LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
41



Dewa tengah mengecek keadaan cafe begitu sosok manusia yang telah lama tak ditemuinya datang, pria itu menatap heran sosok yang kini menghampirinya “Apa kabar?” tanya Dewa memberikan senyuman merasa rindu dengan sosok tersebut. “Ada yang mau gue omongin” ucap sosok tersebut tak menjawab pertanyaan Dewa, “Ya udah, di ruangan gue aja” jawab Dewa berjalan menuju ruang kerjanya diikuti sosok tersebut dari belakang.


“Jadi, apa yang mau lo omongin? Sampe bela-belain dateng kesini buat ketemu gue” tanya Dewa begitu keduanya mendudukan diri saling berhadapan, sosok itu terdiam menatap Dewa dengan wajah datarnya membuat Dewa benar-benar tak mengerti. “Soal Erina?” tebak pria itu membuat Leo berdehem, “Kenapa sama Erina?” tanya Dewa semakin penasaran karena sepertinya tebakannya itu benar. Leo masih tak mengeluarkan suara, pria itu berpikir mencari susunan kata yang tepat untuk disampaikan pada Dewa.


“Gue denger lo mau tunangan” ucap Leo akhirnya membuka suara membuat Dewa langsung mengangguk mantap, “Lo deket lagi sam Erina?” tanya pria itu kemudian membuat Dewa melongo mendengar pertanyaan pria dihadapannya itu. Tawanya meledak membuat Leo mengangkat sebelah alisnya merasa heran mengapa Dewa justru tertawa bukannya menjawab pertanyaan pria itu, “Tunggu... tunggu lo bela-belain dateng kesini nemuin gue, cuma buat itu?” ucap Dewa begitu dirinya selesai tertawa membuat Leo kembali memandangnya penuh tanya.


“Gini loh, hubungan gue sama Erina kan udah gak ada urusannya sama lo. Jadi kenapa lo harus repot-repot begini?” lanjut Dewa yang akhirnya mulai menyadarkan Leo dengan perbuatannya. Benar juga apa yang dikatakan Dewa, apapun yang terjadi diantara Erina dan pria dihadapannya itu tak ada lagi urusan dengan dirinya lalu kenapa dia harus repot-repot menemui Dewa untuk memastikan hal tersebut?


Dewa berjalan menghampiri Leo dan mendudukan diri disebelah pria itu, “Gue seneng lo mau ketemu gue lagi setelah sekian lama, sejujurnya gue kangen banget sama lo sama Satria juga” ucap Dewa membuat Leo semakin terdiam “Gue sama Erina emang akrab, tapi gue udah gak ada perasaan apapun lagi buat dia bahkan sejak awal dia udah mutusin buat milih lo. Lagipula seperti yang lo bilang tadi, gue sebentar lagi mau tunangan walau entah dari mana lo dapet info itu. Jadi lo gak usah khawatir soal gue sama Erina. Mending lo pikirin gimana perasaan lo sendiri, lo yakin mau bener-bener ngelepas Erina?” lanjut Dewa panjang lebar membuat Leo menoleh memandang pria disampingnya itu “Lo jauh-jauh kesini, nemuin gue yang bahkan udah gak pernah lo temuin sejak lama cuma buat nanyain Erina. Lo yakin udah gak ada perasaan lagi buat dia?” Dewa tak henti mengucapkan banyak kalimat untuk pria yang masih terdiam itu.


Dewa beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya, pria itu membuka sebuah laci dan mengambil satu undangan kemudian kembali berjalan menghampiri Leo. “Nih, pastiin perasaan lo, jangan sampe lo nyesel. Jangan lupa juga dateng ke acara gue, Satria juga udah gue kasih undangan” ucap Dewa menyerahkan sebuah undangan ditangannya kepada Leo yang langsung diambil pria dihadapannya itu.


