
Leo tersenyum begitu sang kekasih memasuki mobil “Gimana hari pertamanya?” goda Leo menjawil dagu gadis yang kini telah duduk disampingnya itu “Diem kamu!” jawab Erina ketus masih sebal dengan kejadian siang tadi.
Bukannya meminta maaf, pria itu justru tertawa puas melihat respon sang kekasih yang kesal karena ulah isengnya “Udah dong jangan cemberut gitu, salah siapa nyuruh aku pura-pura gak kenal coba?” ucap Leo membela diri “Ih kan aku gak mau dibilangnya lolos hasil nepotisme karena status aku pacar kamu dan deket sama papah kamu, padahal aku lolos hasil usaha aku sendiri” keluh Erina semakin memajukan bibirnya kesal “Iya iya sayang, maaf ya” ucap Leo akhirnya mengusap lembut kepala sang kekasih tak tega melihat pipi kekasihnya itu mulai memerah karena kesal.
Keduanya tak langsung pulang karena Leo tanpa bicara langsung membawa Erina ke suatu tempat. Kening gadis itu berkerut begitu Leo memarkirkan mobilnya di area tempat parkir pantai, dapat dilihat suasana pantai yang sudah cukup sepi karena hari mulai sore. Saat itu juga perasaan Erina berubah tak enak, pikirannya kembali melayang memikirkan hal yang tidak ia sukai akan keluar dari mulut lelaki yang kini menggenggam tangannya berjalan menuju pantai.
Mereka tak duduk seperti biasa, Leo memilih berdiri menatap ombak yang datang silih berganti ke tepi pantai “Rin” ucapnya mengeratkan genggaman membuat Erina menoleh “Minggu depan aku berangkat” lanjut pria itu membuat Erina kaget karena tak menyangka akan secepat itu Leo pergi.
Erina hanya diam menatap kekasihnya itu, tak mengerti harus memberi respon apa. Sedih? Tentu saja, tapi apakah dia pantas bersedih ketika sang kekasih bahkan pergi untuk mengejar mimpinya? Rasanya ia tak pantas mengungkapkan hal itu kepada Leo. Gadis itu akhirnya tersenyum meminta pelukan dari pria dihadapannya, Leo tentu saja mengiyakan dan langsung merengkuh Erina kedalam pelukannya “Aku sayang banget sama kamu Rin” ucap Leo mengusap lembut belakang kepala gadis dipelukannya itu “Maafin aku harus ninggalin kamu untuk sementara” lanjut Leo, masih belum ada respon dari Erina yang memilih diam menikmati pelukan sang kekasih.
Leo melepaskan pelukan mereka dan merogoh saku jaketnya, dapat Erina lihat sebuah kotak beludru berwarna biru ketika pria itu menarik tangannya keluar dari saku.
Tanpa banyak bicara pria itu langsung membuka kotak beludru digenggamannya, sebuah cincin dengan hiasan permata berbentuk hati berwarna biru muda yang terlihat sangat indah dimata Erina langsung tampak.
Leo mengambil cincin itu dan menarik tangan kiri Erina “Aku emang gak berkuasa menentukan takdir kedepannya akan seperti apa, tapi aku janji kalau memang kita ditakdirkan untuk tetap bersama sampai aku selesai kuliah nanti aku janji sama kamu” ucap Leo sambil memasangkan cincin itu ke jari manis Erina, kini kedua tangan Leo menggenggam kedua tangan kekasihnya “Begitu aku selesai meraih impianku, begitu aku berhasil menjadi laki-laki sukses, aku akan langsung menikahi kamu Rin” lanjutnya dengan mantap membuat air mata haru mulai keluar dari mata Erina. Gadis itu tak bisa mengatakan apapun dan hanya mengangguk merespon ucapan sang kekasih, Leo tersenyum menatap gadis dihadapannya dan kembali merengkuh gadis itu kepelukannya.
Setelah puas menikmati kebersamaan mereka di pantai, keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelum menuju apartemen, Leo memilih untuk mampir membeli pizza untuk Arina sebagai sogokan agar gadis itu tak kesal ketika melihat sosok Leo memasuki rumah mereka. “Arina suka yang mana?” tanya Leo kepada kekasihnya begitu mereka sampai di drive thru “Yang apa aja dia suka kok” jawab Erina, akhirnya pria itu memilih untuk membeli double box untuk bocil itu.
Begitu keduanya tiba dikediaman Erina mereka tak mendapati kehadiran Arina disana, sepertinya gadis itu belum selesai dengan kegiatan lesnya atau masih diperjalanan pulang.
