
Setelah enam hari Ethan dan Lily dirawat di rumah sakit, akhirnya mereka diperbolehkan pulang.Selama di rumah sakit,Bi Darsih dan Ethan bergantian menjaga Lily.Ethan sendiri sudah bisa dipulangkan, setelah tiga hari dirawat dan gips dilehernya dilepas, namun dia meminta izin pada dokter untuk dirawat lebih lama, karena ingin menjaga Lily.Ethan juga meminta tolong Dokter untuk berbohong pada Deni, jika dia masih membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Sementara selama Lily dirawat, Adam tak pernah sekalipun menelponnya.Dia juga sudah menduga hal itu dan tak ingin berharap banyak, agar tidak kecewa.Ethan pun selalu berusaha menghibur Lily, agar ia tidak tertekan dan bisa segera sembuh.
Seperti penjelasan dokter pada Ethan, Lily bukan hanya positif DBD, dia juga mengalami depresi ringan yang menyebabkan asam lambungnya naik dan daya tahan tubuhnya menurun.Entah apa sebabnya, namun Ethan terus mengawasinya dan sebisa mungkin membuatnya tersenyum.
Hari ini mereka sudah bisa pulang.Lily sudah dinyatakan sembuh, meski masih terlihat pucat.Ethan pun menawarinya untuk pulang bersama dan Lily menyetujuinya.Lily dan Ethan sudah berada di depan pintu masuk rumah sakit.Mereka menunggu mobil yang akan menjemput mereka, karena Ethan belum bisa membawa kendaraan sendiri.Tangan kanannya masih perlu di gips akibat retak.
Sebuah mobil BMW hitam berhenti tepat di depan mereka.Dengan cepat Ethan membukakan pintu mobil untuk Lily, disusul dirinya yang duduk bersama Lily di kursi belakang penumpang.
Begitu sang sopir selesai memasukkan barang mereka ke bagasi, ia segera masuk ke mobil dan melaju meninggalkan rumah sakit.
...****************...
Sepanjang perjalanan, Lily tak berbicara sepatah katapun.Dia menikmati pemandangan diluar, dari balik kaca mobil.Ethan pun memberi perintah pada sopirnya untuk menurunkan kaca yang berada disisi Lily.
Seketika, hembusan angin dari luar masuk ke dalam mobil, membuat perasaan Lily sedikit lebih tenang.Dia memejamkan matanya, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyentuh wajahnya.Sementara Ethan duduk bersandar dan menatap ke arah Lily yang memunggunginya.
Setibanya di depan rumah Lily, Ethan dan sopirnya membantu menurunkan barang-barang Lily dari dalam bagasi dan meletakkannya di teras rumah.
"Terima kasih banyak atas bantuannya selama beberapa hari ini.Aku sangat berhutang budi padamu", ucap Lily seraya tersenyum kecil pada Ethan.
"Tidak apa-apa.Semuanya serba kebetulan, jadi tidak perlu merasa terbebani"
"Kapan pun kamu butuh bantuan, jangan sungkan meminta tolong padaku", ucap Lily
Ethan hanya tersenyum,"aku akan pegang janjimu"
Ethan pamit permisi, lalu masuk ke dalam mobilnya, "Pak, kita langsung ke Hotel"
"Baik pak"
Mereka pun meninggalkan Lily yang masih berdiri ditempatnya.
...****************...
Lily berjalan masuk kedalam rumahnya dengan lesu, setelah mobil Ethan berlalu pergi dan tak tampak lagi.Walaupun telah keluar dari rumah sakit, namun dokter menyarankannya untuk tetap beristirahat di rumah.Dia merebahkan tubuhnya ke kasur, begitu masuk ke dalam kamar.Bi Darsih yang membantu membawakan barang-barangnya ke kamar.
"Bi, tolong jangan bangunkan aku hingga waktunya makan malam.Siapapun yang datang, bilang aku sedang keluar", pinta Lily pada Bi Darsih
"Iya bu", jawabnya
"Tolong masak bubur saja untuk makan malam ya bi"
"Baik bu", Bi Darsih lalu keluar dari kamar Lily dan membiarkannya istirahat.
...****************...
Malamnya, Lily terbangun saat handphonenya tiba-tiba berdering.Dia melirik ke layar handphonenya dan melihat nama Adam tertera disana.
"Halo", sapa Lily lemas
"Halo.....kamu sakit?", Adam langsung menanyakan keadaan Lily begitu mendengar suaranya yang parau.
"Ahh...aku baru saja bangun"
"Tapi kamu tidak apa-apakan?"
"Kamu sudah makan?"
"Belum, aku akan turun usai berbicara denganmu"
"Maaf,aku baru bisa menghubungimu.Kalau begitu, segeralah makan!Aku juga akan kembali bekerja.I Miss you.."
"Ya"
Lily segera menutup telponnya, seolah tak merindukan suara itu dan melempar handphonenya ke tepi ranjang.Diam-diam dia menangis di dalam kamarnya yang sepi.Akhirnya dia melepaskan kesedihan yang berusaha dia tahan selama ia di rumah sakit.
