LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
17



Arina terbangun ketika alarm ponselnya berbunyi, namun badannya sulit untuk digerakkan. Gadis itu membuka mata dan mendapati sang kakak yang masih terlelap sambil memeluk dirinya erat.


Perlahan Arina mencoba menarik lengan sang kakak agar terlepas dari badannya, tapi bukannya terlepas pelukan itu justru semakin mengerat ditubuhnya. Mau tak mau gadis itu akhirnya mengguncangkan tubuh sang kakak dengan lembut agar Erina terbangun, masih belum membuahkan hasil akhirnya Arina menepuk-nepuk pelan pipi sang kakak.


Erina mencoba membuka matanya begitu gadis itu merasakan tepukan demi tepukan di pipinya, ia tersenyum mendapati sang adik yang kini terdiam pasrah menatapnya karena tak bisa bergerak sama sekali. “Pagi dek” sapa Erina melepaskan pelukan dan menggeliatkan tubuhnya, sementara Arina akhirnya bisa bernafas lega karena pelukan sang kakak akhirnya melepas pelukannya dan dengan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Erina memandang sang adik yang melangkah pergi menuju kamar mandi, gadis itu masih mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya. Dirinya langsung berdiri dan bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri begitu ingat apa yang akan ia lakukan hari ini.


Suara penggorengan dan aroma harum masakan langsung menarik perhatian indera pendengaran dan penciuman begitu Arina keluar dari kamar, gadis itu langsung berjalan menuju ruang makan dan mendapati sang kakak yang sedang sibuk membuat nasi goreng “Sarapannya nasi goreng aja ya dek? Soalnya kakak belum siap-siap takut gak keburu” ucap Erina sambil menuangkan nasi goreng tersebut keatas piring kemudian membawanya ke meja makan.


Arina hanya mengangguk dan langsung mengambil nasi goreng serta telur ceplok kesukaannya, tak masalah dengan menu nasi goreng untuk sarapan karena Arina tak banyak pilih-pilih soal makanan yang penting perutnya kenyang.


Selesai sarapan Erina langsung berjalan menuju kamar untuk melanjutkan kegiatan merias diri yang tadi ia tunda karena menyiapkan sarapan, gadis itu dengan telaten memoleskan make up dan menata rambutnya.


Erina keluar dari kamar dan mendapati Arina yang sejak tadi sudah siap, baru saja akan duduk suara bel pintu langsung terdengar membuat Erina mengurungkan niatnya dan langsung berjalan kearah pintu diikuti Arina dibelakangnya.


Pintu terbuka dan menampakkan sosok Leo yang hari ini terlihat sangat mempesona bagi Erina, gadis itu tersenyum menatap sang kekasih “Udah siap?” tanya Leo sambil mengelus puncak kepala sang kekasih membuat Arina yang -lagi dan lagi- menyaksikan adegan romantis tersebut berdehem membuat Erina tersadar dan menoleh mendapati sang adik yang kini telah berjalan keluar “Udah ayo gak usah mesra-mesraan dulu ini bukan shooting drama korea” protes gadis itu kemudian menekan tombol di lift.


Leo dan Erina yang memperhatikan hanya bisa terkekeh dan mengikuti Arina menunggu lift terbuka “Ya ampun bocil makin galak aja” goda Leo sambil mengacak rambut Arina gemas membuat gadis itu mencebik kesal “Ck, berantakan nanti rambutnya” keluh Arina “Iya iya maaf” ucap Leo mengalah tak ingin membuat keributan karena sepertinya bocah cilik kesayangannya itu sedang tidak dalam suasana yang baik.


Pembicaraan yang tak henti didalam mobil membuat perjalanan mereka tak pernah membosankan, hingga tanpa sadar ayah Leo telah memarkirkan mobilnya di area parkir bandara. Kelima orang dari dalam mobil satu persatu mulai keluar, papah langsung membantu Leo mengeluarkan dua buah koper berukuran besar sementara Leo langsung menggendong satu ransel berukuran sedang kemudian berjalan memasuki bandara bersama yang lain.


