
Deni bersikeras ingin menjaga Ethan, walaupun Ethan sudah menyuruhnya pulang dan beristirahat.Namun telpon dari kantor, mengharuskannya segera kembali.
"Begitu urusan selesai, aku akan kembali"
"Tidak perlu!Aku baik-baik saja.Kau pulang saja ke rumah dan istirahat.Aku juga ingin istirahat!Kalau kau ada disini, aku justru tidak bisa tidur mendengar ocehanmu"ucap Ethan sembari menutup kedua matanya
"Kalau begitu aku telpon Ibu atau Alex untuk menjagamu"
Sontak Ethan membelalakkan matanya ke arah Deni,"jangan coba-coba menelpon mereka!Kalau tidak, aku akan menendangmu dari perusahaan"
"Jika kamu menendangku, aku akan kembali dengan merangkak ke hotel"
Ethan makin memelototi Deni
"Lagipula, besok beritanya pasti akan tersebar sampai ke Hotel"
"Sampaikan pada para staff, hal ini jangan sampai diketahui para dewan komisaris, terutama 'Ibu Wakil'.Jika ada yang menanyakan keberadaanku, bilang saja aku sedang ke luar kota atau ke hongkong untuk tugas",tegas Ethan sembari memberi penekanan pada kata'Ibu Wakil'yang tak lain ibunya sendiri.
"Baiklah,akan ku lakukan!Manfaatkanlah kesempatan ini untuk beristirahat dengan baik dan telepon aku jika terjadi sesuatu.Besok aku akan membawakan laptopmu, agar kau bisa memantau pekerjaan dari sini"
"Baik!Tapi sebelum pulang, tolong atur posisi tempat tidurku",Ethan tersenyum sambil memohon pada Deni
"Aku belum pergi saja kau sudah butuh bantuan dariku"
"Sudah kalau kau tidak mau!Aku bisa melakukannya sendiri."
"Baik-baik!Jangan ngambek, sangat tidak cocok dengan imagemu!", Deni pun memperbaiki posisi tempat tidur Ethan, lalu pamit pergi
...****************...
Ethan terbangun saat perawat masuk dan menyuntikkan antibiotik pada selang infusnya.Setelah perawat pergi, dia tidak bisa tidur dan merasa haus.Ethan mencoba bangun dan berjalan ke arah meja, berusaha mengisi air minum ke dalam gelas dan meminumnya.
Rasa kantuknya hilang usai meneguk air.Ethan mendorong tiang infusnya dan berjalan keluar kamar.Dia melihat seorang pria sedang duduk dengan gelisah,tepat di sebelah kamar yang dia tempati.Samar-samar Ethan mengenali orang itu.Karena penasaran,ia pun berjalan menghampirinya
"Anda sopirnya Lily?", tanya Ethan sedikit ragu.
Pria itu langsung menoleh saat mendengar suara Ethan, "Iya,anda siapa?"
"Saya Ethan, tetangga depan rumah Lily", Ethan memperkenalkan diri, lalu duduk disamping Sopir Lily.
"Saya Indra, sopir nyonya Lily"
"Anda menjenguk siapa?", tanya Ethan penasaran
"Tadi siang nyonya Lily tiba-tiba pingsan dan saya membawanya ke rumah sakit.Beliau sedang dirawat di kamar itu", Pak Indra menunjuk ke arah kamar yang bersebelahan dengan Ethan
Ethan terkejut dan berjalan ke arah kamar yang ditunjuk sang sopir.Dia melihat Lily yang sedang tertidur dengan selang infus ditangannya,"Dia sakit apa pak?"
"Kata dokter, DBD.Dokter menyampaikan banyak hal pada saya, tapi saya tidak mengerti.Saya hanya meminta pada dokter untuk menolong nyonya saja dulu"
"Sudah hubungi keluarganya?"tanya Ethan lagi
"Tadi nyonya sempat sadar.Beliau menghubungi Tuan Adam, tapi tidak di angkat.Setelah itu, beliau melarang saya menghubungi Tuan Adam ataupun orang tuanya karena tak ingin mereka khawatir"
Pak Indra terlihat sangat lelah, namun ia tidak tega meninggalkan majikannya sendiri.Ethan pun merasa iba melihatnya, "Bapak pulang saja dulu dan istirahat.Biar saya yang menjaga Lily"
Pak Indra menoleh ke arah Ethan.Dia merasa tidak enak menitipkan Lily pada Ethan, yang juga sedang terluka.Apalagi leher dan tangan kanannya sedang di gips.