Setelah puas menangis, Lily keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah pianonya.Ia membuka penutup tuts piano dan mulai memainkan instrumen karya Beethoven, Symphoni No.5, untuk menghibur perasaannya yang sangat sedih saat ini.
Namun begitu Lily mulai memainkannya, dia kembali teringat pertengkarannya dengan Adam terakhir kali.Kegundahan hatinya kembali berkecamuk seiring melodi yang terus ia mainkan.Lily tak henti bertanya dalam hati, mengapa Adam berubah sejauh itu?Dan kemana Adam yang dia kenal selama ini?Lily pun semakin mempercepat tempo permainannya.
Belum usai ia memikirkan perubahan sikap Adam,Lily kembali teringat pertemuannya dengan ibu Adam.Hatinya semakin hancur mengingat ucapan yang dilontarkan Ibu Adam padanya.
Instrumen yang dimainkannya seakan mewakili segala yang dirasakannya saat ini.Suara Adam dan ibunya seolah saling sahut menyahut ditelinga Lily, membentak dan menghardiknya.Derita yang baru berapa bulan ini dirasakannya, seolah sudah menimpanya sejak lama.
Air matanya pun tak berhenti menetes diatas tuts pianonya.Dia sangat butuh hiburan dan dukungan dari orang yang dia sayangi, namun justru merekalah yang menorehkan luka dihatinya.
Semakin lama, permainan piano Lily semakin menenggelamkannya ke dalam lamunan.Hingga Lily sampai pada nada yang terakhir.Jari-jemarinya berhenti bergerak.Ia tertunduk dan menangis sejadi-jadinya.
Bahkan Bi Darsih yang sedang menaiki tangga, ikut menangis, seolah merasakan kesedihan Lily.Bi Darsih kemudian turun dan membiarkan Lily menyembuhkan luka batinnya sendiri.
...****************...
Usai rapat dadakan yang diadakan Ethan,para karyawan pun bubar.Hanya tertinggal dia dan Deni di dalam ruang rapat.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama sebelum pulang ke rumah?", tanya Deni pada Ethan
Ethan melirik jam tangannya,masih pukul lima sore,"Masih harus menunggu dua jam untuk makan malam.Kita makan sekarang saja, agar aku bisa cepat pulang dan istirahat"
"Terserah kau saja!Aku hanya mengikut"
Setelah sepakat,akhirnya mereka berdua turun ke restoran Hotel.Usai makan, Ethan lebih dulu pamit.Dia meminta sopir untuk mengantarnya pulang
Sesampainya dirumah, Ethan segera membersihkan diri.Dia hanya mampu mengelap tubuhnya yang bisa dijangkau tangan kirinya dan hal itu sungguh membuatnya kesal.Setelah butuh waktu lama bergelut dengan pakaiannya, akhirnya Ethan bisa memakai bajunya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Ethan memasuki ruang kerjanya dan memeriksa beberapa dokumen melalui laptopnya.Tiba-tiba alunan musik piano terdengar lagi dari arah rumah Lily.Ethan menarik tirai, lalu membuka jendela dan memandangi punggung Lily yang sedang memainkan piano.
Ethan seolah bisa merasakan kesedihannya, saat Lily memainkan instrumen Symphoni No.5 karya Beethoven.Ia jadi semakin penasaran, apa sebenarnya yang terjadi pada Lily?
Mendengar permainan pianonya yang sedih, Ethan seakan ingin berlari kearah Lily dan memeluknya untuk memberinya kekuatan.Dia ingin sekali menanyakan segala hal yang mengganggu pikiran wanita itu.Namun Ethan sadar, dia tak berhak atas itu semua.Ethan hanya bisa ikut merasakan kesedihan yang tampak dari sorot matanya yang sendu.
Ethan sangat rindu ingin melihat senyuman Lily, seperti saat pertama kali mereka bertemu.Senyum itu kini menghilang, tergantikan oleh senyum palsu yang dipaksakan oleh Lily.
Tanpa terasa, air mata Ethan jatuh begitu saja.Hatinya merasakan sakit yang tak tertahankan.Dia menangis sambil memegangi dadanya.
'Apa yang terjadi?Kenapa rasanya sangat sakit?Kenapa seakan aku bisa merasakan rasa sakit hatinya?Kenapa?Dia sudah membuatku gila!', pertanyaan-pertanyaan itu bergejolak dalam hati Ethan
Tiba-tiba Lily berhenti memainkan pianonya.Ethan melihatnya tertunduk, seolah sedang menangis.Ethan pun semakin merasakan sakit yang teramat dalam.Dadanya terasa semakin sesak,seakan ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.
Ethan pergi meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan gontai ke kamarnya.Dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu dan duduk terkulai di lantai, seraya memegangi dadanya.Ethan terus saja menangis tanpa sebab.
'Apa yang sebenarnya terjadi padaku?',tanya Ethan dalam hati sambil terus menangis tanpa sebab.Ia tidak beranjak dari tempatnya duduk.Ia bahkan berbaring dilantai dengan mata sembab, sembari menatap langit-langit kamarnya.