LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
2



Hari ini Erina sangat sibuk, jadwal kuliahnya padat hingga sore hari belum lagi tugas yang cukup menumpuk membuat gadis itu tak ada waktu untuk beristirahat.


Hembusan nafas keras terdengar begitu gadis yang kini tengah menenggelamkan diri diantara buku-buku di perpustakaan itu berhasil menyelesaikan seluruh tugasnya.


Buru-buru Erina melirik jam di tangannya kemudian meraih ponsel yang sejak tadi ia aktifkan dalam mode hening, gadis itu melihat banyak notifikasi di layar ponselnya yang masih terkunci, sebagian besar dari sang adik dan tentu saja Leo yang terus menanyakan keberadaan gadis itu.


Setelah membalas pesan-pesan yang ia terima, gadis itu langsung membereskan barang-barangnya dan mengembalikan semua buku kembali pada tempatnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan kesukaannya itu.


Begitu sampai di parkiran fakultas, gadis itu dapat melihat Leo dengan wajah yang tak kalah kusut dengan dirinya tengah bersandar pada bagian samping mobil. Erina mempercepat langkahnya begitu Leo menemukan keberadaannya dan menyambutnya dengan senyuman yang sangat Erina sukai.


“Maaf, nunggu lama yah?” tanya gadis itu begitu dirinya telah berada dihadapan Leo “Enggak kok, aku juga baru selesai bimbingan” jawab pria itu mengusap puncak kepala Erina membuat gadis itu tersipu.


Leo langsung membukakan pintu mobilnya seperti biasa menahan bagian atas dengan tangannya untuk melindungi kepala gadis kesayangannya itu, setelah Erina duduk dengan nyaman pria itu langsung berlari kecil menuju kursi mengemudinya “Ke rumah dulu yah, mamah kangen sama calon menantunya” ajak Leo yang di angguki oleh Erina “Yaudah, Arin juga nginep dirumah temennya” jelas gadis itu.


Kedekatan Erina dengan keluarga Leo memang sudah tidak perlu diragukan lagi, karena nyatanya kedua orang tua pria itu sudah menganggap Erina seperti anak mereka sendiri, selain itu kakak Leo juga sangat menyukai gadis mungil yang telah berhasil melelehkan dinding es dihati sang adik.


Mobil Leo berhenti begitu mereka tiba didepan rumah pria yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar sarjananya itu. Erina nampak santai ketika akan memasuki rumah dengan konsep minimalis itu, meskipun Leo berasal dari keluarga dengan reputasi bisnis yang tidak main-main, tetapi mereka bukan tipe yang suka menghabiskan uang untuk membangun istana mewan nan megah.


Bagi orang tua Leo, hidup hanya dengan 4 orang anggota keluarga tidaklah membutuhkan rumah yang besar karena akhirnya hanya akan terasa sepi. Apalagi jika nanti kedua anak mereka telah menikah dan memiliki kehidupan barunya masing-masing, pasti rumah akan semakin terasa sepi jika hanya ditinggali oleh dua orang manusia. Maka dari itu, konsep minimalis mereka pilih yang penting rumah terasa nyaman untuk ditempati.


Ibu Leo langsung menyambut mereka ketika keduanya memasuki rumah “Yaampun calon mantu kesayangan mamah kemana aja, mamah kangen banget sama kamu” ucapnya yang langsung memeluk Erina melepas rindu “Iya, Erina mulai sibuk sama tugas mah, ditambah harus mulai persiapan buat magang nanti” balas gadis itu mengerucutkan bibirnya mengeluarkan keluh kesahnya pada sosok yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.


Hidup hanya berdua dengan sang adik membuatnya harus selalu menjadi sosok dewasa yang melindungi, menjaga dan mengambil peran kedua orang tuanya untuk Arina, sehingga gadis itu tak memiliki tempat untuk berkeluh kesah. Tapi sekarang gadis itu sudah memiliki Leo dan keluarganya yang begitu menyayangi Erina sehingga gadis itu tak lagi canggung untuk mengutarakan keluh kesahnya kepada Ibu ataupun Kakak Leo.


Memasuki ruang keluarga, Erina langsung menjadi tawanan mamah dan diminta menemaninya berbincang karena sang suami yang sibuk bekerja membuat Leo hanya bisa pasrah dan memilih untuk mengganti bajunya terlebih dahulu.


“Kamu kok kurusan sih sayang, capek banget yah kuliahnya?” tanya mamah khawatir menatap calon menantu kesayangannya itu, “Iya mah, kayanya karena kecapean, soalnya makin banyak kegiatan” jawab Erina sambil terkekeh tak ingin membuat wanita dihadapannya itu semakin khawatir “Yaampun kamu tuh jangan maksain diri ah, nanti sakit lagi” ucap mamah mengingatkan yang dibalas dengan anggukan dari Erina.


Erina tentu saja sangat senang, karena ia juga sangat suka memasak dan mencoba resep baru, jika dirumah ia hanya melakukannya sendiri karena jika dengan sang adik, bukannya membantu justru malah akan membuat acara memasak menjadi kacau.


Keduanya tampak serius membaca resep dan mempersiapkan bahan yang dibutuhkan hingga tak menyadari kehadiran Leo yang kini tengah duduk di pantry dapur sambil memperhatikan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu tengah memasak dengan serius.


