
Event seni musik dan budaya,yang di gelar di venue Ethan,telah usai dan berjalan sesuai yang diharapkan.Bahkan melebihi ekspektasi mereka,membuat kliennya puas dengan keberhasilan acara yang mereka rancang selama berbulan-bulan.Ethan pun merasa lega,akhirnya bisa beristirahat setelah Event berakhir.
Deni telah menjadwalkan kepulangan mereka kembali ke Indonesia,sesuai permintaan Lily yang ingin melahirkan disana.
"Seluruh agenda kita telah selesai dan akan menyerahkan tanggung jawab kembali pada GM.Kita bisa pulang ke Indonesia tiga hari lagi,Pak.Namun sebelumnya,anda diminta menghadiri undangan pesta dari klien,sebagai perayaan keberhasilan proyek kita,besok malam.Mereka sangat mengharapkan kedatangan anda",tutur Deni serius dalam mode assisten.
"Mereka ingin memperkenalkan kita dengan rekanan mereka dari tiongkok.Sepertinya mereka menyukai konsep yang kita kerjakan pada Event kemarin dan berencana ingin bekerjasama untuk Event yang akan mereka gelar bulan Juni,tahun depan,di Tiongkok",sambungnya.
Ethan terlihat berpikir sejenak.Dia memperhitungkan waktu kelahiran anaknya dan proyek baru yang Deni maksud.
"Sepertinya kita harus menyerahkan proyek ini pada Paman.Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Lily.Sebentar lagi dia akan melahirkan.Selain itu,venue yang ada di tiongkok adalah milik paman",ucap Ethan menolak.
"Tapi pihak mereka menginginkan bekerjasama dengan anda!"
Ethan hanya terdiam.Dan kediaman Ethan,artinya keraguan di mata Deni.Dia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Ethan agar dia setuju.
"Bagaimana jika kita menemui mereka dulu.Jika anda mencapai kesepakatan dengan pihak mereka,kita akan bekerjasama dengan paman anda untuk pemakaian gedung dan pengawasan proyek dengan pembagian profit delapan puluh,dua puluh.Untuk pengerjaan proyek,kita serahkan pada staff inti perusahaan kita untuk dikerjakan.Anda hanya perlu memantaunya sesekali.Bagaimana menurut bapak?",Deni coba memberi ide.
Ethan mulai berpikir seraya mengetuk-ngetuk mejanya.
"Kamu yakin,kita hanya perlu menyerahkan sepenuhnya pada staff inti?"
"One hundred persen.Setelah melihat secara langsung kinerja dan kontribusi mereka,saya berani bertaruh.Jika ingin membangun relasi dengan mereka,anda juga harus berani berjudi".
Ethan nampak mempertimbangkan nasehat Deni.
"Baiklah.Mari kota coba berjudi!",Ethan menyeringai.
Deni tersenyum lega mendengar keputusan Ethan.Tiba-tiba Ethan mengingat sesuatu hal yang harus ia sampaikan pada Deni.
"Soal kepulangan ke Indonesia,aku ingin mengundurnya di awal tahun.Alex merengek ingin merayakan tahun baru dengan kami dan Ibu juga ingin menyusul kesini setelah menyerahkan tugas akhir tahun pada GM di masing-masing hotel dan resort.Jadi aku dan Lily memutuskan untuk tetap di Hongkong dan berkumpul dengan keluarga Ayahku di malam tahun baru".
Wajah Deni seketika masam.Dia terlihat tak setuju dengan permintaan Ethan kali ini.Seolah tahu,apa yang membuat sahabatnya itu muram,dia pun mencoba menghiburnya.
"Kamu bisa pulang sesuai jadwal dan menemui Nina.Aku tahu,kamu pasti merindukannya"
Seketika wajah Deni berubah ceria.
"Selain itu,aku juga akan memberimu bonus akhir tahun dan liburan gratis di resor kita di Bali.Ajak Nina,Paman,Bibi dan Dena kesana.Nikmati sepuasnya liburan akhir tahun kalian".