"Jangan khawatir!Kalau terjadi apa-apa,saya akan segera menghubungi Bapak"
"Bukan itu tuan!Saya merasa tidak enak karena tuan sendiri sedang terluka"
"Tidak apa-apa!Kalau saya merasa kesulitan, saya akan memanggil perawat"
Sopir Lily berpikir sejenak,"apa benar, tidak apa-apa saya pulang?"
"Tidak apa-apa!Bapak pulang istirahat.Besok, bapak kesini lagi, membawa perlengkapan yang diperlukan Lily"
Dia berdiri dan menundukkan kepalanya ke arah Ethan,"Terima kasih banyak tuan.Besok saya akan datang secepatnya"
"Iya,tidak apa-apa!Tidak perlu terburu-buru!Jangan karena terdesak, Bapak justru mengalami hal yang tidak di inginkan di jalan"
"Iya tuan, saya akan hati-hati!"
Pak Indra pun pamit dan meninggalkan Ethan sendiri.Ethan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Lily.Dia menatap Lily yang sedang tertidur dengan lelap.Wajahnya terlihat sangat tirus dan pucat.Seluruh tubuhnya penuh dengan ruam merah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?Padahal baru seminggu aku tidak melihatmu dan kondisimu sudah seperti ini ", taya Ethan pada dirinya sendiri.Dia memegangi tangan Lily yang hangat.
Tak ingin mengganggu tidurnya, Ethan berjalan ke arah sofa untuk berbaring.Ethan menatap langit-langit kamar rumah sakit, hingga tanpa sadar tertidur disana.
...****************...
Ethan tiba-tiba terbangun.Dia terkejut melihat Lily yang tengah duduk bersandar ditepi tempat tidur dan sedang menatap ke arahnya.
"Kebetulan aku juga dirawat di rumah sakit ini.Semalam sopirmu terlihat sangat lelah, jadi kusarankan padanya untuk pulang dan beristirahat dan berjanji akan menjagamu", jawab Ethan
"Aku sudah mendingan, jadi sebaiknya kamu istirahat dikamar."
"Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana aku bertanggung jawab pada sopirmu?"
Lily tersenyum,"Kamu sendiri juga butuh perawatan, bagaimana bisa menjagaku?"
Ethan hanya cengengesan, "Setidaknya biarkan aku menemanimu sampai sopir mu datang"
"Terima kasih sebelumnya!Juga maaf karena sudah merepotkanmu!"
"Tidak apa-apa"
Pagi itu, Ethan benar-benar tak beranjak dari kamar Lily.Mereka mulai mencairkan suasana dengan mengobrol hal-hal lucu dan pengalaman konyol yang pernah mereka alami.Ethan bahkan tidak akan beranjak dari kamar Lily, jika Deni tidak membuat keributan di rumah sakit, karena dia menghilang dari kamarnya.
Deni berteriak dan memarahi semua perawat yang ada di ruangan itu, mengira Ethan menghilang karena kelalaian mereka yang tak menjaganya dengan baik.Namun semenit kemudian, Deni merasa sangat malu, ketika Ethan tiba-tiba muncul dengan wajah polosnya, saat ia sibuk memarahi para perawat di ruangan itu
"Maaf, saya sudah membuat keributan",ucap Deni pada seluruh perawat yang berjaga saat itu sambil menunduk.Dia benar-benar kesal pada Ethan jika mengingat kejadian beberapa saat lalu.
"Tidak apa-apa Pak,!Ini juga termasuk kesalahan kami, karena lalai menjaga pasien", ujar salah satu perawat sembari tersenyum.
