
Kedua kakak beradik itu akhirnya sampai di apartemen setelah menghabiskan waktu bersama di Mall, keduanya dibuat terkejut begitu melihat ada sosok pria yang berdiri didepan pintu tempat tinggal mereka. Erina hafal betul siapa sosok yang kini tengah membelakanginya karena tengah menghadap pintu tersebut “Kak Leo?” ucap Arina penasaran membuat pria dihadapan mereka menoleh mendengar namanya disebut “Lah bener” ucap Arina kaget karena baru melihat kekasih sang kakak itu setelah beberapa hari pria itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya.
Pria itu menghadap mereka sepenuhnya dan membuang nafas lega membuat kedua gadis dihadapannya menatap heran, Leo langsung menghambur ke pelukan Erina begitu gadisnya berjalan mendekat “Aku kira kamu pergi tanpa ngabarin, aku khawatir banget” ucapnya “Aku kira kamu udah gak inget punya pacar, gak pernah ada kabar” sindir gadis itu tapi tetap membalas pelukan kekasihnya “Iya maaf, aku sibuk banget soalnya pengen semuanya cepet selesai” jawab pria itu yang semakin mengeratkan pelukannya pada sang kekasih.
Sementara Arina yang menyaksikan keromantisan dua sejoli dihadapannya hanya bisa memutar bola mata malas kemudian membuka pintu apartemen “Kacaaaang kacaaang kacaaaaang” teriaknya kemudian bergegas masuk kedalam rumah membuat Leo langsung melepaskan pelukannya karena kaget “Aku lupa ada si bocil dari tadi” kekehnya membuat pria itu mendapat pukulan dari sang kekasih.
Arina langsung berjalan menuju dapur dan merapikan es krim kesayangannya didalam freezer kemudian mengambil salah satunya dan duduk anteng menikmati satu cup es krim di pantry dapur “Yaampun dek bukannya mandi dulu malah makan es krim” tegur sang kakak yang kini telah masuk kedalam rumah diikuti kekasihnya yang mengekori dari belakang “Gak kuat panas” balas Arina sambil menatap sinis Leo yang kini tengah menatapnya “Duh kasian, maaf ya mblo” ledek Leo sambil mengacak rambut gadis mungil itu gemas membuat Arina merengek protes.
Leo duduk di ruang tengah bersama Arina yang kini sibuk merapikan novel yang baru ia beli di rak buku “Kemana aja kak, gapernah muncul sampe bikin kak Erina galau” tanya gadis yang masih fokus mengatur tata letak bukunya tanpa menatap Leo “Beresin skripsi cil, ngebut biar cepet lulus” jawab pria yang kini fokus menatap tayangan di televisi “Iya tapi jangan ngilang, seenggaknya luangin waktu buat kasih kabar sekali sehari juga cukup” tegur Arina membuat Leo hanya diam mencerna apa yang diucapkan adik kekasihnya itu.
Benar juga, selama ini Leo sangat sibuk mengerjakan tugas akhirnya sampai jarang memegang hp, setelah lelah dirinya akan langsung tidur dan akhirnya lupa untuk mengabari kekasihnya itu.
Erina menghampiri mereka setelah membersihkan dirinya “Kenapa nih, tumben hening?” tanyanya heran “Enggak kok, aku mandi dulu” jawab Arina kemudian berlalu menuju kamarnya. Erina yang heran hanya bisa menatap kekasihnya yang dibalas pria itu dengan mengangkat kedua bahunya “Dia abis ngomelin aku, kayanya masih kesel jadinya begitu” ucap Leo mencoba menebak, “Ngomel apa emang?” tanya gadis itu heran “Gara-gara aku gak ada kabar” jawabnya sambil mendekap gadis disampingnya manja “Oh iya sih bener juga” ucap Erina menyetujui “Iya maaf yah” pria itu mengecup puncak kepala Erina yang dibalas anggukan oleh gadis itu. “Haduh mulai lagi deh mesra-mesraan, gak bisa apa menghargai ada yang masih sendiri disini” sindir Arina begitu dirinya keluar dari kamar dan mendapati sang kakak dengan kekasihnya sedang bermesraan seperti biasa, keduanya malah terkekeh menatap Arina yang tengah memanyunkan bibirnya “Makanya cari pacar cil” ledek Leo yang membuat Arina semakin kesal “Gak ah, nanti aja pas kuliah siapa tau nemu senior yang ganteng” jawabnya santai kemudian meraih salah satu novel yang baru saja ia susun rapih “Udah ah mau dikamar aja daripada jadi nyamuk” ucapnya kemudian berlalu membuat Erina justru terkekeh melihat kelakuan sang adik.