Mata Deni makin berbinar-binar mendengar perkataan Ethan barusan.
"Bos,kamu memang yang terbaik!Kamu sangat mengerti cara menyenangkan anak buahmu ini",ucapnya haru,sambil berjalan menghampiri Ethan dan ingin memeluknya.
Namun Ethan segera mendorong kursinya menjauh dari Deni.
"Bisa kita lewatkan acara peluk memeluk ini?Sekarang tubuhku tidak bisa disentuh orang lain selain istriku".
Deni nampak syok mendengar ucapan Ethan.Seketika tubuhnya merinding mengingat tiap kata yang keluar dari mulut Ethan.
"Begini ya rasanya,jika baru pertama kali jatuh cinta di usia tiga puluhan.Aku sangat kasihan padamu!".
Tiba-tiba sebuah sepatu melayang ke arah Deni,namun dia berhasil menghindar.
"Apa kamu tidak punya bakat melempar sesuatu?Kenapa lemparanmu tidak pernah tepat sasaran?".
Baru saja Ethan akan melepas sebelah sepatunya lagi,Deni sudah lebih dulu kabur dari ruangannya dan meninggalkannya sendiri.
...****************...
Hari ini,jadwal Ethan sedang lengang.Dia ingin mengajak Lily jalan-jalan.
Namun dia tak berjalan menuju kamarnya.Akhir-akhir ini Lily sering ke tempat lain di sekitar hotel,sejak kondisinya sudah membaik.Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama si pria bule yang selalu antusias dengan kedatangannya.Dan Ethan sedang berjalan menuju tempat itu untuk menemuinya.
"Selamat sore pak",sapa para staff
"Sore"
Ethan nampak tersenyum saat mendapati Lily yang tengah asyik membuat menu baru bersama Chef Bryan yang kini jadi teman bereksperimennya.Chef Bryan tak menyangka,jika istri bosnya ternyata salah satu lulusan dari sekolah tata boga terbaik di Prancis.
"Kali ini kalian sedang bereksperimen apa?",tanya Ethan begitu berdiri tepat disamping Lily.
Chef Bryan dan Lily kompak tersenyum menyambut kedatangan Ethan,sambil tetap fokus membuat garnish di tahap plating makanan.
"Aku dan chef Bryan sedang mencoba mengkombinasikan masakan khas Hongkong dengan rempah-rempah Indonesia."
Ethan mengangguk paham seraya menatap wajah istrinya yang nampak berseri-seri,meski telah menghabiskan waktu berjam-jam di hot kitchen bersama para staff dapur.Mereka sudah tak lagi canggung melihat bos dan istrinya berlalu lalang di dapur mereka,bahkan senang dengan kehadiran Lily.
Lily melirik sebentar.
"Tentu!Tapi setelah aku menyelesaikan ini"
Ethan pun mengizinkan dan setia menemaninya menyelesaikan kegiatannya.Lily terlihat puas dengan hasil kreasinya.Usai hidangannya di potret oleh chef Bryan,kini giliran Ethan selaku kelinci percobaan,mencicipi hidangan yang mereka buat.
"Hhmm!!!ini enak sekali!Sepertinya kita bisa memasukkan ini ke dalam list menu hidangan kita",ucap Ethan serius
"Cobalah,chef Bryan!Anda pasti akan membenarkan perkataanku".
Wajah Chef Bryan terlihat sangat puas saat mencicipinya.Ethan benar-benar memberi penilaian berdasarkan kualitasnya.
"Boleh kita masukkan ini ke dalam menu Mrs.Haryadi?",tanya Chef Bryan.
"Oui bien sur",wajah Lily berbunga-bunga.
"By the way,aku harus menculik co chef anda,chef Bryan.Aku ingin mengajaknya jalan-jalan",pinta Ethan pada Chef Bryan.
"Of Course,you can",jawabnya.
