
Setelah sarapan Ethan dan Deni berjalan keluar.Di halaman Hotel,tampak sopir airport yang kemarin mengantar mereka,berdiri didepan mobilnya,menunggu Ethan dan Deni.
"Sa su ketemu dengan mobil yang bisa antar kakak kesana",kata Pak sopir yang bernama Ruben.
"Sa juga su kasih tunjuk alamat yang kakak kasih kemarin.Katanya dia biasa lewat dikampung itu.Nanti kakak lanjut perjalanan deng dia"
Pak Ruben pun mengantar Ethan dan Deni menemui sopir yang akan mengantarkan mereka ke alamat yang mereka tunjukkan padanya kemarin.Setelah perjalan yang cukup jauh,mereka akhirnya bertemu dengan sopir yang akan melanjutkan perjalanan bersama Ethan dan Deni
Deni dan Ethan pun turun dari mobil Pak Ruben.Deni mengucapkan terima kasih,lalu memberikannya amplop sebagai bayaran dan berjalan kearah mobil hilux hitam yang akan ditumpanginya bersama Ethan.Mereka pun melanjutkan perjalanan setelah semuanya siap.
"Masnya dari Jawa ya?",tanya sopir memulai pembicaraan.Dari logat bicaranya,sepertinya dia transmigran di sana
"Kami dari Jakarta."
Pak sopir mengangguk lalu tak melanjutkan pembicaraan saat melihat wajah lelah mereka berdua.
...****************...
Setelah beberapa jam melewati perjalanan yang jauh dan medan yang berat,akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan kecil yang masih dikelilingi hutan dan lahan perkebunan.Dari samping kiri jalan,terdapat beberapa rumah papan yang berderet rapi dan saling berhadap-hadapan.Tampak beberapa warga lokal sedang sibuk melakukan kegiatannya masing-masing.Sementara di sebelah kanan jalan,tampak berderet beberapa bangunan baru yang dikelilingi pagar kayu dan saling bersambungan.Ada sebuah kantor desa,pustu dan sekolah dasar dengan lapangan yang dipenuhi rumput di tengahnya.
Terdengar suara para guru sedang menerangkan mata pelajaran pada murid-muridnya.Saat itu juga,jantung Ethan berdegup dengan kencang.Dia bertanya-tanya apakah mungkin salah satu suara itu adalah suara wanita yang ia cari?
Ethan melangkahkan kakinya dengan cepat kearah sekolah itu.Deni pun mengikuti Ethan dari belakang.Tanpa berusaha memastikannya pada pihak berwenang di sana,Ethan mengunjungi tiap ruang kelas untuk memastikan secara langsung keberadaan Lily.
Dia hampir putus asa,saat beberapa kelas yang dia lihat,tak juga menunjukkan sosok Lily.Hingga di kelas terakhir,Ethan berhenti sebelum tiba di pintu kelas.Deni yang sedari tadi dibelakangnya,juga berhenti dan menatap Ethan dengan cemas.Dia tak bisa membayangkan,jika sampai Lily tak ada di sekolah ini,apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu?
Ethan terlihat ragu melangkahkan kakinya,dia takut kecewa,jika tidak berhasil menemukan Lily.Belum sempat melangkahkan kakinya,bel sekolah pun berbunyi.Suara salam anak-anak terdengar dari dalam kelas.Satu persatu mereka keluar dan berlari-larian meninggalkan kelas.Ethan coba menguatkan hatinya,kalaupun yang keluar nanti bukanlah Lily,dia tidak akan menyerah untuk mencarinya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu.Ethan merasakan debaran jantungnya yang kian kencang.Tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam kelas.Dia hampir saja menabrak Ethan ketika akan berbelok.Wanita itu tampak terkejut melihat wajah pria yang berdiri dihadapannya.Dia sempat mundur beberapa langkah,seakan tak percaya bisa bertemu dengan pria itu disini.Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain tanpa berkata apa-apa.Air mata Ethan pun menetes begitu mengenali siapa wanita yang ada dihadapannya.Dia berjalan pelan menghampiri wanita itu lalu memeluknya dengan erat.
"Akhirnya ketemu"ucap Ethan lirih
Lily hanya terdiam dalam pelukan Ethan,namun air matanya perlahan mulai menetes.
