Love In Tears

Love In Tears
Extra 2 : Penyesalan terbesar Adam



Pengadilan baru saja memutuskan pernikahan Adam dan Lily resmi berakhir.Selama persidangan itu pula,akhirnya Adam mengetahui perasaan yang dirasakan Lily padanya.Bagaimana ia terluka,bukan karena fisik, melainkan luka batin yang tanpa sadar sudah Adam torehkan di hati Lily.


Perubahan sikap Adam yang melampaui batas kesabaran,tekanan batin yang diberikan dari pihak keluarga,nafkah batin yang tak terpenuhi,lalu perselingkuhan yang dilakukannya,menjadi alasan utama dikabulkannya gugatan itu.


Setelah persidangan usai,Adam kembali kerumahnya.Dia merasa ada yang hilang saat mendapati kamarnya yang tampak kosong.Adam pun berjalan pelan keruang ganti.Hanya tersisa sedikit barang-barang Lily yang ada di meja rias,barang yang tak pernah Lily pakai sama sekali.


Dia membuka pintu lemari satu persatu.Hampir sebagian dari lemari itu kosong.Hanya tertinggal pakaian dan sepatu Adam, serta beberapa box barang yang terlihat masih baru.Adam memeriksa isinya satu persatu.Ternyata isinya merupakan hadiah pemberian Adam setiap kali ia keluar negeri.Sepatu,gaun,tas,kalung berlian.Semuanya terlihat masih baru, bahkan ada yang belum sempat Lily buka.


Adam pun duduk bersandar pada lemari dan menatap kearah hadiah-hadiah pemberiannya yang tergeletak begitu saja dilantai.Air matanya mengalir begitu saja, bersama penyesalan yang akhirnya menyelimuti fikirannya.Dia merasa keluh,mengetahui hadiah-hadiah itu tak bisa mengobati rasa kesepian Lily selama ini.


Tak puas menyalahkan dirinya,Adam berjalan ke arah piano yang sering dimainkan Lily.Seketika Adam teringat saat mereka masih pengantin baru.Lily sering memainkan piano itu, sementara Adam duduk di kursi menikmati alunan musik yang dimainkan Lily,seraya mengerjakan tugas kantornya.Wajah Lily saat itu tampak sangat ceria.


Adam kembali menangis,mengapa dia sangat tega menghilangkan keceriaan dari wajah Lily?mengapa ia dengan mudah menyakiti hati Lily yang begitu lembut?Diapun membenamkan wajahnya dikedua tangannya yang bersandar diatas tuts piano seraya menangis.


Adam masih saja tak puas menyesali perbuatannya,dia menuruni tangga dan berjalan ke dapur,dia seakan melihat bayangan Lily yang sedang lalu lalang dan sibuk membuatkannya makanan.Dengan senyum hangatnya,dia menata semua masakannya diatas meja dan menunggu Adam yang sebentar lagi turun dari lantai atas.


Adam tersenyum melihat bayangan Lily yang tengah menyiapkan makanan,namun senyumannya memudar saat bayangan Lily menghilang dan berganti dengan ingatan Adam tentang pertengkarannya di meja makan saat itu.Dia teringat saat Lily menatapnya dengan penuh ketakutan,dia teringat kata-kata Lily tentang Ibunya dan terbayang bagaimana Lily terbaring sakit dan menunggu Adam dengan berurai air mata.


Adam tak berhenti mengutuk dirinya,membiarkan Lily merasakan sakit seorang diri tanpa suami disisinya.Kakinya lemas,dia tersungkur ke lantai seakan seseorang telah menancapkan pisau ke dadanya.Dia sulit bernafas,sesak dan tak berdaya.