Deni pun menegakkan badan lalu memegang pundak Ethan dan memaksanya untuk membungkuk bersama-sama, "Maafkan juga sahabat saya.Sebenarnya semua ini karena perbuatannya!Mungkin dia sedikit hilang ingatan, sampai tak mengingat dimana letak kamarnya dan malah menghabiskan waktu dengan pasien lain"
Ethan menoleh kearah Deni.Dia berusaha mengangkat tubuhnya, namun Deni terus saja menahannya.Dia mencoba sekuat tenaga untuk berdiri, namun luka di sekujur tubuhnya, membuatnya tak punya tenaga melawan Deni.
"Maafkan saya suster.Saya tidak menyampaikan kepada sahabat saya dan membuatnya panik seperti ibu-ibu yang kehilangan anaknya di pasar", sindir Ethan sambil terus menatap ke arah Deni dengan kesal.
Setelah Ethan meminta maaf, Deni menyeringai dan kompak bangkit bersama Ethan.Perawat yang tadinya panik dan kesal, balik tertawa melihat tingkah keduanya,"baiklah kami maafkan"
"Apa yang kau lakukan di kamar itu?", tanya Deni berbisik,saat berjalan meninggalkan para perawat menuju ke kamar Ethan
"Dia tetangga yang aku ceritakan padamu"
Deni terperanjat,"Apa!"
Dengan sigap, Ethan membekap mulut Deni, sambil melirik ke arah perawat yang sempat menoleh ketika Deni menjerit.Ethan tersenyum ke arah mereka dan perlahan menurunkan tangannya dari mulut Deni, sambil terus berjalan ke kamarnya
"Tidak ada kerabat yang bisa menjaganya.Makanya aku menemaninya disebelah!", Ethan menjelaskan begitu mereka sampai di kamarnya
"Kamu gila ya!Diakan istri orang!Kenapa jadi kau yang menjaganya?"
"Diakan tetanggaku, jadi tidak masalah jika aku menolongnya saat dia kesulitan", Ethan mencari-cari alasan
"Iya, tapi dia punya suami!Sudah sepantasnya jika suaminya yang menjaga dia di rumah sakit."
"Suaminya sedang keluar negeri dan tidak bisa dihubungi"
"Kan ada orang tua atau saudara"
"Aku tidak tahu alasannya, tapi dia tidak ingin keluarganya tahu"
"Mertua dan saudara iparnya?"
"Entahlah"
"Masa tak satupun dari mereka yang bisa mengurus keluarganya yang sakit?", tanya Deni penasaran
Ethan hanya menggeleng sembari mengangkat kedua bahunya,"Makanya hatiku tergerak untuk menolongnya.Bukan karena suka padanya, aku hanya kasihan"
"Ya,aku mengerti!Jiwa sosialmu memang tinggi.Tapi kau juga harus merawat dirimu sendiri.Aku membawamu ke rumah sakit agar dirawat dengan baik hingga sembuh, bukan malah jadi perawat!paham?",ujar Deni sok menggurui
"Baik pak!", jawab Ethan sembari memberi hormat pada Deni, membuatnya makin kesal pada Ethan.
"Ngomong-ngomong, itu laptop dan beberapa kebutuhan selama kau disini", ucap Deni seraya menunjuk beberapa barang yang dia taruh di atas meja.
"Aku juga sudah menyewa perawat pria untuk membantumu jika ingin ke kamar kecil, mandi atau ganti pakaian.Dia sudah dalam perjalanan kesini, mungkin sebentar lagi sampai"
Ethan mengangguk paham, seraya memakan roti yang Deni berikan padanya.
"Ingat, jangan berkeliaran semaumu dan pulihkan kondisimu"
"Iya,iya!Kenapa kau jadi secerewet itu!"
"Aku tidak akan begini jika saja kau tidak melakukan hal bodoh seperti tadi.Mungkin karena kepalamu bocor"
"Iya, aku tahu Pak!Maafkanlah hamba!",goda Ethan, membuat Deni luluh dengan sendirinya
"Baiklah!Kalau begitu, saya kembali ke kantor dulu ya, Pak!Saya harus memeriksa beberapa dokumen yang mulai menumpuk.Selamat menikmati waktu liburannya", sindir Deni
"Ya sampai jumpa lagi",usir Ethan