
Seminggu berlalu setelah keberangkatan Adam ke Tiongkok.Adam menepati janjinya,dia memberi kabar pada Lily sekali sehari.
Namun kondisi Lily tidak membaik setelah kejadian malam itu.Wajahnya terlihat agak kurus dan pucat.Setiap malam, dia merasa demam dan menggigil, namun demamnya turun saat pagi hari.Bi Darsih terus mengingatkannya untuk makan, namun tiap kali dia makan, Lily langsung memuntahkannya.
Pagi itu, telpon Lily tiba-tiba berdering, saat dia sedang menikmati teh hangat buatan Bi Darsih.Sebuah panggilan masuk, yang ternyata dari Ibu Adam.Lily pun segera menjawab panggilan telepon dari Ibu mertuanya itu.
"Halo, pagi Bu",sapa Lily
"Pagi Lily.Apa kamu punya waktu siang ini?Ibu ingin makan siang denganmu sambil mengobrol"
"Ada bu.Ibu kirimkan saja alamat restorannya, aku akan kesana"
Lily menutup telponnya dan memeriksa pesan dari ibu mertuanya yang baru saja masuk.Dia segera bersiap-siap,setelah mengetahui alamat yang akan dia tuju.
Saat di depan cermin, Lily terkejut melihat wajahnya dipenuhi bintik merah.Ia lalu melihat kedua tangannya, semuanya dipenuhi ruam merah.Namun Lily mengacuhkannya dan segera berdandan.Dia menutupi wajah pucat berbintiknya dengan make up, agar Ibu Adam tak khawatir padanya.Setelah siap, Lily menyuruh sopir untuk mengantarnya.Ia tak sanggup mengemudikan mobil sendiri di tengah kondisinya saat ini.
Setibanya di restoran, Lily langsung menuju ke private room usai menanyakan keberadaan ibu mertuanya pada pelayan restoran.Begitu membuka pintu, Ibu Adam segera mempersilahkan Lily masuk.Makanan pun sudah dihidangkan diatas meja, begitu dia masuk.
"Bagaimana kalau kita makan dulu", ucap Ibu Adam
Tanpa menolak, Lily mengambil beberapa lauk dan makan bersama mertuanya.Rasanya dia ingin muntah, namun Lily berusaha untuk menahannya dan menelan paksa makanannya.Setelah selesai makan, mereka berdua terdiam sejenak.
"Sebenarnya,ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu",akhirnya Ibu Adam menyampaikan maksudnya memanggil Lily
"Ibu berusaha sabar dan menahan ini sejak lama.Tapi Ibu khawatir karena sudah lebih dari tiga tahun kalian menikah dan belum ada kabar baik dari kalian"
Seketika Lily paham maksud Ibu Adam, "Bukannya kami tidak mau Bu, kami hanya menunda sampai pekerjaan Adam bisa stabil"
"Sampai kapan?Umur kamu sudah tidak muda lagi.Harusnya kamu bisa membujuk suamimu agar segera menghamilimu.Toh kamu juga tidak bekerja, jadi punya banyak waktu untuk mengurus anak.Untuk apa kalian menikah jika tidak mau memiliki anak?!"
Lily terdiam.Dia merasa terpojok dengan kata-kata mertuanya.
"Kamu tahu sendiri, Ayah Adam memperlakukan dia berbeda.Setidaknya dia bisa luluh, jika kalian segera memberinya cucu.Apalagi jika cucu laki-laki.Harusnya kamu paham itu!Masa hal seperti ini saja mesti ibu yang turun tangan, baru kamu mengerti!", Ibu Adam tak memberi Lily kesempatan untuk beralasan.
"Pokoknya sepulang dari Tiongkok, kamu dan Adam sudah harus sepakat untuk segera memiliki anak.Ini demi kebaikan kalian bersama.Sebelum umur kamu lewat!", ucap Ibu Adam dengan tegas.
Lily hanya mengangguk dan tidak mengatakan sepatah katapun.Setelah menyampaikan maksudnya pada Lily, Ibu Adam pamit lebih dulu, sementara Lily masih duduk di tempatnya.
Lily yang sedari tadi mencoba mengatur nafasnya, tiba-tiba merasa sesak.Tubuhnya gemetar dan keringatnya bercucuran.Rasanya dia ingin memuntahkan semua makanan yang dimakannya.Ia berusaha berdiri dan berjalan keluar ruangan, namun kepalanya terasa berat dan penglihatannya perlahan mengabur.Belum sempat mencapai pintu keluar restoran, tubuh Lily sudah ambruk lebih dulu ke lantai.