Adam baru tersadar saat rumahnya yang gelap tiba-tiba menjadi terang.Dia melihat Bi Darsih menyalakan lampu dan berjalan ke dapur.Adam segera bangkit namun masih terduduk dilantai.Dia bersandar pada meja makan dan memanggil Bi Darsih


"Ada yang bisa saya bantu,tuan?,tanya Bi Darsih saat menghampiri Adam


"Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Lily saat aku ke Tiongkok,bi!Mengapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?Mengapa tak satupun dari kalian yang memberitahuku?",ucap Adam lirih seraya menangis


Bi Darsih pun ikut menangis,dia tidak tega melihat Adam dengan kondisi seperti ini.Dengan berat hati,Bi Darsih pun menceritakan semuanya pada Adam


"Nyonya sudah sakit sejak Tuan berangkat ke Tiongkok.Nyonya tak berhenti muntah-muntah.Bibi sudah mengingatkan, tapi nyonya terus mengatakan kalau dia baik-baik saja.Seminggu Tuan pergi,Nyonya pergi untuk bertemu Ibu Tuan.Bibi tidak tahu apa yang mereka bicarakan,tapi Pak Indra pulang dan menyampaikan pada bibi, kalau Nyonya masuk rumah sakit.Nyonya juga melarang kami untuk menyampaikan hal itu pada Tuan dan orang tuanya, agar semuanya tidak khawatir pada nyonya.Jadi bibi dan pak Indra tidak berani memberi tahu Tuan.Selama Nyonya di rumah sakit,saya dan tuan Ethan yang bergantian menjaga Nyonya.Kebetulan beliau sedang dirawat di sana, jadi dia menawarkan diri untuk bergantian menjaga nyonya, agar bibi juga punya waktu untuk istirahat.Itu saja yang saya ketahui Tuan",ucapnya terbata-bata dengan tangan gemetar.


Setelah Adam mendengarkan penjelasan Bi Darsih,dia membolehkannya untuk pergi.Dia mencoba menghubungi Ibunya dan mendengarkan penjelasan dari beliau.


"Halo",sapa Ibunya setelah mengangkat telpon


"Halo bu?ada yang ingin aku bicarakan pada Ibu"


Ibu Adam terdiam cukup lama, seakan mencari tempat untuk bisa berbicara dengan bebas.


"Ada apa nak?Ibu tidak bisa bicara terlalu lama karena Ayahmu sedang di rumah"


"Apa Ibu menemui Lily saat aku ke Tiongkok?"


Ibunya terdiam lagi.Tak lama kemudian,dia kembali bersuara


"Ibu menemuinya untuk membicarakan perihal anak.Ibu memang memaksanya untuk membujukmu segera memiliki anak.Bagaimanpun juga,kalian sudah menikah tiga tahun dan belum dikaruniai anak.Ibu hanya ingin kamu bahagia jika kamu bisa memiliki anak secepatnya.Apalagi jika kalian melahirkan bayi laki-laki.Kamu tahu sendiri kakak-kakakmu hanya memiliki anak perempuan.Ibu pikir itu kesempatan untuk mencuri perhatian Ayahmu,nak!"


Adam terkulai lemas mendengar ucapan Ibunya.Seakan petir menyambar tubuhnya untuk kesekian kalinya.Dia geram,ingin marah,namun beliau adalah Ibunya,orang yang sangat dia hormati


"Kenapa Ibu melakukan itu?Kenapa Ibu tidak mengatakannya langsung padaku?Kenapa harus menyakiti perasaannya?Kenapa?"


"Ibu tidak tahu kalau saat itu rumah tangga kalian sedang bermasalah.Ibu mengira kalian baik-baik saja,jadi Ibu mengatakannya langsung pada Lily.Ibu pikir kamu akan luluh, jika Lily yang memintamu untuk melakukannya"


Adam terdiam.Akhirnya,bagaimanapun dia mencoba mencari akar permasalahan rumah tangga mereka,jalannya tetap mengarah pada dirinya sendiri.Tidak ada penyebab lain,tidak ada keterlibatan orang ketiga,semua permasalahan mereka berawal dari Adam sendiri.


Sejak dia menjabat sebagai direktur,dia menghabiskan waktu berkeliling keberbagai negara dan bertemu berbagai macam klien.Demi memuaskan para klien,Adam menjamu mereka dengan makanan dan alkohol.Semenjak saat itu,tempramen Adam berubah.


