
Erina memasuki mobil ayah Leo sambil mengedarkan pandangannya “Kamu kenapa? Kaya buronan gitu?” tanya Ayah Leo sambil terkekeh memperhatikan kelakuan kekasih putranya itu “Takut ada yang lihat” jawab Erina begitu dirinya mendudukan diri di bangku bagian belakang sementara ayah Leo duduk didepan bersama sang supir. “Arina udah selesai lesnya?” tanya pria itu membuat Erina mengangguk “Udah pah” jawab gadis itu masih fokus dengan ponselnya.
Arina berdiri ditepi jalan menunggu kedatangan sang kakak yang berkata akan menjemputnya bersama ayah Leo, gadis itu tentu saja sangat antusias karena jika seperti itu artinya mereka akan makan malam bersama keluarga kekasih kakaknya tersebut.
Gadis itu menunggu dengan tenang sambil bersenandung beberapa lagu kesukaannya, suasana tempat les sudah mulai sepi karena siswa lain sudah pulang sejak tadi.
Berselang beberapa saat sebuah mobil berhenti tepat dihadapan gadis itu, kaca pintu mobil terbuka menampakkan wajah sang kakak disana membuat Arina tersenyum senang langsung bergegas membuka pintu mobil dan memasukinya. “Ko udah sepi?” tanya Erina membuat sang adik menoleh “Oh, iya yang lain udah pada dijemput dari tadi” jawab gadis itu sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang sambil menghela nafas lega.
Jika harus jujur sebenarnya Arina merasa sangat lelah melakukan kegiatan yang sama lima hari dalam seminggu, Sekolah-mengerjakan tugas-les belum lagi jika ada tugas kelompok maka akan ada waktu tambahan yang gadis itu gunakan untuk berkumpul bersama teman-temannya untuk menyelesaikan tugas membuat gadis itu sudah dapat dipastikan pulang ke rumah lebih terlambat.
“Gimana sekolahnya Rin?” tanya ayah Leo “Gitu-gitu aja pah, capek” keluh gadis itu mengerucutkan bibirnya “Semangat dong kan sebentar lagi kamu selesai” ucap Ayah Leo menyemangati “Kapan kamu ujiannya?” tanya pria itu lagi “Minggu depan pah” jawab Arina mulai merasa lebih baik “Ya udah kamu semangat belajarnya, nanti kalau udah beres ujian papah ajak kalian jalan-jalan gimana?” tawar pria itu membuat mata Arina langsung berbinar “Bener ya pah?” ucap gadis itu antusias “Iya iya papah janji” yakin ayah Leo membuat Arina kini tersenyum cerah terlihat sangat bahagia.
Begitu memasuki kediaman milik keluarga Leo, kedua gadis itu langsung disambut dengan hangat oleh mamah yang sudah menunggu sejak tadi. “Aduh memah kangen banget sama kalian” ucap ibu Leo sambil memeluk keduanya bergantian “Baru juga kemarin ketemu mah” terdengar ayah Leo menimpali membuat mamah hanya mendelik “Ya namanya juga kangen, apalagi sekarang Leo udah berangkat rumah makin kerasa sepi” keluh ibu Leo membuat raut wajah Erina mulai sendu mengingat pria itu, ah padahal baru sehari tapi Erina merasa sangat merindukan kekasihnya itu.
Erina mengedarkan pandangan menatap sendu pada sebuah bingkai foto yang terpajang disana, seorang pria yang tersenyum manis terlihat sangat bahagia merangkul dirinya. Sudah lama sejak foto itu diambil, Erina masih mengingat acara piknik pertama dirinya dan sang adik dengan keluarga Leo yang membuat hubungan mereka benar-benar dekat sampai saat ini.