“Kalau ada yang mau lo omongin, lo bisa dateng ke gue Le” ucap Dewa menepuk pundak Leo yang kini juga berdiri dihadapannya, “Thanks and sorry” ucap Leo membuat Dewa menatapnya heran “Maaf buat?” tanyanya heran, “buat segala sikap gue dimasa lalu, gak seharusnya persahabatan kita rusak kaya gitu” jelas Leo membuat Dewa merangkulnya tersenyum bahagia “Santai aja, gue udah gak peduli ko yang terpenting kita bisa akrab kaya dulu lagi aja gue udah seneng” jawab Dewa santai membuat sebuah senyuman akhirnya muncul diwajah pria yang sejak tadi memasang wajah datar itu.


Pria itu memasuki rumah dan langsung disambut oleh sang ibu “Darimana kamu?” tanya mamah membuat Leo menoleh dan berjalan menghampiri ke ruang keluarga “Habis ketemu temen” jawab Leo ikut mendudukan diri di sofa membuat sang ibu menoleh “Kirain habis ketemu Erina” ucap sang ibu membuat Leo melirik “Mamah kangen banget sama Erina” keluh sang ibu membuat Leo menghembuskan nafas pelan “Mah, kan Leo sama Erina...” ucapan pria itu tak berlanjut karena sang ibu telah lebih dulu memotongnya “Iya iya mamah tau, kalian udah putus tapi buat mamah Erina tetep jadi menantu kesayangan mamah” tegas wanita itu kemudian beranjak meninggalkan Leo yang kini menyandarkan tubuhnya pada sofa dan mengusap wajahnya kasar.


Pintu kamar terbuka menampilkan suasana ruangan yang begitu rapi dan nyaman, Leo melangkah memasuki ruangan itu dan mendudukan diri dimeja kerjanya. Pria itu terdiam menatap satu titik yang terpajang di dinding kamarnya, sebuah foto yang masih belum ia lepas meskipun kini hubungan dirinya dengan gadis yang tersenyum cerah dipelukannya itu telah berakhir.


Leo memejamkan matanya mencerna seluruh ucapan Dewa di cafe siang tadi, bagaimana perasaannya sekarang? Benarkah dirinya benar-benar ingin melepaskan Erina? Apakah sudah tak ada lagi perasaan apapun untuk gadis itu? Sanggupkah Leo menerima jika suatu saat nanti Erina telah menemukan pengganti dirinya? Apa sebenarnya alasan Leo memutuskan hubungan dengan gadisnya itu?


Pertanyaan terus menghantui kepala Leo, kalimat demi kalimat itu seperti berputar dikepalanya membuat pria itu mendesah kasar. Apa sebenarnya alasan dirinya memutuskan hubungan dengan Erina? Sejujurnya sikap manja dan posesif Erina ketika dirinya pulang memang membuatnya tak nyaman, perasaan yang perlahan memudar juga membuat pria itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan diantara keduanya karena tak ingin menyiksa gadis itu lebih lama lagi. Hari-hari pria itu berlalu dengan biasa saja begitu hubungan diantara keduanya berakhir, tapi begitu dirinya mengetahui Erina kembali dekat dengan Dewa entah mengapa perasaannya tak tenang.


Apakah Leo benar-benar hanya tak ingin Erina terluka karena pria itu akan segera bertunangan? Ataukah dirinya tak ingin Erina merusak hubungan diantara Dewa dan calon tunangannya? Lalu kenapa Leo begitu peduli? Bukankah apapun yang terjadi dengan Erina sudah bukan menjadi urusannya lagi?


Leo memindahkan tubuhnya menuju tempat tidur, kini dirinya berbaring disana menatap langit-langit kamarnya kembali mengingat ucapan sahabatnya tadi “Erina masih cinta sama lo, cinta banget malah. Dia bahkan bilang sama Lia kalau dia gak ada keinginan buat nyari cowok lain seenggaknya buat saat ini. Mending lo pikirin bener-bener perasaan lo sebelum akhirnya lo nyesel” rentetan kalimat itu membuat Leo benar-benar memikirkan kembali perasaannya untuk gadis yang telah mengisi hari-harinya sejak lama itu.