LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
43



Erina tengah sibuk memilih beragam sayuran dihadapannya, sore itu sepulang dari kantor dirinya memutuskan untuk langsung mampir ke supermarket karena persediaan bahan makanan di rumah telah habis.


Setelah jam kerjanya selesai, gadis itu tentu saja langsung memesan ojek online dan berangkat menuju supermarket sambil mencatat bahan-bahan yang akan gadis itu beli nantinya. Satu persatu bahan makanan dan bumbu dapur dimasukan kedalam troli dengan mata Erina yang tak henti beredar memperhatikan setiap rak mencari apa yang dibutuhkannya.


Langkah kakinya terhenti begitu mendengar sebuah suara memanggil, suara yang sangat familiar ditelinga Erina. Gadis itu langsung menoleh dan tersenyum menatap sosok yang kini berjalan menghampirinya “Kamu apa kabar?” tanya sosok tersebut ketika Erina meraih tangannya untuk disalami, “Baik mah” jawab gadis itu tersenyum hangat “Mamah kangen banget sama kamu, udah gak pernah main lagi sekarang” ucap sosok itu lagi membuat Erina tersenyum canggung.


Keduanya memilih untuk melanjutkan perbincangan mereka di area foodcourt begitu mereka selesai berbelanja, sosok yang merupakan ibu dari mantan kekasihnya itu tentu saja tidak akan langsung membiarkan Erina pulang apalagi setelah sekian lama tak berjumpa. Erina menatap gelas minuman dihadapannya karena merasa canggung, kini dirinya sudah tak ada hubungan apapun dengan Leo walaupun wanita dihadapannya itu mengatakan kasih sayangnya untuk Erina dan sang adik tak akan pernah berubah.


Bahkan panggilan untuk sosok yang sudah Erina anggap seperti ibunya sendiri itu juga tak diperbolehkan untuk berubah, meskipun Erina merasa tak enak pada Leo namun dirinya juga tak dapat menolak karena hal tersebut tak akan pernah berhasil.


“Udah lama mamah gak ngobrol sama kamu” ucap ibu Leo menatap lembut Erina “Udah gak pernah masak bareng, belanja bareng, mamah kangen banget sama kamu sama Arina juga” lanjutnya membuat Erina ikut merasa bersalah “Maaf ya mah, bukannya Erina gak mau tapi mamah tau sendiri kan Erina sama Leo udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Erina gak enak kalau harus main ke rumah mamah, takutnya Leo jadi gak nyaman” jawab Erina selembut mungkin takut melukai perasaan ibu dari pria yang sampai saat ini masih dicintainya itu.


“Mamah kira kalian putus karena Leo kepincut sama perempuan lain pas kuliah di luar negeri, tapi sampe sekarang Leo gak pernah keliatan sama perempuan lain malah sibuk sama kerjaannya. Sama kaya papahnya dulu” keluh ibu Leo membuat Erina terkekeh “Tapi kan sekarang papah di rumah terus” jawab Erina mencoba menghibur. Keduanya larut dalam obrolan panjang hingga suara deringan di ponsel Erina mengalihkan perhatian kedua wanita tersebut, panggilan dari sang adik membuat Erina membelalakkan mata tersadar dirinya terlalu larut dalam obrolan hingga lupa harusnya Erina pulang dan menyiapkan makan malam untuk sang adik.


Erina langsung pamit begitu selesai melakukan panggilan telepon dengan Arina, walaupun awalnya gadis itu ditawari untuk diantar oleh ibu Leo tapi Erina menolak dan memilih untuk pulang menggunakan taksi online. Gadis itu mampir sebentar ke salah satu kedai pizza kesukaan Arina yang dilewatinya dijalan karena kesalahannya membuat sang adik kini harus menahan lapar, karena tak diizinkan memasak mie instan kesukaannya akhirnya Arina meminta dibelikan pizza saja oleh sang kakak yang mau tak mau harus dituruti Erina.