Ethan lalu berbalik ke arah perawat Lily,yang sedari tadi duduk di sudut dapur.
"Ners,anda bisa langsung ke kamar.Aku akan membawa bu Lily jalan-jalan."
"Baik pak".
Ethan menggandeng tangan istrinya menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama hotel dan membawanya jalan-jalan.
...****************...
Lily sedang menikmati butiran pasir pantai yang menyentuh telapak kakinya.Sesekali gulungan ombak kecil menyapu kakinya,memberikan sensasi dingin di kedua telapak kaki Lily.Ethan yang berjalan disampingnya,nampak senang melihat kebahagiaan istrinya,menikmati hal-hal sederhana seperti ini.
Setelah puas berjalan,Ethan dan Lily menuju ke sebuah bangku lengkap dengan meja.Mereka menikmati makanan ringan yang dibawanya tadi,sambil menunggu sunset.
"Besok aku harus menghadiri pesta bersama Deni"
Ethan memulai percakapan sembari asyik menyeruput kopi dan Lily menikmati king burger yang dibelinya di tengah perjalanan menuju Silver Mine Bay Beach.
"Pesta?".
"Semacam perayaan keberhasilan oleh klien kami.Mereka mengundang pihak penyelenggara sebagai apresiasi atas kerja keras kita menyukseskan acara mereka".
"Kak Ethan hanya pergi berdua dengan Kak Deni?".
"Iya,tujuan utama kami kesana,ingin bertemu klien baru dari Tiongkok".
Lily mengangguk paham.
"Yang terpenting kak Ethan berhati-hati.Aku takut ada hal-hal aneh dibalik pesta yang sering diadakan para konglomerat.Aku tidak sanggup jika harus mengulang kejadian yang terjadi pada Adam...",Lily tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Dia meletakkan burger yang dimakannya,seolah kehilangan selera.Menyadari kekhawatiran Lily,Ethan merangkul istrinya dari samping,berusaha untuk menghiburnya.
"Aku akan berusaha menjaga diri.Kamu tahu kan aku dan Deni tidak pernah meminum alkohol sama sekali dan para klienku sudah tahu akan hal itu,jadi apapun alasannya aku tidak akan melayani permintaan aneh mereka,meskipun aku harus kehilangan klien".
"Tetap saja aku cemas",ucapnya dengan wajah cemberut.
Melihat wajah Lily yang semakin kusut,Ethan mengangkat dagu istrinya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Aku janji akan berhati-hati",tutur Ethan pelan.
Wajah Lily terlihat sedikit tenang.Rasanya dia sungguh egois,jika menahan Ethan menghadiri acara yang penting untuk masa depan perusahaan,hanya karena memikirkan masa lalu yang belum tentu terjadi pada Ethan.Dia hanya bisa berdoa,agar dia tak mengalami hal yang serupa lagi,seperti saat bersama Adam.
Lily menghilangkan pikiran negatif yang memenuhi otaknya dan menikmati Sunset bersama Ethan.Wajahnya terlihat sangat bahagia,seakan ingin momen ini terhenti dan dia bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Ethan.
"Apa kita bermalam saja disini?",tiba-tiba saja Ethan bertanya pada Lily.
"Apa kak Ethan tidak ada kesibukan di kantor?"
"Tidak.Event telah berakhir dan acara akhir tahun hotel,sudah ku serahkan pada GM.Aku tidak ada kegiatan hingga kita pulang ke Indonesia awal tahun."
Lily tersenyum seraya bersandar di lengan Ethan.
"Sesekali merasakan tidur di hotel lain tidak apa-apa kan?",bisik Lily manja
Ethan hanya bisa menyeringai.Dia pun membatu Lily memakai kembali sepatunya dan bergegas bangkit meraih tangan istrinya.Ethan menuntunnya berjalan menuju Resort Silver Man Bay Beach dan menghabiskan malam romantis berdua di pinggir pantai yang tenang.