
Erina menggenggam tali tas yang tersampir dibahunya dengan erat, memandang lurus kedepan berkali-kali menghembuskan nafas sedihnya. Arina yang berdiri disamping sang kakak tak tau harus bagaimana, gadis itu hanya terdiam memandang sosok disampingnya itu. “Kak, kita pulang yuk” ajak gadis itu menggandeng tangan Erina yang akhirnya mengangguk lesu kembali memandang kedepan sekali lagi kemudian berbalik menjauhi toko dengan tulisan sold out disalah satu kornernya.
Arina memandang sosok sang kakak yang hanya bisa diam menelan kekecewaan, “Udah kak, mungkin emang belum jodohnya kakak sama baju itu” ucap gadis itu mencoba menenangkan. Erina memandang sang adik kemudian tersenyum “Iya dek, kakak gak apa-apa kok” jawab Erina kemudian mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil meratapi kegagalannya mendapatkan baju yang semalam tak sengaja ia temukan informasi diskonnya di akun media sosial tersebut.
Erina langsung memasang wajah sendu begitu toko yang didatanginya telah dipenuhi oleh banyak pengunjung dan semakin sedih ketika baju incarannya ternyata telah tak ada disana dan hanya tulisan sold out yang gadis itu dapati. Arina yang berpisah dengan sang kakak karena ingin membeli buku seperti biasa langsung berjalan menuju toko buku.
Meskipun berhasil membeli beberapa potong pakaian untuk dirinya dan sang adik, tetap saja Erina tetap sedih karena tak bisa mendapatkan baju yang diinginkannya itu.
Niatnya gadis itu ingin mengenakan baju tersebut ketika mengantar sang kekasih ke bandara besok, tapi sayangnya rencana yang telah ia susun rapih harus kembali berantakan. Pasalnya Erina telah merencanakan penampilannya dengan baik, ia telah menyiapkan tas dan sepatu yang sesuai untuk baju tersebut, jangan lupa riasan wajah yang telah ia pelajari dari tutorial yang ia dapatkan dari youtube.
Keduanya memilih untuk mampir ke cafe langganan mereka untuk menenangkan diri sekaligus mengisi perut, Arina yang menawarkan diri untuk memesan sementara gadis itu meminta sang kakak menunggu disalah satu meja yang kosong didekat jendela. Erina menurut dan langsung berjalan menuju tempat favorit mereka, spot meja didekat jendela yang menurut Arina sangat estetik dan bagus ketika ia posting di media sosialnya.
Jam makan siang sudah lewat, tapi pengunjung di cafe tersebut masih cukup ramai sehingga Arina harus mengantri untuk memesan. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencoba membunuh rasa bosan karena antrian didepannya masih diisi tiga orang lagi, pandangannya melebar begitu menyadari sosok yang ternyata berada dibelakang gadis itu. Merasa diperhatikan, sosok itu menoleh memandang Arina dan tersenyum “Loh, adiknya Erina kan?” tanya sosok itu antusias “Iya kak” ucap Arina dengan anda yang dibuat sebiasa mungkin karena jujur saja gadis itu kini merasa sangat gugup.
Sosok itu tersenyum membuat perasaan gadis itu terasa hangat “Sama siapa kesini?” tanya sosok itu yang membuat Arina menunjuk sang kakak “Sama kak Erina” jawab gadis itu yang diangguki sosok tersebut “Berdua aja? Kakak boleh gabung?” tanya pria itu membuat Arina berpikir sejenak
.
Arina memandang sang kakak berharap gadis itu melirik dan untung saja Erina langsung mengarahkan pandangannya kearah sang adik yang kini tengah berbincang dengan sosok yang sangat ia kenali, Erina langsung melambaikan tangan menyapa sementara sosok tersebut langsung memberi isyarat untuk meminta izin bergabung dengan kedua kakak beradik tersebut yang tentu saja Erina angguki.
Arina merasa semakin gugup ketika sosok tersebut berpindah kesebelahnya, ketika giliran mereka memesan gadis itu langsung menyebutkan pesanannya dan hendak mengeluarkan dompet dari dalam tasnya namun sebuah tangan mencegahnya. Arina mendongak menatap sosok disampingnya “Biar kakak aja yang bayar, gak ada penolakan” ucap sosok tersebut membuat Arina tak bisa menolak lagi “Makasih kak” ucapnya membuat sosok disampingnya tersenyum.
