
"Saya Michelle Cheng!dari Cheng Xi Group.Senang berkenalan dengan anda Pak Ethan",sapanya seraya mengulurkan tangannya pada Ethan.
Ethan sungguh tak ingin menyambut uluran tangan Michelle,namun kehadiran Pak Thomas diantara mereka,membuat Ethan terpaksa meraih tangan wanita itu.
"Saya Ethan Haryadi Halim,dari Group Halim.Dibelakang saya,Deni Putra Wijaya.Dia assisten pribadi saya".
Deni menundukkan kepala ke arah Michelle,berbarengan dengan Ethan yang menarik tangannya.Wanita anggun itu tersenyum senang,setelah berhasil menyentuh tangan Ethan.
"Bagaimana kalau kita duduk sekarang.Sebentar lagi makan malam akan dimulai.Akan kuberi waktu pada kalian untuk berbincang membahas bisnis setelah acara berakhir,okey?!",Pak Thomas menunggu jawaban dari keduanya.
"Baik pak!",jawab mereka kompak.
Mereka pun berjalan menuju kursi masing-masing.Ethan berjalan ke arah kursi yang telah diberi tanda pengenal oleh pihak club.Dia duduk disisi kanan meja kayu panjang,di deretan pertama,tepat di samping kursi utama yang ditempati Pak Thomas.
Sedangkan Deni berjalan ke arah meja yang diperuntukkan untuk para asisten CEO yang ikut hadir.Nampak rekan seprofesinya sudah berkumpul disana.Mereka saling menyapa satu sama lain dan duduk di tempatnya masing-masing.
Setelah kursi dipenuhi oleh para tamu undangan,Pak Thomas memulai acaranya dengan pidato singkat.Lalu diakhir pidato,beliau berdiri seraya mengangkat sebuah gelas dan di ikuti oleh para tamunya.
"Cheers!"
"Cheers!!!"
Untungnya Ethan telah memesan lebih dulu cocktail non Alkohol pada bartender dan meminta pelayan yang dikenalnya untuk mengantarkan pesanannya,jadi tak mengurangi rasa hormat Ethan pada pemilik acara dan ikut bersulang,meski bukan dengan minuman beralkohol.
...****************...
Ethan nampak gelisah di sepanjang perjamuan.Dia hanya tersenyum dan berbicara saat Pak Thomas dan tamu lainnya mengajaknya berbincang,namun pikirannya sama sekali tak tenang dan rasanya ingin segera meninggalkan acara ini jika tak memikirkan tujuan utamanya datang.
Deni yang mencemaskan keadaan Ethan,sesekali melirik ke arah bosnya itu.Dia ingin memastikan jika Ethan masih nyaman untuk menyapa dan berbincang dengan orang-orang disekitarnya.
Selain Ethan,Deni juga terus memantau sosok wanita yang duduk berhadapan dengan Ethan.Sejak pertemuan tiba-tiba mereka malam ini,hati Deni jadi tak tenang.Dia takut akan ada kejadian tak terduga jika wanita itu berada disekitar Ethan.
Diam-diam Deni mengaktifkan handphone Ethan dan mengaturnya dalam mode silence.Dia terlihat mengutak-atik handphone sahabatnya itu untuk berjaga-jaga.
Acara pun berakhir.Deni segera menghampiri Ethan,begitu para tamu mencari kesibukan masing-masing.
"Kamu tidak apa-apa?",tanya Deni khawatir seraya menyelipkan sesuatu kedalam saku bagian dalam jas Ethan.
"Iya,aku baik-baik saja",Ethan pun segera bangkit dari tempatnya duduk untuk mengatur nafas.
Setelah menyalami beberapa tamunya,Pak Thomas segera menghampiri Ethan dan Deni.Michelle dan asisten prianya terlihat mengikuti beliau dari belakang.Ada pula seorang wanita berseragam karyawan Club.
"Oh ya Pak Ethan,saya telah menyediakan tempat private,agar kalian bisa fokus membahas kesepakatan bisnis.Pelayan akan mengantarkan kalian kesana.Saya minta maaf tak bisa menemani anda.Saya masih harus menyapa tamu yang lain",ucap Pak Thomas dengan nada sedikit menyesal pada Ethan.
