LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
47



Tidur panjang Erina di akhir pekan ini harus terusik oleh suara panggilan dari ponselnya, dengan malas gadis itu meraih ponsel disamping kepalanya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa sosok yang menghubungi karena matanya masih terpejam. “Halo” ucap Erina dengan suara yang masih agak serak karena efek baru sadar dari tidurnya, “Maaf mengganggu mbak Erina pagi-pagi” ucap suara diseberang sana membuat Erina mengerutkan kening dan mau tidak mau membuka mata kemudian menatap layar ponselnya dan melihat nomor telepon rumah mantan kekasihnya yang sejak tadi memanggilnya.


“Kenapa bi?” tanya gadis itu sambil mengusap matanya masih sambil merebahkan diri diatas tempat tidur belum mau beranjak, “Begini mbak, Mas Leo demam sementara ibu sama bapak lagi pergi nengokin mbak Alana yang gak jadi pulang kesini. Bibi gak bisa ngurusin mas Leo, mbak kan tau sendiri gimana mas Leo kalau lagi sakit yang bisa ngurusin cuma ibu sama mbak Erina. Kalau mbak Erina lagi gak sibuk bibi boleh minta tolong mbak Erina buat kesini? Maaf banget mbak” penjelasan dari asisten rumah tangga keluarga Leo itu langsung membuat Erina bangkit dan tersadar sepenuhnya “Iya bi saya siap-siap dulu” jawab gadis itu membuat suara disebrang sana mendesah lega dan berterimakasih kemudian menutup panggilan tersebut.


Erina langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian bersiap untuk berangkat menuju kediaman Leo. Arina yang tengah menggoreng telur di dapur menoleh ketika mendengar suara sang kakak yang terlihat buru-buru “Mau kemana kak?” tanya gadis itu penasaran “Leo sakit, kakak pergi dulu yah” pamit Erina kemudian berlari keluar rumah membuat Arina menggelengkan kepala “Udah mantan padahal” gumamnya kemudian mengangkat bahu tak peduli dan melanjutkan memasak sarapannya.


Ojek online yang ditumpangi Erina akhirnya berhenti didepan rumah yang menjadi tujuan gadis itu, setelah membayar tak lupa juga dengan uang tip gadis itu langsung berjalan cepat menuju pintu depan kediaman tersebut. Seorang asisten rumah tangga yang tadi menghubungi Erina langsung membukakan pintu begitu mendengar ketukan pintu, sosok dihadapan Erina itu mendesah lega “Ya ampun, makasih banyak ya mbak udah mau kesini, maaf banget bibi jadi ngerepotin” ucap asisten rumah tangga tersebut setelah mempersilahkan Erina masuk dan menemani gadis itu berjalan menuju kamar pria yang tengah sakit itu. “Iya bi gak apa-apa, saya juga lagi gak sibuk” jawab Erina dengan senyum diwajahnya membuat asisten rumah tangga tersebut semakin merasa tak enak, bukan hanya karena mengganggu Erina di akhir pekannya tapi beliau tau bahwa hubungan diantara Leo dan Erina telah cukup lama berakhir tapi mau bagaimana lagi? Toh Leo memang sangat sulit untuk diurus jika sedang sakit.


Erina memasuki kamar Leo dan langsung berjalan menghampiri pria yang kini terbaring lemas diatas tempat tidur dengan wajah yang dipenuhi keringat, dengan perlahan Erina meletakkan punggung tangannya dikening Leo dan terkejut dengan panas yang dirasakannya. Setelah mengambil air hangat dan handuk kecil, Erina mendudukan diri disamping Leo dan mulai mengelap wajah pria itu. Wajahnya bersemu merah ketika dirinya mau tidak mau harus melepaskan piyama pria itu untuk mengusap tubuh bagian atas Leo, dengan hati-hati Erina mengelap bagian depan dan belakang badan pria itu kemudian meletakkan atasan piyama tersebut di keranjang pakaian kotor.


Setelah meletakkan kompres diatas kepala Leo, Erina langsung bergegas menuju dapur untuk memasakkan bubur yang selalu dimakan pria itu saat sedang sakit. Leo hanya akan makan bubur buatan ibunya dan Erina saat sedang sakit, selain itu dirinya tak akan mau. Erina kembali menaiki anak tangga menuju kamar Leo begitu bubur yang dimasaknya selesai, dengan perlahan dirinya membangunkan Leo yang terlihat sangat lemah “Leo ayo bangun, makan dulu terus minum obat” ucap Erina menggoyangkan pelan tubuh pria itu membuat Leo akhirnya memaksakan diri untuk bangun. “Suapin” ucap pria itu lemah membuat Erina mau tidak mau mengangguk dan dengan telaten mulai menyuapi Leo “Udah” ucap pria itu setelah beberapa suapan “Dikit lagi yah, habis ini minum obat” pinta Erina dengan lembut membuat Leo akhirnya mengangguk dan kembali menerima suapan Erina.


Selesai makan dan meminum obat, Leo langsung kembali berbaring dan memejamkan mata karena tubuhnya benar-benar terasa sangat lemas sementara Erina kembali mengompres pria itu dan merawatnya dengan telaten. Erina memandangi Leo yang kini telah kembali terlelap, tangannya terulur untuk mengusap rambut pria itu dengan wajah yang masih terlihat khawatir. Ditatapnya lekat wajah pucat mantan kekasihnya itu, ah iya... mantan kekasih. Erina melupakan fakta itu karena terlalu khawatir dan sibuk mengurus Leo.