Alkohol memberinya ketenangan,namun tak menghilangkan beban dan kepenatannya.Perangainya semakin memburuk dan pandangannya akan Lily mengabur seiring kecanduannya terhadap alkohol.Dan kehadiran Sophia di sisinya,semakin mengaburkan posisi Lily dihatinya.


Sophia selalu mendampinginya dan bersikap lembut,memberinya perhatian seperti seorang kekasih.Dia membuat Adam terikat akan pekerjaan dan selalu memberinya dukungan agar Adam hanya tertuju pada kesuksesan karirnya dan menomor duakan Lily,berfikir Lily akan sabar menunggu disisinya hingga ambisinya terpenuhi.


Namun dia tak menyadari, jika Lily merasakan perubahan sikap Adam dan memilih menjauh karena hal itu.Dan Adam baru menyadari semuanya hari ini.Adam meraung-raung menyesali semua kesalahan bodohnya yang selama ini dia lakukan tanpa sadar.


"Lily maafkan aku,tolong maafkan aku",ucapnya Lirih.


...****************...


Dua bulan sudah, Adam dan Lily resmi bercerai.Namun hati Adam masih diliputi kesedihan mendalam,karena perpisahan mereka.


Setiap pagi sebelum berangkat kerja atau tiap kali akan berangkat ke luar negeri,Adam selalu mengendarai mobilnya menuju rumah orang tua Lily.Dia selalu memarkirkan mobilnya tepat didepan kamar Lily.Dia menatap ke arah jendela selama lima menit,lalu berangkat ke kantor.Sesekali dia mendapati Lily berdiri di jendela,namun lebih sering dia tak bertemu, sampai akhirnya pergi.


Selain itu, Adam lebih sering pulang kerumah.Dia lebih memilih menghabiskan waktu diruang kerjanya untuk menyelesaikan tugas kantor yang tak selesai ia kerjakan.


Ada yang sedikit berubah pada ruang kerja Adam. Dinding yang berhadapan dengan meja kerjanya,dulu dipenuhi dengan foto perjalanan dinasnya keluar negeri.Kini berganti dengan sebuah lukisan besar yang hampir memenuhi seluruh dinding.


Lukisan seorang wanita yang sedang berdiri,dengan rambut hitam tergerai seolah tertiup angin.Dia tersenyum dan memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya.Sorot matanya sangat meneduhkan hati,menyiratkan kerinduan ingin bertemu dengan orang yang ditatapnya.Dan tatapan itu seolah ditujukan untuk Adam jika ia duduk tepat di kursi yang sering ia gunakan diruang kerjanya.Sosok wanita dalam lukisan itu tak lain adalah Lily.


Adam sengaja memajang lukisan itu untuk mengobati rasa rindunya pada Lily.Tak hanya satu,di kamarnya pun dia menggantung lukisan yang sama dengan ukuran yang sama tepat didepan ranjangnya.


...****************...


Adam baru saja pulang dari perjalanan dinasnya.Dia terlihat membawa sebuah paper bag dan berjalan menuju kamarnya.Saat membuka pintu,aroma parfum Lily tercium memenuhi seluruh kamar.


Ya,Adam menyuruh Bi Darsih untuk menyemprotkan parfum yang biasa dipakai Lily tiap kali membersihkan kamarnya.


Setelah menutup pintu,Adam pun berjalan ke ruang ganti.Tampak barang-barang yang ditinggalkan Lily masih tersusun rapi ditempatnya.Tak ada yang bergeser sedikitpun dari tempatnya.Adam menyimpan koper di sudut ruang ganti.Lalu membuka lemari yang berisikan hadiah pemberian Adam untuk Lily.Semuanya sudah tertata rapi dalam lemari.


Adam membuka paper bag yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah sepatu sneakers keluaran terbaru.Dia menempatkannya dengan sepatu sneakers yang dibelikannya beberapa bulan yang lalu dan belum dipakai sama sekali oleh Lily.