"Baik Pak Thomas,terima kasih atas kebaikan anda",ucap Ethan lembut.
Deni mengernyitkan alis dan menatap ke arah Ethan.Namun Ethan tak bereaksi apapun,bahkan raut wajahnya tak menunjukkan emosinya saat ini.
"Apa tidak apa-apa kita bertemu dengannya secara pribadi?",bisik Deni khawatir.
"Selama kamu ikut mendampingiku,aku tidak keberatan",Ethan berbisik seraya tersenyum pada Deni,berusaha menghilangkan kekhawatiran kawannya itu.
Deni menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.Dia berusaha untuk berpikir positif
'Tenang,ini semua demi perusahaan!'
"Silahkan tuan!"
Pelayan wanita yang berdiri di samping Michelle,mempersilahkan ke empatnya untuk mengikutinya dari belakang menuju salah satu tempat private di lantai bawah tempat mereka menghadiri acara.
Di tengah perjalanan menuju ruang private,Deni tak sekalipun melepaskan pandangannya pada Michelle dan asistennya.Dia merasa harus terus waspada,terutama pada wanita cantik berhati licik itu.
Mereka pun tiba disalah satu ruangan kedap suara yang dilengkapi meja dan empat sofa single.Begitu keempatnya duduk berbarengan di sofa,pelayan pun menanyakan pesanan mereka masing-masing.
"Saya pesan dua Seedlip Grove 42,tanpa es",ucap Ethan pada pelayan begitu ia berbalik dan menanyakan pesanan Ethan.
...****************...
"Masih tidak suka alkohol ya?",Michelle memulai pembicaraan setelah pelayan wanita itu meninggalkan mereka berempat.
"Maaf nona Michelle,tapi tujuan kita kesini ingin membicarakan pekerjaan,jadi sebaiknya kita tak membahas hal diluar itu!",ucap Deni lugas,seolah mempertegas batasan.
Michelle hanya tersenyum kecut.
"Kamu masih sama seperti dulu ya Den.Galak dan tegas!Sepertinya kamu masih dendam padaku setelah tiga belas tahun berlalu".
Deni mengepalkan tangannya kesal.Rasanya dia ingin melontarkan tinjunya ke meja,namun Ethan berusaha menahan tangan Deni yang bergetar karena marah.
"Saya harap kita bisa menyelesaikan pertemuan ini segera.Saya tak punya banyak waktu untuk membahas hal lain,selain kesepakatan kerjasama antara perusahaan kita.Jika ada hal lain yang ingin anda bahas,saya akan permisi sekarang juga"
Michelle menggigit bibir bawahnya.Wajahnya melembut begitu mendengar suara Ethan.Berbeda saat ia berbincang dengan Deni.
"Baiklah!",ucapnya sambil tersenyum lebar.
Dan seolah menuruti perkataan Ethan,Michelle tak melanjutkan perdebatannya dan mulai membahas pekerjaan.Lambat laun pertemuan mereka mulai terasa normal,layaknya pertemuan antara dua orang asing yang hanya membicarakan kesepakatan kerja.
Deni pun mulai fokus mencatat inti percakapan keduanya dan menandai beberapa point penting dalam kesepakatan yang di inginkan Michelle dan Ethan.
Pelayan yang tadi mengantar mereka ke ruang private,telah tiba dengan membawa pesanan para tamunya dan menyajikannya di meja sesuai pesanan mereka masing-masing.
"Jika anda tidak keberatan dengan persyaratan yang saya ajukan,asisten saya akan segera menerbitkan surat perjanjian dan memberi anda salinannya.Anda masih bisa mengoreksinya sebelum kita menanda tangani kontrak perjanjian kerjasama",ucap Ethan tenang,seraya memberi isyarat pada Deni untuk memberikan kartu namanya pada Michelle.
Deni pun segera memberikan kartu namanya pada Michelle lalu menyimpan buku note dan ipadnya kedalam tas jinjing yang sedari tadi dibawanya.
