
Jam makan siang kali ini Erina dan Naya memilih menikmatinya di cafetaria perusahaan, karena pekerjaan yang masih lumayan banyak untuk diselesaikan mereka memilih untuk makan siang di kantor daripada keluar karena mengingat waktu yang dibutuhkan. Keduanya duduk bersama rekan kerja yang lain sambil menikmati hidangan masing-masing diselingi obrolan serta canda tawa yang menghangatkan suasana.
“Eh eh liat deh” ucap salah satu rekan kerja mereka ketika satu sosok memasuki cafetaria dengan seorang perempuan disampingnya, membuat tak hanya mereka yang berada di meja yang sama dengan Erina dan Naya yang menoleh tapi seisi cafetaria kini sama-sama menoleh memusatkan pandangan mereka kearah yang sama.
“Gue denger pak bos emang udah punya pacar, pas bapaknya masih menjabat dulu beliau bilang kalau anaknya itu udah ada yang punya” ucap rekan kerja tersebut membuat Erina hanya bisa menunduk terdiam memainkan makanan dengan sendok digenggamannya sementara Naya memilih tersenyum canggung. “Iya gue juga taunya dia udah punya pacar tapi gak pernah keliatan siapa ceweknya, ternyata itu ya cantik juga cocok lah sama pak bos yang ganteng” sahut rekan kerja mereka yang lain, pembicaraan mengenai bos mereka terus berlanjut sampai makan siang selesai. Erina hanya diam tak ikut menanggapi dan memilih menghabiskan makanannya dengan cepat, dadanya terasa sesak dan kini dirinya harus berusaha keras menahan air mata yang entah kenapa ingin segera keluar.
Naya mengikuti Erina yang pamit ke kamar mandi setelah jam makan siang berakhir, gadis itu tau perasaan gadis itu sedang tak baik. “Rin” panggil Naya ketika Erina berdiri menghadap cermin kemudian menyalakan wastafel dan mencuci wajahnya yang sudah terlihat memerah, Erina menoleh menatap Naya yang kini merentangkan tangannya dan tanpa pikir panjang dirinya menyambut pelukan tersebut. Untungnya keadaan kamar mandi sedang sepi, hanya ada mereka berdua disana. Erina menangis dipelukan Naya, sementara Naya hanya bisa menepuk-nepuk punggung Erina memberi kekuatan.
Beberapa menit kemudian keduanya kembali menuju ruang kerja, setelah puas menumpahkan kesedihannya Erina langsung mencuci wajah dan memperbaiki penampilannya begitu juga Naya.
Keduanya baru saja mendudukkan diri di kursi kerja mereka begitu ketua divisi keluar dari ruangannya dan menghampiri Erina “Rin, tolong kasih ini ke pak bos yah. Ini hasil rapat kita kemarin sama jadwal rapat sama beliau yang udah kita sepakatin, kalau beliau gak bisa di tanggal itu kamu diskusiin lagi sama sekertarisnya. Saya buru-buru ada urusan, pak bos minta kamu yang anter maaf banget ya Rin” ucap ketua divisinya kemudian pergi berlalu meninggalkan Erina yang bahkan tak sempat menjawab ucapannya.
“Mau sama gue aja?” tawar Naya tak tega jika temannya yang baru selesai menangis itu harus menemui pria yang menjadi alasan air matanya keluar, Erina menggelengkan kepalanya lemah “Gak usah, pak bos minta gue yang dateng dan gue gak mau malah jadi masalah nantinya. Biar gue aja, gue gak apa-apa kok tenang aja” tolak Erina kemudian dirinya beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan atasannya tersebut.
Langkah Erina terasa semakin berat, dapat Erina lihat sekertaris atasannya itu tengah duduk di meja kerjanya kini tersenyum menatap Erina “Pak bos ada?” tanya gadis itu menunjuk ruangan atasan dengan wajahnya “Ada, masuk aja tapi pak bos lagi ada tamu” jawab sekertaris bosnya itu yang diangguki Erina “Iya” ucapnya kemudian mengetuk pintu ruangan dihadapannya. Sebuah sahutan langsung membuat Erina membuka pintu tersebut tanpa pikir panjang, semakin cepat gadis itu menyerahkan laporan ditangannya maka semakin cepat pula dirinya bisa pergi meninggalkan ruangan atasannya tersebut.
Leo kemudian membuka ponselnya mengecek sesuatu kemudian menoleh kearah Erina “Tanggal ini saya gak bisa karena saya sudah ada jadwal lain, biar saya periksa dulu tanggal yang lain” ucap Leo membuat Erina hanya mengangguk patuh.