...****************...
Deni dan Ethan sedang meninjau lokasi pembangunan wahana dan taman bermain di Bogor.Sebagian villanya sudah dalam tahap finishing.Beberapa tukang terlihat sedang memasang atap.Mereka kemudian berjalan menuju gedung utama, yang masih dalam tahap penyusunan bata.Mereka menaiki anak tangga yang sudah setengah jadi.
"Saat ini, tahap pembangunannya berjalan sesuai target, pak!Dari SDM, kita tidak ada kendala.Satu-satunya hal yang tidak bisa di prediksi hanyalah cuaca.Semoga tidak ada kendala hingga seluruh pembangunan rampung", salah seorang pengawas lapangan menjelaskan tahapan proyek secara detail pada Ethan dan Deni
Ethan berjalan mengamati para pekerja yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.Ethan berhenti tepat di bawah scaffolding dan mengamati seorang bapak paruh baya yang sedang berjalan diatas catwalk untuk menyusun bata di bagian atas.
Namun naas, scaffoldingnya goyah dan tiba-tiba saja ambruk kearah Ethan, sebelum sempat menghindar.Bapak yang berada di atas,serta bata yang masih menumpuk di catwalk,ikut terjatuh menimpa Ethan.
Deni dan pengawas tersebut panik dan langsung berlari ke arah Ethan yang tertimbun reruntuhan pipa Scaffolding.Para pekerja yang melihat kejadian, ikut berlari menghampiri keduanya.Mereka lebih dulu menyelamatkan bapak yang tersungkur di atas tumpukan bata.Syukurnya beliau tidak pingsan dan hanya luka ringan di tangan dan kakinya, berkat pengaman yang dia gunakan.
Namun Ethan masih tertimbun diantara runtuhan pipa Scaffolding dan bata.Tanpa pikir panjang, Deni mengangkat satu persatu pipa dan bata yang berhamburan.
"Ethan!Ethan!",Deni terus berteriak memanggil nama Ethan.
Yang lain ikut membantu Deni menyelamatkan Ethan dan berhasil mengeluarkannya dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan kepala yang berlumuran darah.Dengan cepat, Deni membuka jasnya, menutupi kepala Ethan yang terluka.Sementara bapak yang menjadi korban bersama Ethan sudah dibawa oleh tim medis perusahaan.Namun karena perlengkapan medis disana tidak memadai, Ethan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Pak, tolong bantu saya membawa Pak Direktur ke mobil!Cepat!",teriak Deni pada para pekerja
Dengan cepat, mereka mengangkat Ethan dan memasukannya kedalam mobil.Deni memangku kepala Ethan dan terus menekan kepalanya dengan jas milik Deni.
"Pak,tolong antar ke rumah sakit terdekat! Segera!",perintah Deni.
"Baik pak".
...****************...
Usai diberi pertolongan pertama,Ethan segera di infus karena masih tak sadarkan diri.Dokter pun menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan CT-scan dan rontgen.
Deni mengiyakan semua perkataan dokter, meskipun dia tak paham dengan penjelasan yang disampaikannya.Setelah semua pemeriksaan selesai, Deni meminta kepada petugas rumah sakit, untuk memindahkan Ethan ke ruang perawatan VVIP, lalu menemui dokter.
"Hasil dari CT-scan tidak menunjukkan ada luka dalam atau pembuluh yang pecah.Namun pada hasil rontgen, ada retak di lengan kanannya dan harus segera di gips.Organ dalamnya pun tidak ada yang mengalami cedera.Hanya saja tekanan darah pasien sangat rendah.Sepertinya dia kelelahan dan dehidrasi.Itulah yang menyebabkan dia belum sadarkan diri"
Deni mengangguk paham.Tiba-tiba dia teringat kalau seminggu ini mereka lembur hingga larut malam
"Kami sudah memberinya obat dan vitamin.Pasien harus kami observasi, jadi untuk sementara waktu harus di rawat inap"
"Apapun yang terbaik dok,Tolong lakukan!"
Deni permisi pada dokter untuk menemui Ethan.Setibanya di kamar perawatan, Ethan terlihat sudah sadarkan diri.Deni pun merasa sangat lega setelah melihat kondisi Ethan.
