Love In Tears

Love In Tears
Bertemu Wanita di Masa Lalu 1



Lily tak melepaskan pandangannya dari daging yang sedang di panggang Ethan pagi ini.Sejak semalam,ia tak sabar menunggu ingin mencicipi daging BBQ,bahkan keinginannya itu membuatnya tak bisa tidur.


Malam sebelumnya....


Baru saja Lily bersiap untuk tidur,saat tak sengaja mencium aroma lezat daging,yang sedang dipanggang oleh salah satu tamu hotel.


Tak tega melihat istrinya yang tergiur dengan aroma asap daging,Ethan pun segera turun,untuk memesan paket BBQ dan berencana memanggangnya malam itu juga.


Sayangnya,baru saja ingin memasuki restaurant hotel,papan close telah terpampang di pintu restaurant dan tidak akan melayani permintaan dalam bentuk apapun di atas jam sembilan malam.


Alhasil,Lily terpaksa melalui malamnya dengan gelisah,menahan keinginannya untuk menikmati tiap gigitan daging BBQ yang empuk.


Berkali-kali Lily membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah diatas ranjang,mencari posisi ternyaman untuk tidur.Namun pikirannya sedang dipenuhi hasrat untuk menyantap daging yang telah di marinasi dan berwarna coklat mengkilap saat di panggang itu.


'Ah...sungguh nikmatnya!',batin Lily.


Ethan hanya bisa pasrah menunggu hingga matahari terbit,sembari mengelus punggung istrinya agar lebih tenang.


...****************...


"Segitu inginnya kamu menikmati daging ini,sampai-sampai tak membiarkan suamimu tidur dengan nyenyak!",Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya teringat kejadian semalam.


Lily hanya bisa menyeringai.


"Apa ini kurang?",tanya Ethan memastikan.Dia sengaja memesan 3 paket BBQ untuk memuaskan Lily,mengingat istrinya tak bisa tidur hanya karena sepotong daging yang sering disantapnya di Hotel mereka.


Setelah memastikan dagingnya matang,Ethan segera menyajikannya di dua piring,satu untuknya dan dua untuk Lily.Ethan menyodorkannya lebih dulu pada Lily agar istrinya berhenti menelan ludah.


Dengan senyum sumringah,Lily menyambut sepiring penuh daging BBQ pemberian Ethan,seolah sedang menerima jackpot.


Ethan tak henti-hentinya menyeringai melihat tatapan berbinar istrinya yang tengah menikmati tiap irisan daging panggang yang dilumuri sauce itu.Saat sedang asyik menatap istrinya,tiba-tiba handphone Ethan berdering,panggilan dari Deni.


"Halo,Ethan!Kamu dimana?Aku dari kamarmu dan ners bilang kalian pergi sejak kemarin dan belum pulang!",Deni segera menginterogasinya begitu Ethan mengangkat telepon.


"Aku sedang di resort silver mine bay beach,dekat dermaga feri Mui Wo.Tadinya aku tidak berencana menginap,tapi karena Lily yang memintanya,jadi kuputuskan untuk menginap semalam".


Deni terdengar menghela nafas.


"Ku kira kamu sengaja pergi untuk menghindari pesta nanti malam".


"Tidak.Aku sudah menyampaikannya pada Lily dan dia memberiku izin untuk pergi.Aku akan pulang sore ini."


"Apa kamu tidak butuh pakaian ganti?Kamu kesana tanpa pakaian ganti kan?".


"Ada stok pakaian di mobil.Pakaian kami saat pulang dari rumah sakit tak sempat ku turunkan dari mobil".


"Baiklah!Kalau begitu selamat bersenang-senang!Aku akan mengecek pekerjaan di kantor".


"Oke!".


Ethan menutup teleponnya.


"Kak Deni?",tanya Lily.


"Iya!Dia panik,mengira aku akan kabur menghindari pesta itu".


Lily tertawa mendengar ucapan Ethan,membuat Ethan ikut tertawa.Namun tawa Ethan tiba-tiba terhenti saat melihat piring Alya yang sudah kosong.Padahal dia memberinya dua potong daging BBQ.


"Sayang,apa benar kamu menghabiskan daging itu sendiri?",tanyanya heran.


Lily kembali menyeringai.


Ethan tak bisa berkata-kata lagi.Senang melihat istrinya menikmati daging panggang itu,Ethan pun memberi daging yang belum sempat ia santap pada istrinya dan hanya menyantap bahan pelengkap BBQ yang tak disentuh Lily.


...****************...


Langit nampak diliputi awan dan udara tak begitu panas.Pandangan Ethan tak lepas dari Lily yang sedang asyik bermain pasir di pinggir pantai.Dia terus saja tersenyum melihat kelakuan istrinya layaknya anak-anak,namun Lily sungguh terlihat cantik jika melakukan apa yang membuat hatinya bahagia.