Meskipun tak terikat oleh pertalian darah dan hanya berstatus sebagai kekasih Leo, Erina bersyukur dirinya dan sang adik diterima dengan tangan terbuka serta pelukan hangat dari keluarga sang kekasih. Mereka berdua diperlakukan seperti bagian dari keluarga, panggilan yang sama kepada kedua orangtua Leo dan perhatian yang diberikan Alana layaknya kakak mereka sendiri. Hal yang selalu Erina syukuri dalam hidupnya adalah bertemu dengan Leo dan diperkenalkan dengan keluarga pria itu.
“Nah kakak bantuin masak aja, okey?” ujar Arina begitu mereka tiba di dapur kemudian beranjak pergi “Loh kamu mau kemana?” tanya Erina heran melihat sang adik yang malah melangkah pergi “Duduk disini, jadi penonton” jawab gadis itu sambil mendudukan dirinya di kursi pantry dengan cengiran tanpa dosanya. Erina hanya menggeleng melihat kelakuan sang adik sementara mamah yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa terkekeh merasa gemas dengan kelakuan Arina.
Setelah selesai makan malam, keempat orang tersebut memilih untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga. Mamah yang merasa senang dengan kehadiran Erina dan Arina sejak tadi memeluk Arina membawanya dalam dekapan hangat seorang ibu membuat Arina tentu saja menerima tanpa penolakan.
“Kalian pindah kesini aja, lagian kan disana juga Cuma berdua” pinta ibu Leo membuat Erina terdiam, gadis itu tentu saja sangat ingin tinggal bersama kedua orang tua Leo “Maaf ya mah, bukannya kita gak mau, tapi gak mungkin kita ninggalin rumah” jelas gadis itu mengingat bagaimana rumah tersebut adalah peninggalan kedua orang tuanya.
Banyak kenangan yang tak ingin dirinya hilangkan disana, tak mungkin juga rumah itu disewakan karena Erina tak mau rumah itu ditempati oleh orang lain. Mamah mengangguk memahami alasan Erina yang tak ingin meninggalkan rumah tersebut, “Mamah tenang aja, aku sama kakak nanti bakal sering main kesini. Kalau luang nanti setiap weekend kita nginep disini, gimana?” tanya Arina menatap sang kakak meminta persetujuan, Erina menganggukkan kepala menyetujui “Iya, boleh” jawab gadis itu membuat kedua orangtua Leo tentu saja tersenyum senang.
Erina dan sang adik akhirnya diantar pulang oleh supir pribadi keluarga Leo setelah puas menghabiskan waktu dikediaman kekasihnya. Keduanya nampak lelah dan langsung pergi menuju kamar masing-masing setelah saling mengucapkan selamat malam kepada satu sama lain. Erina membantingkan diri keatas tempat tidur, gadis itu menghembuskan nafas kasar merasa malas untuk beranjak menuju kamar mandi tapi tidak mungkin juga dirinya tak membersihkan diri setelah beraktivitas seharian ini. Akhirnya dengan terpaksa dirinya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan piyama Erina langsung membaringkan tubuhnya.
Berkali-kali Erina memandangi ponselnya yang sejak tadi masih saja sepi, tak ada notifikasi pesan ataupun panggilan dari sang kekasih. Wajah gadis itu kembali sendu, merasa lelah dengan pekerjaannya dan dirinya berharap Leo bisa memberinya sedikit kekuatan. Disaat seperti ini Leo adalah vitamin yang bisa membangkitkan kembali semangat Erina. Mata gadis itu berbinar begitu sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya, dengan segera Erina membuka dan tersenyum bahagia ketika melihat siapa si pengirim pesan tersebut.
Pesan dan sebuah foto muncul begitu Erina menekan notifikasi tersebut, senyumnya semakin merekah ketika melihat wajah sang kekasih yang rupanya baru bangun tidur itu. Akibat perbedaan waktu keduanya harus bisa menyesuaikan diri, bahkan Erina sudah berencana untuk membuat jadwal kegiatan masing-masing agar bisa meluangkan waktu untuk melakukan face time.