Fokusnya teralihkan begitu mendengar suara pintu terbuka, dapat ia lihat sosok gadis mungil muncul dari balik sana. Arina memasuki rumah dan langsung berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang terlihat sangat lesu, bahkan gadis itu tak menyadari kehadiran Leo di ruang tengah rumahnya. Leo akhirnya mengalihkan kembali pandangannya menuju deretan bingkai foto dihadapannya, memperhatikan potret bahagia sang kekasih disana.
Erina keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, gadis itu langsung berjalan menuju ruang tengah dimana sang kekasih berada. Erina tersenyum melihat Leo yang kini tengah memejamkan mata terbaring diatas sofa dengan wajah yang sangat menggemaskan, wajah yang akan sangat gadis itu rindukan nanti. Erina mengangkat kepala Leo kemudian mendudukan diri membiarkan kepala pria itu tertidur diatas pahanya sebagai bantalan, gadis itu menatap intens sang kekasih sambil terus mengusap kepala pria yang begitu dicintainya tersebut.
Arina keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian, dirinya nampak sudah membersihkan diri dan tentu saja berganti pakaian. Begitu dirinya berjalan menuju ruang tengah, gadis itu menyaksikan pemandangan yang sangat manis dari sang kakak dan kekasihnya “Duh manis banget” ucap Arina begitu dirinya mendudukan diri di sofa lain ruangan tersebut. Erina menoleh kearah sang adik dan tersenyum “Ada pizza di meja makan buat kamu dari Leo” ucap gadis itu yang tentu saja membuat Arina langsung bangkit dan berlari kecil menuju meja makan.
Arina kembali dari ruang makan dengan sekotak besar pizza, gadis itu terlihat sangat bahagia dan antusias untuk menyantap pizza dan side dish yang ia jejerkan diatas meja ruang tengah. Gadis itu menyalakan televisi memutar drama yang belum selesai ia saksikan sambil menyantap satu persatu potongan pizza tersebut.
Erina menatap gemas kearah sang adik yang terlihat begitu lucu dengan pipi yang semakin mengembung akibat dipenuhi kunyahan pizza “Pelan-pelan dek” ingat Erina yang diangguki sang adik, “Kakak gak makan juga” tanya Arina melihat sang kakak yang masih setia mengusap kepala Leo “Enggak, kamu aja yang makan” jawab Erina membuat Arina tentu saja kembali melanjutkan makannya.
Leo bangun setelah tertidur selama hampir satu jam, dirinya mendongakkan kepala menatap Erina yang tersenyum manis menatapnya “Selamat pagi tuan muda” sapa gadis itu membuat Leo terkekeh “Balas dendam nih ceritanya?” balas Leo mengingat kejadian beberapa bulan lalu di perpustakaan kampus, Erina tertawa “Bisa dibilang begitu” jawabnya membuat Leo mencubit hidung gadis itu gemas.
Pria itu bangkit dan mendudukan diri disamping sang kekasih kemudian menatap Arina yang masih sibuk melahap makanannya “Lahap banget cil, laper apa doyan?” goda Leo membuat Arina menoleh “Dua-duanya” jawab gadis itu kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah televisi. “Kamu udah makan?” tanya Leo menatap sang kekasih “Belum, kan dari tadi jadi bantal kamu disini” jawab Erina membuat pria itu membuka mulutnya “A-aaah yaudah biar aku yang masak” putus pria itu hendak bangkit menuju dapur namun tangannya ditahan oleh Erina “Gak usah, pesan antar aja” usul gadis itu yang akhirnya diangguki Leo.
“Kamu mau makan apa?” tanya Leo membuat Erina berpikir, “Ramen” bukan, itu bukan suara Erina tetapi suara gadis yang kini terlihat berhenti dengan kegiatan mengunyahnya “Enggak, kamu jangan makan mie terus. Lagian itu kamu udah makan pizza banyak begitu masih belum kenyang?” ucap Erina sambil memperhatikan potongan pizza dan makanan pendamping yang masih tersisa, sang adik hanya memberikan cengiran “Ya udah nanti beliin aku minuman yah” ucap gadis itu membuat Erina hanya mengangguk pasrah sementara sang adik melanjutkan kembali menyantap potongan pizza yang masih tersisa.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Erina memutuskan untuk memesan rice bowl untuk dirinya dan Leo juga minuman untuk sang adik. Arina sudah selesai menyantap pizzanya dan kini tengah menyandarkan punggung pada sofa akibat kekenyangan “Aduh kenyang banget, makasih ya kak Leo yang baik walaupun lebih banyak nyebelinnya” ucap gadis itu membuat Leo terkekeh “Sama-sama bocil tukang ngambek” balas Leo membuat Arina tentu saja memanyunkan bibirnya kembali sebal dengan pria yang kini duduk disebelah kakaknya itu, Erina? Jangan tanya, gadis itu hanya diam saja memperhatikan dua orang yang sangat hobi ribut itu.