LOVE IS Not OVER

LOVE IS Not OVER
5



Erina tengah duduk di bangku taman depan fakultasnya dengan cemas, sejak tadi gadis itu terus menggerakkan kakinya gusar. Bagaimana tidak? Erina sedang menunggu sang kekasih yang kini sedang menjalani sidang skripsinya, meskipun Erina yakin kekasihnya itu akan melakukannya dengan baik tetap saja rasa cemas dan degdegan justru tak bisa hilang dalam dirinya.


Berkali-kali Erina melirik jam ditangannya merasa tak sabar, entah mengapa saat ini waktu berjalan begitu lamban membuatnya merasa gemas sendiri. Mata gadis itu juga tak henti menatap ruangan tempat Leo melaksanakan sidangnya, gadis itu terus menerus memanjatkan do’a dalam hati berharap yang terbaik untuk sang kekasih.


“Tegang banget sih Rin, yang sidang si Leo juga” ucap sosok pria yang baru saja menghampirinya dengan sebuket bunga “Santai aja, Leo pasti bisa” lanjutnya mencoba menenangkan tapi hanya dibalas senyuman yang dipaksakan oleh gadis itu


“Gak bisa kak, tetep degdegan. Kakak waktu itu sidangnya gimana?” jawab Erina ketika pria itu duduk disebelahnya “Ya gitu, degdegan tapi semuanya berjalan lancar” jawab pria itu “Kita ngapain bawa bunga sih, udah tau Leo gak suka” sambungnya sambil terkekeh mengingat bagaimana pria yang tengah berada didalam ruangan sidang itu mengingatkan keduanya untuk tak membawakannya bunga karena pria itu tak suka.


Erina ikut terkekeh mengingatnya “Gak apa-apa kak, pasti akhirnya nanti seneng juga dia” jawab gadis itu yang diangguki si pria.


Leo memang tak suka perayaan yang berlebihan, walaupun pria itu tetap saja akan mendapatkannya karena bagaimanapun pria itu tau kedua orang tuanya kini tengah menyiapkan pesta penyambutan untuknya dirumah.


Leo keluar dari ruang sidang dengan wajah lesu “Gimana kak?” tanya Erina begitu dirinya tiba dihadapan kekasihnya itu “Pusing tapi sekarang udah lega sih” jawabnya kemudian menghembuskan nafas lega. Erina mengusap bahu kekasihnya lembut mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk pria yang akhirnya telah menyelesaikan ujian sidangnya itu, “Yudisiumnya kapan bro?” tanya pria yang sejak tadi berada disebelah Erina “Nanti jam 3, masih ada yang sidang soalnya” jawabnya “Yaudah masih lumayan lama, makan siang dulu lah yuk” ajaknya yang diangguki Leo, Erina hanya mengikuti saja karena dirinya kemari untuk Leo.


Ketiganya duduk menikmati makanan di kantin fakultas, suasana cukup sepi karena sekarang masih libur semester, hanya ada beberapa mahasiswa yang mengikuti UKM, organisasi dan semester pendek saja yang berkeliaran dikampus. “Thanks ya Sat, udah mau dateng” ucap Leo kepada pria yang juga datang untuk menghadiri sidangnya bersama Erina, “Santai aja, lo juga dateng pas gue sidang masa gue enggak” ucapnya pada Leo.


Satria adalah sahabat Leo sejak SMP, kedunya pertama bertemu di kelas 9 dan entah kebetulan atau memang takdir keduanya disatukan kembali ketika memasuki SMA hingga akhirnya persahabatan itu semakin kuat begitu keduanya diterima di universitas yang sama meskipun dengan jurusan yang berbeda.


Satria memilih jurusan manajemen perhotelan sebagai jurusan yang akan ia masuki karena dirinya akan melanjutkan bisnis keluarganya yang juga bergerak dibidang perhotelan, begitupula Leo yang memilih manajemen bisnis sebagai jurusan yang ia ambil karena setelah ini pria itu akan melanjutkan kepemimpinan sang ayah di perusahaan keluarga mereka.


“Kamu udah tau mau magang dimana?” tanya Satria begitu ingat kalau gadis disampingnya itu sebentar lagi akan melaksanakan magang “Udah, aku udah lolos seleksi juga, ternyata banyak banget yang daftar kesana” ucap Erina merasa lega “Bagus dong, kamu berhasil lolos. Jadi magangnya dimana?” tanya Satria lagi merasa penasaran “Di perusahaan papahnya Leo hehe” kekeh Erina membuat Satria kaget “Wah pasti pake orang dalam nih makanya lolos” ledek pria itu sambil terkekeh “Ih enggak tau, aku usaha sendiri. Aku aja baru ngasih tau mereka begitu aku keterima” bela Erina merasa tak terima.


