantara buku-buku daripada pergi jalan-jalan disela menunggu kelas berikutnya.
Erina menyelesaikan kegiatannya di perpustakaan setelah menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya, gadis itu melangkah keluar tak lupa berpamitan pada petugas yang berjaga “Sore banget pulangnya Rin, padahal dari pagi kamu disini” ucap seorang wanita yang duduk dibalik meja informasi “Iya bu, sekalian nungguin adik saya selesai ospek” jawab Erina tersenyum ramah, “Loh adik kamu masuk kampus ini juga? Duh manis banget kamu sampe nungguin dia selesai ospek. Kalau kakak yang lain belum tentu sebaik kamu” balas petugas tersebut membuat Erina terkekeh “Ah ibu bisa aja, saya duluan ya bu” pamit gadis itu kemudian berlalu meninggalkan perpustakaan.
Erina menunggu di bangku dekat gerbang utama, gadis itu terus berkirim pesan memastikan kapan adiknya selesai karena Arina tidak diperbolehkan menggunakan ponsel selama kegiatan ospek berlangsung. Para mahasiswa baru berhamburan keluar beberapa menit kemudian, Erina langsung memperhatikan mereka mencari keberadaan sang adik diantara kerumunan tersebut.
Senyum diwajah gadis itu langsung terbit begitu melihat sang adik yang kini berjalan bersama temannya “Arina” panggil sang kakak membuat gadis itu menoleh dan berlari kecil menghampiri Erina “Loh kakak ngapain disini?” tanya Arina senang “Kalau kamu lupa, kakak juga kuliah disini” jawab Erina membuat sang adik memanyunkan bibirnya “Kakak abis dari perpus tadi, sekalian nungguin kamu beres. Yuk pulang” ajak Erina menarik sang adik.
Bukannya berjalan keluar, Erina justru menarik sang adik masuk lebih jauh kedalam kampus “Kita mau kemana sih kak? Katanya mau pulang” tanya Arina heran karena dibawa berjalan cukup jauh “Udah ikut aja” jawab Erina kemudian kembali berjalan menuju tempat parkir.
Arina semakin mengerutkan keningnya tak mengerti kenapa Erina membawanya kemari “Kita mau ngapain di tempat parkir?” tanya Arina heran “Tuh dia” tunjuk Arina kearah laki-laki yang kini melambaikan tangan kearah keduanya membuat Arina mendengus sebal “Ngapain sih sama dia” protes Arina kesal “Loh kenapa? Dia ngajakin pulang bareng tapi kalau nunggu depan kampus keliatan yang lain jadi kesini biar sepi, lumayan hemat ongkos lagian kamu juga pasti udah capek, yuk” jelas Erina membuat sang adik menghembuskan nafas kemudian pasrah mengikut dirinya menghampiri Alex.
“Langsung balik?” tanya Alex begitu ketiganya telah memasuki mobil “Serah” jawab Arina yang duduk disampingan dengan ketus, Erina yang berada dibelakang mereka hanya terkekeh “Lo bikin salah apa sih Lex sampe adek gue sebel begitu?” tanya Erina membuat Alex tertawa “Biasa, gue kerjain dikit. Maaf dong Rin jangan ngambek, hari ini kakak traktir deh” rayu Alex tapi tak mempan karena Arina masih kesal padanya. Pria itu melajukan mobilnya keluar dari kampus menuju rumah kakak beradik yang berada didalam mobilnya tersebut.