
Satu bulan berlalu semenjak berakhirnya hubungan Erina dengan pria yang kini menjabat sebagai pimpinan di perusahaan tempatnya bekerja menggantikan sang ayah, selama itu pula Erina menjalani hari-harinya seperti biasa walau ada beberapa hal yang berubah dari kehidupannya kini.
Erina masih bekerja seperti biasa, meskipun hubungan mereka berakhir tak lantas membuat Erina berhenti bekerja di perusahaan besar tersebut. Bagi Erina masalah pribadi tak akan mempengaruhi kinerjanya, walau gadis itu tak dapat menutupi rasa kecewa yang masih bersemayam dalam hatinya. Sebisa mungkin Erina menghindar untuk bertemu dengan atasannya itu, walau memang dirinya hampir tak pernah dipanggil oleh atasannya itu.
Bicara soal perubahan dihidup Erina, ada beberapa hal yang jelas terlihat perbedaannya begitu dirinya putus dengan Leo. Salah satunya adalah hubungan Erina dengan kedua orang tua Leo yang kini lebih memiliki jarak, walaupun hubungan gadis itu dengan Alana masih sangat baik. Erina merasa harus mulai menjauh agar tak membuat calon pendamping Leo nantinya –jika sudah ada- merasa tidak nyaman karena kedekatan gadis itu dengan kedua orang tua Leo, dan untungnya kedua orang tua Leo sangat mengerti walau ibu Leo merasa sedih menerima kenyataan bahwa hubungan putranya dengan Erina harus berakhir.
Jika ditanya bagaimana perasaan gadis itu, Erina tentu tak bisa mengelak bahwa perasaan cintanya masih sangat sama dan tak pernah berubah meskipun rasa kecewa telah menyelimuti hatinya. Sejujurnya hati gadis itu merasa sakit melihat Leo yang terlihat biasa saja menjalani hidupnya setelah hubungan mereka berakhir, bagaimana bisa pria itu terlihat baik-baik saja sedangkan dirinya masih terpuruk dalam perasaan yang mendalam? Erina juga ingin bahagia tanpa sosok pria yang telah terlalu besar mengambil bagian dari dalam hatinya.
“Pagi Rin” sapa Naya ceria begitu dirinya mendudukan diri disamping gadis yang kini telah fokus dengan pekerjaannya, Erina menoleh dan memberikan senyuman kecil kepada temannya itu. Satu hal lagi yang berubah dalam diri Erina, sosok yang ramah dan selalu menebar senyuman itu kini berubah menjadi gadis yang dingin dan jarang sekali tersenyum cerah. Wajahnya selalu datar dan senyuman yang dikeluarkan pun tak pernah selebar dulu. Naya tentu saja menyadari perubahaan temannya itu, bagaimana sosok yang selama ini sangat lembut dan penuh perhatian menjadi sosok yang bahkan gadis itu tak bisa jelaskan. Rasa sakit pasti telah memenuhi diri Erina, hanya itu yang bisa Naya lihat dari sosok teman yang dikenalnya sejak masa magang itu.
Jam makan siang dihabiskan Naya dan Erina di cafe langganan mereka, setelah hubungannya berakhir Erina semakin tak pernah menginjakkan kakinya di cafetaria perusahaan. Walaupun Leo sangat jarang makan disana, tapi Erina tetap tak ingin terlalu lama menghabiskan waktu di perusahaan itu. Lia datang berbarengan dengan Andre dan Alex yang kini juga ikut datang, kedua pria itu jadi sering datang semenjak tau hubungan Erina dan Leo kandas. Keempat orang itu selalu berusaha menemani Erina untuk memberi semangat dan menghibur gadis itu jika ada waktu, tentu saja yang paling sering adalah Naya yang memang bekerja ditempat yang sama dengan dirinya dan Lia yang memiliki usaha sendiri sedangkan dua pria yang kini duduk dihadapan Erina cukup sibuk mengurus perusahaan sehingga tak memiliki banyak waktu untuk berkumpul.
Kelima orang itu menghabiskan waktu makan siang bersama, berbagai cerita mereka keluarkan sehingga membuat Erina melepas tawa mendengarnya namun gadis itu hanya menyimak dan memberikan reaksi tanpa mengeluarkan banyak kata. Keempat temannya merasa sedikit lega melihat Erina yang kini mulai kembali mengeluarkan tawa ketika mereka berkumpul bersama, mereka berharap gadis itu akan segera kembali seperti dulu lagi.
Perubahan Erina tak begitu disadari oleh rekan kerja mereka yang lain, karena Erina sebisa mungkin memperlihatkan sisi ramahnya saat sedang berada di kantor. Hanya teman-teman terdekatnya yang mengetahui sisi lain gadis itu, karena Erina tak ingin menarik perhatian dengan perubahan sikapnya.
Erina memasuki apartemen dan langsung berjalan menuju kamarnya, sang adik sepertinya belum pulang karena gadis itu sibuk dengan kegiatan UKM dan organisasi kampusnya. Jauh berbeda dengan Erina yang hanya bergelut dengan perpustakaan selama masa kuliahnya, Arina adalah sosok yang sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus. Maka tak heran jika Erina sering mendapat pesan dari sang adik yang mengabari dirinya akan terlambat pulang karena sibuk dengan kegiatan kampus dan tugas kelompoknya. Meskipun begitu, Erina merasa bersyukur karena ada Alex yang sering mengantar adik kesayangannya itu sehingga Erina tak perlu merasa khawatir.
Erina menyelesaikan masakannya bertepatan dengan sang adik yang memasuki apartemen, Arina langsung memasuki dapur dan duduk di kursi meja makan begitu mencium aroma sedap dari masakan sang kakak. “Kamu gak mandi dulu?” tanya Erina melihat sang adik yang kini telah bersiap untuk makan, “Nanti aja, aku udah laper” jawab Arina mulai mengambil nasi dan lauk pauk dihadapannya. Erina menggeleng pelan melihat tingkah sang adik “Emang tadi gak beli makan di kampus?” tanya Erina ikut mengambil nasi, Arina menoleh “Beli, tapi udah laper lagi” jawab gadis itu dengan cengiran diwajahnya.
Kedua kakak beradik itu kini menikmati waktu di ruang tengah sambil menonton penampilan idol kesukaan Arina yang bernama BTS, harus Erina akui penampilan mereka memang keren pantas saja sang adik begitu menyukai grup tersebut. Lagu-lagu mereka juga memiliki makna yang indah, Erina mendengarkan beberapa lagunya setelah membaca terjemahan yang diberikan oleh sang adik. Arina yang duduk disampingnya sibuk menikmati es krim sambil fokus menikmati tayangan dihadapannya, sementara Erina hanya menonton sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa. Hari ini cukup melelahkan bagi Erina, terutama dengan pertemuan singkat yang tak disengaja dengan atasannya tadi.
Erina memilih mengistirahatkan diri di kamarnya, gadis itu ingin langsung berbaring dan memejamkan mata namun sayangnya hal itu terasa sangat sulit untuk dilakukan. Buktinya saat ini gadis itu tengah berbaring sambil menatap langit-langit kamar, entah apa yang kini ada dipikiran gadis itu yang pasti hal tersebut menganggu tidurnya.