
Erina melangkahkan kakinya menjauh dari perpustakaan, namun langkahnya terhenti begitu sebuah tangan yang lebih besar dari tangannya dengan enteng menautkan jemarinya dengan jemari Erina “Ko pacarnya ditinggalin sih” goda pria yang sudah dipastikan adalah Leo, “Siapa yang ninggalin? Buktinya sekarang sebelahan” jawab Erina tak mau kalah. Leo hanya terkekeh kemudian melepaskan genggaman tangan mereka dan merangkul Erina kedalam pelukannya “Aduh gemes banget pacar aku kalau ngambek” ucapnya gemas “Iiiiih seneng banget sih ngetekin aku” keluh gadis yang kini berhasil melepaskan diri dari rangkulan Leo sementara yang diprotes hanya membalas dengan senyuman dan kembali menautkan jemarinya dengan jemari Erina “Habis kamu gemesin sih” jawabnya membuat Erina memanyunkan bibirnya lucu.
Pasangan kekasih yang tengah melangkahkan kaki menuju tempat parkir itu tak pernah absen menjadi perhatian para mahasiswa yang mereka lewati, kebanyakan kaum hawa merasa iri dengan gadis mungil yang tengah digandeng oleh pria idaman banyak mahasiswi itu. Begitu hubungan mereka diresmikan, beritanya tentu saja langsung menyebar keseluruh kampus karena Leo dengan santainya memposting foto Erina di akun sosial media miliknya dengan caption “Officially Mine” yang tentu saja langsung heboh dan membuat psotingan tersebut diserbu oleh pasukan mahasiswi yang patah hati, tak hanya postingan tapi akun sosial media Erina yang tadinya sepi tiba-tiba rame karenya banyak yang mem-follow dan memention akunnya. Tak ketinggalan ruang obrolan dan grup yang ia miliki pun ramai dengan ucapan selamat, kaget, iri dan pastinya meminta PJ alias Pajak Jadian, duh kalau mengingat hari itu Erina selalu mendadak sakit kepala.
Leo dengan sigap langsung membuka pintu mobil untuk sang kekasih dengan sebelah tangannya menghalangi bagian atas agar kepala Erina tak terbentur ketika memasuki mobil, hanya kepada gadisnya lah Leo dapat bersikap sangat manis seperti ini. Pria itu melajukan mobilnya menuju apartemen Erina berniat untuk menghabiskan waktu disana karena keduanya sedang tidak ingin pergi kemanapun “Arin ada dirumah?” tanya Leo sambil terus berkonsentrasi pada jalanan didepannya, “Enggak, dia masih di sekolah terus lanjut les, paling nanti sore baru pulang” jawab Erina yang kini sibuk dengan ponsel tengah menghubungi adiknya. “Mau mampir makan dulu gak?” tanya pria itu lagi memastikan “Gak usah, aku nanti masak aja” balas gadis yang kini tengah memandang jalanan disampingnya.
Perjalanan dari kampus menuju apartemen Erina tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu 15 menit mereka telah sampai di basement apartemen. Setelah membukakan pintu untuk sang kekasih, Leo langsung menggandeng gadisnya menuju lift dan menekan tombol dimana unit milik Erina berada. Suasana apartemen saat itu cukup sepi karena sebagain besar penghuninya masih sibuk melakukan aktivitasnya diluar, setelah sampai Erina langsung memasukan kombinasi sandi apartemen dan pintu langsung terbuka. Begitu masuk Leo dengan segera merebahkan dirinya diatas sofa ruang tengah apartemen yang Erina tempati berdua dengan adiknya itu, sudah seperti tuan rumah saja pria itu. Sementara Erina langsung melangkahkan kakinya menuju kamar dan menaruh seluruh barangnya kemudian mengarahkan tubuhnya menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan sang kekasih.
