LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
30



Setelah melalui proses yang panjang hingga akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat lulusan terbaik saat wisuda, Erina akhirnya membuka lembaran baru dalam hidupnya.


Gadis itu menatap gedung yang beberapa bulan kebelakang menjadi tempat dirinya melaksanakan program magang, setelah melalui tahapan seleksi pelamar kerja yang cukup ketat dirinya hari jum’at kemarin akhirnya mendapat e-mail pemberitahuan penerimaan kerja.


Tentu saja Erina merasa sangat bahagia mengetahui kerja kerasnya terbayarkan dengan hasil yang ia inginkan, gadis itu merasa sangat beruntung karena dirinya yang memiliki kinerja memuaskan saat magang langsung mendapat surat rekomendasi dari manajer divisi keuangannya saat magang.


Rasa bahagia terpancar dari raut muka Erina begitu dirinya melangkahkan kaki memasuki gedung, kini statusnya telah resmi menjadi pegawai tetap. Setelah menjalani masa pelatihan selama satu bulan dirinya dinyatakan lulus dan resmi diterima sebagai karyawan tetap perusahaan.


Selain itu, Erina semakin senang karena tidak hanya dirinya yang lulus tetapi Naya juga menjadi teman seperjuangannya. Hanya mereka berdua yang ikut melamar ke perusahaan, sementara Andre memilih membantu sang ayah mengurus perusahaan keluarganya seperti Alex dan Lia yang memilih melanjutkan bisnis yang sejak masa kuliah telah ia rintis tersebut.


Naya menepuk bahu Erina pelan membuat gadis yang sejak tadi fokus melangkahkan kakinya kearah lift menoleh “Pagi” sapa Naya ceria dibalas senyuman Erina “Pagi, semangat banget lo” ucap Erina ketika Naya kini berjalan disebelahnya “Iya dong, kan hari pertama kita resmi kerja disini. Gila akhirnya setelah perjuangan yang berat, gak sia-sia juga gue berjuang” raut kebahagiaan tak lepas dari wajah Naya.


“Wih, selamat datang adek-adek yang sekarang udah resmi jadi karyawan tetap perusahaan. Gak kerasa yah, kemarin kayanya kalian baru masuk magang” sambut salah seorang karyawan ketika mereka memasuki ruangan divisi keuangan “Makasih mas, iya buat mas sih gak kerasa tapi buat kita kerasa banget, iya kan Rin?” ucap Naya menoleh pada teman disebelahnya membuat Erina mengangguk setuju. “Selamat bergabung ya kalian” ucap karyawan tersebut menjulurkan tangan memberi selamat dan dibalas jabatan tangan oleh kedua gadis tersebut.


Erina merasa senang dan betah bekerja bersama rekan-rekannya di divisi keuangan, sejak magang mereka memperlakukan Erina, Naya dan Andre dengan baik. Tak ada intimidasi atau perintah-perintah yang tidak sesuai dengan tugas mereka, bahkan jika sedang beruntung mereka akan ikut mendapat cemilan yang dibawa oleh salah satu karyawan atau manajer mereka.


“Lo kenapa milih kerja disini? Bukannya lo bilang kalau mendiang bokap lo punya perusahaan di Singapur?” tanya Naya ketika mereka keluar kantor untuk makan siang, tentu saja mereka berjalan menuju cafe langganan ketika magang dulu. “Iya, itu perusahaan keluarga papah tapi sekarang diurus sama adiknya. Gue emang ditawarin ikut ngurus perusahaan disana tapi gue tolak” jawab Erina membuat Naya mengerutkan kening heran “Loh kenapa?” tanya gadis itu penasaran “Ya gue gak mau aja, lagian biar om gue aja yang ngurus. Disini juga kan Arina kuliah, gak mungkin gue tinggal apalagi dia gak mau pindah” jelas Erina membuat Naya mengangguk paham “Adek kakak sama aja, sama-sama bucin” celetuk Naya membuat Erina terkekeh “Ngaca boss, yang bucin sama Andre siapa?” balas Erina membuat Naya memberikan cengiran.