Angin laut bertiup di sekitar pantai,menghilangkan sedikit kegerahan yang dirasakan Ethan sejak tadi.Dia berjalan menghampiri istrinya,yang sedang menggambar sesuatu di atas pasir,menggunakan ranting yang ia temukan di sekitar pantai.


"Kamu sedang menggambar apa?",tanya Ethan.


"Aku menggambar lumba-lumba yang waktu itu kita jumpai di tai o.Kak Ethan ingat?".


Ethan kembali menggulung senyum begitu teringat kejadian waktu itu.Betapa indah senyuman Lily saat ia melihat lumba-lumba di teluk Tai O.Tak terasa sudah satu setengah tahun berlalu sejak kejadian itu,namun perasaan Ethan pada Lily tak berubah sedikitpun.


Ethan memeluk istrinya dari belakang.Dia mengecup tengkuk Lily yang tertutupi oleh rambutnya yang tergerai dengan lembut,membuat Lily merasa geli.Satu tangannya menggenggam tangan Lily dan membantunya menyelesaikan gambar lumba-lumba di atas pasir,sementara tangan satunya ia letakkan di atas perut buncit Lily dan mengelusnya dengan lembut.Mereka sama-sama tersenyum saat gambar lumba-lumba yang mereka ukir telah selesai.


"I love you so much",bisik Ethan seraya menyingkap rambut Lily ke sisi sebelah.


Bibirnya menyentuh lembut daun telinga Lily dan menyusuri lehernya hingga ke tengkuk.


"I love you too....so much",Lily menjawab ucapan cinta suaminya sembari menutup matanya,menikmati sentuhan lembut Ethan disertai nafas hangat yang berhembus dari hidungnya.


Tiba-tiba tetes air hujan jatuh perlahan membasahi mereka.Ethan dan Lily tertawa sambil menikmati air hujan yang semakin lama semakin deras.


...****************...


Mereka berkemas-kemas untuk pulang setelah jam menunjukkan pukul 5 sore.Lily tertidur saat mobil baru saja melaju beberapa meter.


Ethan segera menepikan mobil dan meraih selimut tipis yang terlipat rapi di jok belakang.Dengan hati-hati,dia membaringkan kursi Lily,lalu menutupi tubuhnya dengan selimut agar tak kedinginan.Sesekali ia meraih punggung tangan istrinya dan mengelusnya dengan lembut agar tidak terbangun.


Begitu tiba di hotel,Lily masih asyik tertidur.Tak tega membangunkannya,Ethan pun berusaha menggendong Lily dengan pelan,setelah menutupi tubuh istrinya dengan selimut yang ia gunakan tadi.Staff hotel yang melihat Ethan berjalan ke arah lift khusus,segera berlari mendahuluinya dan menekan tombol lift untuk Ethan.


"Xie xie",ucap Ethan pada porter yang membantunya.


"Mei shi'r"balasnya.


Pintu Lift terbuka dan Ethan segera masuk ke dalam.Dia tersenyum dan berterima kasih sekali lagi pada si porter sebelum pintu lift tertutup.


...****************...


Ethan membaringkan Lily dengan pelan ke atas ranjang.Dia membelai rambutnya seraya mengecup keningnya.Lily sama sekali tak terganggu dan masih saja terlelap tidur.


'Apa dia selelah itu atau karena semalam tak bisa tidur memikirkan daging BBQ?'.


Ethan tertawa memikirkan apa sebenarnya penyebab Lily tidur sepulas ini,sampai-sampai tak terusik saat suaminya menggendongnya dari mobil,hingga ke kamar mereka di lantai 66.


Setelah puas menatap wajah istrinya,Ethan segera keluar dari kamar dan mencari perawat Lily.Namun baru saja ia menutup pintu,tiba-tiba Deni muncul dengan setelan jas lengkap dan sepatu pentofel.Kali ini jasnya nampak lebih mewah dari yang biasanya ia pakai saat bekerja.


"Kamu belum siap-siap?".


Ethan melirik jam tangannya,jam 7 malam.


"Tunggu sebentar,aku baru saja membaringkan Lily dan sekarang aku perlu bicara dengan ners".


"Baik,tapi segeralah!Kita akan menggunakan helikopter menuju clubhouse di pusat kota"


Ethan mengangguk dan segera menemui perawat Lily.


"Ners,jangan lupa hubungi staff kitchen untuk menyiapkan makan malam,begitu Bu Lily bangun.Tolong awasi dia baik-baik dan hubungi saya segera jika terjadi apa-apa",ucap Ethan tegas.


