
Alex dan Erina tiba di kantor setelah sebelumnya menghabiskan waktu di sebuah coffee shop sambil menunggu waktu masuk kantor, keduanya langsung menuju ruangan masing-masing.
Tak lama berselang, Naya dan Andre datang bersamaan memasuki ruangan membuat Erina menoleh dan menyapa keduanya “Pagi Rin” sapa Andre “Pagi Ndre” balas Erina kemudian gadis itu menatap Naya “Pagi Nay” sapa Erina membuat Naya tersenyum “Pagi Rin, tumben lo pagi banget nyampenya” ucap Naya begitu dirinya mendudukan diri disamping Erina “Iya nih, tadi sekalian nganterin adek gue dulu” jawab Erina membuat Naya mengangguk kemudian keduanya kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Jam makan siang kali ini terasa berbeda, Erina berjalan mengikuti keempat temannya menaiki tangga menuju rooftop perusahaan yang ternyata boleh digunakan oleh siapapun. Gadis itu menatap kagum melihat keadaan rooftop yang begitu rapih dan bersih, selain itu tersedia juga dua buah meja piknik yang menurut informasi dari karyawan tetap kantor disini sering digunakan untuk tempat nongkrong dan makan-makan oleh karyawan yang harus lembur. Tempat itu tak terlihat seperti rooftop kantor tapi lebih seperti tempat piknik yang menyenangkan karena banyak tanaman hias terpajang disana tentu saja para karyawan akan sangat betah berada di tempat tersebut.
“Mereka bilang kita juga bisa pake tempat ini kalau mau, makanya gue ajak kalian nyobain tempat ini. Lumayan juga karena ini tempat terbuka jadi siapa tau kalian mau nyebat” jelas Alex diakhiri dengan kekehan karena ucapan terakhirnya itu sukses membuat keempat temannya menoleh kaget “Lo nyebat Lex?” tanya Andre kaget karena selama ini pria itu tak pernah melihat Alex merokok, Alex langsung menggeleng “Enggak, tapi siapa tau diantara kalian ada yang mau” jawab pria itu membuat yang lain mengangguk mengerti.
Alex memang memiliki wajah yang imut walau sebenarnya perawakan pria itu sangat manly, maka tak aneh jika orang-orang merasa kaget ketika mendengar pria itu membahas rokok karena jika tidak melihat badannya yang tegap dan cukup berotot mungkin orang-orang akan mengira Alex adalah anak dibawah umur.
“Muka lo emang gak memperlihatkan kalau lo itu perokok, tapi gue tetep kaget ternyata lo beneran gak ngerokok” ucap Lia begitu mereka menikmati makanan yang mereka pesan sebelum datang ke rooftop, Naya mengangguk menyetujui “Iya, tadinya gue mau nyoba tapi pas nyium asepnya aja gue udah engap jadi batal deh” jawab pria itu kembali terkekeh mengingat bagaimana kejadian waktu itu.
Alex yang penasaran dengan rokok berniat untuk mencoba bersama beberapa teman kelasnya, tapi sayangnya belum juga ia menyalakan rokok ditangannya pria itu langsung batuk dan merasa sesak begitu menghirup kepulan asap rokok dari teman-temannya membuat pria itu langsung mengurungkan niat dan memilih pamit pergi meninggalkan teman-temannya.
Suasana makan siang kali ini terasa lebih menyenangkan karena mereka dapat dengan bebas tertawa dan bercanda tanpa takut mengganggu karyawan lain yang juga sedang menikmati makan siang mereka dengan tenang, maklum tawa Lia dan Naya ketika sudah menemukan hal yang sangat lucu akan menggelegar tanpa bisa ditahan membuat kedua gadis itu beberapa kali mendapat tatapan dari seluruh penghuni cafetaria karena tawanya itu. Terlebih mereka bisa membicarakan banyak hal tanpa takut orang lain akan mendengar karena kelima orang tersebut sering tak sengaja berceletuk tentang aib ataupun hal-hal memalukan yang pernah mereka alami.
Andre mengajak Erina pulang bersama karena kebetulan pria itu membawa mobil hari ini “Rin, pulang bareng gue aja yu, kebetulan gue bawa mobil” ajak pria itu membuat Erina langsung menoleh menatap Naya yang kini juga menatapnya entah kenapa merasa degdegan menunggu jawaban gadis itu “Enggak deh, gue udah janji mau pulang bareng Alex. Kalian duluan aja” ucap gadis itu membuat Naya mendesah lega dalam hatinya kemudian tersenyum menggumamkan kata terimakasih tanpa suara membuat Erina membalasnya dengan anggukan, Andre pun mengangguk mengerti “Ya udah kalau gitu kita duluan yah, yuk Nay” ajak pria itu membuat Naya bangkit dari duduknya “Duluan ya Rin” pamit gadis itu sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh Erina.