Keduanya berjalan menuju meja yang ditempati Erina, gadis itu langsung tersenyum melihat sang adik yang sangat kentara mencoba menyembunyikan rasa gugupnya itu “Sendiri aja Lex?” tanyanya begitu kedua sosok tersebut mendudukan diri, “Iya, tadinya mau take away aja terus balik, tapi ketemu kalian jadi sekalian aja gabung” jawab sosok yang merupakan Alex tersebut.
Erina mengangguk kemudian memperhatikan adiknya yang kini sibuk menyedot minumannya, tak seperti biasanya Arina saat ini menjadi sosok yang pendiam padahal gadis itu sangat ceria dan tak bisa diam.
“Kalian abis dari mana?” tanya Alex memecah keheningan membuat Erina menoleh “Habis dari Mall, beli baju sama buku” jawab gadis itu. “Seru yah punya adik, kemana-mana ada temennya” ucap pria itu memandang Arina dengan tatapan yang tak bisa dipahami gadis tersebut “Nasib anak tunggal ya Lex” jawab Erina yang diangguki Alex “Sepi banget dirumah, apalagi orang tua sibuk gak pernah ada waktu” keluh Alex membuat Arina ikut bersedih.
Erina yang sejak tadi curi-curi pandang memperhatikan sang adik mencoba sekuat tenaga untuk menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya, gadis itu tersenyum kemudian menoleh kearah Alex “Kalau bosen dan gak ada temen, ajak Arina aja gak apa-apa dia pasti seneng diajak jalan-jalan iya kan dek?” usul Erina yang sebenarnya mencoba menggoda sang adik yang kini menatap Erina tak percaya dengan mata yang membulat lucu “Boleh juga tuh, kapan-kapan kakak ajak jalan-jalan, kamu gak boleh nolak ya dek” ucap pria itu mengacak gemas kepala Arina yang kini hanya diam mematung kemudian tersenyum canggung tapi tak menolak.
Puas bercengkrama sambil menikmati minuman dan camilan yang mereka pesan, ketiganya beranjak dari cafe kemudian berjalan beriringan menuju area parkir “Kalian pulang naik apa?” tanya Alex begitu mereka sampai di area luar cafe “Naik taxi online aja paling” jawab Erina membuat yang berniat membuka ponselnya “Gak usah, bareng gue aja. Kebetulan gue lagi bawa mobil” tawar pria itu yang tentu saja membuat Erina tersenyum “Bener nih? Gak ngerepotin?” tanya Erina meyakinkan “Bener elah kaya sama siapa aja lo” ucap pria itu kemudian mengajak kedua gadis tersebut menuju mobilnya.
Erina hendak membuka pintu penumpang disebelah Alex namun niat itu ia urungkan dan menoleh kearah sang adik “Kamu aja yang duduk didepan dek, kakak biar dibelakang aja” ucap gadis itu membuat Erina menoleh heran “Kenapa? Kan yang temennya kak Alex kakak, kakak aja yang didepan” jawab Arina hendak membuka pintu penumpang bagian belakang “Kakak lagi chatan sama Leo, gak bisa diganggu” alasan Erina yang akhirnya membuat Arina menurut karena kalaupun ditolak sang kakak akan tetap kekeh pada pendiriannya.
Arina duduk dengan canggung disebelah Alex yang kini tengah sibuk mengemudikan mobilnya sementara sang kakak tengah duduk tenang dibelakang sedang fokus dengan ponselnya. Erina yang menyadari keheningan yang tengah menyelimuti ketiganya akhirnya membuka suara “Ngobrol kek kalian, diem diem bae kaya musuh” goda Erina sambil terkekeh membuat Arina memanyunkan bibir gemas sementara Alex ikut terkekeh “Ngobrol apaan? Gak tau mau ngobrol apa” balas pria itu membuat Erina tersenyum geli “Alah biasanya juga lo jago nyepik cewek Lex” ledek Erina membuat Arina merasakan panas dipipinya entah kenapa. Alex menatap gadis yang duduk disampingnya sekilas “Susah kalau yang ini, salah salah bisa abis dihajar kakaknya” timpal Alex membuat pipi Arina semakin memanas sementara Erina kembali terkekeh “Ya asal gak lo sakitin, gue sih gak masalah” jawab Erina membuat senyum mengembang diwajah Alex “Bener ya? gue pegang kata-kata lo nih” ucap Alex meyakinkan “Iya iya” jawab Erina kemudian keduanya sama-sama larut dalam tawa sementara Arina hanya bisa terdiam menahan rasa gugupnya.