“Gila pertama kalinya aku liat kamu kerja kaya gini, keren juga cocok kamu jadi bos” sebuah suara memecah keheningan diantara Leo dan Erina membuat pria itu terkekeh menatap perempuan yang terduduk di sofa tersebut kemudian beralih menatap Erina yang kini benar-benar merasa sangat malas berada diantara dua manusia tersebut. “Ini sudah saya tulis tanggal kosong yang saya miliki, kalian diskusikan lagi kapan kalian bisa dan segera kabari saya secepatnya” ucap Leo menyerahkan selembar kertas yang tadi ia gunakan untuk menulis, Erina langsung meraih kertas tersebut dan beranjak dari tempat duduknya “Baik pak, kalau begitu saya permisi” ucap gadis itu kemudian bergegas meninggalkan ruangan atasannya itu.
Erina mendesah berat begitu dirinya menyandarkan diri pada kursi kerjanya, Naya yang melihat hal tersebut langsung menoleh mendekati temannya itu “Gimana? Dia masih ada?” bisik Naya tak ingin didengar oleh orang lain diruangan tersebut, Erina mengangguk sebagai jawaban “Manggilnya aku kamu, kayanya mereka emang lagi deket” jawab Erina terkekeh hambar memandang kosong layar komputer dihadapannya. “Terus buat apa so soan mau ngeyakini perasaan buat gue, gak jelas” keluh gadis itu lagi membuat Naya menepuk pundaknya pelan “Gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo” ucap gadis itu membuat Erina menoleh dan tersenyum “Thanks” ucapnya.
Alex sudah siap dengan mobilnya didepan perusahaan tempat Erina bekerja, pria itu diminta menjemput calon kakak iparnya itu -kalau jadi- entah kenapa tapi tentu saja Alex mengiyakan sekalian setelah ini pria itu akan langsung menuju kampus untuk menjemput Arina yang masih berada disana karena kegiatan organisasinya. Pria itu sedikit melebarkan mata melihat Leo yang keluar dengan seorang perempuan disebelahnya, menyadari ada sosok yang dikenalinya Leo langsung berjalan menghampiri Alex yang masih menunggu Erina keluar “Bang, apa kabar?” ucap pria itu menjabat tangan Leo yang kini berdiri dihadapannya “Baik, lo sendiri ngapain kesini?” jawab Leo balik bertanyan kepada Alex “Gantiin tugas lo, oh iya ini siapa? Cewek baru?” tanya Alex penasaran dengan sosok yang sejak tadi diam memperhatikan kedua pria tersebut berbincang. Leo sempat terdiam mendengar jawaban adik tingkatnya semasa kuliah dulu itu, namun segera beralih menoleh kepada perempuan yang sejak tadi bersamanya itu “Oh iya, kenalin ini Laura temen gue waktu kuliah di luar negeri kemarin” jawab Leo memperkenalkan perempuan disebelahnya yang diketahui bernama Laura tersebut, “Ra ini Alex, adik tingkat aku dulu” lanjut Leo membuat Alex mengulurkan tangan berkenalan dengan Laura yang membalasnya sambil tersenyum canggung.
“Gue duluan ya” ucap Leo yang diangguki Alex kemudian keduanya beranjak meninggalkan pria yang masih menunggu Erina, beberapa menit setelah kepergian Leo gadis yang ditunggunya itu akhirnya tiba “Hmm iya iya faham gue faham, dah ayo masuk” ucap pria itu tak banyak bertanya karena sudah mengerti kenapa Erina tiba-tiba meminta dirinya menjemput, Erina juga tak banyak berkata dan langsung masuk kedalam mobil.
Erina langsung menyandarkan tubuhnya begitu mendudukan diri didalam mobil, hembusan nafas kasar terdengar membuat Alex menoleh “Gue tau lo lagi gak baik-baik aja, jadi gue gak akan nanya” ucap pria itu membuat Erina terkekeh miris “Gue lemah banget ya Lex, cengeng banget gue” keluh Erina masih memandang kosong kearah depan sementara Alex kini mulai menyalakan mesin mobilnya “Gak apa-apa, jangan ditahan mending lo keluarin aja” ucap Alex membuat Erina tanpa aba-aba langsung mengeluarkan air matanya.
Suasana hening menyelimuti mobil, hanya suara musik dari radio dan isak tangis Erina yang sesekali terdengar menemani keheningan mereka. Alex tak banyak bicara, membiarkan temannya itu mengeluarkan segala kesedihannya dan fokus mengendari kendaraan beroda empat miliknya. “Namanya Laura” ucap Alex membuat Erina mengalihkan pandangan menghadap pria itu “Tadi pas nungguin lo keluar gue ketemu sama mereka, bang Leo bilang dia temen pas kuliahnya di luar negri” jelas pria itu membuat Erina kembali terdiam menatap kedepan entah apa yang ada didalam pikiran gadis itu.