Adam ingat,Lily paling menyukai hadiah sepatu.Selama dua bulan ini,jika dia sedang dinas keluar negeri,dia tetap membeli hadiah untuknya dan menyimpannya di dalam lemari yang menjadi bagian Lily,seakan yakin jika suatu saat Lily akan kembali kerumah ini.


"Ada apa bi?",tanya Adam


Bi Darsih terlihat ragu,namun Adam sedang menunggu jawaban dari Bi Darsih


"Tadi ada seseorang yang mengantar undangan untuk tuan",dengan tangan gemetar Bi Darsih menyodorkan sebuah undangan pada Adam.


Belum sempat Adam membukanya,bi darsih segera meninggalkan Adam sendiri.


Adam tak menghiraukan tingkah Bi Darsih dan masuk kedalam ruang kerjanya.Begitu duduk di kursinya,Adam membuka undangan itu.Sebuah undangan pernikahan.Matanya terpaku pada nama yang tertera di undangan tersebut,Lily dan Ethan.


Seketika pandangannya kabur,kepalanya berputar dan tubuhnya seolah tak mampu untuk duduk dengan tegap.Dia bersandar pada kursi.Ditariknya nafasnya dalam-dalam,berusaha untuk menguatkan hatinya.


Sekali lagi dia membaca undangan pernikahan itu.Dan benar saja,undangan itu merupakan undangan pernikahan Lily dan Ethan, yang akan diselenggarakan lusa,tepat di hari keberangkatannya ke Dubai.


Hatinya hancur,pikirannya buyar.Seolah penyesalan yang dirasakannya harus berganti dengan keikhlasan menerima kekasihnya dimiliki oleh orang lain.Adam kembali menangis,meratapi kemalangan dirinya.Seolah tak cukup hanya dengan penderitaan,Tuhan pun merebut hatinya sebagai penebusan dosanya.


Semalaman dia tak henti-henti menyalahkan dirinya sendiri, atas kebodohannya melepaskan cinta pertama, yang telah dimilikinya selama lebih dari sepuluh tahun.


Hatinya hancur berkeping-keping.Pengharapannya akan kembalinya Lily disisinya kini sirna.Dia tak dapat tidur,air matanya terus mengalir seraya menatap lukisan Lily dari ranjang.


"Apakah sebegitu kejamnya aku padamu?Apakah tak ada lagi rasa sayangmu yang tersisa untukku?Kenapa semudah itu kamu melupakan aku?Sedangkan aku menderita sendiri karena perasaanku padamu!",Adam meratapi dirinya.


Tak dapat tidur,Adam beranjak dari kamarnya menuju meja makan dilantai bawah.Dia berjalan kearah lemari kaca yang berada disamping meja.Dia mengambil salah satu botol wine yang tersusun rapi didalam lemari lalu mengambil gelas dan meneguknya.


Namun baru sekali teguk,Adam tiba-tiba teringat kejadian-kejadian yang menyakitkan hati Lily.Dan dia tahu,semua penyebabnya karena alkohol.Adam merusak rumah tangganya sendiri setelah kecanduan alkohol.Adam pun melempar botol wine yang dipegangnya.


Tak puas satu,Adam mengeluarkan semua botol wine yang ada dalam lemari dan melemparkannya ke lantai hingga habis.Dia kembali menangis,meraung-raung dan terduduk dilantai seolah tak mampu lagi untuk berdiri.


Terlihat Bi Darsih tergopoh-gopoh berlari dari kamarnya, saat mendengar suara pecahan kaca beruntun.Betapa terkejutnya dia saat mendapati Adam yang duduk dilantai seraya menangis.Disekelilingnya penuh dengan serpihan botol dan wine yang menggenangi lantai.Tangannya bahkan penuh luka,akibat serpihan kaca yang memantul.


Segera Bi Darsih mengambil lap dan tong sampah,dia memunguti satu persatu serpihan botol seraya menangis melihat kemalangan Adam.Adam yang menyadari kehadiran Bi Darsih, hanya duduk menangis, seolah tak peduli jika Bi Darsih melihatnya bersedih.


