LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
37



Erina menikmati waktu liburnya seorang diri, sang adik yang kebetulan telah memiliki janji dengan Alex membuatnya bisa lebih leluasa melakukan kegiatan me time yang sangat ingin ia coba sejak lama. Gadis itu hanya mengenakan kemeja dan celana jeans kemudian menyampirkan tas selempang kecil dibahunya, sederhana tapi tetap terlihat bagus. Erina berniat menghabiskan waktu untuk memanjakan dirinya yang sudah merasa sangat penat, gadis itu ingin menyegarkan hati dan pikirannya kali ini.


Tujuan pertama Erina adalah cafe, semalam Arina telah merekomendasikan cafe bagus yang sering gadis itu datangi bersama teman-teman kuliahnya. Setelah mencari tau tentang cafe tersebut lewat sosial media yang dikirimkan sang adik, Erina langsung tertarik dan memutuskan untuk pergi kesana.


Gadis itu membuka pintu cafe membuat suara lonceng terdengar, nuansa klasik namun sederhana membuat gadis itu menatap takjub. Penilaiannya akan tempat tersebut bertambah, nuansa cafe yang tenang juga tentu saja terasa sangat nyaman. Erina langsung duduk disalah satu kursi yang menghadap langsung kearah jendela kemudian memilih menu makanan yang tersedia, setelah memesan Erina memilih mengedarkan pandangannya memperhatikan suasana cafe yang cukup ramai namun tak begitu berisik serta alunan musik yang terdengar membuat suasana cafe semakin nyaman.


Pandangan Erina terhenti pada sosok yang baru saja keluar dari dalam ruangan diujung cafe, sosok pria yang sepertinya dikenali gadis itu berjalan kearah meja kasir dan berbicara dengan pegawai disana. Beberapa menit Erina masih terpaku dengan sosok tersebut, gadis itu masih penasaran ingin meyakinkan sosok yang dilihatnya adalah sosok yang ia kenali. Pria tersebut berbalik mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru cafe kemudian pandangannya terhenti pada satu titik secara tak sengaja, pria itu tersenyum dan menghampiri Erina yang masih terdiam memperhatikan sosok yang kini semakin mendekatinya itu.


“Erina?” ucap pria itu menunjuk gadis yang kini mengangguk dengan tatapan bengongnya “Kamu apa kabar? Udah lama banget ya. Aku boleh duduk disini?” ucap pria tersebut meminta izin membuat Erina lagi-lagi mengangguk. Erina berdehem begitu sosok tersebut duduk dihadapannya “Baik, kak Dewa sendiri gimana kabarnya?” tanya Erina setelah berhasil kembali dari lamunannya, sosok bernama Dewa itu tersenyum “Baik, aku gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu, di cafe aku lagi” ucap Dewa antusias membuat Erina sedikit terkejut “Jadi cafe ini punya kakak?” tanyanya tak percaya membuat Dewa terkekeh “Iya, udah lama ko aku buka cafe sendiri tadinya mau ngundang kamu tapi aku udah gak ada kontak semenjak kamu jadian sama Leo” jelas pria itu membuat Erina tersenyum agak canggung mendengar nama yang tak ingin ia dengar disebut.


“Eh iya, ngomong-ngomong ko sendiri aja, gak sama Leo?” tanya pria itu penasaran membuat Erina menggeleng “Udah enggak” jawabnya sendu membuat Dewa merasa tak enak “Aduh, maaf maaf aku gak tau” ucapnya sedikit panik membuat Erina terkekeh “Gak apa-apa kak, santai aja” jawab Erina mencoba mengembalikan moodnya yang sempat sedikit goyah.


Pesanan Erina datang membuat gadis itu menoleh kemudian tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang membawa pesanannya, keduanya kembali larut dalam percakapan yang lebih banyak dipenuhi oleh cerita nostalgia semasa kuliah dan bagaimana perubahan yang dialami keduanya saat ini.