Alex sudah duduk menunggu Erina di lobi kantor begitu dirinya mendapat pesan dari Erina “Tumben lu minta pulang bareng sama gue?” tanya pria itu begitu mereka berjalan menuju tempat Alex memarkirkan mobilnya “Ah itu, tadi Andre ngajakin gue pulang bareng” ucap gadis itu. Keduanya memasuki mobil masih sambil melanjutkan pembicaraan “Lah kenapa gak bareng aja?” tanya pria itu semakin heran, Erina menarik nafasnya “Enggak ah, gak enak sama Naya gue” jawab Erina membuat Alex menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat “Tapi lo jangan bilang sama siapa-siapa yah, Naya tuh suka sama Andre makanya pas tadi Andre ngajakin gue pulang bareng sekalian karena dia kebetulan bawa mobil gue nolak terus bilang mau pulang bareng lo hehe” jelas Erina membuat Alex menganggukkan kepalanya mengerti.
Erina langsung memasukan kombinasi sandi untuk membuka pintu apartemennya, keduanya langsung masuk dan melangkah menuju ruang tengah. Erina sedikit terkejut melihat keadaan ruang tengah yang cukup berantakan dengan buku dan juga sosok sang adik yang tertidur diatas sofa dengan buku dipelukan gadis itu, sementara Alex justru tersenyum gemas menatap gadis dihadapannya itu. “Haduh sorry ya berantakan, lo duduk disitu aja Lex, gue mau mandi dulu” ucap Erina menunjuk sofa lain yang kosong dan berlalu pergi menuju kamarnya.
Alex tak langsung mendudukan diri, pria itu justru merapikan buku-buku yang berserakan dan meletakannya diatas meja. Pria itu kemudian mendudukan dirinya di sofa dan menatap wajah gadis yang kini tengah terlelap tak merasa terganggu sama sekali.
Arina membuka mata sambil meregangkan tubunya begitu ia terbangun dari tidur yang sangat lelap, gadis itu mengerjap masih belum sepenuhnya sadar ketika pandangannya menangkap sosok pria yang duduk disofa sambil menatap kearahnya. Sontak Arina langsung mendudukan diri dan mengucek matanya pelan untuk memastikan penglihatannya tak salah “Halo dek” sapa pria itu membuat Arina membuka matanya ketika mendengar suara yang sangat dikenalinya itu.
Alex tersenyum menatap wajah menggemaskan dihadapannya yang sepertinya masih belum benar-benar sadar itu “Cuci muka gih, biar seger” ucap dirinya tak tahan untuk tersenyum melihat wajah kebingungan Arina membuat gadis itu langsung beranjak dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
“Kakak ngapain kesini?” tanya Arina begitu dirinya selesai mencuci wajah dan kembali mendudukan diri diatas sofa “Diajak kakak kamu makan malam disini soalnya tadi kakak udah bantuin dia” jelas Alex membuat Arina mengangguk kemudian mengarahkan pandangannya pada buku-buku yang tadinya akan ia bereskan karena seingatnya buku-buku tersebut berantakan tak karuan.
Gadis itu membelalakan mata tak percaya begitu melihat buku-buku tersebut sudah tertumpuk rapih diatas meja “Loh ko udah diberesin” ucapnya heran kemudian mengarahkan pandangan kearah pria yang masih menatapnya itu “Jangan bilang kakak yang beresin?” tanya gadis itu curiga membuat Alex terkekeh “Iya, kakak yang beresin soalnya tadi tidur kamu nyenyak banget” jawab pria itu membuat Arina merasa tak enak “Aduh maaf ya kak, makasih juga udah diberesin” ucap gadis itu membuat Alex mengangguk “Iya sama-sama, kamu hutang sama kakak yah” balas pria itu enteng membuat Arina menghembuskan nafas kemudian mengangguk pasrah membuat Alex tak bisa menahan kekehannya merasa gemas dengan gadis dihadapannya itu.
Erina kembali ke ruang tengah berniat untuk membangunkan sang adik begitu dirinya selesai membersihkan diri dan berganti pakaian “Loh udah bangun ternyata” ucap gadis itu begitu mendapati sang adik yang kini tengah fokus memandang layar televisi.
Erina mengalihkan pandangannya kearah televisi yang menampilkan permainan balap mobil kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah Alex dan Arina yang kini terlihat sangat fokus memainkan permainan tersebut. Gadis itu menggelengkan kepala kemudian berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makanan.