"Baiklah.Apapun syarat dari tuan Ethan,saya tidak keberatan.Saya tidak akan ragu dengan kerja tangan anda.Terbukti dari keberhasilan anda pada Event Pak Thomas.Saya yakin anda bisa memberi kepuasan yang sama pada Event yang akan saya selenggarakan".
Michelle mengangkat gelas anggur miliknya dan mengajak Ethan dan Deni bersulang.Demi kesopanan terhadap klien,Ethan dan Deni meraih gelas yang berisi minuman pesanan mereka dan menyodorkannya ke arah Michelle.Keduanya menghabiskan minuman mereka sekali teguk.Dan dalam hitungan detik keduanya merasakan hal aneh pada tubuh mereka.
...****************...
Firasat buruk Deni tentang kemunculan Michelle akhirnya terjadi.Deni tiba-tiba merasa sangat pusing dan mengantuk.Penglihatannya mulai mengabur namun dia berusaha untuk membuat dirinya sadar.
Sempat ia melihat kearah Michelle yang sedang menyeruput anggurnya dengan pelan seraya menyeringai.Rasa kesal pun memenuhi pikirannya.Dia ingin sekali menghampiri wanita itu dan memberinya pelajaran,namun ia tiba-tiba teringat Ethan.
Deni segera membuang pandangannya ke arah Ethan dan mendapatinya sedang berusaha mengendalikan diri.Reaksi Ethan terlihat berbeda dengan yang dirasakan Deni.Dia terlihat kegerahan dan berusaha melonggarkan dasinya.Wajahnya pun sangat merah.
Seketika Deni tersadar apa yang akan dilakukan wanita itu pada Ethan.Dia pun berusaha melawan rasa kantuknya,namun baru saja ia bangkit dari sofa,Deni sudah ambruk ke lantai.
...****************...
"Pak Deni!Pak Deni!"
samar-samar suara seorang pria terdengar di telinga Deni,namun ia tak punya tenaga untuk membuka mata.
"Pak Deni!"
Tiba-tiba air dingin mengguyur wajah Deni,membuatnya tersentak dan bangun dengan kelimpungan.Nafasnya memburu.Deni menelusuri seluruh ruangan mencari sosok Ethan,namun hanya ada dia dan seorang pria muda berpakaian seragam yang Deni sangat kenal,Jason.
"Ethan!Dimana Ethan?Dimana dia?",tanya Deni panik.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu Tuan Ethan di lift saat mengantar tamu ke hotel di lantai 15.Tuan Ethan sedang dipapah oleh seorang pria yang tidak aku kenal.Aku curiga karena tak melihat anda bersama tuan Ethan,makanya aku mencari tahu keberadaan kalian terakhir kali dan mendapati anda pingsan disini"
Deni segera mencari handphonenya.Dia ingat telah mengaktifkan GPS di handphone Ethan dan menyelipkannya di saku dalam jasnya.
"Handphoneku!Handphoneku dimana?"
Jason segera membantu Deni mencari handphonenya dan menemukannya di bawah sofa.Dengan tangan gemetar,Deni berusaha mencari lokasi Ethan
"Ketemu!Dia ada di lantai 10"
Deni segera berlari,diikuti Jason dari belakang.Tanpa menunggu pintu lift terbuka,Deni segera menuju tangga darurat dan mengambil langkah panjang untuk menuruni tangga dari lantai 17 menuju lantai 10.
Dia tak memikirkan dirinya yang berkali-kali terjatuh dan terus saja menuruni tangga dengan panik,meninggalkan Jason yang masih berada 2 lantai di atasnya.
"Pak Deni,hati-hati!",Jason berusaha mengejarnya dari belakang.
Namun Deni tak mengindahkan peringatan Jason dan terus saja berlari hingga tiba di lantai 10.Deni terus melirik gps seraya menyusuri tiap lorong kamar,berharap usahanya belum terlambat
'Ethan,Ku mohon bertahanlah!Demi Lily!'
Namun langkahnya terhenti saat mendapati seorang pria sedang terkapar di lantai.Lalu seorang lagi hanya nampak kakinya saja
"Ethan!"
