LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
42



Erina lagi-lagi berada dihadapan pintu ruangan yang masih sangat malas gadis itu masuki, himbauan baru untuk seluruh karyawan yang mengerjakan laporan untuk menyerahkan secara langsung laporannya tanpa melalui sekertaris dan hanya melakukan pemeriksaan kepada ketua divisi membuat Erina kini untuk kesekian kalinya harus berhadapan dengan atasannya itu.


Ketukan pintu yang dilakukan Erina membuat sosok yang tengah berada didalam ruangan menyahuti mempersilahkan gadis itu untuk masuk, langkah kaki yang berat dirasakan Erina ketika dirinya semakin mendekati meja kerja Leo.


Sosok pria itu masih sibuk dengan layar laptopnya entah memeriksa apa, “Ekhem” Erina berdehem berniat mengalihkan perhatian atasannya itu “Selamat siang pak” ucapnya begitu Leo menoleh mengalihkan pandangan sepenuhnya “Oh iya, silahkan duduk” ucap Leo mempersilahkan kemudian mengambil laporan yang diserahkan Erina.


Pria itu sibuk memeriksa setiap lembar laporan tersebut sambil sesekali menganggukkan kepalanya, “Bagus, seperti biasa” ucapnya sambil menutup laporan tersebut dan meletakkannya diatas meja. Erina bernafas lega karena itu artinya pekerjaannya tidak akan bertambah, “Kalau gitu saya permisi pak” jawab Erina hendak bangkit dari duduknya, namun kalimat yang keluar dari mulut atasannya itu membuat dirinya mengurungkan niat “Saya belum nyuruh kamu pergi Erina" ucap Leo tegas membuat Erina tentu saja menurut karena tak ingin membuat masalah.


“Apa masih ada yang mau bapak bahas dengan saya?” tanya gadis itu merasa heran karena dirinya tak diperbolehkan keluar padahal laporannya telah disetujui, “Ada” jawab Leo singkat membuat Erina hanya mengangguk patuh “Kamu diem disana, ada hal yang harus saya pastikan” lanjut pria itu membuat Erina sedikit melebarkan mata heran “Memastikan apa ya pak?” tanyanya yang semakin penasaran dan jawaban pria dihadapannya itu mampu membuat Erina benar-benar mematung ditempatnya. Hanya dua kata yang terlontar dari mulut Leo, namun mampu membuat waktu disekitar Erina seakan berhenti dan perasaannya semakin tak menentu “Perasaan saya” sangat jelas ucapan Leo terdengar di telinga Erina.


“Maaf, tapi maksud bapak apa ya?” Erina semakin tak mengerti dan mengharapkan kejelasan atas apa yang pria itu ucapkan, jujur saja hati gadis itu memiliki harapan meskipun hanya sedikit kemungkinan apa yang dirinya harapkan menjadi kenyataan. Leo menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil masih terus menatap lekat Erina, “Saya belum bisa kasih tau kamu sekarang, saya mau benar-benar memastikan dulu perasaan saya baru saya bicarakan sama kamu” jelas Leo membuat Erina mengernyit bercampur antara penasaran dan kesal dengan tingkah atasannya itu.


Erina memilih bangkit dari kursinya meskipun belum mendapat izin dari sang atasan “Terserah bapak mau ngapain, yang pasti saya minta bapak gak main-main sama saya terutama soal perasaan. Bapak harus jadi laki-laki yang tegas dan bisa bertanggung jawab, saya harap bapak mendapatkan jawaban yang terbaik” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Leo yang kini diam terpaku memandangi dirinya yang semakin menghilang dari pandangan pria itu. Masa bodoh dengan sopan santun terhadap atasannya meskipun sejujurnya Erina merasa sedikit khawatir takut ucapannya menyinggung sang atasan, namun dirinya juga merasa kesal dengan ucapan dan sikap pria yang juga merupakan mantan kekasihnya itu.


Kedua gadis itu berjalan menuju cafe langganan mereka begitu jam makan siang dimulai, Lia yang biasanya datang paling akhir kini terlihat sudah duduk manis didalam cafe. “Tumben lo dateng duluan” ucap Naya membuat Lia tersenyum “Iya dong, gue lagi gak ada kerjaan jadi buru-buru kesini soalnya bosen” jawab gadis itu membuat Erina dan Naya mengangguk “Pantesan” ucap Naya. “Lo udah pesen?” tanya Erina membuat Naya mengangguk “Udah, kalian juga udah. Hari ini gue traktir mumpung gue lagi baik” jawab Lia dengan senyum yang sangat cerah, “Wih, tumben nih ada apa?” tanya Naya heboh membuat Erina ikut penasaran. Lia yang sejak tadi mendapat tatapan penasaran dari kedua temannya langsung mengeluarkan dua buah undangan dari dalam tasnya kemudian menyerahkan undangan tersebut “Nih buat kalian, Alex sama Andre udah gue kasih juga” ucap Lia membuat Naya dan Erina sukses melongo tak percaya.


