LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
9



Arina pulang ketika langit mulai berubah senja, seperti biasa gadis itu akan tiba di rumah dengan keadaan lelah dan langsung berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia memilih langsung menuju dapur karena harum masakan sang kakak sudah tercium oleh indera penciumannya membuat perut gadis itu langsung berbunyi. Benar saja, begitu dirinya memasuki ruang dapur yang terhubung dengan dapur, gadis itu menemukan sang kakak yang masih sibuk dengan alat penggorengan.


Erina yang sejak tadi fokus memasak mulai mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara kursi meja makan yang ditarik, gadis itu tersenyum ketika melihat sang adik yang sudah duduk manis disana menunggu dirinya menyelesaikan masakan dengan wajah yang terlihat sangat menggemaskan. Saat hendak menyelesaikan masakannya, Erina menoleh begitu mendengar suara bel dari arah pintu, tanpa menunggu lama sang adik langsung bangkit untuk melihat siapa sosok yang bertamu ke rumah mereka.


Gadis mungil itu membuka pintu dan tak terkejut dengan sosok yang kini tengah berdiri tegap dihadapannya “Sore bocil” ucap pria yang sudah dapat dipastikan adalah kekasih sang kakak “Hadeuh, kirain siapa. Tau gitu gak usah dibukain pintu” keluh Arina kemudian melengos kembali ke ruang makan diikuti Leo yang kini terkekeh melihat tingkah adik dari kekasihnya itu.


Erina yang tengah sibuk menyusun masakannya di meja makan tampak kaget ketika melihat sosok yang bertamu ke kediaman mereka itu “Loh udah dateng? Katanya nanti malem” tanya gadis itu heran “Iya, sengaja biar bisa makan masakan kamu dulu” ucapnya kemudian mendudukan diri disamping kekasihnya itu “Makan yang banyak ya cil, biar kuat” ucap pria itu ketika Arina yang sudah tak bisa menahan rasa laparnya mulai mengambil nasi serta lauk pauk yang kini terlihat menggiurkan. Arina hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal, tak mau membalas karena dirinya sudah begitu lapar dan tak ada waktu untuk beradu ledekan dengan pria yang baru lulus itu.


Setelah selesai makan, keduanya pamit kepada Arina untuk pergi menghabiskan waktu bersama yang diangguki oleh gadis itu dengan syarat jangan pulang terlalu malam karena gadis itu cukup penakut jika hari sudah gelap.


Leo dan Erina pergi menikmati waktu bersama, selama Leo masih ada disini gadis itu ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi sebelum nantinya mereka harus menjalani hubungan jarak jauh begitu Leo telah berangkat mengejar impiannya.


Keduanya melakukan hal-hal yang sangat ingin Erina lakukan, Leo tentu saja menuruti karena dirinya ingin memberikan banyak waktu dan perhatiannya untuk gadis yang sudah menemaninya sejak tingkat dua perkuliahan itu.


Bukan gaya kencan romantis yang diusung pasangan kekasih itu, keduanya lebih suka menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Seperti sekarang, begitu sampai di Mall Erina dan Leo memiih langsung memasuki arena permainan untuk menghabiskan waktu mereka.


Keduanya terlihat sangan antusias untuk memainkan berbagai macam permainan yang ada disana. Leo yang sangat menyukai olahraga basket tentu saja langsung pergi menuju permainan tersebut diikuti Erina yang kini menjadi penyemangat kekasihnya itu agar mendapat skor yang tinggi sehingga mereka bisa mendapatkan banyak tiket.


Sementara Erina lebih menyukai permainan yang menggunakan alat pemukul, ketika ditanya alasannya gadis itu akan menjawab bahwa permainan itu bisa melampiaskan perasaan dihatinya sehingga setelah selesai bermain dirinya merasa lebih baik dan perasaannya terasa lebih ringan.


Tak seperti kebiasaan mereka yang akan pergi ke pantai jika ada hal serius yang ingin dibicarakan, Leo saat ini justru mengajak sang kekasih untuk menikmati waktu mereka di taman. Erina tak merasa heran dan menyetuji ajakan kekasihnya itu karena sepertinya taman akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihabiskan bersama. Gadis itu duduk manis di salah satu bangku yang tersedia sambil menunggu Leo yang sedang membeli minuman untuk mereka nikmati ditengah udara yang mulai terasa dingin. Leo kembali dengan dua cup cokelat panas beberapa menit kemudian, karena ini hari kerja jadi tidak begitu banyak orang yang datang.


