
Erina kira setelah pembicaraannya dengan Laura sebelum gadis itu memilih untuk kembali ke negara tempatnya bekerja hubungannya dengan pria yang telah berstatus sebagai mantan kekasihnya itu akan kembali membaik, tapi sayangnya hingga saat ini tak ada perubahan apapun yang terjadi. Leo masih bersikap dingin dan datar seperti biasanya, Erina kira pria itu akan kembali mendekati dan bersikap manis padanya namun ternyata pemikirannya salah. Sepertinya Erina memang terlalu berharap pada pria yang bahkan hatinya masih belum jelas untuk siapa itu.
Naya memasuki ruangan setelah mencetak beberapa berkas, gadis itu sudah mulai kembali terbiasa dengan Erina yang kini jadi lebih banyak diam dan datar. Naya meletakan berkas tersebut disetiap meja rekan kerjanya “Ini bahan buat rapat kita besok sama pak bos” ucap Naya menyerahkan berkas terakhir kepada Erina sambil menekankan katak ‘pak bos’ dalam ucapannya, Erina menoleh “Kayanya gak usah sampe ditekenin gitu juga Nay” ucap Erina terkekeh melihat kelakuan temannya itu. “Lagian lo diem aja, kenapa lagi sih? Belum beres juga urusan lo sama tuh cowok? Apa perlu gue labrakin?” tanya Naya jadi merasa gemas sendiri.
Erina menatap gadis disampingnya kemudian tertawa kecil “Kaya berani aja lo” ucap gadis itu membuat Naya tersenyum “Kalau di kantor sih jelas enggak, gue masih butuh kerja. Kalau diluar kantor sih bisa gue pertimbangin” jawab gadis itu membuat keduanya terkekeh.
Keduanya memutuskan untuk makan siang diluar karena Lia mengatakan akan menraktir mereka berhubung acara pertunangannya yang semakin dekat, tak hanya Naya dan Erina yang datang tapi juga Andre serta Alex ikut meluangkan waktu mereka untuk hadir demi menghindari ancaman Lia yang mengatakan akan menyeret keduanya dari kantor jika mereka tak mau datang. Demi menghindar keributan yang dapat mengancam citra mereka dimata para karyawan maka Alex dan Andre tentu saja memilih untuk datang, lagipula makan-makan gratis siapa yang bisa menolaknya?
“Lo sama Andre gimana Nay?” tanya Erina begitu mereka berjalan keluar gedung “Ya gitu, kita makin deket cuma gue masih belum yakin gimana perasaan Andre buat gue” jawab Naya dengan wajah yang sedikit sendu “Kayanya dia masih proses move on dari lo deh, walaupun lo sama Leo udah putus tapi hati lo masih buat dia dan Andre kayanya udah nyerah, tapi entah dia udah buka hatinya buat gue apa belum” lanjut gadis itu membuat Erina merasa bersalah. Meskipun perasaan yang Andre miliki untuk dirinya bukanlah kesalahan dan kehendaknya, tapi meihat temannya harus memiliki perasaan yang bertepuk sebelah tangan membuatnya tak tega. Erina memang tak pernah merespon ataupun membalas sikap Andre yang mencoba untuk mendekatinya, bukannya tak sadar tapi Erina memang tak merasa tertarik pada pria itu. Seperti yang Naya katakan, hatinya sampai saat ini masih sepenuhnya milik Leo.
Erina menepuk bahu Naya pelan memberikan kekuatan, sementara gadis disampingnya itu menoleh memberikan senyuman merasa bersyukur Erina selalu menjadi teman yang dapat dirinya andalkan. Naya juga tak ingin menyalahkan Erina dengan kejadian yang menimpa dirinya, perasaan Andre bukanlah sesuatu yang bisa dirinya kendalikan, hal tersebut adalah sepenuhnya milik pria itu. “Tadinya gue mau nyerah, tapi Andre bilang dia lagi berusaha buat lupain lo dan nyoba buka hatinya buat gue jadi gue mau ngasih dia kesempatan” ucap Naya membuat Erina tersenyum “Gue doain yang terbaik buat lo sama Andre Nay” ucap dirinya membuat Naya tersenyum lembut “Thanks” gumamnya.
