LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
3



Erina tak pernah merasa sebosan ini dihari libur, seharian ia hanya menghabiskan waktu didalam rumah berbaring ditemani bising dari televisi yang bahkan layarnya pun tak ia tatap. Gadis itu sibuk memeriksa ponsel, berharap ada jawaban dari sosok yang sudah beberapa hari ini sangat sibuk mengerjakan tugas akhirnya hingga tak ada waktu untuk bertemu dengannya.


Bukannya Erina tak pengertian, tapi ia bahkan tak keberatan jika harus menemani sang kekasih berdiam diri meskipun pria itu sibuk dengan tugas akhirnya. Namun hingga saat ini pesan yang Erina kirimkan sejak pagi bahkan belum dibaca oleh Leo, berkali-kali gadis itu menghembuskan nafas kasar karena bosan berada diruangan itu sendirian karena sang adik yang masih sibuk dengan sekolahnya.


Sebenarnya gadis itu bisa saja langsung datang ke rumah sang kekasih, tapi mamah Leo mengatakan kalau pria itu pergi dengan Satria sahabatnya untuk mengerjakan tugas akhir bersama dan Mamah tak tau kemana keduanya pergi.


Hingga sore hari gadis itu tak juga mendapatkan balasan, bahkan Arina sampai heran melihat wajah kakaknya yang murung ketika dirinya memasuki rumah. “Kakak kenapa? Mukanya murung banget” tanya gadis itu sambil menuang segelas air karena dirinya merasa haus, “Leo dari tadi gak ada kabar” keluh Erina dengan pipi yang ia tempelkan pada meja makan “Lagi sibuk kali kak, yaudah gak usah diganggu biar cepet beres” jawab Arina kemudian berlalu meninggalkan kakaknya dan masuk kedalam kamar.


Lagi-lagi Erina hanya bisa menghembuskan nafas kasar, tak mengerti bagaimana bisa Leo bahkan bisa mengabaikan gadis itu begitu saja bahkan tak meluangkan sedikitpun waktu untuk mengabarinya.


Bukannya bersikap posesif, tapi ini sudah lebih dari satu hari Leo bahkan tak memberi kabar kepada Erina yang tentu saja membuat gadis itu kepikiran. Untungnya masih ada mamah yang bisa Erina andalkan untuk mengetahui kabar sang kekasih meskipun kabar yang ia dapat seadanya saja.


Arina merasa makan malam kali ini sangat hening, berkali-kali gadis itu menatap sang kakak yang makan dengan tidak selera dan murung yang masih menghiasi wajahnya membuat gadis itu jadi merasa gemas sendiri “Udah dong kak, daripada galau gara-gara pria mending kakak mikirin buat magang dulu” ucap Arina memecah keheningan membuat sang kakak menatapnya “Kakak juga pengennya begitu dek, tapi ya gimana” jawab Erina dengan sendu “Nanti kamu yang cuci piring ya dek, gak banyak kok” lanjutnya membuat Arina hanya bisa pasrah “Iyaaa iyaaa”.


Setelah selesai makan, Erina langsung mengurung diri dikamar dan membaringkan diri dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar yang di cat menyerupai langit malam dipenuhi bintang. Pikiran gadis itu kini dipenuhi oleh banyak pertanyaan ‘Apakah ia terlalu berlebihan? Apakah ia bukan sosok pacar yang pengertian? Apakah ia terlalu posesif? Apakah harusnya Erina lebih bersabar? Leo pasti sangat stress mengerjakan tugas akhirnya saat ini, apakah Erina hanya akan menambahkan beban pikiran pria itu jika terus mengirimkan pesan kepadanya?’.


Perlahan Erina meletakan lengan kanannya menutupi mata, menarik nafas sedalam-dalamnya mencoba menenangkan diri agar ia merasa lebih baik. Erina sadar dirinya tak bisa terus memaksakan diri seperti itu, sebaiknya ia memberikan waktu untuk sang kekasih agar pria itu lebih fokus pada tugas akhirnya dan dirinya juga harus lebih fokus mempersiapkan diri untuk melaksanakan magang nanti.


Libur semester yang berlangsung cukup lama membuat Erina merasa sangat bosan, ia ingin sekali pergi keluar tapi akhirnya niat itu selalu batal karena gadis itu tak tau harus pergi kemana. Bahkan kedatangan sang adik ke rumah menjadi hal yang paling ia tunggu, padahal biasanya ia tak begitu memikirkan selama Arina pulang sebelum sore berakhir.


Gadis itu terus menatap layar ponsel menunggu balasan dari sang adik yang sejak tadi mengabarkan bahwa dirinya sudah ada diperjalanan menuju rumah, saking bosannya Erina terus mengganggu sang adik dengan mengirim banyak pesan padahal ia tau sang adik tengah sibuk belajar di tempat lesnya.


Erina sudah menyelesaikan masakannya sehingga tak ada lagi kegiatan yang bisa ia lakukan, bahkan gadis itu setiap hari rajin mengelap rak dan mengganti susunan pajangan di hampir seluruh ruangan saking banyaknya waktu yang ia miliki.


