
Erina menatap pantuan dirinya di cermin, gadis itu telah mempersiapkan diri sejak pagi. Semalam Leo menghubunginya, tiba-tiba saja pria itu mengajaknya bertemu. Bukan perasaan senang yang dirasakan gadis itu, justru firasat buruk Erina rasakan sejak sang kekasih memutuskan panggilan.
Masih terduduk didepan meja riasnya, Erina menatap kosong pada pantulan wajah yang telah ia rias dengan sederhana. Beberapa kali dirinya menoleh kearah ponselnya yang tergeletak diatas meja kemudian menghembuskan nafas untuk menenangkan diri. Dirinya harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, meskipun hal terburuk sekalipun ia harus siap untuk melanjutkan hidupnya dengan baik.
Leo tak naik keatas, pria itu menunggu didepan gedung apartemen Erina membuat gadis itu semakin meyakini apa yang akan terjadi. Erina langsung memasuki mobil tanpa banyak bicara, bahkan tak ada sapaan sedikitpun. Keduanya larut dalam keheningan, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sang kekasih membawa Erina ke tempat yang saat ini benar-benar tak ingin dirinya datangi, gadis itu menghembuskan nafas kasar begitu Leo selesai memarkirkan mobilnya dan keluar dari sana. Erina berjalan mengikuti Leo yang kini berjalan tanpa memandang kearahnya.
Keduanya duduk di ujung dermaga, tempat dimana Leo menyatakan niatnya untuk menjalin hubungan dengan Erina. Dada gadis itu langsung terasa sesak, kenapa harus di tempat ini Leo mengajaknya bicara. Beberapa menit berlalu tanpa ada satupun kata yang keluar dari mulut keduanya, berkali-kali Erina memandang kearah pria disampingnya yang nampak tak bergeming dan tetap pada posisinya menghadap kearah lautan yang membentang luas dihadapannya.
“Erina” panggil pria itu akhirnya membuat Erina sekuat tenaga menahan diri tak ingin menatap pria itu, Leo meraih tangan kekasihnya dan mengenggamnya dengan kuat “Maaf” satu kata itu berhasil membuat wajah Erina memanas menahan air mata yang ingin keluar dari matanya. “Maaf karena selama ini aku menghindar dari kamu, maaf kalau selama ini aku udah banyak nyakitin kamu” ucap Leo menatap lekat gadis yang sampai saat ini tak ingin membalas tatapannya itu. Erina menundukkan kepalanya mendengar kalimat yang selanjutnya keluar dari mulut pria yang sangat dicintainya itu “Aku memang laki-laki paling bodoh yang justru memilih untuk melepaskan perempuan sebaik kamu, maaf” ucap Leo membuat Erina tak dapat menahan air matanya lagi.
Leo mengusap pundak Erina, meraih gadis itu kemudian mendekapnya erat. Tangis Erina semakin pecah begitu kepalanya bersandar pada pundak Leo, perasaannya benar-benar hancur saat ini. Pria yang selama ini berhasil membuatnya melewati hari-hari dengan penuh kebahagiaan, pria yang selama ini berjanji akan terus menjaga dan membahagiakan dirinya, saat ini menjadi sosok yang justru menjatuhkan dirinya dalam keterpurukan.
Erina melepaskan diri dari pelukan pria yang kini masih menatapnya, dihapusnya air mata yang membasahi pipi dengan kedua tangannya kemudian memandang Leo dengan tatapan datar “Aku gak peduli apapun alasan kamu, aku gak akan maksa kamu untuk terus bertahan kalau kamu emang udah gak bisa menjalin hubungan sama aku. Aku harap aku adalah perempuan terakhir yang kamu lukai, semoga keputusan ini akan membuat kamu bahagia” ucap Erina kemudian berjalan berlalu meninggalkan pria yang masih terdiam ditempatnya menatap lekat kepergian gadis yang kini kembali mengeluarkan air matanya.
Erina tak banyak bicara, setelah puas menangis gadis itu berlalu memasuki kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Arina semakin menatapnya iba, dapat gadis itu rasakan bagaimana terlukanya sang kakak. Arina kembali mendudukan diri dan menyandarkan kepalanya pada sofa dan menatap kearah langit-langit dengan pandangan kosong.
Erina selesai membersihkan diri, gadis itu benar-benar terluka. Bahkan kini dirinya hanya bisa membaringkan diri diatas tempat tidur, Erina mengangkat tangan kirinya menatap sebuah cincin yang masih melekat dijari gadis itu kemudian tersenyum getir. Secara perlahan dirinya melepaskan cincin tersebut kemudian bangkit mengambil kotak yang berisi kenangannya dengan sang mantan kekasi, mantan? ah, kata itu terasa sangat asing namun akan selalu melekat dalam benaknya. Erina menyimpan cincin tersebut kemudian menutup kembali kotak tersebut, gadis itu mengusap tutup kotak dengan air mata yang kembali jatuh. Bagaimana bisa Leo pergi begitu saja setelah semua yang telah mereka lalui? Bagaimana bisa Leo dengan tenang mengakhiri hubungan setelah meyakinkan Erina dengan sebuah cincin di jari manisnya?
Gadis itu tersenyum miris mengingat nasibnya saat ini, setelah gadis itu dibuat berharap akan hubungan yang lebih serius dan menunggu dengan sabar pria yang pergi meraih impiannya selama hampir tiga tahun itu hingga pria itu kembali. Erina tak ingin tau apapun alasan Leo memutuskan hubungan mereka, apapun alasan yang keluar dari mulut lelaki itu hanya akan terdengar seperti bualan bagi Erina. Satu hal yang pasti, Leo pria yang berhasil mendapatkan hatinya, pria yang selama ini dipercaya dapat membahagiakannya, pria yang dengan tulus mengulurkan tangannya berakhir menjadi pria yang paling dalam menyakitinya.
Erina paling benci kehilangan, Erina paling tidak suka perpisahan dan kini pria yang sangat dicintai gadis itu justru melakukan hal yang paling Erina hindari. Harapan yang telah gadis itu tanam didalam hati kecilnya, perasaan yang telah tumbuh dengan sangat kuat untuk pria yang ia kira akan menjadi sosok yang menghabiskan waktu seumur hidup bersamanya kini harus terkubur begitu saja. Perasaan hancur dan terluka memenuhi hati Erina, tapi perasaan kecewa yang teramat besar mendominasi disana.
Janji yang selalu pria itu ucapkan, janji yang kini tak akan pernah diwujudkan pria itu. Erina menatap deretan foto kebersamaan mereka, gadis itu melepaskan satu persatu potret tersebut dan kembali meletakannya kedalam kotak.
Erina meraih ponselnya dan tanpa pikir panjang langsung mengganti layar ponsel itu dengan foto sang adik yang tersenyum cerah. Gadis itu tersenyum menatap potret Arina, senyum cerah sang adik seakan menjadi kekuatan bagi dirinya. Erina tersenyum mengusap layar ponsel yang terpampang wajah sang adik disana “Kakak cuma punya kamu dek” ucap gadis itu kemudian menatap kearah pintu, dengan langkah lemas Erina berjalan keluar dari kamarnya dan memasuki kamar sang adik. Dilihatnya Arina yang telah terlelap kemudian ikut membaringkan diri disamping adik kesayangannya itu, Erina menatap lekat sang adik yang terlihat begitu damai dalam tidurnya sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.