Leo menggunakan peralatan dapur dengan terampil, sepertinya kemampuan pria itu semakin baik dari sebelumnya membuat Erina harus mengakui bahwa ia semakin kagum pada prianya itu. Arina keluar ketika mencium aroma sedap dari arah dapur, gadis itu mengira sang kakak yang tengah sibuk memasak tapi ternyata kakaknya itu hanya duduk diam memandangi sosok yang tengah memasak itu “Lah tumben kak Leo masak, bisa emang?” tanya gadis itu merasa heran karena ini pertama kalinya ia melihat kekasih kakaknya itu memasak “Jangan salah cil, gini-gini kakak jago masak” jawab Leo bangga membuat Arina hanya bisa mencebik karena pria itu masih saja memanggilnya bocil.
Arina memilih duduk disebelah sang kakak sambil melanjutkan bacaan novelnya “Serius banget sih dek” ucap Erina yang gemas dengan ekspresi sang adik yang begitu mendalami bacaannya itu, “Seru tau kak, apalagi bacanya pas udah mumet sama tugas sekolah lumayan buat refreshing” jawabnya yang masih sibuk membaca tanpa menoleh menatap sang kakak. Erina hanya tersenyum kemudian mengusap kepala sang adik dengan penuh kasih sayang, sementara Leo ikut tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu, ah kalau begini ia jadi merindukan sang kakak yang kini tengah pergi meraih impiannya.
Ketiganya kini tengah menikmati hasil masakan Leo, Arina yang awalnya ragu akhirnya harus mengakui bahwa hasil masakan pria yang selalu memanggilnya bocil itu enak walau masih lebih enak masakan kakaknya tentu saja. “Gimana cil, enak kan?” tanya Leo penasaran dengan penilaian bocah kecil itu “Untungnya enak sih, jadi aku gak perlu takut keracunan” ucapnya santai membuat Erina terkekeh sementara Leo merasa gemas dan mengacak rambut Arina “Makan yang banyak ya cil biar kuat” ucapnya yang diangguki Arina kemudian ketiganya kembali melanjutkan acara makan dengan tenang.
Leo yang masih sangat merindukan kekasihnya terpaksa harus pulang karena sang ibu telah menerornya lewat pesan mengingatkan agar pria itu tak pulang terlambat, walaupun sudah dewasa Leo tetaplah anak bungsu yang selalu dikhawatirkan sang ibu. Tapi Leo tak pernah merasa terganggu ataupun protes, dirinya justru merasa bersyukur karena sang ibu sangat perhatian dan peduli padanya. Apalagi ketika Erina yang selalu mengingatkan pria itu untuk selalu mematuhi kedua orang tuanya dan menyayangi mereka. Pria itu sering merasa kagum kepada gadis yang merupakan kekasihnya itu, dibalik tubuhnya yang mungil Erina adalah sosok yang sangat dewasa dan kuat. Gadis itu harus menjalani kehidupannya tanpa kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakan beberapa tahun silam, ditambah ia masih harus menjaga dan merawat sang adik yang masih remaja dan menguatkannya agar tak terus larut dalam kesedihan.
Meskipun begitu, Leo tau ada banyak kesedihan dan luka didalam diri gadisnya itu, namun Erina selalu menyimpannya sendiri tak ingin memperlihatkannya terutama dihadapan sang adik. Jika Erina saja sedih, bagaimana dengan adiknya? Gadis kecil itu pasti akan lebih sedih dari dirinya. Tapi untungnya kini Erina sudah lebih membuka dirinya kepada Leo dan keluarganya, terutama pada Alana sang kakak yang selalu menjadi tempat gadis itu berbagi cerita dan keluh kesah. Sama-sama anak perempuan pertama di keluarga membuat Erina dapat dengan nyaman bercerita kepada Alana dan Alana tentu saja dengan senang hati mendengarkan dan menenangkan gadis itu, Alana selalu memperlakukan Erina seperti adiknya sendiri bahkan terkadang melebihi perlakuannya pada Leo yang merupakan adik kandungnya dan Leo tak marah, pria itu justru merasa bersyukur keluarganya bisa menyayangi Erina dengan tulus.