“Akhirnya datang juga lu berdua” ucap Alex begitu Naya dan Erina memasuki cafe, dapat dilihat sosok tiga temannya telah duduk manis menunggu kedatangan mereka “Yang bos diem aja!” balas Naya tak mau kalah membuat Erina terkekeh, “Iya iya maaf nyai” jawab Alex tak ingin melanjutkan keributan. “Udah pada pesen?” tanya Erina begitu dirinya mendudukan diri, “Udah, tuh bayi gede ngerengek laper jadi kita langsung pesen sambil nunggu kalian” jawab Lia menunjuk Alex dengan wajahnya sementara yang ditunjuk hanya memberikan cengiran “Udah jadi bos masih aja kelakuan kaya bayi” ledek Naya membuat yang lain tertawa sementara Alex menatap sebal kearah gadis itu “Iya jadi gemes, pengen Nonjok tapi nanti ada yang ngamuk” timpal Erina membuat Alex tersenyum bahagia “Jangan gitu dong kakak ipar, jadi malu” jawab Alex membuat ketiga orang disekitarnya menatap jijik melihat ekspresi so imut dari pria itu “Urusin adek gue yang bener, jangan cuma digantungin atau lo yang gue gantung beneran” ancam Erina membuat Alex kembali menciut “Rasain lo” itu suara Naya yang kini tertawa puas sementara Alex hanya bisa pasrah.
Erina dan Naya kembali ke kantor begitu jam makan siang akan segera berakhir, tak seperti tiga temannya yang lain mereka berdua harus segera pergi karena tak ingin terlambat dan mendapatkan masalah. “Padahal masih seru, tapi udah harus balik” keluh Naya yang diangguki Erina “Mau gimana lagi Nay” jawab Erina pasrah karena memang mau bagaimana lagi? Keduanya harus kembali bekerja.
“Rin, dipanggil bos besar keruangannya sekarang” ucap salah satu rekan kerja mereka begitu keduanya akan memasuki ruangan, Erina mengangkat sebelah alisnya heran “Ngapain? Sekarang belum waktunya gue nyerahin laporan kan?” tanya gadis itu heran “Gak tau, udah kesana aja lo ditunggin” balas rekan kerja tersebut kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua “Gue pergi dulu yah” ucap Erina yang diangguki Naya kemudian berlalu menuju lift untuk pergi ke ruangan atasannya itu.
“Ada apa?” tanya Erina pada sekertaris yang kini menatapnya “Saya juga kurang tau, langsung masuk aja” jawabnya membuat Erina menghembuskan nafas kasar kemudian mendekat kearah pintu dan mengetuknya. Setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan tersebut, Erina langsung masuk menghampiri atasannya yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas diatas mejanya. “Maaf, bapak manggil saya?” tanya Erina berusaha sesopan mungkin, “Duduk” jawab Leo masih belum mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas tersebut.
Erina tentu saja menurut dan langsung duduk didepan atasannya tersebut, gadis itu menunggu Leo yang masih sibuk dengan berkasnya dan tanpa sadar memperhatikan wajah pria dihadapannya itu dengan seksama. Pandangan Erina hanya terpaku pada sosok Leo yang kini berhasil membuat detak jantungnya mulai tak beraturan sementara pria itu masih bergeming tak menoleh kearahnya sama sekali, harus Erina akui sosok Leo masih selalu berhasil menyita seluruh perhatiannya.
Leo selesai memeriksa berkas dihadapannya kemudian pria itu menyandarkan tubuh dan menatap Erina lekat sambil tersenyum membuat Erina merasa rindu dengan senyuman yang kini telah jarang ditunjukkan pria itu “Kak Alana mau pulang, akhir pekan nanti dia mau kamu sama Arina datang kerumah” ucap pria itu akhirnya membuat Erina sedikit terkejut dan bingung, pasalnya sudah sangat lama dirinya dan sang adik tak pernah mengunjungi kediaman keluarga Leo.
“Udah gitu aja” ucap Leo membuat Erina mengangguk karena tak tau harus menjawab apa, gadis itu bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut namun baru beberapa langkah gadis itu berhenti “Satu lagi” ucapan Leo berhasil membuatnya menoleh “Nanti pulang sama aku” lanjut pria itu membuat Erina hendak membuka mulutnya “Gak ada penolakan dan jangan kabur” tegas Leo membuat Erina hanya menghembuskan nafas pasrah kemudian melanjutkan jalannya keluar dari ruangan dengan jantung yang semakin berdebar.