LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
23



Tiga bulan berlalu sejak Erina memulai masa magangnya, kini gadis itu dapat bernafas lega karena program tersebut akhirnya telah berakhir. Erina menyalami seluruh staf dan manajer bagian keuangan bersama Naya dan Andre, ketiganya berpamitan setelah menyerahkan tugas terakhir dan membereskan semua barang mereka kemudian keluar menuju atap kantor. Erina meletakkan barangnya diatas meja kemudian berjalan menuju pagar pembatas rooftop menikmati pemandangan dari atas sana ditemani hembusan lembut angin yang menerpa wajah dan rambutnya.


Alex dan Lia datang beberapa menit kemudian dan langsung mendudukan diri dikursi bersama Andre dan Naya, Erina yang sejak tadi masih sibuk menikmati waktunya menoleh dan ikut mendudukan diri bersama keempat orang tersebut “Gak nyangka yah udah beres aja” ucap Lia menopang dagunya diatas meja “Iya, rasanya baru kemarin kita masuk kesini, gue bahkan masih inget rasa deg-degannya mau magang perusahaan segede ini. Sekarang malah gak percaya gue udah selesai magang” timpal Naya menyandarkan kepalanya dibahu Erina yang duduk disamping gadis itu.


“Iya bener, akhirnya selesai juga kita” Alex meregangkan tubuhnya merasa lega, “Habis ini jangan pada sombong yah, kita harus tetep komunikasi kalau bisa sering jalan bareng juga” tegas Lia membuat Erina tersenyum “Iya, gue setuju” ucap gadis itu akhirnya bersuara membuat semua orang disana mengangguk mengiyakan.


Kelima orang tersebut meninggalkan gedung perusahaan setelah bertemu dengan staff pembimbing dan berpamitan, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama sebelum benar-benar pulang. Alex bahkan sudah menyusun rencana sejak kemarin malam, pria itu meminta keempat temannya tersebut untuk tidak membawa kendaraan pribadi karena ia akan membawa mobil dan berencana untuk menghabiskan waktu bersama.


Tujuan pertama mereka tentu saja cafe tempat langganan mereka setiap kali nongkrong sepulang magang, kelima orang tersebut memesan menu kemudian kembali membicarakan pengalaman mereka selama magang “Gila akhirnya beres juga, rasanya lega banget sumpah” ucap Lia “Gue tiap ngerjain tugas udah deg-degan aja takut salah” lanjut gadis itu sambil terkekeh mengingat kelakuannya selama magang. Alex ikut tertawa menyetujui “Iya, gue awalnya ngira orang-orang divisi pada galak eh taunya pas udah akrab mereka receh banget” timpalnya membuat Lia mengangguk setuju.


“Gue sempet salah input data, untungnya gak dimarahin cuma diingetin doang terus disuruh perbaikin” ucap Andre ikut bercerita, Naya menatap pria itu “Makanya udah diingetin cek lagi kalau udah beres” timpal gadis itu merasa gemas “Iya, kan cuma sekali doang abis itu gak lagi gue takut kena omel” kekeh pria itu.


Erina hanya diam dan ikut tertawa ketika mendengar cerita teman-temannya itu, “Kalau Erina kerjanya datar-datar aja, lancar gak ada masalah” ucap Naya membuat yang lain ikut menatap gadis itu “Iya bener banget” Andre ikut menyetujui membuat Alex terkekeh ingin sekali berkata tapi gadis dihadapannya itu kini menatap memberi peringatan membuatnya mengurungkan niat tersebut.


Setelah mengisi perut dan puas bercerita kelima orang tersebut memilih untuk pergi ke taman hiburan untuk menghilangkan stress, mereka bahkan membawa baju ganti dengan pakaian santai agar lebih nyaman saat menaiki berbagai wahana. Saking antusaisnya mereka bahkan mencoba hampir semua wahana, benar-benar melepaskan stress setelah lelah magang selama tiga bulan terakhir.