Dirinya memang berusaha sendiri sama seperti calon peserta magang yang lain, ia tentu saja tak mau mendapat keuntungan dengan meminta bantuan dari ayah Leo karena itu rasanya tidak adil untuk pelamar yang lain.


Keduanya asik berbincang hingga tak sadar pintu ruangan yudisium sudah terbuka, suasana diluar ruangan juga sudah sangat ramai oleh orang-orang yang akan menyambut mahasiswa yang melaksanakan Yudisium bersama Leo. Satu persatu mahasiswa keluar dengan wajah yang lesu bahkan hingga menangis begitu menemukan teman dan pacar yang hadir untuk mereka, sementara Leo keluar paling akhir setelah dirinya berbincang dengan tim dosen penguji dan berjalan dengan tenang menghampiri Erina serta Satria yang sudah menunggu sejak tadi.


Erina langsung berhambur ke pelukan kekasihnya sambil menangis membuat Leo dan Satria saling berpandangan heran “Kamu kenapa hey?” ucap pria itu sambil meraih wajah sang kekasih yang kini sudah penuh dengan air mata “Huhuhuuu gatau aku dari tadi degdegan terus ngeliat yang lain pada keluar terus nangis aku jadi ikutan terharu” jawab Erina disela tangisan membuat Satria dan Leo hanya terkekeh “Padahal aku belum kasih tau lulus apa enggak nya” ucap Leo lagi sambil mengusap lembut kepala Erina yang sudah kembali tenggelam di bahu pria itu “Kakak kan pinter pake banget, jadi udah pasti lulus” ucap gadis itu sambil terisak “Iya juga sih” kekeh Leo, “Itu kayanya kalimat gue deh” ucap Satria yang sejak tadi hanya menyaksikan “Pinjem dulu kak” jawab Erina yang masih betah berada dipelukan Leo membuat kedua pria itu tertawa gemas.


Ketiganya berpisah di parkiran karena Satria membawa kendaraannya sendiri, tapi ia tentu saja akan datang ke rumah Leo untuk merayakan keberhasilan sahabatnya itu. Satria sudah lebih dulu melaksanakan sidangnya beberapa hari yang lalu, tapi pria itu belum melakukan perayaan apapun.


Sesampainya di kediaman Leo, pria itu dan kekasihnya ternyata sudah lebih dulu sampai dan menunggunya di teras “Ceilaaah manis banget pake nungguin segala” goda pria yang kini tengah melangkah menghampiri mereka “Buat mastiin kalau lo gak kabur” balas Leo malas membuat Satria terkekeh.


Ketiganya memasuki rumah bersama dan betapa kagetnya Satria ketika membaca tulisan yang terpajang di dinding ruang tamu rumah Leo, ucapan selamat tak hanya untuk Leo tapi untuk dirinya juga. Tak hanya itu, sang adik juga ada disana walaupun ayahnya tak bisa hadir karena tentu saja pria itu tau jika beliau sangat sibuk. Satria merasa terharu tentu saja, meskipun ia memang sudah diterima menjadi bagian dari keluarga Leo tapi dirinya tak menyangka bahwa mereka akan menyiapkan acara kejutan ini untuk dirinya juga. “Aku lulusnya udah dari kapan baru dirayainnya sekarang” keluh Satria bercanda, “Yaampun kak beda berapa hari doang, biar sekalian gak usah pundung” jawab sang adik membuat Satria dan seluruh orang yang ada disana tertawa.


Bukan hanya Satria yang kaget karena mendapat kejutan, Leo tak kalah kagetnya ketika melihat sosok sang kakak yang sudah lama tak ia lihat berada disana ikut memberikan kejutan untuknya “Kak Alana kapan pulang? Ko gak ngabarin?” ucapnya memeluk sang kakak melepaskan rindu, Alana hanya bisa tersenyum menyambut pelukan sang adik dengan senang hati “Sengaja dong kan kejutan” jawab Alana ikut menyalurkan rasa rindu untuk adik tercintanya itu. “Eh Erina ya ampun kamu apa kabar, kakak kangen banget sama kamu” ucap gadis itu heboh ketika dirinya melihat Erina berdiri dibelakang sang adik, bahkan Alana melepaskan pelukan keduanya membuat Leo memutar mata melihat kelakuan sang kakak.


Kedua gadis kesayangan Leo itu berpelukan melepas rindu hingga sang mamah menginteruspi kegiatan mereka “Udah ayo kita makan dulu kasian ini yang baru dateng pasti udah pada lapar” ajak mamah “Duh tante emang pengertian banget, tau aja Satria udah lapar” jawab Satria dengan muka memelas “Jijik Sat” balas Leo melihat tingkah sahabatnya itu. Mereka pun berjalan menuju ruang makan yang sudah tersedia banyak masakan kesukaan Leo dan Satria sebagai bentuk perayaan karena dua pria itu telah berhasil melewati sidangnya dengan baik dan tentu saja keduanya telah dinyatakan lulus.