Deni berlari menghampiri kedua pria itu.Dia terkejut saat mendapati asisten Michelle terkapar dalam keadaan pingsan di lantai dengan darah yang menetes dari hidungnya.Sementara Ethan sedang duduk di depan pintu kamar hotel.Pipinya memar dan sudut bibirnya berdarah.Tangannya terus memegang gagang pintu dan berusaha untuk menahan orang yang berada di dalam membuka pintu.Nafasnya tersengal-sengal,namun dia tertawa saat melihat Deni.
"Kenapa kau lama sekali",ucapnya dengan nafas yang masih sesak.Wajahnya sangat merah.Sepertinya obatnya masih bekerja,namun dia benar-benar berusaha menahannya.
"Ethan,buka pintunya!Aku tidak akan melakukan apapun padamu!Tolong buka sekarang juga!",terdengar suara teriakan dari dalam kamar yang berusaha membuka pintu,namun Ethan terus saja menahannya sekuat tenaga
Deni benar-benar geram dibuatnya.
"Lepaskan gagang pintu itu!Kita pulang!",ucap Deni seraya meneteskan air matanya melihat kondisi Ethan saat ini.
Atas perintah Deni,Ethan melepaskan tangannya.Seketika seorang wanita keluar dari balik pintu dengan menggunakan jubah tidur,Michelle.
Deni mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya.Terlebih saat melihat wajahnya yang seakan tak bersalah.
"Minggir dari sana!",bentak Deni dengan mata melotot.
Michelle segera mundur menjauh.Tubuhnya gemetar karena ketakutan melihat wajah Deni dan tak berani mengatakan satu patah katapun.
Deni membantu Ethan berdiri dan membawanya masuk ke kamar dan berjalan ke arah kamar mandi.Deni menyuruh Ethan berdiri di bathtub lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin menggunakan shower.
Setelah memastikan Ethan membaik,Deni membasahi sebuah handuk untuk membungkus tubuh sahabatnya dan segera menariknya keluar dari kamar itu.Jason yang baru saja tiba,terlihat panik melihat kondisi Ethan yang kebasahan.
"Anda baik-baik saja tuan",tanyanya pada Ethan dengan raut wajah cemas.
"Dia baik-baik saja.Terima kasih atas bantuanmu tadi.Kalau saja kamu tidak datang,aku tidak tahu apa yang akan terjadi",Deni menepuk lengan Jason pelan.
"Sama-sama Pak.Saya hanya takut terjadi apa-apa pada Tuan Ethan!"
Tiba-tiba Deni teringat pada barang-barangnya di ruangan tadi.
"Aku minta tolong padamu untuk mengamankan tasku yang berada di ruang private tadi.Aku harus segera membawa Tuan Ethan pulang",ujar Deni.
"Baik pak.Hati-hati di jalan"
Deni dan Ethan segera menuju atap hotel.Helikopter yang membawa mereka ke acara Pak Thomas,sudah stand by menunggu mereka setelah Deni menelponnya.Sepanjang perjalanan pulang,mereka berdua terdiam satu sama lain dan hanya bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
...****************...
Lily terlihat mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu kamarnya.Setelah mendapat telepon dari Deni dan menceritakan secara singkat kejadian yang menimpa mereka,Lily jadi tak bisa tenang.
Begitu mendengar suara ketukan,ia segera berlari dan membuka pintu.Dia menangis begitu saja saat melihat wajah Ethan yang lebam.Sudut bibirnya berdarah dan seluruh tubuhnya basah.
Ethan segera menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat.Dia berusaha menenangkan Lily yang menangis tersedu-sedu.
Tak ingin mengganggu keduanya,Deni menarik gagang pintu dan menutup kamar mereka.
"Sayang,jangan menangis.Aku baik-baik saja",ucap Ethan seraya membelai rambut istrinya
"Bagaimana bisa kak Ethan baik-baik saja sedangkan wajah kakak sampai lebam seperti itu",tangisan Lily semakin menjadi
"Aku tahu,tapi kamu tidak boleh menangis.Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa lagi?"
