
Matahari sebentar lagi akan terbenam.Lalu lintas disepanjang jalan tol terlihat lengang sore ini.Sebuah sedan BMW sedang melaju dengan kecepatan rata-rata.Tampak kedua penumpangnya sedang sibuk dengan urusan masing-masing,sementara sang sopir tak melepaskan pandangannya pada ruas jalan tol yang dilalui.
Mereka tak saling menyapa satu sama lain,hingga pria berkacamata yang duduk di kursi belakang,mengalihkan pandangannya kearah pria yang duduk disamping kiri sopir.
"Apa hari ini rumahnya sudah siap?"
"Sudah Pak.Lingkungannya cukup aman,bangunannya luas,ada ruang perpustakaan yang sudah kami ubah menjadi ruang kerja untuk Bapak gunakan.Dan yang paling utama,jaraknya dekat dari Hotel.Bapak hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan mobil untuk tiba di sana",jawab pria yang duduk disamping sopir seraya mengutak atik ipad miliknya
"Kalau begitu,kita kesana sekarang."
"Baik Pak"
Perbincangan mereka pun terhenti.Pria yang duduk didepan,meletakkan ipad di pangkuannya dan sibuk mencari alamat yang dituju pada layar GPS,tanpa berbicara sedikit pun.
Sementara pria dibelakang, segera menutup laptopnya dan bersandar pada kursi mobil dengan wajah yang lelah.Dia melepaskan kacamata yang dikenakannya sambil memijat pangkal hidungnya.Setelah merasa lebih baik, dia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil yang sudah terbuka sejak tadi dan perlahan memejamkan matanya yang sendu.
Dia tampak menikmati hembusan angin yang bertiup dari luar.Lelah yang telah dipikulnya berhari-hari,seakan menghilang terbawa angin sore itu.
...****************...
Namanya Ethan Haryadi Halim,sulung dari dua bersaudara.Anak dari Pak Hartono Halim,pendiri Group Halim,yang bergerak di bidang perhotelan,resort dan taman hiburan.
Tiga bulan yang lalu,Pak Hartono meninggal secara tiba-tiba,membuat Ethan harus mengambil alih jabatan Ayahnya,sebagai Komisaris Utama dan pemilik saham terbesar Group Halim.
Sedan BMW milik Ethan,berhenti tepat di depan sebuah rumah kosong,disalah satu kompleks perumahan elit.
Sang sopir melirik ke arah kaca spion mobil dan memandangi Ethan yang sedang tertidur dengan lelap.Tak berani mengganggu istirahat sang majikan, ia memberi isyarat pada Deni, asisten Ethan yang duduk disampingnya untuk membangunkan atasannya yang tertidur di kursi belakang.
Deni yang sedari tadi asyik menatap layar ipadnya,baru tersadar saat rekannya memberi isyarat, "Pak Ethan, kita sudah sampai",ucap Deni lembut, berusaha membangunkan atasannya.
Dengan pelan, Ethan membuka mata dan memakai kembali kacamatanya.Dia melirik kearah jam tangannya, sudah pukul tujuh malam.
"Kita sudah sampai?",tanya Ethan, memastikannya sekali lagi
"Sudah pak.Barang-barang anda sudah dirapikan.Anda sudah bisa menempatinya malam ini jika anda mau.",ucap Deni yang masih saja sibuk dengan ipadnya
Ethan turun dari mobil lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut.Dia berjalan ke arah rumah kosong yang ada di hadapannya.Tercium aroma segar pengharum ruangan saat Ethan membuka pintu utama.Rumah itu baru saja selesai dibersihkan oleh jasa pembersih.
Ethan memutuskan untuk pindah rumah, karena letak apartemennya terlalu jauh dari Hotel.Butuh waktu dua jam untuk sekali perjalanan.
Ibunya menawari Ethan untuk tinggal di salah satu property miliknya,yang berjarak satu setengah kilometer dari Hotel.Dia pun setuju,demi menghemat waktu perjalanan pulang pergi dari hotel ke kediamannya.
Setelah cukup puas memeriksa seluruh ruangan dilantai satu,Ethan berjalan menuju lantai dua, ke ruang perpustakaan yang diubahnya menjadi ruang kerja.
Ethan membuka pintu dan memandangi ruang kerjanya itu dari luar.Dia tak menghidupkan lampu dan membiarkan pintu terbuka,agar cahaya dari luar bisa sedikit menerangi ruangan tersebut.
Perlahan Ethan melangkah memasuki ruang kerjanya, mengitari meja yang berada ditengah ruangan, seraya menatap satu persatu buku-bukunya yang sudah tersusun rapi di rak buku.
Dihirupnya aroma khas buku tua yang sangat ia sukai.Entah kenapa,Ethan selalu mendapatkan ketenangan batin setiap melakukannya dalam ruangan yang gelap.
Diwaktu yang bersamaan, tiba-tiba terdengar lantunan piano memainkan instrumen karya Chopin,Waltz in A Minor.Entah dari mana asalnya,namun alunan musik itu mengalihkan perhatian Ethan.
Dia berdiri mematung.Perlahan,dadanya terasa sesak seolah ada yang mencekiknya.Tanpa sadar,air matanya menetes.Ethan tiba-tiba teringat seseorang yang sering memainkan instrumen itu....