Leo memandangi orang-orang tersayangnya begitu pengumuman untuk pesawat keberangkatannya telah terdengar, pria itu memeluk kedua orang tuanya satu persatu sambil mendengarkan nasihat yang diberikan oleh dua sosok yang sangat dihormatinya itu.


“Kamu jaga diri disana, jangan macem-macem. Sering-sering ngabarin mamah, papah sama Erina, awas kalau kamu berulah nanti mamah langsung seret kamu buat balik lagi kesini” ancam sang ibu membuat Leo meringis “Siap mah” ucap Leo kemudian mengecup kedua pipi wanita yang telah melahirkannya itu.


“Kuliah yang bener, biaya disana mahal jangan sampe kamu berani macem-macem” lagi sang ayah ikut mengancam membuat Leo semakin meringis “Iya pah iya” jawabnya kemudian memeluk pria yang selalu menjadi sosok panutannya.


Pria itu beralih menatap Erina dalam sebelum akhirnya membawa gadis itu kedalam pelukannya “Kamu baik-baik ya disini, aku bakal kangen banget sama kamu” ucap Leo membuat Erina tak dapat menahan air matanya lagi “Kakak juga baik-baik ya disana, inget janjinya jangan sampe lupa. Sering-sering ngabarin aku juga, awas kalau enggak” ucap Erina membuat Leo justru terkekeh “Tumben manggil kakak” ucapnya membuat Erina mencubit perut pria itu sebal “Aduh, Iya iya ampun sayang” ucapnya sambil mengaduh kesakitan kemudian semakin mengeratkan pelukan mereka kemudian Leo mencium kening gadis dihadapannya dalam sebelum akhirnya pelukan mereka terlepas.


Leo menatap bocah cilik yang kini tengah menatapnya sinis “Jangan galak-galak dong cil, kakak kan mau berangkat” ucap pria itu membuat Arina memanyunkan bibirnya menahan rasa sedih yang mulai muncul. Walaupun mereka sering ribut dan jarang sekali akur, tapi Arina tetap merasa kehilangan sosok paling menyebalkan dihidupnya itu. Leo memeluk Arina begitu mata gadis dihadapannya itu mulai berkaca-kaca membuat gadis itu langsung menangis tanpa suara dipelukan Leo “Kakak titip Erina yah, kalau ada apa-apa langsung kasih tau kakak. Kamu juga jangan bandel, nurut sama kakak kamu terus sekolah yang bener” tutur pria itu membuat Arina mengangguk “Kakak juga jangan sampe nyakitin kak Erina, sering-sering ngasih kabar jangan suka bikin kak Erina khawatir. Sering-sering pulang juga, bawa oleh-oleh jangan lupa” pesan Arina sambil mengusap air matanya membuat Leo dan ketiga orang lainnya terkekeh gemas mendengar pesan gadis itu.


Erina memandang punggung kekasihnya yang berjalan semakin menjauh, secepat ini ternyata kepergian pria itu. Sejujurnya Erina masih tak melihat kepergian Leo, tapi mau bagaimana lagi? Erina hanya bisa menunggu dan mendoakan kekasihnya itu agar berhasil meraih impiannya dan tentu saja bisa menjaga hatinya untuk Erina hingga pria itu menyelesaikan kuliahnya dan kembali kepelukan dirinya. Haaaah, Erina menghela nafasnya berat, mulai saat ini gadis itu harus menjalani hari-harinya tanpa kehadiran sang kekasih. Gadis itu menyemangati dirinya dalam hati, mencoba menguatkan diri karena bagaimanapun hidupnya akan dan harus tetap berjalan.


Arina menatap sang kakak yang masih tak bisa melepaskan pandangannya pada sosok Leo yang kini telah sepenuhnya tak terlihat, gadis itu menggenggam tangan sang kakak memberikan kekuatan. “Kita pulang sekarang yuk?” ucapan ibu Leo memecah lamunan Erina membuat kedua gadis itu mengangguk mengiyakan dan berjalan mengikuti kedua orang tua Leo keluar dari bandara.