Mendengar kata-kata Ethan barusan,Lily berusaha menahan tangisannya.Dia juga tak ingin jika kesedihannya berdampak buruk pada kedua bayinya.
"Sebaiknya Kak Ethan ganti baju dulu"
Lily menarik Ethan masuk ke kamar dan membantunya mengganti pakaian yang sudah mulai mengering di tubuhnya.Setelah mengganti pakaian,Lily menyuruhnya duduk di tepi ranjang lalu mengeringkan rambut suaminya dengan handuk.Dia mengolesi wajah Ethan yang lebam dengan salep.Dan meneteskan obat merah ke beberapa luka lecet.
"Kenapa wanita itu memberi kak Ethan obat perangsang?",tanya Lily setelah merasa lebih tenang.
Ethan tak menjawab.Dia mendudukkan Lily di pangkuannya dan menyandarkan kepalanya di dada Lily.Terdengar nafasnya yang tak beraturan.Wajahnya pun masih sedikit memerah.Sepertinya obat perangsang yang dimasukkan Michelle ke dalam minumannya masih sedikit bereaksi,walaupun Ethan masih bisa mengontrolnya.
"Apa kakak baik-baik saja?",tanya Lily seraya membelai rambut Ethan
"Tidak.Aku tidak baik-baik saja.Aku benar-benar takut tadi"
"Hampir saja aku melakukan dosa besar dan membuatmu terluka.Untungnya wajahmu terus terbayang dalam ingatanku jadi aku berusaha melawan pengaruh obat itu.Aku rela wajahku dipukul berkali-kali daripada harus melihatmu menangis seperti waktu itu"
Ethan teringat saat ia dan Lily mendapati Adam bersama wanita lain.Dia tak berani membayangkan jika dia tak berusaha melawan,apa yang akan terjadi pada dirinya dan Lily?
"Terima kasih karena Kak Ethan sudah menepati janji",ucap Lily lirih seraya memeluk suaminya.
Air matanya menetes begitu saja,mendengar ucapan Ethan.Dia tak bisa membayangkan bagaimana dia berusaha menahan diri untuknya
Ethan mengusap air mata istrinya yang menetes.Dia benar-benar bersyukur,rasa cintanya pada Lily telah menyelamatkannya dari petaka.
Disaat dia dalam pengaruh obat,Ethan terus terbayang wajah istrinya.Dia tak membayangkan kesedihan yang akan merundungnya jika dia tak melawan dirinya sendiri saat itu.Dengan tenaga yang masih tersisa,Ethan melepaskan genggaman asisten Michelle dan berujung perkelahian antara keduanya.Ethan menghantamkan tinjunya ke hidung Asisten Michelle dan membuatnya pingsan.
Michelle baru saja akan membuka pintu saat mendengar keributan dari luar,namun dengan sigap Ethan meraih gagang pintu dan menahannya agar Michelle tak keluar dari dalam kamarnya.
Berkali-kali Michelle berusaha menarik pintu dan berteriak,namun Ethan tak peduli!Dia tak ingin memenuhi keinginan liar wanita gila itu.Mendengar suaranya saja sudah membuat hasrat Ethan membuncah.Bagaimana jika ia muncul dihadapannya?Bisa-bisa Ethan gelap mata dan melakukan hal yang tidak dia inginkan.Dengan sisa tenaga yang hampir habis,Ethan berusaha menahan pintu hingga Deni datang dan menjemputnya.
"Sayang,aku sangat mencintaimu",bisiknya lalu menarik tengkuk istrinya agar dapat menjangkau bibirnya.
Dorongan itu kembali muncul begitu Ethan mencium Lily.******* nafasnya memburu,dia tak bisa lagi menahannya.Rasa panas itu kembali menjalari tubuhnya.Efek obat itu masih ada dan Lily menyadari akan hal itu.Tanpa menolak,ia membiarkan Ethan melampiaskan hasratnya malam itu agar tak lagi menyiksanya sepanjang malam.
...----------------...
Mohon dukungannya dengan like,comment,gift atau votenya ya..Terima kasih☺️🙏
Dan jangan lupa baca karya author yang lainnya,second chance