Sosok sang adik langsung menyambutnya ketika Erina membuka pintu, wajah ceria Arina ketika melihat satu kotak pizza berukuran besar membuat Erina tentu saja tersenyum senang. Arina langsung berjalan dengan ceria menuju ruang tengah dengan satu kotak pizza dan langsung membukanya karena rasa lapar yang sudah tak bisa ditahan lagi. Erina ikut bergabung menyantap pizza bersama sang adik begitu dirinya selesai membersihkan diri, sementara kantung belanjaannya masih dibiarkan didapur belum ia bereskan.


“Kakak ngapain aja sih? Sampe lama banget” tanya Arina masih sibuk mengunyah potongan pizzanya, “Tadi kakak ketemu mamahnya Leo jadi ngobrol dulu, terus kelupaan harus buru-buru pulang” jelas Erina membuat sang adik memanyunkan bibirnya. “Aneh gak sih? Kakak sama kak Leo udah gak ada hubungan apa-apa tapi kita masih manggil mamah” ucap Arina mengeluarkan pemikirannya membuat Erina terdiam ikut berpikir, memang sejujurnya terasa canggung “Mau gimana lagi? Toh beliau juga tetep nyuruh kita manggil begitu. Lagipula kan mereka juga gak berubah sama kita, gak apa-apa” jawab Erina yang diangguki sang adik.


Kehadiran Leo dalam hidupnya sangatlah berarti, pria itu yang mampu membuka hati Erina yang sempat tertutup setelah kepergian kedua orangtuanya. Leo yang membuat dirinya kembali terbuka dan mau mencurahkan segala isi hatinya, Leo juga yang selalu menjadi pendengar yang baik untuknya. Leo yang menjadi sosok yang dapat menenangkan dan melindungi Erina, pria itu selalu memberikan bahu dan pelukannya dikala Erina tak dapat lagi menahan air matanya. Sosok Leo dalam hidup Erina mengambil peran yang terlalu banyak sehingga sangat sulit untuk dirinya membiasakan diri hidup tanpa kehadiran Leo kini.


Alunan lagu Noah berjudul ‘Tak Lagi Sama’ kini memenuhi pendengaran Erina, gadis itu memejamkan mata menikmati setiap lantunan lirik yang dinyanyikan oleh Ariel sang vokalis. Memang jika sedang galau, mendengarkan lagu menjadi pilihan yang tepat. Antara mengobati atau justru menemani rasa patah hati, lagu menjadi media yang paling bisa mengekspresikan apa yang kita rasakan saat kata tak lagi mampu menjabarkannya.


Dan diriku bukanlah aku


Tanpa kamu menemaniku


Kau menenangkanku


Kau melegakan aku


Setiap penggalan lirik yang didengarnya membuat Erina terasa semakin ditampar kenyataan, fakta bahwa dirinya merasa segalanya berubah setelah Leo tak lagi menemani hari-harinya membuat gadis itu terdiam semakin memejamkan matanya. Tak ada air mata yang keluar, namun rasa sepi di hati Erina semakin besar, kembali membayangkan berbagai kenangan yang telah ia lalui bersama Leo justru semakin membuatnya merasakan kehilangan yang amat besar.


Ucapan Leo di ruangannya kala itu kembali terngiang, keinginan pria itu untuk memastikan kembali perasaannya membuat Erina kembali membuka matanya ‘Bolehkan kali ini dirinya berharap?’ batinnya. Bagaimanapun juga, meskipun pria itu telah menorehkan luka di hati Erina, fakta bahwa perasaan Erina tak pernah berubah untuk pria itu tentu saja membuatnya berharap bahwa sebenarnya Leo masih memiliki perasaan untuknya. Jika tidak maka untuk apa pria itu harus repot-repot menemui Dewa hanya untuk menanyakan perihal dirinya? Mengapa Leo begitu mengurusi kehidupannya padahal sudah tak ada lagi apa-apa diantara mereka? Benar kan? Jadi untuk kali ini, biarkan Erina berharap dan percaya dengan apa yang dirasakannya.