LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
39



Erina berdiri didepan gedung perusahaan tempatnya bekerja, karena beberapa pekerjaan dirinya harus berdiam diri lebih lama disana. Suasana gedung telah sepi, tak banyak orang berada disana karena sebagian besar telah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Niat gadis itu untuk mencari kendaraan umum harus tertunda karena hujan yang mengguyur saat ini sangat lebat, Erina lupa membawa payung karena memang tak ada rencana untuk pulang terlambat hari ini.


Berkali-kali dirinya mencoba memesan taksi online melalui ponselnya namun selalu gagal, akhirnya gadis itu hanya bisa terdiam memandangi hujan yang sampai saat ini masih belum mau mereda.


Langkah kaki yang terdengar membuat Erina menajamkan pendengarannya, sebuah sosok berhenti disamping gadis itu membuat dirinya menoleh dan langsung membungkukkan sediikit badannya menyadari sang atasan yang ternyata juga baru keluar dari dalam gedung. “Belum pulang?” tanya pria itu yang mau tak mau harus dijawab oleh Erina, bagaimanapun pria itu adalah atasannya dan sekarang mereka masih berada dalam lingkungan kantor “Iya pak” jawabnya singkat.


Leo menoleh ke arah gadis disampingnya yang masih setia menundukkan kepala tak mau menatapnya “Kamu pulang sama siapa?” tanya pria itu membuat Erina menoleh “Eh?” ucapnya heran, “Saya tanya kamu pulang sama siapa?” ulang Leo membuat gadis dihadapannya mengedipkan mata beberapa kali “Ah, saya pulang sendiri pak” jawab Erina tersadar dari rasa kagetnya. “Ya sudah saya antar” putus Leo membuat tubuh Erina menegang seketika, “Tidak, terimakasih pak saya bisa pulang sendiri” tolak Erina sesopan mungkin. Leo mengangkat sebelah alisnya “Kamu yakin? Kantor udah sepi dan hujannya masih belum reda” ucap pria itu membuat Erina menoleh ke sekeliling dan memang hari yang telah gelap dan hujan yang masih turun dengan lebatnya ditambah suasana kantor yang telah sepi membuat gadis itu mulai memikirkan nasibnya “Tidak apa-apa pak, masih ada penjaga disini” jawabnya mantap. “Saya antar kamu pulang, tidak ada penolakan” ucap pria itu membuat Erina hanya bungkam tak bisa menjawab.


Bagaimanapun keselamatan dirinya adalah yang paling utama bukan? lagipula benar juga apa kata pria yang sebenarnya sangat malas ditemui Erina itu, hujan yang belum tentu kapan redanya itu membuat jam pulang Erina menjadi tak pasti.


Sebuah mobil berhenti dihadapan mereka, Erina tau itu adalah milik pria disampingnya. Rupanya Leo tidak membawanya sendiri, supir pribadi yang selama ini bertugas mengantar jemput sang ayah berpindah tugas mengantar pria itu. Leo membuka pintu mobil belakang namun pria itu tak langsung masuk, pria itu menatap Erina yang masih terdiam tak mengerti “Masuk” ucapnya membuat Erina tersadar dan akhirnya berjalan memasuki mobil. “Loh mbak Erina, apa kabar mbak? Lama gak ketemu” sapa sang supir membuat Erina tersenyum canggung “Baik pak” jawabnya singkat. Percakapan itu terhenti karena kini Leo telah memasuki mobil dan duduk disebelah Erina “Kita ke apartemen Erina dulu ya pak” ucap pria itu yang diangguki supir pribadinya.


Mobil melaju membelah jalana yang masih diguyur hujan dengan lebatnya, Erina memeriksa ponsel membalas pesan sang adik yang sepertinya mulai khawatir karena sang kakak belum juga sampai di rumah.