Perawat Lily hanya bisa tersenyum.Kata-kata Ethan itu sudah terekam baik di memorinya.Kata-katanya hampir sama tiap kali Ethan akan berangkat.Entah sekedar ke kantor atau keluar kota.


"Baik pak".


Setelah mendengar jawaban sang perawat,Ethan segera bersiap-siap untuk ke pesta bersama Deni.


...****************...


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit,mereka tiba di Gold River clubhouse.Sebuah club tempat para konglomerat se-Asia berkumpul.


Clubhouse yang terletak di lantai teratas hotel bintang lima,di pusat jantung kota Hongkong.Hanya anggota dengan dress code yang bisa masuk dan mengakses fasilitas yang disediakan pihak clubhouse.


Tak boleh ada kamera dan handphone tak boleh diaktifkan selama pertemuan berlangsung.Keluarga Ethan merupakan anggota lama club ini dan sering diajak Ayahnya kemari,jadi Ethan tak asing dengan clubhouse ini.


Setelah menunjukkan kartu anggotanya,pelayan Club segera menuntun Ethan ke ruang private yang telah dihadiri para tamu klien.


Pak Thomas Law,pengusaha real estate dan e commerce berumur 58 tahun,merupakan klien Ethan yang mensponsori Event seni musik yang baru saja usai digelar di venue milik Ethan.Dia pula yang mengundang Ethan malam ini,untuk merayakan keberhasilan Event yang ia selenggarakan.Ethan segera menghampiri pemilik acara dan menjabat tangannya sebagai tanda hormat.


"Selamat malam Pak Thomas Law.Senang bisa bertemu anda lagi.Terima kasih atas undangan anda.Saya merasa terhormat bisa menghadiri acara sepenting ini",sapa Ethan seraya tersenyum ramah.


Sapaan Ethan itu,akhirnya berujung dengan obrolan,membahas Event mereka yang sukses meraih attention masyarakat dan respon positif dari pemerintah pusat.


Ditengah perbincangan mereka,tiba-tiba Pak Thomas teringat dengan seseorang yang terus saja mendesaknya untuk dipertemukan dengan Ethan.


"Oh ya,Pak Ethan.Aku ingin mengenalkan seorang rekanan dari Tiongkok.Dia baru saja terangkat menggantikan posisi Ayahnya sebagai Direktur Utama,seperti anda.Tadinya aku hanya sekedar basa-basi mengundangnya menghadiri Event seni yang kita selenggarakan.Tapi ternyata dia benar-benar hadir.Dari situlah dia tertarik dengan konsep yang kalian rancang.Itu sebabnya dia meminta bantuan saya untuk mempertemukan kalian berdua di acara ini".


Ethan tersenyum simpul.


"Terima kasih atas perhatian anda,Pak Thomas.Saya merasa sangat terharu,anda telah memberi ulasan yang terbaik pada hotel kami".


"Sudah sepantasnya!Pak Hartono pasti sangat bangga melihat keberhasilan anda saat ini"


Tanpa basa-basi lagi,Pak Thomas menuntun Ethan menemui anak rekannya itu.Namun kaki Ethan tiba-tiba tertahan,saat melihat orang yang akan ia temui,ternyata bukanlah orang asing.


Seorang wanita keturunan Chinese berambut panjang lurus tergerai sedang duduk dengan anggunnya di deretan para pengusaha pria.Wajahnya nampak manis dengan kulit putih dan mata monolidnya.Dia menggunakan bardot dress hitam yang membentuk lekuk tubuh langsingnya.Wanita itu segera bangkit dari kursinya,saat Ethan dan Pak Thomas menghampirinya.


Tanpa peduli pada Pak Thomas yang coba mengenalkan mereka,Ethan dan wanita itu terus saja saling bertatapan satu sama lain,namun dalam artian yang berbeda.


Tatapan wanita itu sangat dalam,seolah memendam rindu yang teramat dalam pada sosok yang ditatapnya,sementara Ethan justru menatapnya dingin,seturut dengan raut wajahnya yang menunjukkan ketidak senangannya pada wanita itu


Ada satu orang lagi yang sama tak senangnya dengan Ethan.Sepertinya dia salah satu orang yang mengetahui kisah dibalik dua orang yang saling bertatapan itu.Bahkan tatapannya pada wanita itu jauh terlihat seram daripada tatapan Ethan.Dia segera maju selangkah dan berbisik ke telinga Ethan.


"Apa kamu mengingatnya?Dia Michelle Cheng!",ucap Deni seolah memperingati Ethan.


...----------------...


Mohon dukungannya dengan like,comment,gift atau votenya ya!!!Terima kasih☺️🙏