“Si Lia jadi kesini?” tanya Erina begitu keduanya selesai memesan dan mendudukkan diri “Iya, lagi dijalan bentar lagi nyampe katanya” jawab Naya mengecek kembali ponselnya melihat pesan dari Lia. “Hey girls” sapa Lia yang tiba beberapa menit kemudian, Erina dan Naya otomatis berdiri memeluk gadis itu “Gila selamat ya kalian, udah resmi kerja” ucap gadis itu senang. “Gimana bisnis lo?” tanya Naya membuat Lia yang sejak tadi fokus dengan makanannya menoleh “Lancar dong, yah walaupun peningkatannya masih belum terlalu besar tapi bisnis gue udah stabil” jawab Lia tersenyum senang dan bangga akan pencapaiannya.


Lia memang memiliki bisnis berbasis online, ia menjual kosmetik dan produk perawatan wajah dan tubuh dari berbagai merk terkenal. Selain karena pemasarannya yang baik, Lia memiliki banyak koneksi dari teman-teman kuliahnya sehingga mudah bagi gadis itu mempromosikan barang jualannya dan mendapatkan pelanggan baru. Erina tersenyum ikut bangga melihat kesuksesan temannya itu “Seneng banget bisa buka bisnis sendiri” ucap Erina membuat Naya mengangguk setuju “Kalau gue sih gak ada bakat” ucap Naya membuat Lia tertawa “Gue juga gak nyangka bakal seberhasil ini, bersyukur banget temen-temen kuliah pada bantu promosi jadi bisnis gue cepet dikenal orang” jawab Lia.


“Ngomong-ngomong gimana nih sama Leo?” tanya Lia penasaran membuat Naya yang sibuk mengunyah ikut menoleh “Ya gak gimana-gimana, kita baik-baik aja ya walaupun kadang ada sedikit cekcok tapi untungnya gak sampe jadi masalah gede sih apalagi komunikasi kita juga lancar” jawab Erina membuat Lia dan Naya menatap dengan pandangan iri “Huhuhu iri banget gue, kenapa kisah cinta Erina gemesin sedangkan kisah cinta gue masih digantungin” ucap Naya dengan wajah sendu yang dibuat-buat sehingga Lia mencubit gemas pipi gadis itu “Makanya tembak sana jangan ditungguin doang, minta kejelasan” ucap Lia yang diangguki Erina “Gue kira kalian udah jadian malah” ucap Erina membuat Naya memanyunkan bibirnya “Gak usah so iye lu, dia kayanya masih belum bisa bener-bener move on dari lo Rin makanya kisah cinta gue gak ada kemajuan” keluh gadis itu membuat Lia tertawa “Mandet kaya kemacetan jalan tol pas hari raya” celetuk gadis itu sementara Erina jadi sedikit merasa bersalah walaupun ia tau semua itu bukan salahnya.


“Tapi kan Andre udah tau Erina punya cowok, Leo lagi. Masa belum move on juga sih?” tanya Lia heran “Ya namanya hati orang gak bisa kita atur seenaknya, udah lah males gue ngomongin Andre bahas yang lain aja” ucap Naya mulai tak bersemangat membuat Lia dan Erina berdehem kompak mengganti topik pembicaraan.


Begitu jam makan siang mereka hampir habis, Erina dan Naya langsung pamit meninggalkan Lia yang masih tinggal karena akan memesan ojek online. Perjalanan Erina dan Naya menuju kantor diselimuti keheningan, tak ada pembicaraan diantara keduanya karena mereka kehabisan topik. Keduanya langsung duduk di meja masing-masing dan kembali melanjutkan pekerjaan yang belum selesai tadi, sesekali mereka akan berdiskusi membicarakan pekerjaan dan saling membantu satu sama lain.