Erina memasuki rumah diikuti keempat temannya disambut oleh sang adik yang ternyata sedang menikmati es krim di ruang tengah “Dek kakak pulang” ucap gadis itu membuat Arina menoleh kemudian langsung berdiri melihat empat orang tamu dihadapannya “Kenalin ini adik gue Arina, dek ini Andre, Lia dan Naya” jelas Erina membuat sang adik langsung menyalami ketiga orang yang baru dilihatnya itu “Loh gue enggak?” protes Alex “Halah lo udah sering ketemu juga” jawab Erina membuat pria itu hanya memberikan cengiran. “Ya ampun jadi ini adek lo, lucu banget sih gak percaya anak selucu ini udah mau masuk kuliah” ucap Naya sambil menangkup pipi Arina dengan tangannya “Iya bener dia keliatan masih kaya anak smp malah, gemesin banget” ucap Lia mengusap rambut adik Erina itu, membuat Arina hanya pasrah.


Kelima orang tersebut menikmati pizza di ruang tengah sementara Arina memilih masuk kedalam kamar tak ikut bergabung, “Adek lo kenapa gak gabung? Gue jadi gak enak nih takut ganggu” tanya Andre membuat Naya dan Lia mengangguk menyetujui “Iya takutnya dia gak nyaman ada kita” timpal Lia sementara Alex terlihat biasa saja tak mempermasalahkan. “Enggak ko, tenang aja dia lagi sibuk kan bentar lagi mau kuliah jadi sering kontakan sama temennya buat persiapan” jelas Erina membuat ketiga orang itu mengangguk faham “Dia jadinya kuliah dimana?” tanya Naya penasaran, “Dia sekampus sama gue, emang dari awal pengen kesana dan ternyata lolos” jawab Erina merasa senang “Duh lucu banget sih kalian, jadi pengen punya adek” keluh Naya yang merupakan anak bungsu dikeluarganya, “Gue punya adek tapi kerjaannya ribut mulu gak kaya Erina sama Arina adem banget” ucap Lia ikut merasa iri.


“Gue sama adek gue lumayan deket sih, ya walaupun gak kaya Erina” Andre ikut bercerita membuat Alex menoleh “Lah enak kalian ada sodara, gue anak tunggal rasanya sepi banget dirumah” keluh pria itu membuat keempat temannya memandang prihatin “Yang sabar ya Lex, nanti gue sering ke rumah lo deh biar lo gak kesepian” ucap Andre mencoba menghibur pria itu membuat mereka pecah dalam tawa melihat ekspresi Alex yang justru kesal. “Lo itu emang mukanya kaya bayi, jadi kalau ngambek malah jadi gemesin” ucap Erina yang disetujui oleh ketiga temannya “Muka bebelac badan L-Men” ledek Naya membuat tawa mereka kembali meledak.


Keempat orang itu memutuskan untuk pulang setelah malam semakin larut, Alex yang memang sejak awal sudah menyusun rencana kini bertanggung jawab untuk mengantarkan ketiga temannya itu pulang. Erina menutup pintu setelah mengantar keempat temannya sampai di lift, gadis itu menghela nafas merasa rumah kini kembali sepi.


Arina keluar dari kamar berniat untuk melangkah kedapur karena dirinya meras haus menghentikan langkahnya begitu melihat sang kakak yang sibuk merapikan ruang tengah, untungnya keempat temannya itu ikut membereskan kekacauan sebelum pulang sehingga Erina hanya perlu membereskan seidkit sisanya.


Gadis itu menoleh mendapati sang adik yang berdiri memandanginya “Loh kamu belum tidur?” tanya Erina membuat sang adik menggeleng “Aku haus mau ngambil minum dulu” jawab Arina. “Kerasa banget ya kak” keluh Arina memandang sang kakak yang kini telah menyelesaikan kegiatannya “Hm?” Erina berjalan menghampiri adiknya merasa tak mengerti “Tadi rumah ini rame banget, sekarang langsung sepi” lanjut sang adik membuat Erina tersenyum memeluk Arina karena gadis itu tak tau harus berkata apa. Erina tentu saja menyetujui ucapan sang adik karena memang faktanya seperti itu, tapi gadis itu tak ingin membuat Arina semakin sedih sehingga dirinya hanya bisa memberikan pelukan.