“Ini serius?” ucap Naya memandangi undangan tersebut dengan mata membulat, “Iya lah, masa gue main-main” jawab Lia terkekeh gemas melihat tingkah temannya “Ya ampun, selamat ya Lia” ucap Erina ikut merasa senang “Thanks Rin” jawab Lia dengan senyuman yang masih tak hilang dari wajahnya. Pesanan ketiga perempuan itu akhirnya datang juga, Naya dan Erina yang memang sudah merasa lapar langsung menyantap hidangan dihadapan mereka. “Pelan-pelan hey, laper banget kayanya lo berdua” tegur Lia melihat kedua temannya yang kini sibuk menikmati makanan mereka, “Gak kuat gue laper Ya” jawab Naya yang diangguki Erina.


“Eh iya, jadi lo mau cerita apaan?” tanya Naya mengingat ucapan temannya itu tadi diruangan kerja mereka, “Kenapa? Ada apa?” tanya Lia ikut penasaran. Erina yang merasa sudah tak bisa menghindar akhirnya menarik nafas dan mulai bercerita “Tadi gue abis dari ruangan Leo, terus pas gue mau pergi dia nyuruh gue diem dulu. Gue tanya dong mau apa kan gue gak ngerti, laporan gue juga udah disetujuin sama dia. Terus kalian tau apa yang dia bilang? Ih sumpah gue masih kesel inget itu” jelas Erina membuat Naya dan Lia benar-benar menyimak setiap ucapannya “Apaan? Buruan lo jangan bikin kita penasaran!” protes Naya membuat Erina terkekeh “Dia bilang ada yang mau dia pastiin dulu, terus gue tanya lagi dong apa yang mau dipastiin? Terus dia dengan entengnya jawab ‘perasaan saya’ pas gue minta penjelasan dia malah bilang belum bisa kasih penjelasan kan gimana gak kesel coba” keluh Erina kemudian menyeruput minumannya untuk mendinginkan diri.


Lia tersenyum memandang temannya itu “Kemarin mas Dewa cerita, pas akhir pekan Leo dateng ke cafe” ucap gadis itu membuat Erina membulatkan mata “Serius? Mau ngapain?” bukan Erina tapi Naya yang bersuara. “Katanya mau nanyain soal Erina yang mulai akrab lagi sama mas Dewa” jawab Lia membuat Erina semakin terdiam, “Tunggu... tunggu mas Dewa ini calon tunangan lo? Ko bisa kenal sama Leo?” tanya Naya semakin penasaran sementara Erina masih memilih diam. “Iya, jadi mereka tuh dulu sahabatan, tapi karena sama-sama naksir Erina akhirnya jadi jauhan gitu deh. Nah kemarin pas Leo nemuin juga mas Dewa kaget, kan gak ada angin gak ada hujan dia tiba-tiba dateng ke cafe” jelas Lia membuat Naya semakin melebarkan matanya “Terus dia dateng cuma buat mastiin hubungan mas Dewa sama Erina, padahal kan mereka udah putus, buat apalagi coba? Iya kan?” lanjut Lia membuat Naya mengangguk masih dengan wajah kaget bercampur penasarannya “Tapi mas Dewa bilang dia seneng sih Leo dateng, yang pertama hubungan mereka udah kembali membaik dan yang kedua mas Dewa yakin kalau Leo masih ada perasaan buat Erina. Makanya kemarin sebelum balik mas Dewa minta Leo buat mikirin lagi perasaannya sebelum semuanya terlambat” tutup Lia mengakhiri ceritanya.


“Wah gila masih gak nyangka gue, dunia ini sempit banget ya ternyata” ucapnya menyandarkan diri merasa lelah dengan semua penjelasan temannya itu, sementara Erina masih memilih diam belum mengeluarkan suara. “Menurut gue ya Rin, kalau emang lo mau ngasih dia kesempatan ya lo coba aja tunggu Leo sampe dia bener-bener yakin sama perasaannya. Tapi kalau enggak juga ya itu terserah lo, yang pasti jangan sampe lo nyakitin diri lo sendiri dan jangan dulu terlalu berharap” tutur Lia memberikan saran kepada gadis dihadapannya itu. Erina tersenyum mengangguk menerima saran dari Lia sementara Naya kini kembali sibuk dengan makanannya karena merasa pusing dengan semua cerita yang didapatkannya hari ini.