Leo yang merasa bosan akhirnya menghampiri sang kekasih yang tengah sibuk mengaduk masakannya, tanpa kata pria itu langsung meraih tubuh mungil Erina dan memeluknya dari belakang membuat gadis yang tengah fokus memasak itu sedikit tersentak “Hobi banget sih ngagetin” protesnya sambil mengusap lengan Leo yang melingkar diperutnya, meskipun kaget tapi Erina tak menolak dan menyukai perlakuan manis Leo kepadanya ini. Sosok yang menjadi pelaku perbuatan itu malah semakin mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri Erina “Bosen yang” keluhnya membuat Erina tersenyum gemas melihat bibir leo yang sudah mengerucut lucu disebelahnya “Sabar ya aku kan harus masak dulu, sebentar lagi selesai” balas Erina “Yaudah aku gini terus sampe kamu beres” putus Leo yang diangguki pasrah oleh Erina karena gadis itu sudah pasti tak bisa menentang keputusan pria manja yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
Leo masih betah terlelap dipangkuan sang kekasih meskipun waktu telah mulai sore, Erina yang mulai merasakan pegal pada pahanya perlahan mengangkat kepala Leo dan meletakkan bantal sehingga ia dapat berdiri. Erina menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 tapi adiknya belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan pulang, tak ada pesan ataupun panggilan dari gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA itu. Ah biarkan saja, mungkin adiknya masih ditempat les dan sedang sibuk karena ia harus mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Erina akhirnya melangkahkan kaki menuju dapur dan mulai menyiapkan bahan masakan, ia harus segera memasak sebelum sang adik pulang karena pasti sang adik akan mengeluh kelaparan begitu tiba di rumah. Benar saja, 30 menit kemudian terdengar suara pintu dibuka bertepatan dengan Erina menyelesaikan masakannya. Tampak seorang gadis perempuan masuk dengan wajah lesu dan badan yang lemas tapi dipaksakan berjalan, setelah menyalami sang kakak ia berlalu begitu saja menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Mandi memang bisa membuat tubuh terasa lebih segar, begitu juga dengan yang dirasakan Arin ketika dirinya selesai membersihkan diri. Karena rasa lapar yang tak bisa ia tahan lagi, gadis itu langsung keluar dari kamar ketika dirinya selesai berpakaian dan melangkah menuju meja makan tanpa memperhatikan sekeliling ruangan yang ia lewati. Gadis itu mencari keberadaan sang kakak yang ternyata tengah membangunkan seonggok manusia yang sedang nikmat terlelap diatas sofa “Lah ada kak Leo ternyata” ucapnya baru menyadari kehadiran sosok yang kini berjalan dengan muka bantalnya menghampiri Arin “Udah pulang cil” sapanya sambil mengusap singkat kepala Arin kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajah meninggalkan Arin yang mendengus sebal karena selalu mendapatkan panggilan bocil dari kekasih kakaknya itu. Erina yang menatap interaksi keduanya hanya terkekeh sambil mendudukan dirinya di kursi meja makan “Tumben sore banget pulangnya?” tanya Erina kepada gadis yang kini tengah sibuk mengambil nasi dan lauk pauk dengan terburu-buru saking kelaparannya “Iya, tadi beres les anak-anak ngajak ngobrol buat belajar bareng, jadinya lama deh” keluhnya yang kini tengah bersiap untuk menyendokkan nasi kedalam mulutnya. Saking laparnya Arin tak menunggu kakaknya dan Leo, gadis itu fokus menyantap nasi dihadapannya sedangkan Erina hanya bisa memandang dengan perasaan kasihan melihat adiknya benar-benar kelaparan seperti itu.
Leo keluar dari kamar mandi begitu ia menyelesaikan urusannya, pria itu langsung menuju ruang makan karena pasti Erina tengah menemani sang adik yang Leo yakini kelaparan itu. Walaupun sudah menduga bocah cilik yang selalu ia ganggu itu kelaparan, tapi tetap saja Leo kaget melihat bagaimana Arin menyantap makanannya dengan terburu-buru seperti sedang ikut kontes makan cepat “Yaampun pelan-pelan cil makannya, gaakan ada hadiah juga kalau cepet abis” ledeknya sambil mendudukan diri disebelah sang kekasih yang tengah memperhatikan adik kecilnya makan, yang diledek hanya mendelik kemudian melanjutkan makannya “Akutuh gakuat lapar banget dari siang belum makan” jawabnya ketika makanan yang ia kunyah telah berhasil ditelan, “Emang kamu gak makan siang dulu? Biasanya kan kamu suka jajan juga” tanya Erina penasaran yang dibalas gelengan oleh gadis dihadapannya “Enggak keburu, tadi aku ngerjain tugas kelompok dulu terus langsung ke tempat les karena takut telat” jawabnya dan melanjutkan menyuapkan makanannya.
Setelah merasa kenyang, Arin melanjutkan kegiatannya dengan mengerjakan tugas di ruang tengah, duduk lesehan diatas karpet ditemani Leo yang duduk di sofa sambil memainkan ponsel sementara Erina sibuk mencuci piring di dapur. Gadis itu dengan teliti membaca setiap soal dan mencari jawabannya dari buku-buku yang ia tumpuk disisi meja “Rajin banget sih cil baru balik les udah langsung nugas lagi, gaada kelarnya” ucap Leo yang kini memperhatikan adik kekasihnya itu tampak pusing mengerjakan tugasnya “Cal cil cal cil dikata aku kancil apa!” protesnya dengan wajah kesal yang justru malah terlihat menggemaskan "Kamu kan emang bocil” jawab Leo sambil menguyel kedua pipi Arina membuat yang empunya mengamuk “Aaaaah sakit kenapa sih, Kak Erina liat nih pacarnya nyebelin!” teriak gadis mungil itu meminta tolong. “Kenapa sih tiap ketemu ribut terus” tegur Erina yang datang sambil membawa satu piring penuh dengan potongan buah untuk sang adik yang kini sudah kembali fokus mengerjakan tugas sementara Leo langsung bangkit dari duduknya “Aku pulang sekarang yah, udah dicariin mamah” ucapnya kemudian berlalu diantar Erina “Kamu hati-hati yah, jangan ngebut” ingat gadis itu ketika Leo hendak keluar dari rumah dan dibalas dengan sebuah pelukan oleh pria itu “Iya sayang, aku pulang dulu yah” ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kediaman sang kekasih.