Love In Tears

Love In Tears
Antara Lily,Adam dan Ethan



Baru saja tiba di lobi Hotel,Adam tiba-tiba muncul dan menarik tangan Lily


"Sayang,kamu kemana saja?aku mencarimu seharian ini."


Lily tampak kesal.Dia berusaha tenang dan mencoba melepaskan genggaman tangan Adam,namun dia mencengkeramnya terlalu erat.Ethan yang melihatnya,tak tahan untuk tidak ikut campur.Dia memegang tangan Adam,mencoba memberinya peringatan untuk tidak memulai keributan.


"Ini tempat umum,bisakah kamu tidak melakukan hal aneh disini.Sekarang lepaskan tanganmu dan ikut aku"


Adam pun melepaskan genggamannya.Mereka bertiga berjalan kearah private room di lantai satu.Ethan mempersilahkan Lily dan Adam masuk lebih dulu,lalu mengikuti mereka dari belakang.Ethan berdiri tepat di depan pintu.Seketika,Adam memeluk Lily dan menangis sejadi-jadinya


"Sayang, tolong maafkan aku!Aku sungguh khilaf malam itu.Tanpa sadar aku meminum banyak alkohol,lalu mabuk dan melakukan hal diluar kendali.Tapi sungguh,aku tidak berniat melukaimu!"


Ethan menatap Adam dengan jijik.Sungguh alasan yang sangat tidak masuk akal baginya.


Lily berusaha melepaskan pelukan Adam.Dia tak peduli dengan penjelasan yang Adam berikan.Dia terus membayangkan kejadian malam itu dan menerka-nerka "khilaf" seperti apa yang dimaksud Adam.Tiba-tiba dia teringat aroma kemeja saat Adam pulang dari New York.Aroma itu sama persis dengan aroma parfum wanita yang bersama Adam malam itu.


"Dia wanita yang sama saat kamu ke New York kan?"Lily memberanikan diri menanyakan hal yang sebenarnya tak ingin dia bahas.


Seketika wajah Adam berubah pucat.Dia tak menjawab pertanyaan Lily


"Dia rekan kerja,atasan,senior,junior atau bawahan yang kamu bawa kesana kemari?",tanya Lily dengan nada tinggi .


Adam masih terdiam


"Katamu kamu khilaf,tapi yang kamu lakukan ini bukan yang pertama kali,bukan?"


Adam tetap terdiam


"Dasar brengsek!penipu!",suara Lily makin meninggi


"Sejak kapan kamu melakukan ini?Sejak kamu tak ingin menyentuhku lagi?Atau sejak kamu naik jabatan?Atau jauh sebelumnya?Kapan?Ayo jawab!",bentak Lily


Namun Adam tetap saja terdiam


"Brengsek!Kamu bahkan tidak ingat sudah berapa bulan kamu menghindari ku dengan dalih pekerjaan!",Lily memukuli Adam tanpa henti,sembari menangis.


Adam hanya terdiam tanpa perlawanan.


Ethan yang mendengar semua ucapan Lily, merasa geram dan ingin menghajarnya.Namun urung dia lakukan,karena tidak ingin menambah masalah untuk Lily.


"Iya,aku brengsek!Aku tidak sadar telah melakukan kekhilafan itu saat di New York!Dia bahkan menghiburku saat kami di Brunei.Itu karena aku banyak pikiran tentang kamu dan pekerjaan kantor!Sophie adalah anak mantan direktur yang menjabat sebelum aku.Dia juga salah satu staff yang bekerja di departemenku.Dia selalu membantuku menyelesaikan semua tugas kantor dan mendengar keluh kesahku.Aku merasa berhutang budi padanya,jadi aku tak bisa menolak jika dia mengajakku minum-minum.Katanya aku butuh sedikit hiburan.Aku tidak akan melakukan hal ini jika dia tidak mencoba merayuku saat mabuk!"


Ucapan Adam membuat Ethan gelap mata.Bisa-bisanya dia menyalahkan wanita yang berselingkuh dengannya dan berlagak menjadi korban dalam hal ini pada istrinya.Ethan berjalan kearah Adam dan melayangkan pukulan ke wajahnya


"Dasar brengsek!Alasan apa itu?Kamu pikir itu membenarkan perbuatanmu?",Ethan ingin menghajarnya lagi namun Lily berusaha menahannya


"Kak Ethan,tolong tenanglah!",Lily coba menenangkan Ethan


"Apa kamu tidak dengar yang dia katakan barusan?!Alasannya sangat tak masuk akal dan itu membuatku kesal mendengarnya!"


Adam yang terjatuh pun,kembali berdiri dan mengelap darah yang menetes di sudut bibirnya.


"Memangnya kamu siapa?Kenapa selalu ikut campur rumah tangga orang lain?Bukannya kamu juga berusaha mendekati istriku?Coba jelaskan alasanmu berbaik hati padanya?",bentak Adam pada Ethan.


Ethan kembali tersulut emosi.Dia ingin meninjunya lagi ,namun sekali lagi Lily coba menahannya.


"Kak Ethan!Ku mohon hentikan!"


Ethan menahan pukulannya.


"Ku mohon,beri aku waktu bicara empat mata dengannya!"


"Tapi Lily..."


"Kumohon!!",pinta Lily memelas,dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Ethan tak tega melihat Lily menangis.Diapun meninggalkan ruangan itu dengan kesal.