Benar juga, status mereka kini hanya sebatas mantan kekasih tapi Erina masih saja merawat Leo disaat pria itu sakit. Padahal hubungan mereka telah berakhir, harusnya Erina tak perlu mengurusi pria dihadapannya itu tapi hal itu tetap saja dilakukan.


Entah bagaimana nasib Leo jika akhirnya memulai hubungan dengan perempuan baru setelah ini, sepertinya Erina harus bekerja keras menuliskan banyak hal tentang pria itu untuk calon pasangan Leo nanti. Ah, membayangkannya saja hati Erina merasa tak rela.


Sejujurnya perasaan Erina untuk Leo masih tetap sama, tak pernah ada yang berubah dan hal itu yang membuat dirinya langsung bergegeas menuju kediaman Leo begitu mendengar kabar pria itu sakit, padahal sudah tak ada hubungan diantara keduanya kecuali atasan dan karyawan.


Leo membuka mata saat hari telah sore, ditatapnya sosok Erina yang tertidur dilantai dengan kepala diatas tempat tidurnya. Pria itu mengusap rambut Erina perlahan membuat gadis itu merasa terusik dan akhirnya menegakkan kepala menatap kearah Leo. Erina langsung mengulurkan tangan menyentuh kening pria yang kini masih lekat menatapnya “Udah mendingan” ucapnya dengan perasaan lega. cukup lama keduanya berakhir hanya saling pandang dalam keheningan sebelum akhirnya Erina berdehem “Kamu udah agak mendingan, nanti makan bubur lagi terus minum obat” jelas gadis itu membuat Leo tersenyum, bahkan saat sakit seperti itu pun senyuman pria itu terlihat sangat manis. “Makasih” ucap Leo dengan suara yang masih lemah, Erina mengangguk kemudian berdiri “Kayanya banyak hal yang harus aku tulis buat calon kamu nanti, hal-hal yang harus dia perhatiin pas ngurusin kamu” ucap Erina sambil membereskan barang-barangnya.


“Rin, boleh minta tolong?” ucap Leo membuat Erina menghentikan kegiatannya padahal gadis itu telah bersiap untuk pulang, “Kenapa?” tanya Erina penasaran kemudian mengikuti arah telunjuk Leo “Tolong ambilin kotak kecil dilaci” ucap pria itu membuat Erina akhirnya menurut walau dirinya merasa ragu. Mata gadis itu melebar melihat sebuah kotak kecil berwarna biru muda disana kemudian mengambilnya dan menyerahkan kotak tersebut kepada Leo dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Matanya semakin membelalak ketika melihat Leo membuka kotak tersebut dan menampilkan sebuah cincin sebagai isi didalamnya.


“Sini tangan kamu” ucap pria itu menjulurkan tangan membuat Erina dengan wajah yang masih bingung mengulurkan tangan kirinya menuruti, dengan tangan yang masih terasa cukup panas Leo melepaskan sebuah cincin dijari manis Erina pemberiannya dulu sebelum berangkat ke luar negri. Pria itu kemudian mengambil cincin yang berada didalam kotak dan memasangkannya dijari manis Erina menggantikan cincin yang sebelumnya “Kamu gak perlu repot nulis banyak hal untuk calon aku, karena dia udah tau segala hal tentang aku” jelasnya membuat Erina menatap Leo dengan mata yang mulai berkaca-kaca merasa kaget dan terharu, “Maaf karena aku sempat jadi laki-laki bodoh yang meninggalkan perempuan sebaik kamu, tapi aku gak mau menyesal dan akan kembali memperjuangkan kamu” ucap Leo membuat air mata Erina langsung mengalir menuruni pipinya “Erina Falisha Idaline, mulai saat ini aku gak akan pernah ngelepasin kamu lagi, aku akan menjadi orang yang akan terus menggenggam tangan kamu, aku bakal terus jadi orang yang memeluk kamu dan menjadi sandaran kamu disaat kamu lelah dan aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya menjaga dan membahagiakan kamu. Erina, ijinkan aku menjadi kepala keluarga untuk kamu” Erina tak dapat lagi menahan isak tangisnya mendengar penuturan panjang dari mulut mantan kekasihnya itu, dengan segera gadis itu menganggukkan kepala dan menghambur kepelukan pria yang kini telah resmi menjadi calon suaminya itu “Makasih” bisik Leo kemudian mengecup puncak kepala Erina dengan penuh kasih sayang.


“Maaf yah, aku ngelamarnya gak romantis” ucap Leo ketika pelukan mereka terlepas membuat Erina langsung terkekeh “Habis kamu kaya gitu, aku jadi gemes sendiri gak tahan mau ngomong” lanjut pria itu membuat pipi Erina kembali bersemu “Siapa suruh kamu gak jelas, bilangnya mau mastiin perasaan tapi gak pernah ada usaha lagi” keluh Erina mulai sebal mengingat kelakuan pria dihadapannya itu “Udah, ngomelnya nanti aja pas aku udah sembuh, kepala aku pusing sini pijitin” ucap Leo mengakhiri omelan Erina kemudian berbaring dan menarik lengan gadis itu agar memijat kepalanya yang mulai terasa pusing membuat Erina akhirnya menurut.