Tak sedikit momen yang diabadikan Leo ketika kekasihnya itu sibuk meracik hidangannya, membuat senyuman tak pernah lepas dari wajah pria itu. Erina yang merasakan kehadiran sosok lain di dapur mulai menolehkan kepalanya dan mendapati sosok pria kucing kesayangannya tengah duduk manis memperhatikan kegiatan di dapur sambil memakan snack kentang kesukaannya, gadis itu tersenyum gemas memperhatikan pipi sang kekasih yang terlihat mulai menggembul apalagi saat pria itu mengunyah makanannya benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan.


Leo mulai bosan memperhatikan dua orang yang masih sibuk dengan masakan mereka, pria itu menghembuskan nafas membuat mamah menoleh “Loh, kamu sejak kapan disitu?” tanyanya heran membuat Leo memajukan mulutnya “Aku dari tadi disini, mamah aja yang terlalu sibuk sampe gasadar anaknya yang ganteng ini dari tadi nontonin” rajuk Leo membuat kedua perempuan yang ada disana justru malah tersenyum gemas “Kamu tuh udah gede masih aja gemesin” balas mamah “Masih lama yah?” tanya Leo yang sudah tak tahan karena merasa bosan “Sebentar lagi sayang, sabar yah” jawab mamah menenangkan kemudian kembali fokus dengan masakannya.


Usai kegiatan masak bersama, Erina kini diseret menuju ruang keluarga untuk menemani pria yang sejak tadi merajuk karena dirinya sibuk bersama sang ibu. Leo protes karena dirinya juga ingin menghabiskan waktu bersama sang kekasih, membuat mamah membiarkan Erina untuk pergi menemani putra bungsunya itu setelah selesai memasak karena merasa tak tega dengan wajah memelas anaknya.


Sebenarnya Erina merasa tidak enak karena mamah harus memindahkan masakannya ke ruang makan sendirian tanpa dibantu dirinya, tapi mau bagaimana lagi pria yang kini tengah duduk disofa dan menyandarkan tubuh Erina di dadanya itu sudah mulai mengeluarkan sifat manjanya.


Suara mobil terdengar begitu jam menunjukkan pukul setengah 6 sore, tandanya ayah Leo telah pulang. Erina langsung melepaskan diri dari dekapan sang kekasih dan duduk dengan tegap membuat Leo menjawil dagunya “Tegang banget kaya mau sidang” ledek pria itu membuat Erina mendelik, bukannya tegang tapi gadis itu hanya merasa tidak enak jika tertangkap tengah bermesraan bersama sang kekasih. Begitu ayah Leo melewati ruang keluarga, Erina buru-buru menghampiri dan menyalami calon mertuanya itu “Loh Erina udah lama disini?” tanya ayah Leo dengan senyum lebarnya, “Iya pah, tadi Erina juga masak sama mamah” jawab sang istri yang berada disampingnya membawa jas serta tas milik sang suami sementara Erina hanya tersenyum karena jawabannya sudah diwakilkan.


Setelah sedikit berbincang, sepasang suami istri itu melanjutkan langkah menuju kamar pribadi mereka meninggalkan Erina bersama kucing manis bernama Leo yang kini mengajaknya ke ruang makan.


Keempatnya makan bersama begitu ayah Leo selesai membersihkan diri, momen yang tidak akan pernah Erina rasakan lagi jika berada dirumahnya sendiri. Suasana hangat ketika makan bersama kedua orangtua selalu menjadi hal yang dirindukan Erina dan Arina ketika mereka tengah makan bersama, ah Erina jadi merindukan adik kecilnya. Setelah menginap di rumah temannya, Arin pasti akan bercerita pada sang kakak bagaimana ia kembali merindukan momen makan bersama kedua orangtuanya karena melihat betapa hangatnya suasana di meja makan temannya ketika mereka makan bersama.


Setiap mendengarkan Arin, gadis itu hanya bisa memeluk adik tersayangnya itu karena sejujurnya siapa yang tidak merindukan momen seperti itu? Erina juga sangat merindukannya tapi ia tak pernah mengungkapkannya karena tak ingin sang adik melihatnya bersedih.


Begitu selesai makan, Erina tentu saja membantu ibu Leo untuk membereskan peralatan makan dan mencucinya. Orang tua Leo memang mempekerjakan asisten rumah tangga, tapi beliau hanya datang pagi dan pulang sore hari sehingga setelahnya ibu Leo akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ringan sendiri. Saat tengah fokus mencuci peralatan makan, sebuah tangan tiba-tiba melingkar dipinggang Erina, tentu saja pelakunya adalah si kucing manja yang kini menyandarkan kepalanya dibahu gadis itu. “Aduh manja banget sih kamu” goda sang ibu sambil mengusap kepala Leo membuat sang empunya memejamkan mata menikmati elusan yang menjadi kesukannya sementara Erina merasa malu karena Leo melakukan hal seperti itu dihadapan sang ibu yang sedang sibuk memeriksa persediaan di dapur.


“Kamu nginep disini aja ya, Arin kan nginep dirumah temennya juga daripada gaada temen dirumah” pinta Leo membuat mamah kembali bergabung dalam obrolan “Iya Rin, kamu mending nginep aja tidur dikamar Alana daripada dirumah sendirian” sambung mamah membuat Erina akhirnya mengiyakan karena kalau menolakpun pasti Erina akan tetap dipaksa sampai dirinya mengungkapkan persetujuan.