"Bi,apa aku sebegitu kejamnya pada Lily?"tanya Adam pada Bi Darsih


Bi Darsih hanya diam.Dia terus saja memunguti serpihan botol tanpa berkata apa-apa


"Kenapa Lily tidak bisa memberiku kesempatan?Kenapa Lily begitu membenciku?Kenapa dia memilih orang yang baru dikenalnya beberapa bulan?Kenapa aku yang harus ditinggal sendiri?Kenapa bi?",tangis Adam semakin menjadi-jadi.


Bi Darsih yang mendengarnya pun ikut menangis.Dia berhenti memunguti serpihan botol dan menghampiri Adam.Dia membersihkan tangan Adam dan mencabuti serpihan botol yang tertancap di tangannya.Dia mengambil obat dan perban di kotak P3K dan mengobati tangan Adam.Hatinya ngilu melihat kondisi Adam seperti ini.


Adam dan Lily sudah seperti anaknya sendiri.Mereka memperlakukan Bi Darsih dengan sangat baik dan tak sekalipun menghardiknya walaupun dia hanya seorang pembantu.Itulah yang membuat Bi Darsih nyaman bekerja sejak dulu.Dan Bi Darsih orang yang menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka berdua, karena dia telah bekerja sejak awal mereka menikah dan pindah kerumah ini.


"Tidak ada yang salah tuan,hanya saja takdir pernikahan tuan dan nyonya hanya sampai disini.Tuan harus belajar ikhlas dan memulai hidup yang baru seperti nyonya"ucap Bi Darsih sedih


Setelah selesai mengobati tangan Adam,dia mengelus punggung Adam, berusaha menguatkan hati tuannya dan lanjut membersihkan serpihan botol dan genangan wine di lantai.


Sementara Adam berdiri setelah berterima kasih pada Bi Darsih dan menuju kamarnya.Dia merasa lelah dan ingin tidur untuk menghilangkan rasa sakitnya.


...****************...


Hari ini,hari dimana Lily akan menikah.Juga hari dimana Adam harus berangkat ke Dubai.Pesawatnya akan berangkat jam tiga sore,namun ia sudah bersiap ke bandara pagi-pagi.Rasanya dia ingin segera pergi dan tak memenuhi undangan pernikahan Lily.


Jam delapan pagi,Adam sudah tiba di bandara.Kali ini dia tidak kerumah orang tua Lily, karena tak ingin sakit hati melihat dekorasi pernikahan di rumah itu.Dengan perasaan gelisah, dia duduk di ruang tunggu bandara.Namun hatinya terus saja terusik,seolah memberinya kekuatan untuk mencoba kesempatan sekali lagi sebelum semuanya berakhir.


Tepat pukul sembilan, Adam tak bisa lagi menahan dirinya.Dia meninggalkan bandara menuju hotel tempat pernikahan Lily akan diselenggarakan.Pernikahannnya dimulai pukul sepuluh siang,setidaknya dia masih ada kesempatan bertemu Lily dan menyatakan penyesalannya.Adam pun mempercepat laju mobilnya.


Sesampainya di hotel,dia melihat beberapa karangan bunga ucapan selamat dan beberapa foto pra wedding Lily dan Ethan terpampang di sepanjang jalan menuju gedung hotel.Dia segera menuju resepsionis dan menanyakan tempat berlangsungnya pernikahan Lily dan Ethan.


Adam terus berlari,dia menekan tombol lift menuju lantai dua.Begitu tiba disana ,dia segera masuk ke dalam ball room hotel.Namun hatinya begitu hancur,melihat keduanya sudah duduk di pelaminan dengan senyum bahagia,tanda akadnya sudah selesai digelar.Mereka telah sah sebagai pasangan suami istri.


Kaki Adam seakan keluh.Dia segera berbalik badan dan meninggalkan acara tesebut, seraya menahan air matanya yang sudah berkumpul disudut matanya.Dengan berat hati, dia kembali menuju bandara dan tak pernah sekalipun mencoba menemui Lily lagi.