"Kenapa kamu ingkar janji?Bukankah sudah kukatakan untuk mengabariku begitu tiba di Indonesia?Apa kamu tahu,bagaimana resahnya aku tidak mendapat kabar darimu?Bagaimana perjuanganku untuk bisa sampai kesini?Kenapa kau tega sekali padaku?Apa aku tidak ada artinya bagimu walau sebatas teman?",Ethan akhirnya mengutarakan semua pertanyaan yang selama ini berkutat di kepalanya.
"Kenapa rasanya sangat sulit untuk menjangkau mu?",sambungnya lirih
Lily tak mampu menahannya lagi.Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ethan.
Deni yang berada tepat dibelakang Ethan, ikut menangis melihat pertemuan haru mereka berdua.
"Ayo kita pulang dan selesaikan masalah ini."
Ethan melepaskan pelukannya lalu memegangi kedua pipi Lily dan menatap wajahnya.Dia terlihat sangat kurus dan wajahnya tidak terawat.Bahkan rambut ikalnya yang indah kini sudah tidak ada.Dia memotong pendek rambutnya hingga tak menyentuh bahunya.Ethan membelai kepala Lily sambil menangis.Dia tak menyangka sebulan setelah pertemuan terakhirnya,dia akan melihat Lily dalam kondisi seperti ini.
"Apa aku terlihat sangat kacau" ucap Lily sembari tersenyum.
Seketika perasaan sedih Ethan berubah jadi rindu saat mendengar suara Lily, membuatnya semakin yakin,dia sangat mencintai wanita ini.Ethan menunduk,mendekatkan dahinya ke dahi Lily seraya menutup matanya
"Bahkan suaramu pun sangat aku rindukan"
Air mata Ethan menetes dikedua pipinya
Perlahan Ethan membuka matanya.Dia mendapati Lily menatapnya dengan sayup
"Aku mencintaimu"kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Ethan.
Sambil berurai air mata,Ethan mencium bibir Lily.Tanpa penolakan darinya,Ethan melepaskan semua perasaan yang selama ini dia pendam.Dia tak ingin menahan perasaannya lagi dan menyakiti dirinya sendiri.Dia pun tak peduli dengan status Lily saat ini.Yang ada dipikirannya,Lily bukan lagi milik Adam.Adam telah meninggalkannya disaat dia membiarkan Lily hancur dan terpuruk.Dan sekarang dia ingin memperjuangkan cintanya.Tak peduli dengan pendapat orang lain,dia ingin membahagiakan wanita ini.
Deni ikut merasakan kebahagiaan Ethan.Dia teringat perjuangan Ethan sejak pulang ke Indonesia,hingga tiba disini.Dan rasanya semua terbayarkan,begitu melihat mereka bisa bertemu dan saling melepas rindu.
...****************...
Setelah berciuman,mereka saling menatap dan tertawa canggung.Ethan menarik Lily dan duduk di taman depan kelas,tempat Lily mengajar.Dia menggenggam tangan Lily dengan erat.Bahkan matanya tak berhenti menatap kearah tangan Lily,seolah takut tangan itu akan terlepas dari genggamannya.
Lily memandanginya seraya tersenyum melihat tingkah Ethan,seperti anak kecil yang takut terpisah dari ibunya.
"Kamu baik-baik saja?",tanya Ethan mengawali pembicaraan.
"Aku baik-baik saja.Anak-anak disini membuatku bahagia"
"Kamu tidak merindukanku?"
"Terkadang,saat aku merasa lapar!",canda Lily yang berhasil membuat Ethan tersenyum
"Apa kamu hanya mengingatku saat kamu lapar?"
"Karena kita sering bertemu karena makanan",jawab Lily seraya tertawa,mengingat keakraban mereka memang berawal dari makanan.
Mereka terdiam cukup lama,lalu Ethan mencoba memulai percakapan serius
"Sebenarnya apa yang terjadi saat kamu tiba di Indonesia?Kenapa foto kita berdua justru ada pada Ayah dan Ibumu?"
Lily menghela nafas panjang.Dia teringat kejadian yang membuatnya terpaksa berada disini dan menjauh dari orang tuanya.