"Sekarang aku tidak ingin membahas hal ini.Aku juga tak ingin bertemu denganmu sementara waktu.Ku harap kamu menyelesaikan pekerjaanmu dengan lancar dan kita segera kembali ke Indonesia,untuk menyelesaikan masalah ini.Aku tidak ingin membuat keributan dan menyusahkan orang lain,jadi ku mohon tahan dirimu hingga kita tiba di Indonesia",ucap Lily lalu berbalik meninggalkan Adam sendiri.


Tepat didepan pintu,Lily menghapus air matanya.Dia berusaha tersenyum dan menguatkan hatinya,lalu keluar dari ruangan tersebut.Terlihat Ethan yang sedang berdiri dengan gelisah didepan pintu.


Dia hanya menjawab dengan anggukan.


"Kita kembali sekarang?"


Tanpa menjawab,Lily pun berjalan ke arah lift dan Ethan mengikutinya dari belakang hingga ke depan kamar.


"Maaf kak,aku sudah sangat merepotkan mu",Lily menunduk malu


"Jika butuh sandaran,kamu boleh memelukku",ucap Ethan spontan,sembari merentangkan kedua tangannya


Tanpa berkata apapun,Lily berjalan menuju Ethan.Dia menyandarkan tubuhnya pada Ethan dan menangis sejadi-jadinya.Dan tanpa berkata apapun,Ethan memeluk Lily dengan erat sembari mengelus rambutnya.Seakan bisa merasakan kepedihan hati wanita yang ada di pelukannya ini,air mata Ethan ikut mengalir.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku kak?Apa aku ini istri yang buruk?"


"Tidak,itu tidak benar!Kamu istri yang sempurna.Hanya saja,kamu tidak bertemu laki-laki yang tepat",Ethan coba menghibur Lily.


...****************...


Setelah tangisan Lily mereda,Ethan melepaskan pelukannya dan membiarkan Lily masuk ke dalam kamarnya,sementara Ethan berjalan menuju kamarnya begitu Lily menutup pintu.


Deni tengah duduk di sofa sembari memainkan ipadnya saat Ethan masuk ke dalam kamarnya.


"Aku membawa jadwal terbaru kita untuk tiga hari kedepan.Selebihnya tidak bisa kita geser,karena undangannya sudah tersebar"


Ethan membuang tubuhnya di sofa dan menghela nafas panjang.


"Kali ini aku tidak akan melepaskan dia.Apapun yang kamu katakan,aku tidak akan mendengarnya"


Deni menghampiri Ethan dan duduk tepat disampingnya.


"Kamu ingin aku menjawab mu sebagai asisten atau sebagai sahabat?",tanya Deni


"Kedua-duanya"


"Jika sebagai assisten,aku akan menghentikan mu malam ini juga"


Ethan menghela nafas


"Jika sebagai sahabat?",tanya Ethan penasaran


"Aku akan menyuruhmu bersabar dan menunggu sampai mereka bercerai"


Mendengar perkataan Deni,Ethan langsung terkejut


"Aku tidak pernah menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulutmu"


"Aku sendiri tidak percaya bisa mengatakan hal ini padamu.Tapi,aku melihat kamu sangat..."


"Sangat apa?",tanya Ethan semakin penasaran


"Sejak ayahmu sakit-sakitan,aku tidak pernah melihatmu tersenyum lagi.Kamu bekerja seperti robot dan seakan tidak peduli dengan orang di sekitarmu.Dan saat ayahmu meninggal,semua beban perusahaan seolah menjadi tanggung jawabmu.Kamu jadi terobsesi dengan kesempurnaan dan tidak ingin ada celah sedikitpun.Kamu bahkan rela menyiksa dirimu sendiri demi pekerjaan"


Deni mengungkapkan isi hatinya dengan menggebu gebu.


"Tapi sejak kamu memandanginya di jendela itu,kamu kembali seperti dirimu yang dulu ku kenal.Aku seperti melihat Ethan yang dulu saat SMA.Pria ceria dan energik.Itulah Ethan yang aku kenal",ucap Deni dengan senyum ceria


"Memang salah mencintai istri orang,bahkan kamu merusak semua jadwal yang sudah ku susun dengan baik.Tapi ada hal positif yang terjadi ditengah kekacauan yang kamu lakukan akhir-akhir ini.Sekarang kamu jauh lebih ekspresif,lebih banyak tersenyum dan mulai terbuka padaku lagi.Walaupun tak bisa dipungkiri,pekerjaanku juga semakin menumpuk"


"Jika saja aku tahu kelakuan suaminya seperti itu,maka dari awal aku akan menyuruhmu merebutnya dari si brengsek itu!Lily itu wanita yang patut diperjuangkan dan dia malah menyia-nyiakannya!",ucap Deni kesal


"Tapi ingat!Jangan gegabah dan tunggu waktu yang tepat karena sepertinya jalanmu untuk mendapatkan hatinya masih terlalu panjang",sambung Deni


"Aku tidak berharap dia berbalik padaku setelah semua ini.Aku hanya berharap,dia tidak tersakiti lagi karena bajingan itu"


"Pria seperti itu tidak masuk dalam golongan pria keren seperti kita",canda Deni di ikuti tawa Ethan


Mereka pun mengakhiri pembicaraan.Deni kembali ke kamarnya dan Ethan langsung tertidur tanpa mengganti pakaiannya