...****************...


Sudah lebih dari satu tahun Adam terfokus pada pekerjaannya.Kini jabatannya sudah stabil,bahkan mendapat pengakuan dari perusahaan setelah berhasil melancarkan beberapa proyek perusahaan.


Namun harga yang harus dibayar untuk kesuksesan itu tak lain adalah kehidupan Adam sendiri.Sophia sudah dipindahkan ke departemen lain dan Adam hanya terfokus pada pekerjaannya.Dia semakin sering keluar negeri dan sangat jarang pulang kerumah.Diapun sudah tak pernah menyambangi rumah orang tua Lily,bahkan tak sekalipun mendengar kabar apapun tentang mereka.


Namun kebiasaanya membeli hadiah untuk Lily masih dia lakukan,hingga lemarinya pun mulai dipenuhi barang-barang tersebut,seolah hal itu menjadi pengobat luka akibat ditinggal oleh Lily.


Besok Adam akan berangkat ke Singapore.Dia singgah ke sebuah mall untuk membeli beberapa kemeja dan perlengkapan yang akan dibawanya.Adam sedang melihat-lihat pakaian saat tak sengaja melihat sepasang suami istri yang tak asing baginya.Mereka terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya.Hanya saja sang istri terlihat kesulitan untuk berjalan, karena perutnya yang buncit.Sementara sang suami dengan sabarnya menuntun istrinya untuk berjalan.


Adam mengikuti mereka dari belakang.Mereka terlihat berhenti di bagian perlengkapan bayi dan tengah asyik memilih beberapa barang keperluan bayi.Adam hanya berani melihatnya dari kejauhan.Sesekali Adam tersenyum saat melihat sang istri sedang mengoceh tak setuju dengan pilihan suaminya.Namun Adam menunduk ketika sang suami terlihat menenangkan istrinya seraya mencium pipi dan keningnya.


Setelah lama berkeliling,sang suami membantu sang istri duduk disebuah kursi khusus Ibu hamil dan meninggalkannya sendiri.Adam sangat ingin menghampirinya, namun kakinya seolah berat untuk melangkah.Dia hampir pergi meninggalkan wanita hamil itu,namun kakinya kembali terhenti ketika Adam melihatnya berusaha mengambil jepitan rambutnya yang jatuh.Wanita itu nampak kesulitan karena terhalang oleh perutnya yang buncit.


Tanpa sadar,Adam berjalan kearah wanita hamil itu dan membantunya mengambil jepitan rambut yang jatuh ke lantai.Namun belum sempat memberikan jepitan rambutnya, air mata Adam mendadak menetes tanpa alasan.Dia tak jadi menoleh, malah sibuk menghapus air matanya.


"Adam",terdengar suara lembut dari mulut wanita yang tengah duduk dihadapan Adam.


Seketika Adam merasa senang dan bahagia mendengar suara itu.Suara Lily yang ia rindukan tiap malam.Dengan senyum yang merekah,Adam memberanikan diri menatap wajahnya.Betapa bahagianya dia, ketika melihat wajah itu lagi setelah sekian lama.Wajah yang teramat sangat dia rindukan,walaupun terlihat sedikit berisi,namun dia tetap terlihat cantik seperti biasanya.


...****************...


Setelah pertemuan singkatnya dengan Lily dan Ethan,Adam merasa sedikit lega.Sesuatu yang mengganjal dihatinya seakan menghilang begitu saja.Kerinduannya pada Lily pun sudah terobati saat melihatnya bahagia bersama orang yang dia cintai.Kakinya terasa ringan melangkah untuk menata masa depannya.Pertemuan itu seakan mampu membuatnya bertahan di dunia ini sendiri tanpa pendamping hidup yang baru.


Lily,cinta pertama dan terakhir Adam yang tak akan pernah tergantikan dengan siapapun.Walaupun dia tak memiliki raganya,namun kenangan bersamanya tetap hidup dalam hati Adam.