Akhir pekan ini Erina akan menghabiskannya bersama sang adik, akhirnya setelah sekian lama mereka memiliki waktu untuk pergi bersenang-senang bersama. tujuan utama adalah Mall, mereka telah merancang kegiatan apa saja yang akan dilakukan disana, mulai dari menonton film, ke toko buku, membeli beberapa barang yang mereka butuhkan dan tentu saja jangan lupakan makanan penutup dingin yang manis kesukaan Arina.


Keduanya langsung berjalan menuju bioskop begitu tiba di Mall, keduanya sudah memutuskan film yang akan mereka saksikan sehingga tak perlu waktu lama untuk memilih “Mau beli popcorn gak?” tanya Erina pada sang adik yang tengah sibuk memotret tiket filmnya untuk diposting di sosial media “Nanti aja lah, didalam juga biasanya suka ada yang nawarin” jawab Arina kemudian mengajak sang kakak untuk duduk sambil menunggu film yang akan diputar 15 menit lagi.


“Filmnya seru juga walaupun serem” ucap Arina begitu mereka selesai menonton film, keduanya memang memutuskan untuk menonton film horror karena Arina yang penasaran akibat menerima banyak pengaruh dari teman-temannya di sekolah yang sudah lebih dulu menyaksikan film tersebut tapi tidak mau memberikan spoiler dan menyuruh gadis itu menontonnya sendiri. “Kamu kan emang penakut dek, mau filmnya gak serem juga yang namanya film horror buat kamu serem semua” goda sang kakak membuat sang adik hanya bisa mengeluarkan cengirannya yang menggemaskan karena memang faktanya seperti itu.


Setelah menikmati film horror, keduanya kini memilih untuk memasuki toko buku dan berkeliling, langkah Arina tentu saja tertuju pada rak kategori novel sedangkan Erina mengelilingi toko mencari buku yang menarik untuk ia beli. Arina begitu bersemangat karena akhirnya ia bisa membeli banyak novel untuk ia baca ketika waktu luang meskipun hal itu untuk saat ini sangat sulit ia dapatkan, sementara Erina yang bingung ingin membeli apa berakhir di rak deretan buku resep masakan.


Keduanya sibuk memilih buku yang mereka sukai hingga 30 menit lamanya, setelah selesai membayar keduanya meninggalkan toko buku dan berniat untuk mencari tempat untuk makan siang.


Adik kakak tersebut kini tengah duduk menunggu pesana disalah satu restoran yang menyediakan makanan khas Korea, karena kecintaannya terhadap idol dan drama dari negeri ginseng itu Arina jadi ingin makan makanan yang dimakan oleh aktor kesukaannya dalam drama yang ia tonton. Erina tentu saja mengiyakan, toh dirinya juga bingung ingin makan apa jadi karena sang adik sudah memiliki pilihan apa yang akan ia santap sebagai makan siang.


Arina begitu senang ketika dirinya membolak-balikkan daging diatas panggangan, bahkan ia menolak ketika Erina ingin mengambil alih “Biar berasa kaya di drama Korea” ucapnya membuat Erina hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah adik kecilnya itu.


Melihat sang adik makan dengan begitu lahap membuat Erina tersenyum senang, ia selalu merasa khawatir ketika Arina terlalu sibuk dengan sekolah dan les nya meskipun itu keinginan sang adik sendiri karena takut adiknya itu tak makan dengan teratur dan berakhir jatuh sakit. Maka dari itu sebagai kakak yang siaga, ia selalu memasukan vitamin c kedalam tas Arina dan mengingatkan si bungsu untuk mengonsumsi vitamin tersebut satu kali sehari agar dirinya tak mudah apalagi cuaca saat ini suka tak menentu.


Selesai dengan santapan siang, keduanya memutuskan untuk pergi menuju super market karena ada beberapa bahan makanan yang sudah habis dan untungnya Erina ingat sebelum mereka memutuskan untuk pulang.


Keduanya melangkah memasuki super market, Erina yang langsung mengambil troli dan pergi menuju bagian bahan makanan sementara Arina tentu saja mengambil keranjang kemudian berjalan riang menuju tempat kesukaannya. Gadis itu tak bisa menahan senyum ketika melihat deretan es krim yang tersusun rapih dihadapnnya, membuat Arina bingung harus mengambil yang mana karena semuanya terlihat menggoda dimata gadis mungil itu. Setelah mengisi keranjangnya hingga hampir penuh Arina langsung mencari keberadaan sang kakak yang untungnya juga telah selesai memilih bahan yang ia butuhkan “Banyak banget kamu ngambilnya” tegur Erina membuat Arina tentu saja langsung mengeluarkan cengirannya “Buat persediaan kak, kan dirumah es krimnya udah abis” keluh Arina membuat sang kakak tak bisa melarang lagi karena meihat ekspresi memelas gadis itu yang terlihat menyedihkan sekaligus gemas.