Keduanya menikmati cokelat panas kembali dalam keheningan, sama-sama fokus menatap kedepan walau entah apa yang mereka tatap. “Erina” ucap Leo akhirnya memecah rasa sepi diantara keduanya, gadis yang dipanggil langsung menoleh “Kenapa?” tanyanya lembut, Leo mengalihkan pandangannya menatap sepasang mata indah milik sang kekasih, perlahan jemarinya meraih dan menggenggam tangan sang kekasih “Aku lulus” ucapnya membuat Erina tersenyum “Selamat” ucapnya kemudian tanpa sadar air matanya mengalir membasahi kedua pipinya membuat Leo kaget dan dengan segera mengusap air mata yang masih terus keluar itu.


“Kamu kenapa? Hey?” tanya pria itu menangkup pipi sang kekasih, Erina yang masih sesegukan menggeleng “Aku seneng tapi aku juga sedih” jawab gadis itu kembali menangis kali ini suara tangisnya mulai terdengar. Leo yang melihat kekasihnya menangis hanya bisa merengkuh tubuh mungil Erina kedalam pelukannya mencoba menenangkan, berkali-kali pria itu mengusap dan menepuk-nepuk lembut punggung sang kekasih yang masih terus meluapkan kesedihannya itu.


Meskipun telah sepenuhnya mendukung dan merelakan kekasihnya itu untuk pergi meraih impiannya, entah kenapa perasaan sedih membayangkan kepergian Leo membuat Erina tak bisa menahan air matanya. Air mata yang selama ini selalu ia tahan agar tak keluar akhirnya terjun bebas mengalir melewati kedua pipinya, Erina tak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya. Gadis itu menangis meluapkan segala kesedihannya, tak ingin menutupinya lagi dengan senyuman manis dihadapan kekasih yang kini tengah mendekapnya erat.


Erina melepaskan pelukan keduanya ketika dirinya telah puas meluapkan kesedihan dan berhasil menghentikan air matanya itu, kini wajahnya justru terlihat menggemaskan membuat Leo langsung mengulurkan tangan mengusap kedua pipi gadisnya kemudian menangkup wajah cantik dihadapannya itu dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang “Maaf” bisik pria itu ketika kening mereka berdua menempel erat, Erina menggelengkan kepalanya “Aku yang harusnya minta maaf” ucap gadis itu dengan suara yang cukup serak sehabis menangis “Enggak, kamu pantas untuk menangis, aku yang harus minta maaf karena udah buat kamu nangis” jawab Leo kembali memeluk kekasih tercintanya itu.


Keduanya memutuskan untuk pulang, selain karena hari sudah semakin malam Erina sejak beberapa menit yang lalu mendapatkan panggilan dari sang adik yang memintanya untuk segera pulang karena gadis itu mulai merasa kesepian dan takut berada di rumah sendirian.


Erina tak henti menatap kekasihnya yang tengah fokus menyetir sambil memperhatikan jalan raya, gadis itu tersenyum mengagumi wajah pria yang telah menemaninya selama ini. merasa diperhatikan, pria yang kini menghentikan mobil karena lampu lalu lintas berwarna merah itu ikut menolehkan kepalanya “Kenapa?” tanyanya dengan senyuman yang begitu hangat “Kamu ganteng” jawab Erina masih terus menatap lekat kekasihnya “Makasih” ucap Leo membuat Erina terkekeh “Aku harus puas mandangin kamu, mumpung kamu masih ada dihadapan aku” ucap Erina membuat Leo mengusap pipi gadisnya itu “I love you” ucap pria itu lembut yang diangguki Erina “I love you” balas Erina.


Seperti biasa, begitu mereka sampai Leo akan mengantarkan gadis itu sampai kedepan pintu apartemennya “Makasih untuk hari ini” ucap Erina begitu keduanya telah berada didepan pintu apartemen “Aku yang harusnya makasih” balas Leo kembali merengkuh sang kekasih kedalam pelukannya “Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut” ingat Erina yang membuat Leo terkekeh sambil melepaskan pelukan keduanya “Iya, siap sayang” ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepala gadisnya “Aku pulang yah” lanjut pria itu yang dibalas anggukan oleh Erina kemudian berlalu meninggalkan gadis yang kini masih memperhatikan kepergiannya.