“Terimakasih atas tumpangannya pak, saya permisi” Erina langsung turun dari mobil begitu mereka tiba didepan gedung apartemen Erina, seorang penjaga yang sudah sangat mengenal gadis itu langsung berlari membawa payung yang memang selalu menjemput para penghuni apartemen yang kehujanan seperti dirinya. “Makasih pak” ucap gadis itu tersenyum ramah ketika dirinya telah sampai didalam gedung apartemen “Sama-sama mbak, tumben pulang telat?” tanya penjaga tersebut, “Iya pak, tadi kerjaannya agak banyak jadi pulang telat. Saya duluan ya pak” jawab gadis itu, “Iya mbak silahkan” jawab penjaga tersebut kemudian Erina berjalan menuju lift untuk naik ke unit yang ditinggalinya.


Erina memasuki rumah dan langsung disambut sang adik yang berlari dari arah ruang tengah, wajah khawatir terlihat jelas “Kakak kemana aja sih? Ko baru pulang” protes gadis itu membuat Erina tersenyum “Kan kakak tadi udah bilang masih ada kerjaan, kamu udah makan?” jawab Erina yang dibalas anggukan oleh sang adik “Mie instan?” tanyanya curiga “Enggak, tadi aku beli makanan di mini market bawah” jawab Arina membuat sang kakak tersenyum “Ya udah kakak ke kamar yah, mau istirahat” ucap Erina kemudian berjalan berlalu meninggalkan sang adik yang kini terlihat lega karena dirinya telah pulang.


Erina menyandarkan tubuhnya pada pintu begitu dirinya memasuki kamar, dipejamkannya kedua mata yang terlihat lelah itu mencoba mengendalikan perasaannya yang mulai tak karuan itu. Detak jantungnya masih seperti dulu setiap kali berada didekat pria itu, berdetak tak beraturan dan membuatnya gugup. Meskipun luka yang ditorehkan Leo sangat besar, tapi sampai saat ini Erina masih belum bisa menghilangkan perasaannya. Rasa cinta yang dimiliki dirinya terlalu besar, bahkan gadis itu merasa tak mungkin dapat melupakan Leo dengan cepat atau bahkan tak bisa sama sekali.


Erina telah pasrah bila memang gadis itu tak bisa melupakan perasaan untuk pria yang kini perasaannya pun tak diketahui bagaimana, ia hanya akan menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri. Biarlah kelak Leo mendapatkan penggantinya, meskipun sejujurnya ada perasaan tak rela tapi Erina sudah tak bisa melakukan apapun lagi. Gadis itu tak pernah berniat untuk mencari pengganti Leo, setidaknya untuk saat ini dirinya memilih untuk larut dalam perasaan yang masih belum bisa dihilangkan dari hati dan pikirannya itu. Terlalu banyak kenangan yang telah dibuat bersama pria dingin namun menggemaskan itu, Erina sadar dirinya terlalu lemah jika berhubungan dengan segala hal tentang Leo.


Gadis itu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sepertinya guyuran air hangat dapat sedikit menenangkan dirinya. Setelah selesai, Erina langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, pandangannya kosong tak dapat diartikan. hembusan nafas kasar terdengar sebelum dirinya memejamkan mata, bukan tertidur. Helaan nafas masih terdengar, sepertinya Erina tengah menenangkan diri.


Mata gadis itu kembali terbuka, ditatapnya jam yang kini menunjukkan pukul sebelas malam namun rasa kantuk itu belum juga datang. Padahal sejak keluar dari kantor gadis itu merasa sangat lelah dan ingin sekali mengistirahatkan dirinya, tapi saat hal itu bisa ia lakukan gadis itu justru tak bisa tidur. Sebesar itukah efek yang diberikan Leo pada dirinya? Padahal gadis itu hanya diantar pulang, atasannya itu pasti merasa kasihan melihat karyawannya masih berada didepan perusahaan dalam keadaan hari yang telah gelap dan hujan yang sangat lebat. Iya benar, pasti alasannya seperti itu, tak ada maksud lain dibalik sikap Leo jadi tolong untuk hati dan pikiran Erina berhentilah berharap dan membuat pemilikmu tak bisa mengistirahatkan dirinya. Tolong biarkan Erina memejamkan matanya, gadis itu sudah sangat lelah seharian ini bekerja dengan keras.