Ayah Ethan sangat senang memainkan piano di waktu senggangnya.Ia sering memainkan instrumen yang sama dengan yang ia dengarkan saat ini,terutama saat berkumpul bersama keluarganya.
Seketika kenangan di masa itu pun terlintas dipikirannya.Ethan dan adiknya yang sedang asyik bermain bersama, sedang sang Ibu dengan setia duduk disamping Ayahnya yang bermain piano.Dengan perasaan bahagia, mereka menggerakkan tubuh mengikuti alunan melodi yang dimainkan Ayahnya.
Kenangan itu sudah sangat lampau,namun mampu membuat hati Ethan bergetar tiap kali mengingatnya.
...****************...
Dalam hati kecilnya,Ethan masih belum siap menggantikan posisi Ayahnya.Namun sebagai calon pewaris, dia harus memantaskan diri menduduki jabatan Ayahnya.
Ethan berusaha beradaptasi dan menyelesaikan pekerjaan Ayahnya yang tertunda, karena tak ingin mengecewakan Beliau yang sudah bersusah payah membangun perusahaannya, hingga sukses seperti sekarang ini.
...****************...
Setelah mampu mengendalikan diri, Ethan mencari asal suara piano itu.Dia menarik tirai dan membuka jendela.Instrumen itu terdengar jelas dari arah rumah yang berada tepat didepan rumahnya.
Tampak seorang wanita sedang duduk membelakangi Ethan.Dia terlihat sibuk memainkan piano di satu-satunya ruangan yang diterangi cahaya lampu.
Ethan sangat penasaran ingin melihat wajahnya,namun tak sekalipun wanita itu menoleh kebelakang.Hanya nampak rambut ikalnya yang hitam dan tergerai.
Angin bertiup cukup kencang, namun tak membuat Ethan beranjak dari tempatnya berdiri.Dia memejamkan matanya, menikmati instrumen yang dimainkan wanita itu dengan raut wajah penuh kesedihan.
Ethan kembali teringat saat-saat dimana dia berkumpul dan bercengkrama dengan keluarganya.Masa itu sudah tak bisa di ulang kembali setelah kepergian Ayahnya
"Pak Ethan, apakah anda akan tinggal disini atau kembali ke apartemen?", tiba-tiba suara Deni menghentikan lamunannya
Ethan menoleh ke arah Deni sambil tersenyum, "Aku akan tinggal disini mulai hari ini"
...****************...
Ethan baru saja terbangun dan menyadari jika dia berada di tempat yang baru.Semalam untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Ethan tidur dengan sangat nyenyak.
Dia melirik ke arah jam yang berada di atas nakas, disamping tempat tidurnya.Sudah pukul lima subuh.Setelah membersihkan diri,Ethan bersiap untuk lari pagi.
Dia baru saja keluar pagar,ketika teringat satu hal,dia tak tahu menahu tentang lingkungan barunya.Ethan menoleh ke kanan dan kiri, untuk melihat situasi sekitar rumahnya.
Di waktu yang bersamaan, muncul seseorang dari rumah depan.Secara spontan, Ethan menoleh ke arahnya dan melihat seorang wanita dengan rambut ikal hitam yang tergerai,sedang berdiri tepat di depannya
'Dia wanita yang semalam',batinnya.
Ethan nampak terpesona melihat wajahnya yang manis.Mata bertudung,hidung yang mancung serta kulit kuning langsat ditambah bibir bawah yang tebal terlihat sangat seksi, menjadi perpaduan yang sempurna pada wajah wanita itu.
Ethan hanya berdiri terpaku,sambil menatap kearah si wanita.Namun pandangan mereka secara tak sengaja saling bertemu.
Merasa sedang diawasi, wanita itu terus memandangi Ethan, seolah sedang memikirkan sesuatu tentangnya.Ethan pun terlihat canggung dan coba mengalihkan pandangannya.
"Tetangga baru ya?"tanya wanita itu pada Ethan.
"Iya, saya baru saja pindah tadi malam"
Wanita itu terus memandang ke arah Ethan,dia seakan tahu Ethan sedang kebingungan
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin lari pagi, tapi bingung mau kearah mana",jawab Ethan
Dia mengangguk-anggukan kepalanya,seolah paham yang dibutuhkan Ethan.
"Saya Ethan",Ethan memperkenalkan diri terlebih dahulu
"Saya Lily",ujarnya sambil menundukkan kepalanya
"Jika anda keluar dari blok ini, anda cukup belok kanan lalu lurus saja, sampai melewati tiga blok.Nanti akan terlihat taman bermain dan lapangan bola disebelah kiri jalan.Disana juga ada gedung olahraga dan tempat untuk nge-gym.", ucapnya dengan lembut
"Terima kasih bantuannya",Ethan menundukkan badannya
"Sama-sama, semoga anda betah tinggal disini"
Lily tersenyum ke arah Ethan.Lesung pipi di pipi kirinya tiba-tiba muncul saat ia tersenyum, membuat wajahnya makin terlihat manis.
Tak lama kemudian, sebuah mobil muncul dari balik pagar rumah Lily.Dia permisi untuk pergi lebih dulu,lalu naik ke atas mobil dan meninggalkan Ethan sendiri.
'Lily,nama yang cantik',Ethan berbisik dalam hati.
Diapun kembali fokus dan berjalan kearah yang ditunjukkan Lily padanya.