“Habis ini kamu mau kemana?” tanya Dewa membuat Erina yang sibuk menyeruput minumannya menoleh “Gak tau, pengennya sih pergi ke tempat yang bisa buat refreshing, ngilangin galau” jawab Erina terkekeh membuat Dewa berpikir sejenak “mau nyoba outbond?” tawar Dewa membuat Erina menatapnya ragu, berkali-kali gadis itu mengedipkan mata berpikir mengenai tawaran yang diberikan pria dihadapannya kemudian mengangguk setuju. Lumayan, Erina sudah sangat lama tidak melakukan kegiatan tersebut, sepertinya bukan pilihan yang buruk untuknya menerima tawaran Dewa.


Erina terlihat sangat senang menikmati berbagai wahana yang tersedia disana, gadis itu terlihat sangat puas tertawa dan berteriak menghilangkan rasa stress yang selama ini dipendamnya. Dewa tersenyum melihat Erina kini terlihat lebih baik dari sebelumnya, sepertinya ajakannya berhasil mengembalikan suasana hati gadis itu. Dewa bersyukur dalam hati bisa kembali melihat senyuman Erina yang kini terlihat semakin lebar.


Setelah puas bermain, keduanya kini duduk di kursi salah satu restoran keluarga yang tersedia disana. Melakukan berbagai macam permainan membuat energi keduanya cukup terkuras habis dan kini mereka memutuskan untuk mengisi kembali tenaga yang sempat hilang. Hari yang mulai sore membuat suasana disana jadi terlihat lebih indah, Erina nampak takjub menikmati pemandangan serba hijau disekitarnya.


“Aku gak nyangka kalian bakal putus” ucap Dewa membuat Erina yang sejak tadi mengamati pemandangan disekitarnya menoleh pada sosok pria yang kini melipat kedua tangannya diatas meja. Erina tersenyum remeh mengingat bagaimana hubungannya kini telah kandas “Kalian pasangan yang harmonis sejak jaman kuliah, aku kira bakal dapet undangan pernikahan taunya malah sebaliknya” lanjut Dewa membuat Erina mengalihkan pandangannya memandang miris mengingat nasibnya saat ini “Aku juga ngiranya gitu kak” jawab Erina kembali mengalihkan pandangannya pada Dewa, “Tapi emang takdir gak bisa ditebak” lanjut gadis itu kini tersenyum sendu mengaduk minumannya yang telah datang.


“Padahal dulu kita sampe perang dingin karena saingan buat dapetin kamu” ucap Dewa tersenyum miris mengingat pertemanannya dengan Leo sejak SMA mulai renggang sejak keduanya menyukai satu perempuan yang sama, sosok yang berhasil Leo dapatkan namun kini telah pria itu lepaskan. Erina tersenyum mengingat bagaimana Dewa dan Leo sama-sama mendekatinya, namun gadis itu memilih melabuhkan hatinya pada sosok pria dingin itu tanpa mengira dirinya akan terluka sehebat ini. “Sampe sekarang hubungan aku sama Leo masih belum membaik, kalau sama Satria masih mending kita sering ketemu pas Leo ke luar negeri kemarin” ungkap Dewa tiba-tiba merasa sendu mengingat bagaimana pertemanan yang telah berjalan lama itu masih belum membaik.


Erina memandang kearah Dewa merasa bersalah, namun setiap kali dirinya meminta maaf Dewa ataupun Leo tak pernah mau mendengarnya karena bagi mereka itu bukan kesalahan Erina. Perasaan seseorang tak bisa dipaksakan dan diatur seenaknya, maka ketika dua sahabat itu melabuhkan hatinya untuk Erina, hal itu bukanlah kesalahan dirinya.


Dewa mengantar Erina pulang ke apartemennya setelah puas bermain melepaskan penat yang dirasakan gadis itu, “Kakak yakin gak mau mampir dulu?” tanya Erina begitu keduanya sampai didepan gedung apartemennya. Dewa memang tak memasukan mobilnya ke area parkir karena niatnya hanya untuk mengantar Erina, “Enggak, aku harus balik lagi ke cafe” jawabnya tersenyum hangat, Erina membalas senyuman itu “Ya udah kalau gitu, makasih buat hari ini. Kakak hati-hati dijalan” ucapnya kemudian keluar dari mobil dan melambai memperhatikan mobil yang semakin jauh meninggalkannya.