
Kehidupan Erina berjalan seperti biasa, gadis itu tetap menjalankan pekerjaan dan kegiatan lainnya dengan normal. Hanya satu yang berubah, kehadiran pria yang selama ini tinggal jauh darinya, tak perlu menahan rindu dalam jangka waktu yang lama lagi karena kini dirinya bisa bertemu dengan sang kekasih kapanpun gadis itu mau.
Ah, satu lagi yang berubah dari diri Erina. Entah kenapa kini sikap dirinya jadi lebih manja dan sedikit posesif kepada sang kekasih padahal dulu dirinya tak seperti itu, mungkinkah efek menjalani hubungan jarak jauh selama ini? atau rasa khawatir yang gadis itu rasakan terhadap sang kekasih yang semakin lama berada disana semakin jarang menghubungi dan mengabari diirnya? Sejujurnya Erina tak ingin ambil pusing karena nyatanya kini Leo telah kembali bersamanya dan kesetiaan pria itu pada dirinya masih tetap sama.
Sebenarnya Erina tak ingin terlalu larut dalam pemikiran yang kurang baik tentang kekasihnya, tapi entah kenapa perasaan tak enak yang sering dirinya rasakan akhir-akhir ini tak bisa ia hilangkan. Sudah dua minggu waktu berjalan setelah kembalinya Leo dari luar negri, kini pria itu memang cukup sibuk mengikuti sang ayah melakukan pekerjaannya untuk belajar agar pria itu terbiasa begitu kelak menggantikan posisi sang ayah.
Erina tak mempermasalahkan hal itu karena dirinya juga sibuk bekerja, tapi entah kenapa sikap pria itu dirasa semakin berubah. Biasanya pria itu akan menyempatkan waktunya untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama dirinya walau hanya sebentar, tapi kini bahkan menghubungi Erina saja bisa gadis itu hitung dengan jari.
Semakin hari runtuyan pesan yang dikirim Erina bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama demi mendapatkan balasan dan berakhir dengan respon singkat dari pria yang dihubunginya itu. Dirinya tak ingin berpikiran buruk, tapi jujur saja rasa takut akan kemungkinan terburuk yang terjadi dalam hubungannya melihat sikap Leo yang semakin acuh padanya.
Naya baru memasuki ruang kerja pagi itu dan langsung disuguhi pemandangan temannya yang menelungkupkan kepala diantara lengannya diatas meja “Kenapa Rin? Tumben banget pagi-pagi udah murung?” tanya Naya sambil mendudukan diri dikursinya merasa heran membuat Erina mengangkat kepalanya kemudian menoleh mencoba memaksakan seulas senyum walau wajah lesunya tak dapat ia tutupi “Udah gak usah maksain senyum kalau gak bisa, kenapa lo?” ucap Naya yang mengerti perasaan gadis disampingnya itu. Erina menyandarkan punggungnya pada kursi kemudian menghembuskan nafas kasar “Perasaan gue gak enak” jawab gadis itu akhirnya mengeluarkan suara “Leo?” ucap Naya tanpa suara tak ingin rekan kerja mereka yang lain mendengar, Erina mengangguk sebagai jawaban “Kenapa?” Naya tak henti bertanya karena semakin merasa penasaran.
Bagaimana tidak? selama ini yang Naya ketahui hubungan keduanya baik-baik saja, tak pernah ada permasalahan yang terjadi paling hanya perdebatan kecil itupun berakhir dengan cepat.
“Nanti aja, pas jam makan siang. Ajak Lia sekalian nanti dia pundung” ucap Erina akhirnya diangguki Naya yang langsung mengambil ponselnya kemudian mengetikkan pesan dan mengirimnya kepada Lia. Dilirknya gadis yang tadi berbicara, Naya menghembuskan nafas dengan perasaannya yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Lia memasuki cafe begitu dirinya tiba, gadis itu langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan kedua temannya yang seperti biasa memilih duduk didekat jendela. Dapat gadis itu lihat Erina yang terdiam dengan wajah sendu menatap keluar jendela memandangi kendaraan yang beralu lalang dijalan sementara Naya jadi ikut terdiam tak tau harus berbuat apa “Yuhuuuu, kenapa nih? Diem-diem bae” ucap gadis itu semangat mencoba mengubah suasana.
Kedua gadis itu menoleh memperhatikan Lia yang kini telah mendudukan diri bersama mereka “Jadi kenapa? Muka kalian ko mendung begitu padahal diluar cerah” tanya Lia penasaran membuat Naya mencebik “Dia doang tuh, gatau kenapa dari tadi pagi mukanya udah begitu” jawab Naya menunjuk Erina dengan wajahnya. Lia menatap gadis yang kini tengah mengaduk-aduk minuman dihadapannya “Kenapa lo? Ayo sini cerita” ucap Lia membuat Erina memejamkan mata sambil menarik dan menghembuskan nafasnya.
Erina terdiam sebentar sebelum akhirnya melirik kedua temannya yang kini menatap lekat menunggu penjelasan dirinya “Gak tau kenapa belakangan ini Leo jadi beda, gue ngerasain banget gimana dia bener-bener berubah sejak dia balik” jelas Erina membuat kedua temannya menatap iba tak tau harus berkata apa “Rin” ucap Naya mengusap punggung tangan Erina lembut membuat Erina tersenyum “Gue udah coba buat hilangin pemikiran negatif gue tapi gak bisa, semalem dia bahkan gak respon pesan gue padahal gue liat di sosmednya kak Satria mereka lagi ngumpul bareng” lanjut Erina menarik nafas sebentar “Dia jadi makin cuek, makin gak peduli dan gak pernah nemuin gue beberapa hari ini. pesan yang dia kirim singkat, dia jadi dingin banget sama gue” mata Erina menatap kosong gelas dihadapannya “Mungkin salah gue juga karena semenjak dia pulang entah kenapa gue jadi manja dan cukup posesif bikin dia gak nyaman, tapi harusnya dia bilang bukannya malah kaya gini. Gue lebih baik diputusin langsung daripada digantung kaya gini” Erina mengakhiri penjelasannya kemudian menatap kedua temannya yang kini terlihat berkaca-kaca.
“Kalian kenapa?” kekeh Erina mencoba mencairkan suasana yang baginya terlalu sendu itu, padahal dirinyalah penyebab hal tersebut terjadi. “Gue gak tau harus ngomong apa Rin, gue gak bisa ngasih saran apapun buat lo. Satu hal yang harus lo tau, apapun yang terjadi sama hubungan kalian gue sama Lia bakal selalu ada buat lo. Lo gak akan pernah sedirian Rin” ucap Naya menggenggam tangan Erina erat diikuti Lia “Iya Rin, kita mungkin gak bisa ngasih saran buat hubungan kalian tapi kita bakal selalu ada buat lo” ucapnya membuat Erina tersenyum “Makasih” ucapnya membalas genggaman kedua temannya itu. Erina merasa bersyukur kini dirinya memiliki teman yang sangat peduli dan selalu ada untuk dirinya, gadis itu kini hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan hubungannya.
Erina dan Naya kembali ke kantor begitu jam makan siang hampir selesai, keduanya memasuki lift yang kebetulan kosong “Padahal Leo sering ke kantor, lo gak pernah ketemu sama dia?” tanya Naya membuat Erina menoleh kemudian tersenyum “Enggak, gue kan jarang banget dipanggil ke ruangan bos. Lagian gue sendiri yang minta buat nyembunyiin hubungan” jawab Erina memandang kebawah dengan lesu. Naya tak mengatakan apapun lagi dan hanya bisa mengusap bahu temannya itu menguatkan.