
2 Tahun Kemudian
Erina tengah fokus mengerjakan laporan keuangan bulanan di mejanya ketika sebuah suara menginterupsi “Rin, dipanggil pak bos” suara itu membuat Erina sontak mengangkat kepalanya dengan kening berkerut “Gue barusan dari ruangan pak manajer, masa udah dipanggil lagi?” tanya gadis itu heran membuat rekan kerjanya itu menggeleng “Bukan pak bos itu, pak bos beneran ini. Udah sana buruan, lo tau kan beliau gak suka kalau karyawannya telat datang” jawab rekan kerjanya membuat Erina segera bangkit dan berjalan menuju lift.
Meskipun gadis itu kini tetap melangkahkan kaki menuju ruangan atasannya, Erina tak dapat menutupi kebingungannya. Dirinya merasa tak melakukan kesalahan apapun dan selama ini bekerja dengan baik, apalagi terlambat karena Erina adalah salah satu pegawai yang sangat disiplin. Apa alasan dirinya dipanggil hari ini? hal itu terus berputar dalam kepala Erina karena gadis itu sama sekali tak menemukan jawabannya.
Erina menyapa sekertaris didepan ruangan bosnya tersebut “Ada apaan gue dipanggil sama bos?” tanya Erina heran membuat sosok dihadapannya hanya mengangkat bahu “Gak tau, udah masuk aja” jawabnya membuat Erina mencebikkan bibirnya.
Suara ketukan pintu membuat sosok didalam ruangan menyahut menyuruh Erina untuk masuk, setelah menghembuskan nafas gadis itu langsung membuka pintu dan melangkah masuk. “Maaf pak, bapak manggil saya?” tanya Erina dengan suara lembut menghadap kearah bos yang merupakan ayah kekasihnya itu “Bukan saya yang manggil, tuh” jawab bos Erina menunjuk kearah belakang gadis itu dengan wajahnya. Erina langsung mengikuti arah pandang pria dihadapannya, gadis itu membalikkan badan dan membelalak kaget melihat sosok yang kini tengah duduk santai di sofa ruangan bosnya itu.
Tak ada kata yang keluar dari mulut gadis itu, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Deheman bosnya membuat gadis itu tersadar dan kembali menoleh kepada pria paruh baya yang dihormatinya itu “Kenapa?” tanya bosnya membuat Erina kembali menoleh kearah sosok yang kini justru terkekeh “Kenapa sih? Gak seneng aku pulang?” tanya sosok itu kemudian berdiri dan menghampiri Erina yang masih terdiam.
Sosok yang kini telah berdiri dihadapan Erina langsung menarik gadis itu dan membawanya dalam pelukan yang erat “I’m home” ucap sosok itu membuat air mata Erina tak dapat ditahan lagi dan keluar begitu saja. Sadar gadis dipelukannya terdiam tak merespon, sosok itu melepaskan pelukannya dan kaget melihat air mata yang kini membasahi kedua pipi Erina “Hey ko nangis” ucap sosok itu menghapus air mata Erina dengan jemarinya, Erina yang sudah mulai tenang justru menghadiahi sosok dihadapannya itu dengan sebuah pukulan dibagian lengan “Ngapain kamu pulang gak bilang-bilang?! Gak ada kabar berhari-hari terus muncul kaya gini! Kamu pikir lucu apa hah?!” Erina tak dapat lagi menahan kekesalannya. Untungnya ruangan milik bosnya tersebut kedap suara sehingga teriakannya tak akan terdengar keluar.
