LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
34



Erina duduk bersila di lantai ruang tengah apartemennya, gadis itu memandang keluar jendela yang kini tengah menampakkan pemandangan langit senja tertutup banyak awan hitam. Satu persatu rintik hujan mulai turun, mengalir menuruni jendela dihadapan dirinya membuat suasana seakan sangat mendukung perasaannya saat ini.


Sebuah ponsel tergeletak begitu saja disamping kakinya, benda kecil berbentuk persegi itu masih menyala menampilkan layar utama dengan foto Erina dengan sang kekasih terpasang sebagai wallpaper disana.


Berkali-kali Erina menatap kearah benda mati tersebut, hembusan nafas kasar keluar begitu tak didapatinya satupun pesan balasan dari pria yang sudah beberapa hari ini tak pernah menemuinya ataupun menghubunginya secara intens.


Erina semakin menatap lekat suasana diluar jendela yang kini telah dipenuhi air hujan yang turun sangat deras, dirinya benar-benar merasa lelah. Pekerjaan yang menumpuk dan juga sang kekasih yang sangat sulit untuk dihubungi apalagi ditemui olehnya, bayangan hubungan indah dan menyenangkan yang selama ini ia bayangkan begitu Leo pulang justru jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang.


Perasaan curiga dan tak enak semakin memenuhi hati Erina, entah karena ada sosok baru yang mengisi hati kekasihnya itu atau memang rasa bosan yang akan menjadi alasan hanya satu hal yang diyakini Erina saat ini bahwa hubungannya tak akan bertahan.


Pernah Erina bertanya apa yang terjadi dengan Leo pada Satria yang merupakan sahabat kekasihnya itu, namun sayangnya Satria justru tak mengatakan apapun dan meminta Erina untuk bertanya langsung pada Leo. Wajah sedih Erina semakin terpancar, jika saja Leo mudah ditemui atau paling tidak dihubungi maka sudah sejak awal dirinya akan menghujani pria itu dengan seluruh pertanyaan dalam benaknya.


Mengapa Erina tak mendatangi langsung kediaman kekasihnya? Mungkin pertanyaan itu akan keluar melihat kondisinya saat ini. Jawabannya sederhana, gadis itu tak ingin kedua orang tua Leo tau bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Erina tak ingin mengecewakan mereka –terutama ibu Leo- yang sudah sangat menyayangi Erina dan sang adik dengan tulus, lagipula bukan dirinya yang bermasalah disini karena perasaannya masih tetap sama.


Leo yang perlu datang menemuinya dan memutuskan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka selanjutnya, pria itu yang sejak awal meminta Erina untuk bertahan bersamanya tapi pria itu juga yang kini menghilang entah kemana.


Arina memasuki ruang tengah begitu selesai menikmati makan malamnya di ruang makan, gadis itu mengernyit menatap sang kakak yang terlihat sangat murung ditambah suasana diluar jendela yang mendukung kesedihan Erina. Ingin sekali Arina memutar lagu sendu untuk melengkapi kegalauan sang kakak malam ini tapi dirinya masih tau diri untuk tidak macam-macam apalagi dalam keadaan seperti ini atau uang jajan dan nasib kehidupannya akan terancam.


“Udah, kakak mending istirahat aja udah malem. Besok kan kakak masih harus kerja” ucap Arina mengusap pundak sang kakak, Erina menoleh dan tersenyum menatap sang adik kemudian beranjak pergi menuju kamarnya meninggalkan Arina yang masih terdiam disana menatap kepergian sang kakak.


Hari hampir siang begitu Arina membuka mata, semalam gadis itu tidur larut malam karena sibuk memikirkan bayak hal. Gadis itu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dirinya berniat untuk menemui sosok yang telah membuat sang kakak kehilangan senyumannya. Kebetulan hari jum’at tak ada mata kuliah apapun sehingga Arina memiliki banyak waktu luang, dilihatnya jam kemudian gadis itu membuka ponsel untuk memesan ojek online.


Jam makan siang ini Arina telah membuat janji, walau dengan sedikit ancaman kepada pria yang sangat sulit ditemui itu. Benar hanya sedikit, Arina hanya mengancam akan memaksa masuk ke kantor dan menemuinya disana tak peduli walau harus membuat kekacauan sekalipun, sedikit bukan? ya mari kita anggap saja sedikit, sedikit berlebihan tepatnya.


Sosok pria yang ditunggunya akhirnya sampai, gadis itu langsung menatap sinis ke arah pria yang menggunakan setelan jas lengkap. Sejujurnya jika pria itu tak ada masalah dengan sang kakak pasti Arina akan memujinya sedikit lebih tampan, ya lagi-lagi hanya sedikit. Jika kalian penasaran dimana mereka bertemu, keduanya kini tengah berada di pantai tempat biasa Leo dan Erina bertemu untuk membicarakan hal yang serius.


Leo duduk disamping Arina yang sebelumnya telah menyewa alas duduk, tak ada kata yang terucap dari pria itu. Arina yang mulai kesal langsung mengungkapkan apa yang sejak tadi memenuhi kepalanya “Mau sampai kapan?” tanya gadis itu menatap pria yang kini balik menatapnya “Maksud kamu?” tanya balik Leo membuat Arina mulai merasa marah “Gak usah belaga gak tau deh kak, sadar diri aja apa yang udah kakak lakuin selama ini sama kak Erina!” jelas Arina menekankan kalimat terakhirnya. Leo tak menjawab, pria itu justru memalingkan wajahnya menatap ombak yang datang silih berganti.


Arina semakin merasa kesal saat ini, gadis itu menghela nafas kemudian mengehmbuskannya perlahan sebelum akhirnya kembali membuka suara “Aku gak akan maksa kakak untuk perbaikin hubungan kalian, kalau emang udah gak bisa diterusin aku harap kak Leo mau bersikap tegas dan bertanggung jawab. Akhiri hubungan kalian, jangan ngegantungin kak Erina kaya gini kalau emang kakak udah gak mau lanjutin semuanya” ucap Arina panjang kemudian gadis itu bangkit “Kak Erina udah terlalu sakit, tapi dia tetep mau bertahan karena dia terlalu cinta sama kakak. Aku gak bisa liat kak Erina kaya gitu terus, jadi lebih baik kalau kakak gak bisa bikin kak Erina bahagia tolong jangan buat dia semakin terluka” lanjut gadis itu sebelum akhrinya berlalu meninggalkan Leo yang masih termenung tak bergerak sedikitpun dari tempatnya kini.


Alex tiba begitu Arina memintanya untuk datang, pria itu membawa Arina ke taman dekat apartemen yang untungnya saat ini tengah sepi. Keduanya duduk disalah satu bangku, tak ada kata yang keluar dari gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu.


Sebuah isakan terdengar membuat Alex menoleh panik kearah Arina, dapat dirinya lihat bagaimana bahu Arina bergetar hebat bersama air mata yang terus menetes. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alex langsung membawa Arina kedalam pelukannya kemudian menepuk pelan lengan gadis itu. Dirinya membiarkan Arina menyandarkan diri didadanya dengan tangisan yang semakin menjadi, Alex tak ingin menanyakan apapun karena baginya yang terpenting saat ini adalah keadaan Arina. Biarakanlah kemeja pria itu basah karena air mata Arina, asalkan gadis itu bisa meluapkan segala kesedihan hingga merasa lebih baik.