"Deni, aku dimana?",tanya Ethan saat menyadari kedatangan Deni
"Di rumah sakit.Anda pingsan saat tertimpa scaffolding yang ambruk", Deni menjelaskan
Ethan berusaha mengingat kejadian sebelum dia pingsan.Tiba-tiba dia teringat pada bapak yang berada di atas scaffolding,"Bapak yang ada berdiri di atas scaffolding?bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja!Hanya luka di beberapa bagian kaki dan tangannya.Beliau sudah ditangani tim medis perusahaan", jawab Deni lirih
Ethan melirik kebawah, namun gips di lehernya membuatnya tak bisa menoleh kemana-mana
"Sepertinya tim HSE lupa memasang clamp di beberapa titik sambungan pipa Scaffolding.Hal itu yang menyebabkan Scaffolding tidak kokoh dan ambruk.Aku sudah memerintahkan pengawas lapangan untuk melakukan penyidikan.Dia akan mengumpulkan seluruh tim dan mencaritahu siapa yang bertanggung jawab pada hari itu", ucap Deni dengan wajah serius
"Sudahlah, jangan diperpanjang!Lagi pula aku tidak apa-apa.Cukup beri mereka peringatan untuk tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi, agar tidak terulang dan menimpa orang lain."ucap Ethan.
Deni terperangah.Dia tahu jika Ethan orang yang mudah memaafkan orang lain.Namun dia tidak menyangka, Ethan bahkan dengan mudahnya memaafkan kelalaian karyawannya untuk kejadian sefatal ini.
Sifat Ethan inilah yang selalu membuatnya kagum dan bertahan disisi Ethan.Bahkan Ethan tidak menyadari kebaikan yang sering ia lakukan dan selalu menganggap dirinya kurang dimata orang lain.Ia jadi menutup diri dan membatasi pergaulannya karena tak percaya pada dirinya sendiri.
Deni tersenyum ke arah Ethan yang sedang berceloteh, namun ia tak fokus mendengarkannya.Ia hanya terharu dan bangga bisa bersahabat dengan pria seperti Ethan.
Disaat sedang asyik bicara, tiba-tiba Ethan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di area kepala, hingga tanpa sadar ia meringis kesakitan.
"Ada apa?"
"Sepertinya efek obat biusnya sudah hilang.Aku baru merasakan sakitnya sekarang", Ethan ingin memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut, namun Deni dengan sigap menangkap tangannya.
"Kepalamu baru saja dijahit.Apa mau kau sobek lagi?", gurau Deni yang kini berbicara santai pada Ethan.
"Kamu tahu berapa jahitan?Dua puluh!",heboh Deni, lalu teringat perkataan dokter.
"Tapi yang membuatmu cukup lama pingsan, bukan karena reruntuhan scaffolding, melainkan anemia.Apa kau sama sekali tidak istirahat dengan baik selama kita lembur seminggu ini?", selidik Deni
Ethan tak menjawab.Dia hanya terdiam sembari menutup matanya, berpura-pura tidur.Dia takut jika bicara sedikit saja, Deni akan mendapatinya berbohong.
"Makanya segeralah cari istri biar aku berhenti mengkhawatirkanmu", protes Deni.
Mendengar ucapan Deni,Ethan tiba-tiba jadi bersemangat,"Tadinya sudah ketemu.Tapi sayang, dia istri orang.Jadi aku mengurungkan niat untuk mendekatinya"
"Apa yang kau maksud tetangga wanita itu?"Deni mengalihkan pembicaraan.
Wajah Ethan terlihat kikuk.Dia ingat, dia terus mengelak saat Deni menanyakan tentang perasaannya pada wanita itu.Namun tanpa sadar, hari ini dia malah mengakuinya sendiri.
"Sudah kuduga!Aku bersahabat denganmu sudah tujuh belas tahun!Ini pertama kalinya aku mendengarmu membicarakan seorang wanita.Jadi jangan coba berbohong padaku!Dasar bujang karatan!"
"Kau sendiri juga bujang karatan.Jangan saling menghina sesama bujang karatan"
"Aku bukan bujang karatan.Aku hanya belum menemukan jodoh yang tepat!Setidaknya aku sudah berapa kali merasakan pahit manisnya percintaan.Dari gadis lokal sampai mancanegara.Semua sudah pernah kukencani", ujar Deni bangga
"Tetap saja kau bujang karatan",Ethan menutup sebelah telinganya dengan tangan kirinya yang masih bisa bergerak.Dia membiarkan Deni menggerutu sendiri tanpa mempedulikannya