“Udah Rin kasihan anak papah kamu pukulin terus” ucap bosnya yang sejak tadi hanya diam menyaksikan Erina memukuli sosok yang merupakan putra bungsunya itu “Habisnya Leo nyebelin!” keluh gadis itu menghentikan pukulan dan cubitannya pada pria yang sejak tadi mengaduh dan meminta ampun kepadanya itu. Leo yang kini terbebas dari siksaan kekasihnya itu kini terkekeh “Apa kamu ketawa?! Kamu pikir lucu?!” kesal Erina kembali menatap tajam sang kekasih membuat Leo bungkam. “Iya sayang maaf yah, aku kan niatnya mau ngasih kejutan pulang gak bilang-bilang kamu dulu” jelas Leo membuat Erina terdiam masih kesal “Tau ah, aku mau balik kerja lagi” ucap gadis itu berniat pergi tapi tangannya ditahan oleh Leo “Ini jam makan siang, udah disini dulu atau aku yang nyamperin kamu ke ruangan” ancam Leo membuat Erina terdiam dan menurut. Bisa gawat jika Leo menemuinya ke ruangan, gadis itu sampai saat ini masih berhasil menyembunyikan status hubungannya dengan pria yang sebentar lagi akan menggantikan ayahnya memimpin perusahaan itu.
Erina berhasil kembali keruangannya setelah makan siang karena pekerjaan yang belum selesai, gadis itu duduk kemudian menghembuskan nafasnya kasar “Kenapa lo?” tanya Naya heran “Biasa, masalah hidup” jawab Erina asal membuat Naya menatap kesal. “Woy, ada info penting” teriak salah satu rekan kerja keduanya begitu memasuki ruangan “Apaan?” tanya Naya ikut penasaran, sosok itu melangkah menuju bagian tengah ruangan “Anak bos yang kuliah di luar negri udah balik” ucapnya antusias membuat Naya membuka mulutnya kaget kemudian menoleh kearah Erina yang kini sudah fokus dengan pekerjaannya “Yang ganteng itu?” tanya rekan kerja mereka yang lain “Iya, gue denger-denger dia sebentar lagi bakal gantiin pak bos mimpin perusahaan” lanjut sosok itu masih antusias bercerita membuat seisi ruangan kini heboh membicarakan sosok yang sudah terkenal diseantero perusahaan.
Naya menoleh ke arah Erina dan mencolek lengan gadis itu membuat Erina hanya menoleh sambil mengangkat kedua alisnya kemudian kembali fokus dengan layar komputer dihadapannya.
“Jadi tadi lo keruangan bos karena Leo balik?” bisik Naya yang dijawab anggukan oleh Erina tanpa menoleh “Gue juga baru tau tadi, dia gak bilang mau balik” jawab Erina dengan suara pelan, untungnya kini suasana ruangan cukup ramai sehingga percakapan mereka tak terdengar oleh rekan kerja yang lain.
Erina berpamitan dengan Naya begitu keduanya keluar dari gedung perusahaan, gadis itu langsung berjalan menuju tempat parkir sambil sesekali memperhatikan sekeliling memastikan tak ada orang yang melihatnya. Gadis itu mempercepat langkahnya begitu mobil Leo sudah terlihat, tanpa berlama-lama lagi Erina langsung membuka pintu mobil dan masuk. “Kenapa sih? Kaya buronan kamu” kekeh Leo melihat tingkah kekasihnya itu, Erina memanyunkan bibrinya sebal “Udah ayo jalan” ucap gadis itu membuat Leo langsung menjalankan mobilnya.
“Mau jalan dulu gak?” tanya Leo melirik gadis disampingnya yang sejak tadi diam tak bersuara, pria itu tersenyum ketika melihat pemandangan gadis disampingnya itu “Lah tidur” ucapnya gemas sambil merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Erina.
Begitu sampai di parkiran apartemen Erina, Leo langsung menghadap kearah gadis yang masih terlelap itu kemudian menepuk pelan pipi Erina. Setelah beberapa tepukan, Erina mulai membuka matanya dan mendapati sosok pria yang kini menatapnya manis. “Udah sampe” ucap Leo membuat Erina menggeliatkan tubuhnya kemudian mengangguk lesu, keduanya langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju lift.